MajalahInspiratif.com, Jakarta – Perubahan besar tidak pernah lahir dari langkah yang instan. Ia tumbuh dari pengalaman panjang, ketajaman membaca risiko, serta keberanian mengambil arah baru. Di tangan Tria Mutiari, keberlanjutan bukan sekadar agenda global, tetapi menjadi strategi nyata yang menggerakkan transformasi PT Kereta Api Indonesia (KAI) menuju masa depan yang lebih bertanggung jawab. Namun, sosok berkacamata ini meyakini bahwasanya segala inovasi yang dicetuskan tak akan berjalan tanpa dukungan semua pihak, terutama tim KAI yang solid.
Perjalanan Tria Mutiari menuju posisi strategisnya hari ini tidak dibangun dalam waktu singkat. Lebih dari dua dekade ia berkarier di industri perbankan, menempati berbagai posisi penting mulai dari pengembangan produk, sumber daya manusia, hingga risk management dan compliance.

Lingkungan kerja yang dinamis membentuk ketajaman analisisnya dalam melihat potensi risiko sekaligus peluang. Dan lebih dari sepuluh tahun terakhir, fokusnya semakin mengerucut pada risk management yang berkaitan dengan Environmental, Social, and Governance (ESG).
“Pengalaman panjang tersebut membentuk cara pandang saya bahwa risiko tidak hanya soal finansial, tetapi juga mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola,” ujar sosok yang karib disapa Tria ini.
Keterlibatan perempuan kelahiran Sukabumi, 21 Mei 1978 ini dalam penguatan praktik ESG di Indonesia, seiring dorongan kebijakan dari Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menjadi titik penting yang mengantarkannya pada peran lebih besar. Tepatnya pada Oktober 2024, ia mengambil langkah strategis dengan bergabung sebagai Vice President of Sustainability PT Kereta Api Indonesia (KAI), membawa perspektif baru ke sektor transportasi yang kompleks dan sarat kepentingan.
Strategi Keberlanjutan. Berpindah dari sektor keuangan ke transportasi bukan sekadar perubahan industri, tetapi juga perluasan dampak. Bagi Tria, pengalaman panjang di risk management justru menjadi fondasi kuat dalam membangun strategi keberlanjutan di KAI.
“Transportasi adalah sektor dengan dampak yang sangat besar, baik terhadap lingkungan maupun masyarakat. Karena itu, pendekatan sustainability harus terintegrasi dan tidak bisa parsial,” jelasnya.
Meski kereta api dikenal sebagai moda transportasi dengan emisi lebih rendah, ia menegaskan bahwa sektor ini tetap memiliki kontribusi signifikan terhadap emisi nasional. Di sisi lain, jutaan penumpang yang dilayani setiap hari menjadikan KAI sebagai entitas dengan tanggung jawab sosial yang besar. Di sinilah keberlanjutan menjadi bagian tak terpisahkan dari transformasi perusahaan, bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi.

