MajalahInspiratif.com, Jakarta – Perjalanan karier Tiara Widjanarko adalah cerminan dari keberanian untuk bereksplorasi sekaligus konsistensi dalam satu benang merah yaitu komunikasi. Ia memulai langkah profesional sebagai reporter di Trans TV dan melanjutkan karier profesional di berbagai TV Nasional seperti TVRI, Daai TV, Kompas TV. Dunia jurnalistik membawa Tiara jatuh cinta pada kata, cerita, dan cara menyampaikan makna yang menjadi fondasi dan terus ditanamkan dalam fase hidupnya.
Sebelum melanjutkan studi S2, Tiara aktif sebagai presenter, penulis, sekaligus dosen di Pelita Harapan University. Latar belakang jurnalistik membuatnya semakin yakin bahwa kekuatan story telling bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga kunci dalam membangun koneksi dan kepercayaan. Ketika ia menempuh pendidikan pascasarjana di bidang Management Finance, perspektifnya berkembang. Ia melihat bahwa pemasaran yang efektif selalu berakar dari cerita yang kuat. Dari situlah lahir keyakinan yang menghasilkan pemahaman bahwa persuasi yang paling membuahkan hasil dimulai dari story telling yang tepat.

“Mengambil penjurusan jurnalistik ternyata membuat saya jatuh cinta dengan kata serta story telling. Sepertinya hampir semua profesi yang saya ambil setelah itu, tidak pernah jauh dari bidang komunikasi. Sedikit berkembang ketika saya mengambil S2 Management Finance, dasar ilmu marketing yang juga ada di semester pertama, membuat saya jatuh cinta di bidang marketing.”
Pengalaman yang paling membentuk karakter Tiara justru datang dari lapangan. Saat bertugas sebagai reporter yang mewawancarai seorang kriminal di kantor polisi pada malam hari, ia dituntut untuk menghadirkan dua sisi sekaligus empati sebagai manusia dan ketegasan sebagai jurnalis. Dari situ, ia belajar bahwa menjadi perempuan profesional tidak cukup hanya mengandalkan satu jenis energi. Keseimbangan antara sisi feminin yang penuh empati dan kepekaan dan sisi maskulin yang tegas dan berani menjadi kunci dalam menghadapi berbagai situasi, terutama dalam dunia kerja dan bisnis yang melibatkan interaksi manusia.
Kesadaran akan pentingnya komunikasi mendorong perempuan yang juga adalah entrepreneur, consultant, writer dan triathlete ini mendirikan The Right Message, sebuah perusahaan konsultan yang berfokus pada pelatihan komunikasi dan public speaking. Baginya, ide terbaik sekalipun bisa gagal jika tidak disampaikan dengan cara yang tepat. Ia bahkan melihat bagaimana perusahaan teknis seperti pemetaan bawah laut pun membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik agar mampu membangun kepercayaan klien dan menghasilkan repeat order. Ini semakin menegaskan bahwa komunikasi adalah fondasi universal di berbagai bidang.
“Saya juga membangun satu brand yaitu The Right Message, suatu perusahaan konsultan yang juga memberikan pelatihan baik kepada group maupun individu tentang bagaimana meningkatkan persentase sales apapun peran yang diemban dalam sebuah perusahaan. Siapa sangka sebuah perusahaan pemetaan bawah laut membutuhkan pelatihan Public Speaking agar para engineer-nya mampu berkomunikasi lebih baik sehingga bisa meyakinkan akan hasilnya. Oleh karena itu mereka menjadi salah satu client saya sekarang.”

Terjun Konsisten di Dunia Bisnis
Langkah Tiara ke dunia bisnis bermula dari tugas akademik untuk menyusun business plan sebagai syarat kelulusan. Awalnya, ia merancang usaha pijat khusus ibu hamil. Namun, setelah melihat peluang pasar yang lebih luas, ia mengembangkan konsep tersebut menjadi layanan pijat keluarga melalui House of Relax. Seiring meningkatnya tren gaya hidup sehat dan olahraga, ia pun menambahkan layanan sports massage yang kini menjadi salah satu kekuatan utama bisnisnya, khususnya di Jakarta Selatan.
Dalam membangun usaha di bidang kesehatan dan relaksasi, Tiara mengusung prinsip sederhana namun kuat yaitu mencegah lebih baik daripada mengobati. Ia ingin layanan massage tidak hanya menjadi solusi sesaat, tetapi juga bagian dari gaya hidup sehat yang terjangkau. Edukasi menjadi bagian penting dari layanan yang ditawarkan. Para terapis tidak hanya memberikan perawatan, tetapi juga membekali klien dengan pengetahuan untuk mempercepat pemulihan dan menjaga kondisi tubuh.
“Tidak ada penyembuhan yang sempurna, apabila client yang datang tidak diberi edukasi. Oleh karena itu terapis kami juga sering memberikan tips apa yang bisa dilakukan atau bahkan dihindari agar badan recover dengan lebih cepat.”
Berani Melepaskan Kendali
Di balik berbagai peran yang dijalani, Tiara mengakui bahwa tantangan terbesarnya justru terletak pada hal yang sederhana: melepaskan kendali. Terbiasa menjadi pengambil keputusan yang cepat dan terukur, ia terkadang merasa sulit untuk tidak mengambil peran tersebut dalam kehidupan pribadi. Namun, ia terus belajar untuk menikmati momen tanpa harus selalu memimpin.
Bagi Tiara, kekuatan utama perempuan terletak pada ketangguhan untuk bangkit dan terus melangkah. Ia menolak mentalitas korban dan memilih untuk menerima bahwa dunia memang tidak selalu adil. Namun justru dari kesadaran itu, seseorang bisa belajar untuk fokus pada hal-hal yang berada dalam kendalinya serta menjaga ketenangan batin pikirannya agar tetap utuh.
“Jangan pernah melabeli diri kita sebagai korban dan mengatakan dunia tidak adil. Betul, dunia memang tidak adil, tapi dengan mengetahui hal tersebut, tersenyum dan menggerutu banyak hal yang terjadi pada kita, so let’s embrace it. Hadapi tiap kesulitan dengan harapan, tidak terlalu tinggi, tapi cukup masuk akal. Ketahui mana yang ada di dalam kontrol kita, mana yang tidak lalu yang terakhir jangan biarkan ada satupun orang atau kejadian yang merusak “taman zen” di dalam pikiran kita.”

Terinspirasi Sang Kakek Tercinta
Sosok yang paling memengaruhi prinsip hidupnya adalah sang kakek, Kolonel (Purn.) Bambang Widjanarko, seorang perwira Angkatan Laut yang pernah menjadi ajudan Presiden Soekarno. Dari beliau, Tiara belajar tentang disiplin, ketegasan, sekaligus kasih sayang. Sosok tersebut menjadi role model yang membentuk cara pandangnya dalam bekerja dan menjalani hidup.
“Beliau bisa begitu tegas, disiplin namun juga sangat penuh kasih. Karirnya setelah pensiun pun selalu membuahkan hasil baik mengangkat nama Indonesia dengan Panah Jawa-nya dalam PERPANI, maupun membesarkan Parkir Jaya. He’s my role model.”
Menjadi Perempuan Mandiri
Tiara memaknai kemandirian perempuan sebagai sesuatu yang mutlak. Perempuan harus mampu berdiri di atas kakinya sendiri, terutama secara ekonomi. Ia percaya bahwa pendidikan adalah kunci utama agar perempuan memiliki kebebasan dalam menentukan jalan hidupnya, tanpa harus bergantung pada pihak lain.
Selain fokus pada karier dan bisnis, Tiara juga memiliki visi sosial. Bersama rekannya, ia mendirikan Yayasan Tangan Kekal Terbuka yang akan berkontribusi lebih luas bagi masyarakat. Di sisi lain, ia juga berencana mengembangkan bisnis ke berbagai daerah dan sektor, dengan tujuan membuka lebih banyak lapangan kerja dan memberikan kesempatan bagi individu untuk berkembang, terlepas dari latar belakang pendidikan formal mereka.
Semangat Kartini Menjadi Aksi Nyata
Bagi Tiara, semangat Kartini di masa kini bukan sekadar simbol, tetapi aksi nyata. Perempuan dapat membawa perubahan melalui suara, karya, dan keberanian baik dalam posisi strategis di pemerintahan, dunia profesional, maupun dalam lingkup sederhana seperti keluarga dan komunitas. Baginya, besar atau kecil dampak yang dihasilkan bukanlah hal utama. Yang terpenting adalah kepekaan terhadap nurani dan komitmen untuk memberikan yang terbaik di setiap peran yang dijalani. Dalam setiap langkahnya, Tiara Widjanarko menunjukkan bahwa perjalanan karier tidak harus linear untuk menjadi bermakna. Selama ada keberanian untuk belajar, beradaptasi, dan tetap setia pada nilai yang diyakini, setiap peran bisa menjadi jalan untuk menciptakan dampak yang lebih besar.
“Perempuan menjadikan suara, karya dan keberaniannya dengan memberikan yang terbaik ketika mereka berada di posisi-posisi penting yang terkait dengan pemerintahan dan kemasyarakatan. Jadilah seseorang dengan jabatan dengan kredibilitas yang sungguh, bukan sekedar branding saja. Bawalah sebuah misi. Bahkan ketika kita adalah seorang ibu rumah tangga penggiat dalam persatuan orang tua murid di sekolah, kita masih bisa membawa dampak baik melalui suara, karya dan keberanian. Besar atau kecil tidak masalah, selama kita peka dengan nurani kita.”







