Crowdfunding Typography Banner
Kepala Desa Senggreng – Malang – Jawa Timur

Rendyta Witrayani Setyawan, S.E., S.H., M.M, Kekuatan Komunikasi Wujudkan Kepemimpinan Berkarakter

Bagikan:

IMG_5630
{"ARInfo":{"IsUseAR":false},"Version":"1.0.0","MakeupInfo":{"IsUseMakeup":false},"FaceliftInfo":{"IsChangeEyeLift":false,"IsChangeFacelift":false,"IsChangePostureLift":false,"IsChangeNose":false,"IsChangeFaceChin":false,"IsChangeMouth":false,"IsChangeThinFace":false},"BeautyInfo":{"SwitchMedicatedAcne":false,"IsAIBeauty":false,"IsBrightEyes":false,"IsSharpen":false,"IsOldBeauty":false,"IsReduceBlackEyes":false},"HandlerInfo":{"AppName":2},"FilterInfo":{"IsUseFilter":false}}

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Perempuan memiliki peran penting sebagai penggerak ekonomi keluarga, penjaga kualitas generasi dan agen perubahan sosial. Perempuan tidak bisa lepas dari isu kesehatan, pendidikan dan lainnya. Keterlibatan perempuandalam kegiatan masyarakat dan pengambilan keputusan membuat pembangunan menjadi lebih inklusif dan tepat sasaran. Oleh karena itu, memberi ruang bagi perempuan untuk bersuara dan berpartisipasi aktif sangat penting agar kemajuan dapat tercapai secara adil dan berkelanjutan khususnya dalam membangun sebuah desa.

Keyakinan inilah yang mendorong Rendyta Witrayani Setyawan, S.E., S.H., M.M, Kepala Desa Senggreng yang akrab disapa Dyta terus berupaya membangun keterlibatan perempuan dalam membangun desa dengan melihat potensi daerah yang dapat disinergikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi desa mandiri dan berkelanjutan.

“Umumnya ada berbagai program di desa untuk memberdayakan perempuan, seperti pelatihan UMKM dan keterampilan melalui PKK, kegiatan simpan pinjam perempuan, serta pendampingan usaha kecil untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Di bidang pendidikan dan sosial, terdapat program seperti posyandu, kelas ibu, serta penyuluhan kesehatan dan parenting. Selain itu, perempuan juga mulai dilibatkan dalam musyawarah desa agar memiliki peran dalam pengambilan keputusan dan pembangunan masyarakat.”

Sebagai kepala desa Senggreng, Dyta melihat potensi terbesar desa yang terletak pada sektor pertanian yang subur, didukung peluang pengembangan agro industri agar hasil panen memiliki nilai tambah. Selain itu, sumber daya air membuka potensi perikanan, serta wisata desa bisa lebih dikembangkan. Sementara UMKM lokal dapat berkembang melalui digitalisasi pemasaran.

“Keterlibatan masyarakat dalam pembangunan desa sangat dibutuhkan, meningkatkan rasa memiliki, mempeerat gotong royong dimasyarakat dan mengurangi konflik karena untuk tepat sasaran dan relevan.”

Hadapi Tantangan dengan Komunikasi

Sebagai seorang pemimpin, Dyta berusaha meyakinkan masyarakat bahwa perempuan muda dapat memimpin. Ini menjadi tantangan tersendiri melalui program 100 kerja yang dilakukan dan hasilnya direspon baik masyarakat. Dyta berusaha menghadapi tantangan dengan membangun komunikasi dan kedekatan dengan masyarakat melalui pendekatan langsung dan terbuka, seperti rutin mengadakan musyawarah desa, menghadiri kegiatan warga, serta melakukan kunjungan ke dusun- dusun.

“Saya juga mendorong budaya dialog dua arah agar masyarakat merasa nyaman menyampaikan aspirasi maupun keluhan. Selain itu, saya memanfaatkan media komunikasi seperti grup WhatsApp warga untuk mempercepat penyampaian informasi dan menampung masukan, sehingga tercipta hubungan yang akrab, transparan, dan saling percaya antara pemerintah desa dan masyarakat.”

Peran kepemimpinan di tingkat desa, menurut Dyta sangat strategis karena berada paling dekat dengan masyarakat dan memahami langsung kebutuhan mereka. Kepemimpinan desa bukan sekadar menjalankan administrasi, tetapi menjadi motor penggerak perubahan sosial, ekonomi, dan budaya.

Pertama, pemimpin desa harus mampu menjadi visioner sekaligus realistis. Artinya, memiliki arah pembangunan yang jelas, misalnya peningkatan ekonomi lokal, pendidikan, Kesehatan atau infrastruktur namun tetap disesuaikan dengan potensi dan keterbatasan desa.

Kedua, kepemimpinan desa perlu partisipatif. Keberhasilan program sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Kepala desa yang aktif mengajak warga berdiskusi, musyawarah, dan gotong royong akan lebih mudah membangun rasa memiliki terhadap program desa.

