Crowdfunding Typography Banner
Owner Sambal Cumi Pelangi

Chirlhy Angda, Konsisten pada Rasa, Bertumbuh Lewat Kolaborasi

Bagikan:

IMG_6093.JPG

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Sepuluh tahun bukan perjalanan yang singkat. Bagi Chirlhy Angda, yang akrab disapa Ayuk Chirlhy, dekade ini adalah kisah tentang keberanian memilih, jatuh bangun, hingga bertahan dengan standar rasa yang tak pernah ia kompromikan.

Lulusan S1 Ekonomi ini memulai bisnisnya sejak 2016 dengan satu produk yang kini menjadi identitasnya, Sambel Cumi Pelangi. Meski sempat berkarier di perusahaan BUMN, jiwa wirausaha yang telah tumbuh sejak kecil tak pernah benar-benar padam. “Dari SMP saya sudah jualan. Karena sejak kecil saya memang ingin jadi pengusaha,” ujarnya. Tahun 2021 ia resmi resign dari dunia korporasi dan fokus penuh pada bisnis.

Lahirnya Sambel Cumi Pelangi. Diceritakan Ayuk Chirlhy, inspirasi produk Sambal Cumi Pelangi muncul dari pengalaman sederhana saat ia mencicipi menu Cumi Asin di salah satu resto di Jakarta. Namun ia tidak meniru resep siapa pun. Ia bereksperimen sendiri di dapur rumah, menebak komposisi rasa hanya dari indera perasanya. Berkali-kali gagal, gosong, hingga akhirnya menemukan racikan yang tepat.

Menggunakan cumi asin baby premium dan perpaduan cabai segar berupa cabai rawit merah, cabai merah besar, cabai hijau, hingga cabai meksiko, terciptalah warna-warni alami yang menjadi identitas “pelangi”. Semua cabai diiris segar, bukan cabai giling. Baginya, rasa adalah segalanya, bahkan lebih penting daripada ekspansi cepat.

Harga satu jar ukuran 330 ml dipatoksebesar Rp58.000. Bukan tanpa alasan. Bahan baku premium, kemasan berkualitas, hingga detail stiker waterproof adalah bentuk keseriusannya menjaga citra produk. “Packaging dan tata cara itu mahal. Rasa nomor tiga, karena rasa sudah pasti harus enak,” tegasnya.

Dari Dapur Rumah ke Pasar yang Lebih Luas

Di awal perjalanan, Ayuk Chirlhy mengerjakan semuanya sendiri. Mulai dari belanja, memasak, menimbang, hingga packing. Brand pertamanya, Judes Kitchen, kemudian rebranding menjadi Alayuk Kitchen saat ia hijrah dari Medan ke Jakarta pada 2022. Perpindahan kota menjadi ujian besar. Ia harus memulai dari nol, membangun jaringan baru, dan membuktikan kualitas produknya di pasar yang lebih kompetitif.

Keberanian mengirim produk ke beberapa pengusaha besar berbuah manis. Salah satu dari mereka merespons dan mengajak kolaborasi. Dari situ, namanya semakin dikenal. Reseller bertambah, kini sekitar 15 reseller aktif dengan rata-rata pengambilan ratusan jar per minggu.

Meski sebagian produksi telah dibantu pabrik demi memenuhi kapasitas, Ayuk Chirlhy tetap mempertahankan produksi rumahan untuk relasi terdekat. Quality control tetap di tangannya. Gramasi resep tidak pernah dibagikan. Tim hanya membantu pada tahap teknis, sementara racikan inti tetap ia pegang.

Strategi Open PO dan Kekuatan Reseller

Selain Sambel Cumi Pelangi, Ayuk Chirlhy mengembangkan Mie Bangladesh dan Basreng Daun Jeruk dalam bentuk instan. Ia juga menyiapkan lini dessert dan pastry melalui konsep open pre-order. Strategi ini dipilih agar produksi terukur, meminimalkan risiko, dan menjaga kualitas tanpa harus terbebani operasional besar.

Sepanjang Ramadan dan menjelang Idulfitri, ia fokus pada hampers dan menu ready to eat seperti rendang, dendeng, hingga dessert khas. Dalam momen tersebut, ia bahkan bisa melibatkan hingga 15 tenaga tambahan, sebagian besar ibu-ibu sekitar yang bekerja lepas. Baginya, bisnis harus memberi dampak.

Misi Sosial: Perempuan Harus Produktif

Lebih dari sekadar profit, Ayuk Chirlhy memiliki misi memberdayakan perempuan, khususnya para istri ASN. Ia melihat banyak keluarga yang baru berpikir berbisnis saat mendekati masa pensiun. Melalui program reseller, ia ingin membuka wawasan bahwa usaha bisa dimulai dengan modal minim dan risiko terukur.

“Saya ingin bukan hanya saya yang sukses, tapi banyak orang bisa maju bersama,” katanya. Sistem reseller memberi margin keuntungan menarik, sekaligus peluang membangun kemandirian finansial.

Bertahan di Tengah Ujian

Di balik keteguhan membangun usaha, Ayuk Chirlhy juga menghadapi ujian personal yang mendalam. Terutama saat kehilangan putra tercinta, M. Archel Galaxy (Alm). Masa berduka menjadi fase refleksi sekaligus penguat. Ia memilih tetap berjalan, menjadikan dapur sebagai ruang terapi dan penyembuhan.

Baginya, bisnis memang penuh naik turun. Harga cabai bisa melonjak, pengiriman terlambat, komplain pelanggan datang silih berganti. Namun ia percaya, rezeki sudah diatur. Tugasnya adalah menjaga komitmen, kegigihan, dan standar kualitas.

Mimpi yang Lebih Besar

Ke depan, Ayuk bermimpi menghadirkan mesin frozen food otomatis berisi lauk siap santap di berbagai titik kota. Ia juga merencanakan exhibition 10 tahun perjalanan bisnisnya, melibatkan UMKM lain agar tumbuh bersama.

Dari dapur rumahnya hingga jaringan produksi di beberapa titik, Ayuk Chirlhy membuktikan bahwa ketekunan, konsistensi rasa, dan keberanian membuka peluang adalah fondasi usaha yang berkelanjutan.

Pesannya sederhana namun kuat. “Jangan takut gagal, jangan mudah menyerah, dan jangan tergoda mengubah standar hidup saat berada di atas. Karena dalam bisnis, yang bertahan bukan hanya yang besar, tetapi yang konsisten menjaga kualitas dan nilai,” pungkasnya.

Bagikan:

Bagikan: