Crowdfunding Typography Banner
Dokter Spesialis Mata

dr. Sri Astri Nanditya, SpM, Perempuan yang Menyalakan Cahaya Harapan

Bagikan:

SDM_1696.jpg

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Ada perempuan-perempuan yang tidak banyak bicara tentang dirinya, tetapi hidupnya penuh cerita tentang memberi, bertahan saat lelah dan tetap berjalan meski landasanya tidak selalu mudah. Dr. Sri Astri Nanditya, SpM adalah salah satunya. Menjalani hidup sebagai dokter, ibu, sekaligus manusia yang terus belajar memahami arti cukup, arti syukur dan arti menjadi berarti bagi orang lain.

Dokter Sri Astri Nanditya, SpM atau yang akrab dengan panggilan dr. Astri, semasa kecil tidak tumbuh dengan mimpi yang muluk. Namun dari keluarganya, ia belajar satu hal yang sederhana tapi melekat kuat, jika bisa membantu maka bantulah.

Lahir di Jakarta, 21 April, dr. Astri tumbuh di antara dua dunia, sang ayah dengan semangat bisnisnya yang tangguh, dan ibu dengan ketenangan serta dedikasi di dunia medis. Dari keduanya, dr. Astri mengenal disiplin sekaligus empati.

Perjalanan pendidikannya berjalan seperti kebanyakan anak pada umumnya, sekolah, belajar dan berproses. Hingga akhirnya ia memilih jalan kedokteran, yang tanpa ia sadari, akan membawanya pada begitu banyak cerita kehidupan orang lain.

Belajar dari Mereka yang Tidak Punya Pilihan

Usai mengantongi gelar sebagai dokter spesialis mata, dr. Astri tidak langsung memilih kota besar. Ia justru kembali ke Kota Metro, Lampung, mengabdi di RS Mardi Waluyo, yang merupakan rumah sakit rintisan almarhum kakeknya, yang dibangun pasca kemerdekaan Indonesia.

Di Rumah sakit yang dahulu dimulai dari balai pengobatan rakyat sederhana di beranda rumah sang kakek inilah, dr. Astri benar-benar belajar menjadi dokter. Bertemu dengan pasien-pasien yang datang dalam keterbatasan, mendengar kisah-kisah sederhana yang begitu menyentuh. Dari mereka, ia menyadari bahwa hal yang sering dianggap sepele, seperti bisa melihat dengan jelas, ternyata adalah kemewahan yang tidak dimiliki semua orang.

Dan kegiatan sosial seperti operasi katarak gratis yang ia jalani di berbagai daerah bukan hanya tentang tindakan medis. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan ketika seseorang kembali bisa melihat wajah anaknya, atau sekadar berjalan tanpa rasa takut. “Di situ saya sadar, ternyata yang kita lakukan bisa berarti besar sekali buat orang lain,” terang perempuan berkulit putih ini.

Terus Belajar dan Menjadi Cahaya

Bagi dr. Astri, menjadi dokter bukan berarti selesai belajar. Ia memilih untuk terus mengasah diri, belajar teknik operasi modern hingga ke India, lalu memperdalam penanganan glaukoma di Jakarta. Semua itu bukan semata soal keahlian, tetapi karena ia tahu, masih banyak orang yang membutuhkan.

Ia juga mulai menghadirkan teknologi seperti Laser Vision Correction di Bekasi, yang membuka akses bagi mereka yang ingin kualitas penglihatan yang lebih baik. Pelan-pelan, langkahnya berkembang. Dari melayani, menjadi membangun. Dari praktik, menjadi menciptakan ruang yang lebih luas untuk membantu lebih banyak orang kembali melihat cahaya.

Edukasi Lewat Cara yang Lebih Dekat

Tidak semua orang datang ke dokter. Tapi hampir semua orang hari ini membuka media sosial. Di situlah dr. Astri menemukan cara lain untuk berbagi informasi yang mengedukasi masyarakat.

Lewat platform digital seperti TikTok, Instagram dan YouTube (@san_eyecare), ia berbicara dengan cara yang sederhana mengenaik kesehatan mata, hingga tentang kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele, tapi berdampak besar.

“Lewat media sosial, saya bukan berperan sebagai dokter yang menggurui, tapi sebagai seseorang yang ingin orang lain tidak terlambat menyadari pentingnya menjaga diri, terutama kesehatan mata,” tuturnya.

Menjadi Ibu, Belajar Lebih Kuat dari Sebelumnya

Di balik semua perannya, ada satu fase hidup yang paling mengubah Astri, yakni menjadi seorang ibu. Perjalanannya tidak mudah. Ia adalah pejuang garis dua yang harus melalui proses panjang IVF yang penuh harapan, juga ketidakpastian. Fase yang menguras emosi, tapi sekaligus menguatkan.

Hingga akhirnya, ia dikaruniai dua putra kembar, Ocean dan Noah. “Di situ rasanya semua perjuangan terbayar. Sejak menjadi ibu, hidup saya tidak lagi hanya tentang diri sendiri. Ada dua anak yang menjadi alasan untuk terus sehat, terus kuat dan terus melangkah,” tambah dr. Astri.

Belajar ‘Bernafas’ di Tengah Kesibukan

Di tengah semua peran yang ia jalani, dr. Astri tetap manusia biasa yang bisa lelah.

Ia menemukan caranya sendiri untuk kembali “utuh”, salah satunya dengan menjalani hobinya  menyelam.

“Di bawah laut, semuanya terasa lebih tenang. Tidak ada suara bising, tidak ada tuntutan. Hanya napas, gerakan dan keheningan. Namun, dari moment inilah saya belajar bahwa hidup tidak harus selalu terburu-buru. Kadang, kita hanya perlu berhenti sejenak untuk bisa melanjutkan lebih jauh,” ucapnya, bijak.

Perempuan dan Kekuatan yang Sering Tak Terlihat

Bagi dr. Astri, hidup bukan tentang menjadi yang paling hebat. Tapi tentang menjadi cukup kuat untuk terus berjalan. Tentang memilih untuk tetap peduli, bahkan saat lelah. Tentang tetap memberi, meski tidak selalu mudah.

Ia adalah gambaran banyak perempuan di luar sana yang mungkin tidak selalu terlihat, tapi perannya nyata. Yang mungkin tidak selalu bersuara lantang, tapi dampaknya terasa.

Karena pada akhirnya, kekuatan perempuan tidak selalu tentang seberapa tinggi ia berdiri,
tetapi tentang seberapa banyak ia mampu menguatkan kehidupan di sekitarnya. “Sejatinya, wanita yang berdaya bukan hanya tentang apa yang ia capai, tetapi tentang seberapa banyak kehidupan yang ia sentuh,” pungkas dr. Astri.

Bagikan:

Bagikan: