MajalahInspiratif.com, Jakarta – Tidak semua suara lahir dari kenyamanan. Sebagian justru ditempa oleh kehilangan, diuji oleh waktu, lalu tumbuh menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan. Atalia Praratya adalah salah satu di antaranya. Dalam diam yang pernah terasa begitu sunyi, ia memilih untuk tidak berhenti melainkan bangkit, melangkah dan menjadikan setiap rasa sebagai energi untuk terus memberi makna. Di tangannya, suara perempuan menjelma menjadi gerak nyata yang menguatkan, merangkul dan menghidupkan harapan.
Perjalanan Atalia Praratya bukan sekadar tentang pencapaian, tetapi tentang proses bagaimana seorang perempuan membangun kekuatan dari dalam dirinya, lalu menyalurkannya untuk kepentingan yang lebih luas. Dalam setiap peran yang ia jalani, tersimpan satu benang merah yang kuat, yakni kepedulian yang tidak pernah padam.
Bagi sosok cantik yang akrab disapa Atalia ini, suara perempuan bukan hanya tentang keberanian untuk berbicara, tetapi juga tentang kepekaan untuk mendengar. Karena dari sanalah empati tumbuh, dan dari empati itulah perubahan menemukan pijakannya.

Kedepankan Empati. Tahun 2024 menjadi babak baru dalam pengabdian Atalia. Ketika ia dipercaya sebagai Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar. Sebuah posisi strategis yang membawanya bersentuhan langsung dengan isu-isu sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Di ruang legislatif, Atalia hadir tidak sekadar sebagai pembuat kebijakan, tetapi sebagai representasi suara masyarakat. Ia memahami bahwa setiap keputusan harus memiliki dampak nyata, bukan hanya di atas kertas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan yang ia bawa pun terasa berbeda, lebih membumi, lebih manusiawi dan sarat dengan perspektif perempuan yang mengedepankan empati.
Fondasi Kepemimpinan. Jauh sebelum berada di panggung nasional, Atalia telah membangun fondasi kepemimpinannya melalui berbagai peran. Sejak 2013, ia dipercaya sebagai Komisaris PT Urbane Indonesia, sebuah posisi yang memperkuat kapasitasnya dalam manajemen dan perencanaan strategis. Pengalaman ini membentuk cara pandangnya bahwa perubahan tidak bisa instan. Ia harus dirancang dengan matang, dijalankan dengan konsisten dan dijaga keberlanjutannya.
Di sisi lain, dunia akademik menjadi ruang lain yang ia tekuni. Sebagai dosen tetap di Universitas Widyatama sejak 2020, Atalia berperan dalam membentuk generasi muda. Ia tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai tentang integritas, tanggung jawab dan kepedulian sosial.

Jabar Bergerak. Jika ada satu ruang yang paling mencerminkan jati diri Atalia, maka itu adalah dunia sosial. Melalui Jabar Bergerak yang ia dirikan dan pimpin sebagai Ketua Umum, Atalia menghadirkan sebuah gerakan yang hidup dan inklusif.
Jabar Bergerak bukan sekadar organisasi, melainkan ruang kolaborasi. Di dalamnya, berbagai elemen masyarakat dipertemukan untuk bergerak bersama, saling menguatkan, dan menciptakan dampak nyata.
Atalia percaya bahwa perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Justru dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama, perubahan dapat tumbuh menjadi kekuatan yang besar.
Membangun Generasi. Komitmennya terhadap masa depan bangsa juga terlihat dari peran Atalia sebagai Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Barat masa bhakti 2020–2025. Di tengah arus modernisasi, ia tetap menekankan pentingnya nilai-nilai dasar seperti kejujuran, kemandirian, dan gotong royong.
Baginya, generasi muda tidak hanya perlu cerdas, tetapi juga harus memiliki karakter yang kuat. Karena di tangan merekalah arah masa depan bangsa akan ditentukan. Dan melalui Pramuka, Atalia menanamkan bahwa kepemimpinan bukan tentang posisi, melainkan tentang tanggung jawab dan keteladanan.
Aksi Nyata untuk Sesama
Semangat kemanusiaan Atalia juga diwujudkan melalui REALITA (Relawan Aksi Nyata untuk Indonesia). Gerakan ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam aksi sosial dan kemanusiaan.
REALITA lahir dari keyakinan bahwa setiap orang bisa berkontribusi. Tidak harus besar, tidak harus sempurna, yang terpenting adalah ketulusan untuk bergerak. Melalui gerakan ini, Atalia menunjukkan bahwa kepedulian adalah kekuatan yang mampu menyatukan banyak orang dalam satu tujuan: membantu sesama.

Dari Luka, Menjadi Kekuatan
Di balik semua peran dan pencapaian, Atalia merupakan seorang perempuan yang pernah merasakan kehilangan begitu dalam. Namun, ia memilih untuk tidak berhenti pada luka. Sebaliknya, ia menjadikan pengalaman tersebut sebagai sumber kekuatan.
Ia membuktikan bahwa kesedihan tidak selalu melemahkan, tapi bisa menjadi ruang untuk bertumbuh, untuk memahami dan untuk memberi lebih banyak kepada orang lain. Di titik inilah, suara perempuan menemukan kedalamannya, bukan hanya kuat tetapi juga penuh makna.
Dan dalam konteks Hari Kartini, Atalia adalah refleksi nyata perempuan masa kini. Jika dahulu Kartini berjuang untuk membuka ruang, hari ini Atalia mengisi ruang tersebut dengan aksi dan kontribusi.
Ia tidak hanya menyuarakan perubahan, tetapi juga menghidupkannya. Ia tidak hanya hadir, tetapi juga memberi arti. Suara perempuan, di tangannya, bukan lagi sekadar wacana melainkan kekuatan yang nyata. “Kekuatan itu akan menemukan maknanya ketika diiringi dengan keberanian untuk melangkah dan ketulusan untuk memberi,” tekan Atalia.
Di momentum Hari Kartini, kisahnya menjadi pengingat bahwa setiap perempuan memiliki potensi untuk menjadi cahaya bahkan setelah melewati gelap. Dan ketika suara itu digunakan untuk menguatkan sesama, di sanalah perubahan tidak hanya terjadi, tetapi juga bertahan.







