MajalahInspiratif.com, Jakarta – Transformasi sejati tidak hanya berbicara tentang teknologi, sistem, atau struktur, tetapi tentang manusia di dalamnya yang dengan sadar memilih untuk berubah, bertumbuh, dan memberi kontribusi yang berarti. Di sinilah peran Human Capital menjadi kunci, dan Lussy Ariani Seba merasa terhormat menjadi bagian dari perjalanan besar bersama PT Surveyor Indonesia.
Waniya kelahiran Bandung, 29 Agustus ini, meyakini bahwa setiap kita hadir di dunia bukan sekadar untuk menjalani hidup, tetapi untuk memberi arti. Talenta yang dimiliki, kesempatan yang didapatkan, dan peran yang diemban merupakan bagian dari amanah yang lebih besar.

“Maka bekerjalah dengan keikhlasan, bukan semata-mata ambisi. Pimpinlah dengan kasih, bukan sekadar strategi. Karena pada akhirnya, bukan jabatan atau hasil yang akan dikenang, tetapi cara kita menjalani semuanya dengan hati yang jujur, niat yang lurus, dan ketulusan dalam membuat orang lain merasa bernilai.”
Bekerja bukan hanya mengejar ambisi kesuksesan, tetapi bagi Lussy kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari seberapa tinggi posisi yang dicapai, tetapi dari seberapa besar kontribusi kita dalam menumbuhkan orang lain serta kemampuan memaknai suatu kepemimpinan.
“Sepanjang perjalanan karier saya, saya belajar bahwa keberhasilan yang berdampak lahir dari kepemimpinan yang berakar pada integritas, visi yang jelas, dan ketulusan dalam memberdayakan. Kesuksesan bukan sekedar mencapai hasil yang diinginkan dengan podium kebahagiaan, namun sebagai pembelajaran untuk terus belajar tanpa henti, membangun tim yang bahkan lebih hebat dari diri sendiri, kelola energi dengan bijak, dan yang terpenting jangan pernah lupa makna dari apa yang dikerjakan.”
Karena ketika kita bekerja dengan tujuan yang bermakna, lanjut Lussy, kita tidak hanya mencapai keberhasilan pribadi, tetapi juga meninggalkan warisan yang hidup dalam perjalanan orang lain.
Prestasi Membanggakan. Salah satu pencapaian yang paling membanggakan bagi Direktur Sumber Daya Manusia ini, ketika ia memimpin transformasi Human Capital di PT Surveyor Indonesia menjadi kekuatan strategis yang menyentuh seluruh aspek organisasi. Transformasi yang dilakukan tidak hanya bersifat struktural atau digital, tetapi juga menyentuh kesadaran dan keterlibatan individu dalam organisasi. Hal ini tercermin dari Survey Awareness dan Dampak Transformasi Internal, di mana 91% karyawan menyatakan memahami arah transformasi perusahaan, termasuk reformasi sistem SDM, digitalisasi proses bisnis, serta penguatan nilai AKHLAK sebagai budaya kerja. Selain itu, 87% karyawan merasakan langsung dampak transformasi, baik dalam sistem pengelolaan kinerja, kolaborasi tim, maupun pengembangan diri yang lebih terarah.
“Capaian ini menunjukkan bahwa transformasi yang kami bangun bukan sekadar konsep di atas kertas, tetapi telah menjadi gerakan kolektif yang hidup di seluruh lapisan organisasi. Bagi saya, ini adalah validasi bahwa pendekatan Human Capital yang saya terapkan berbasis data, empati, dan keberlanjutan telah menyentuh dimensi terdalam dari perubahan, yaitu sense of ownership.”
Di sisi lain, Lussy bersyukur atas berbagai pengakuan eksternal yang diterima. Di tingkat organisasi, PTSI berhasil meraih penghargaan seperti The Best Talent Management Strategy, The Best HC Team of the Year, Most Brilliant Employee Engagement, The Best Employee Value & Performance dan The Best Human Capital on Technology. Sementara secara pribadi, ia dianugerahi sebagai The Most Committed HC Leader, The Best HC Woman Director of The Year dan The Best Leader Focus on HC. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap inovasi, dampak strategis, dan kepemimpinan yang inklusif dalam pengelolaan SDM di BUMN.