Membangun Sistem. Pendekatan yang dibangun Tria di KAI tidak berhenti pada program-program simbolik. Ia menekankan pentingnya membangun sistem yang terstruktur dan berkelanjutan. Salah satu langkah strategis adalah penyusunan Roadmap ESG KAI 2025–2029, yang kemudian diintegrasikan ke dalam visi, misi, dan strategi perusahaan melalui Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP). Komitmen ini diperkuat dengan kebijakan keberlanjutan serta pedoman implementasi ESG yang diterapkan di seluruh lini KAI dan grupnya, sehingga setiap unit memiliki arah yang sama.
“Kami memastikan bahwa prinsip ESG tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan secara menyeluruh,” ujar lulusan IPB jurusan bidang Sosial Ekonomi Pertanian dan Magister Pengembangan Industri Kecil Menengah ini.
Indonesia Bebas Emisi. Dalam visi yang dicanangkan Tria, kereta api akan menjadi tulang punggung transportasi masa depan. Kapasitas angkut yang besar menjadikannya lebih efisien sekaligus mampu menekan emisi gas rumah kaca. “Strategi dekarbonisasi menjadi bagian penting dari kontribusi KAI terhadap target Net Zero Emission Indonesia,” ungkap Tria.
Upaya ini mencakup berbagai inisiatif jangka panjang seperti elektrifikasi, efisiensi energi, hingga pemanfaatan energi baru terbarukan. Semua langkah tersebut memerlukan investasi besar, namun dinilai sebagai kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Ditambahkan Tria, selain menargetkan aspek lingkungan, KAI juga aktif memperkuat dampak sosial melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. “KAI memiliki tanggung jawab untuk tumbuh bersama masyarakat di sekitar wilayah operasional. Melalui program TJSL, pemberdayaan UMKM di area stasiun, serta kegiatan berbasis komunitas, KAI berupaya menciptakan ekosistem yang saling mendukung antara bisnis dan masyarakat,” ujar perempuan berdarah sunda ini.
Tantangan dan Kompleksitas. Di balik strategi besar tersebut, tantangan yang dihadapi tidaklah sederhana. Salah satu yang paling krusial adalah membangun budaya sustainability di internal organisasi. “Internalisasi mindset sustainability menjadi kunci, agar setiap individu memiliki kesadaran dan inisiatif untuk berkontribusi,” tegas Tria.
Selain itu, kebutuhan investasi jangka panjang serta kompleksitas stakeholder di sektor perkeretaapian menuntut pendekatan kolaboratif yang matang.
Dalam industri perkeretaapian, inovasi dan teknologi menjadi elemen utama yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan. Pemanfaatan teknologi memungkinkan KAI menghadirkan layanan yang lebih ramah lingkungan, efisien, serta sesuai dengan ekspektasi masyarakat modern
“Inovasi bukan sekadar pelengkap, tetapi kebutuhan untuk memastikan efisiensi operasional sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis,” ujarnya.

Kolaborasi sebagai Kunci Utama
Di balik kompleksitas implementasi keberlanjutan di sektor transportasi, satu hal menjadi benang merah yang tidak bisa diabaikan, yakni kolaborasi. Bagi Tria, tantangan besar seperti dekarbonisasi, transformasi sistem, hingga penguatan dampak sosial tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi yang solid, baik di dalam organisasi maupun lintas pemangku kepentingan.
“Keberlanjutan tidak mungkin dicapai secara sendiri. Ia menuntut kolaborasi yang guyub dan berkesinambungan, baik di internal antar unit kerja maupun dengan berbagai pihak eksternal. Karena pada akhirnya, sustainability adalah misi bersama yang hanya bisa terwujud jika dijalankan secara kolektif,” ujar Tria.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar strategi korporasi, melainkan gerakan bersama yang membutuhkan keterlibatan aktif dari seluruh elemen. Mulai dari manajemen, karyawan, hingga mitra dan regulator. Dalam konteks inilah, membangun komunikasi yang terbuka dan kolaboratif menjadi fondasi penting agar setiap langkah yang diambil dapat berjalan searah dan saling menguatkan.
Perempuan, Kepemimpinan dan Masa Depan
Sebagai perempuan di posisi strategis, Tria melihat adanya peran besar perempuan dalam mendorong agenda keberlanjutan. “Perempuan memiliki kekuatan dalam berpikir jangka panjang, membangun kolaborasi, serta memahami keterkaitan berbagai aspek secara menyeluruh,” jelas istri dari Deden Kusnendar ini.
Kualitas tersebut menjadi relevan dalam menghadapi isu kompleks seperti perubahan iklim dan tantangan sosial global. Dan Di tengah laju kereta yang terus bergerak, Tria memastikan bahwa setiap perjalanan tidak hanya menghubungkan ruang, tetapi juga membawa arah baru bagi masa depan, dari risiko menuju keberlanjutan.
Melihat ke depan, Tria menilai bahwa masa depan transportasi akan ditentukan oleh tiga hal utama, yakni pergeseran ke moda rendah emisi, integrasi digital dan penerapan prinsip ekonomi sirkular berbasis ESG. Dan sebagai tulang punggung transportasi perkeretaapian nasional, KAI berada pada posisi strategis untuk memimpin perubahan tersebut.
“Keberlanjutan bukan hanya tentang program besar, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun budaya dan kebiasaan yang konsisten,” tutupnya.