“Namun bagi saya, penghargaan bukanlah tujuan akhir, melainkan cerminan dari kerja kolektif tim yang solid, penuh semangat belajar, dan komitmen untuk bertumbuh bersama. Yang paling membanggakan bukanlah trofi atau gelar, tetapi saat melihat karyawan berkembang menjadi pemimpin, tim menjadi lebih kolaboratif, dan organisasi menjadi tempat yang bermakna bagi semua insan di dalamnya.”
Kreativitas dan Inovasi. Lussy bersama tim mengembangkan Employee Value Proposition (EVP) yang menjadi titik temu ekspektasi pegawai dengan komitmen perusahaan. EVP yang dibangun adalah “Belajar, Bertumbuh, dan Berkontribusi untuk Indonesia”. Melalui sistem ini, Lussy dan tim membangun pendekatan berbasis Talent Journey yang holistik, mencakup acquisition, classification, development, mobility, hingga retention. Keunggulannya adalah integrasi antara sistem digital dan kebijakan berbasis nilai.
“Kami juga mengembangkan pendekatan Talent to Value Mapping, yang memastikan bahwa penempatan dan pengembangan individu benar-benar berorientasi pada nilai tambah yang dihasilkan terhadap organisasi. Salah satu terobosan kami adalah implementasi Talent to Value Mapping, yang memungkinkan pengembangan dan mobilisasi talenta berdasarkan kontribusi terhadap value creation. Selain itu, kami menyesuaikan skema remunerasi dengan personalisasi benefit berbasis preferensi karyawan, menjawab tren personalized employee experience di era digital.”
Membangun Karier dengan Keyakinan. Perjalanan karier Lussy dimulai pada tahun 1997 di Jasa Marga, berbekal latar belakang pendidikan di bidang Teknologi Informasi. Pada awalnya, ia percaya bahwa kekuatan sistem dan efisiensi adalah kunci utama dalam menciptakan nilai dalam organisasi. Namun seiring waktu, Lussy menyadari bahwa sistem paling kompleks dan penuh potensi bukanlah mesin, melainkan manusia. Mesin bisa di-reset, tapi manusia tidak, mereka perlu dipahami, diberdayakan, dan diarahkan dengan bijak.
“Peralihan saya dari IT ke dunia Human Capital di tahun 2000 bukanlah sebuah loncatan, tetapi evolusi alami. Pendekatan sistematis dan data-driven yang saya bawa dari dunia teknologi menjadi fondasi dalam membangun strategi SDM yang modern, agile, dan relevan di era disrupsi digital. Di sinilah saya menemukan panggilan sejati saya, menjadi jembatan antara teknologi dan manusia, karena dalam dunia saat ini, mengelola manusia tanpa memahami teknologi adalah keterbatasan, dan membangun teknologi tanpa memahami manusia adalah kesalahan.”
Lebih dari 25 tahun Lussy dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang 6- Human Capital Technology Forum Human Capital Indonesia (FHCI), berkarya di bidang Human Capital, melalui beragam peran yang membentuk pemahaman tentang pengembangan individu dan organisasi di antaranya mulai dari learning & people development hingga strategic policy di lingkungan BUMN. Pada tahun 2020, ia dipercaya menjadi Direktur Sumber Daya Manusia di PT Surveyor Indonesia. Di posisi ini, ia mengelola empat divisi strategis: Human Capital, Teknologi Informasi, TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan), serta Strategic Transformation Office (STO).
“Peran saya tidak hanya menyentuh aspek pengelolaan SDM, tetapi juga memperkuat kontribusi perusahaan terhadap keberlanjutan melalui program TJSL yang menyelaraskan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan. Bagi saya, setiap fase dalam perjalanan ini adalah ruang pembelajaran, proses adaptasi, dan kesempatan untuk menjadi agen transformasi yang membawa organisasi lebih maju, bukan hanya dalam kinerja, tetapi juga dalam nilai dan makna.”
Terinspirasi Bidang Human Capital. Lussy terinspirasi menekuni bidang Human Capital karena ia meyakini bahwa kekuatan terbesar dalam organisasi bukanlah teknologi atau strategi, melainkan manusianya. Sistem teknologi dapat diprogram ulang dengan logika yang presisi, tetapi manusia bekerja dengan emosi, nilai, dan tujuan yang jauh lebih kompleks.
“Di dunia IT, saya belajar tentang efisiensi dan struktur; namun di dunia SDM, saya menemukan kedalaman makna, bahwa setiap individu memiliki potensi luar biasa untuk berkembang, berkontribusi, dan menjadi agen perubahan. Saya ingin menjadi bagian dari sistem yang tidak hanya mengelola orang, tetapi memberdayakan mereka, menciptakan ruang di mana talenta tumbuh, perempuan memimpin, generasi muda menemukan panggilannya, dan semua merasa dihargai.”
Nilai yang dipegang teguh dalam kepemimpinan adalah integritas, empati, keberanian untuk berubah, dan semangat kolaborasi, karena Lussy percaya tidak ada transformasi sejati yang dapat dilakukan sendirian. Semangat yang dibangun sederhana namun kuat, ketika orang-orang yang dibimbing tumbuh menjadi pemimpin, menemukan makna, dan memberi dampak, itulah keberhasilan sejati. Lussy sangat mencintai dunia SDM karena dia menemukan suatu nilai bahwa setiap individu yang berkembang adalah fondasi bagi organisasi yang unggul dan berkelanjutan.

Pemimpin Sejati yang Memimpin dengan Hati. Sejak awal bergabung di PT Surveyor Indonesia (PTSI) sebagai Direktur SDM pertama, Lussy masuk dalam kondisi yang sangat menantang. Perusahaan belum memiliki sistem pengelolaan SDM yang terstruktur. Kondisi ini justru menjadi ruang inovasi yang luar biasa baginya.
Fokus awal yang ditanamkan Lussy adalah membangun arsitektur Human Capital yang menjadi dasar pengelolaan SDM ke depan. Arsitektur yang dimaksud dengan membangun struktur dan Proses HC, mulai dari penyusunan kebijakan SDM berbasis kompetensi, sistem evaluasi kinerja, hingga integrasi reward & recognition, membangun Budaya Organisasi dengan mengembangkan dan menginternalisasi nilai-nilai akhlak, mengokohkan komitmen karyawan terhadap perubahan budaya kerja melalui pendekatan experience-based learning.
Selanjutnya adalah Optimalisasi Talent Management yaitu sistem Talent Classification diterapkan untuk memetakan kapasitas dan potensi, memperjelas jalur pengembangan individu, Learning Ecosystem: membentuk ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang responsif terhadap kebutuhan transformasi digital dan kebutuhan bisnis dan Reward & Recognition System: penghargaan tidak hanya berbasis kinerja, tetapi juga berbasis perilaku sesuai dengan nilai akhlak, untuk memperkuat engagiement.
“Dampak yang dirasa sangat signifikan dan dapat terukur secara objektif: Employee Engagement mencapai 89%, menunjukkan bahwa karyawan merasa terlibat secara emosional dengan misi, nilai, dan tujuan perusahaan. Employee Satisfaction sebesar 93%, mencerminkan bahwa ekspektasi karyawan telah selaras dengan komitmen perusahaan, membentuk hubungan mutual trust yang kuat.”
Sustainability Engagement dinilai 94%, memperlihatkan bahwa pondasi yang dibangun tidak hanya menghasilkan produktivitas sesaat, tetapi menciptakan produktivitas jangka panjang, dengan karyawan yang energized, enabled, dan engaged. Net Promoter Score (NPS) tercatat 76, skor tertinggi dibandingkan benchmark industri sejenis, menunjukkan bahwa karyawan secara sukarela merekomendasikan PTSI sebagai tempat bekerja yang ideal.
“Bagi saya, keberhasilan inovasi di bidang SDM bukan sekadar melahirkan sistem baru, melainkan ketika sistem itu mampu menghidupkan potensi manusia, memperkuat rasa kepemilikan, dan mendorong setiap insan PTSI untuk bertumbuh bersama organisasi.”
Ke depan, Lussy berharap masa depan pengelolaan SDM Indonesia menjadi penggerak utama pertumbuhan berkelanjutan, inovasi, dan keunggulan daya saing bangsa. SDM harus menjadi mitra strategis dalam pengambilan keputusan bisnis, mengakselerasi transformasi digital yang berbasis data namun tetap human-centric, melahirkan pemimpin yang etis, adaptif, dan inklusif melalui proses pembinaan karakter, menciptakan sistem pengelolaan talenta yang adil dan berkelanjutan bagi semua kalangan, serta menjadikan SDM sebagai pilar utama pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Lussy meyakini, bahwa SDM unggul adalah fondasi dari kemajuan bangsa.
Menyikapi Transformasi Digital dengan Positif. Transformasi digital memang menjadi keharusan di era sekarang. Namun, Lussy memiliki pengalaman bahwa tantangan terbesar bukanlah pada perubahan teknologinya itu sendiri, melainkan pada perubahan budaya dan mindset di dalam organisasi. Teknologi berkembang dengan cepat, bisa di-upgrade atau diganti dalam hitungan bulan. Tetapi mindset manusia tidak bisa di-upgrade secepat perangkat lunak.
“Resistensi terhadap perubahan menjadi tantangan utama yang kami hadapi. Banyak yang beranggapan bahwa transformasi digital hanya soal mengadopsi aplikasi atau sistem baru, padahal lebih dari itu: ini adalah tentang mengubah cara berpikir, cara bekerja, dan cara berkolaborasi.”
Lussy selalu berupaya menekankan bahwa teknologi hanyalah partner kerja. Yang mengubah organisasi bukanlah alat, melainkan manusianya. Oleh karena itu, ia bersama tim membangun pola pikir bahwa sistem digital bukan pengganti manusia, melainkan enabler untuk mempercepat kolaborasi, akurasi, dan inovasi.
Sebagai bagian dari role modelling, seluruh anggota Direksi hingga pimpinan senior harus menunjukkan keterbukaan terhadap digitalisasi, komitmen terhadap pembelajaran berkelanjutan, dan sikap adaptif terhadap perubahan proses bisnis. Budaya pembelajaran menjadi fondasi, agar setiap perubahan tidak dilihat sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang untuk bertumbuh.
“Bagi saya, keberhasilan transformasi digital di PTSI bukan hanya tentang berapa banyak aplikasi yang kita miliki, melainkan seberapa dalam pola pikir baru ini hidup dan menjadi budaya di setiap insan perusahaan.”

Merancang Langkah Strategis. Lussy berharap dapat terus bersinergi untuk menjadikan fungsi Human Capital sebagai kekuatan transformatif yang mampu mendorong PT Surveyor Indonesia menjadi perusahaan TICC yang lebih tangguh, adaptif, dan relevan di masa depan, bukan sekadar pendukung operasional, tetapi sebagai strategic driver dalam menciptakan pertumbuhan berkelanjutan dari sisi bisnis, budaya, dan dampak sosial.
“Dalam peran ini, saya merancang langkah strategis seperti membangun Talent Hub yang mengintegrasikan sistem pembelajaran berbasis AI dan jalur pengembangan lintas sektor, memperkuat People Analytic sebagai fondasi pengambilan keputusan SDM yang presisi dan prediktif serta mempercepat regenerasi kepemimpinan melalui pipeline yang inklusif, khususnya bagi perempuan dan generasi muda.”
Lebih dari itu, saya ingin memastikan SDM PTSI menjadi penggerak utama dalam agenda keberlanjutan dan ESG, dengan membentuk budaya kerja yang sadar lingkungan dan berorientasi sosial. Pada akhirnya, Lussy ingin menutup fase kepemimpinan ini dengan meninggalkan sistem yang lebih kuat, tim yang lebih berdaya, dan organisasi yang lebih siap menghadapi masa depan, itulah kontribusi yang ingin diwariskan, bukan hanya sebagai karier, tetapi sebagai makna yang terus hidup.
Perempuan Bertumbuh dan Bermanfaat. Perempuan adalah pilar dalam membentuk masa depan. Di era modern yang penuh perubahan dan disrupsi, perempuan tidak hanya memiliki ruang untuk tumbuh, tetapi juga tanggung jawab untuk berkontribusi dan menjadi bagian dari solusi. Kemandirian perempuan hari ini bukan hanya tentang ekonomi, tetapi tentang keberanian mengambil peran, memiliki kendali atas pilihan hidup, serta menyuarakan nilai dalam pengambilan keputusan baik di keluarga, organisasi, maupun masyarakat luas.
Perempuan perlu mandiri, berkarya, dan berprestasi karena mereka membawa perspektif kepemimpinan yang unik dan sangat dibutuhkan. Penelitian global menunjukkan bahwa kehadiran perempuan dalam pengambilan keputusan memperkuat kualitas kolaborasi, empati, dan keberlanjutan. Teknologi juga telah membuka akses yang setara sehingga perempuan kini bisa belajar dan berkarya dari mana saja, membangun pengaruh bahkan tanpa harus berada di ruang rapat fisik. Tak kalah penting, perempuan yang berdaya adalah role model hidup bagi generasi berikutnya, menjadi cermin harapan bagi anak-anak kita untuk tumbuh dalam dunia yang lebih adil, inklusif, dan seimbang.
Indonesia tidak bisa mencapai visi besar hanya dengan mengandalkan separuh potensi bangsanya. Perempuan harus dilibatkan sebagai co-creator kemajuan, bukan sekadar pengikut. Lussy percaya, ketika perempuan mandiri, ia tidak hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga memperkuat ekosistem di sekitarnya: keluarga menjadi lebih tangguh, organisasi menjadi lebih adaptif, dan bangsa menjadi lebih kuat. Kemandirian perempuan adalah investasi sosial paling strategis yang bisa kita bangun hari ini untuk masa depan yang lebih baik.
“Sebagai perusahaan di industri TICC (Testing, Inspection, Certification & Consultation) yang bersifat multisektoral dan berbasis keahlian teknis, PTSI secara aktif menciptakan peluang bagi perempuan untuk masuk dan memimpin di berbagai lini strategis, terutama melalui transformasi digital dan inovasi layanan. Teknologi membuka jalan bagi perempuan untuk berkarya tanpa batas geografis atau struktural. Di PTSI, kami memanfaatkan peluang ini dengan memberikan ruang digital untuk pembelajaran yang fleksibel, inovasi bisnis berbasis AI & blockchain, taskforce INDI 4.0, serta Riset & Development berbasis teknologi.”
Prioritas Kehidupan Menjadi Kunci Kebahagiaan. Bagi Lussy, membagi waktu bukan tentang mencari keseimbangan yang sempurna, melainkan tentang menetapkan prioritas dengan penuh kesadaran. Dalam peran sebagai profesional di dunia kerja yang dinamis, sekaligus individu dengan tanggung jawab personal dan sosial, ia memilih menjalani life harmony yaitu menavigasi setiap peran dengan jelas, tulus, dan terarah.
“Saya selalu memulai dengan clarity of purpose, memutuskan apa yang paling berdampak di setiap momen. Di pekerjaan, saya percaya pada pendelegasian yang efektif dan kekuatan tim kolaboratif; di keluarga, saya menjunjung tinggi kehadiran yang utuh meski singkat; dan dalam kegiatan sosial, saya memilih yang sejalan dengan nilai dan memberi energi, bukan sekadar aktivitas. Saya percaya: ketika kita hidup dengan kesadaran, waktu bukan sesuatu yang dibagi tetapi sesuatu yang dihidupi. Dan dalam setiap peran, saya hadir dengan satu semangat menjadi versi terbaik diri untuk memberi dampak positif bagi sekitar.”