Ketiga, menjadi agen pemberdayaan, bukan hanya memberi bantuan, tetapi juga mendorong masyarakat mandiri melalui pelatihan, pengembangan UMKM, dan pemanfaatan potensi lokal (seperti pertanian, wisata desa, atau kerajinan).

Keempat, di era digital, desa dituntut untuk mulai memanfaatkan teknologi baik untuk pelayanan publik, pemasaran produk lokal, maupun akses informasi. Singkatnya, Kepala Desa bukan hanya pemimpin formal, tetapi juga fasilitator, inovator, dan penggerak utama kemajuan desa. Jika kepemimpinan berjalan efektif, desa bisa berkembang mandiri dan berkontribusi besar pada pembangunan nasional.

Mewujudkan Masyarakat Desa Senggreng Sejahtera dan Mandiri

Dyta terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mewujudkan enam misi yaitu kesejahteraan rakyat, inovasi pelayanan publik keluarga bahagia, mandiri dan sejahtera, keterlibatan perempuan dalam pembangunan dan pengambilan kebijakan, menggali potensi desa dalam rangkap peningkatan PAD serta mewujudkan kualitas Sumber Daya Manusia Aparatur Desa.

“Kami berupaya dalam pemenuhan fasilitaskesehatan yang ada di Desa kita maksimalkan di Posyandu, Polindes, Puskesmas pembantu secara berkala melalui jemput bola dalam cek kesehatan gratis dan juga memaksimalkan penurunan stunting. Kami optimis untuk zero stunting. Dengan inovasi yang kami lakukan diantaranya ada Inovasi Si Modin yaitu “Sistem Mencegah Stunting Dini” dan juga One Kader One RT. Selain itu dibidang pendidikan kami berkomitmen untuk tidak ada anak putus sekolah bekerjasama dengan lembaga-lembaga sekolah untuk bagaimana anak-anak bisa mewujudkan wajib belajar hingga SMA.”

Selain itu, Dyta menjalin kerja sama dengan universitas di Malang Raya untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi karena ia percaya ilmu memiliki manfaat yang dapat mengangkat derajat keluarga. Sementara untuk mewujudkan inovasi pelayanan publik, Dyta memiliki Inovasi Pecel Tempe Mendoan, singkatan dari pelyanan cepat tanpa meninggalkan kerjaan.

“Jadi masyarakat kita beri kemudahan untuk jemput bola pelayanan kependudukan secara gratis agar tidak ijin bekerja hanya untuk mengurus pelayanan adminduk.Kami juga meraih Juara 1 Kampung Keluarga berkualitas Tingkat Nasional tahun 2024 dan musyawarah desa kami libatkan perempuan dengan penetapan perkades untuk keikutsetaan musdes harus keterlibatan perempuan minimal 30%.”

Di sisi lain, peningkatan kualitas sumber daya manusia aparatur desa terus dilakukan agar pelayanan semakin profesional. Dyta berharap dalam beberapa tahun ke depan Desa Senggreng dapat menjadi desa yang semakin maju, mandiri, dan berdaya saing dengan masyarakat yang sejahtera dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan.

Generasi Muda Menjadi Motor Penggerak

Lulusan Sarjana Program Studi Manajemen STIEKMA, Sarjana Hukum Universitas Widyagama Malang, Pascasarjana Program Studi Universitas Merdeka Malang, dan sedang menempuh pendidikan S2 Magister Kenotariatan Universitas Islam Malang dan Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Merdeka Malang ini, berharap generasi muda Desa Senggreng dapat menjadi motor penggerak pembangunan dengan memanfaatkan ilmu, kreativitas, dan teknologi yang dimiliki. Ia berharap para pemuda desa tidak hanya mencari peluang di luar desa, tetapi juga mampu melihat potensi lokal untuk dikembangkan, baik di bidang usaha, pertanian modern, maupun UMKM.

Dengan semangat inovasi, kepedulian sosial, dan rasa memiliki terhadap desa, generasi muda dapat berperan aktif menciptakan kemajuan yang berkelanjutan bagi masa depan desa.

Semangat Kartini Membangun Desa

Semangat Kartini dalam pembangunan desa dapat diwujudkan melalui pemberdayaan perempuan sebagai bagian penting dalam pengambilan keputusan dan kegiatan sosial- ekonomi. Perempuan desa memiliki peran strategis, baik dalam keluarga, pendidikan anak, hingga penggerak ekonomi melalui UMKM dan kegiatan masyarakat.

Dengan memberi ruang partisipasi yang setara, seperti keterlibatan dalam musyawarah desa dan program pembangunan, suara perempuan dapat menjadi kekuatan besar dalam menciptakan perubahan, meningkatkan kesejahteraan, serta mendorong kemajuan desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Kepala Desa Perempuan Termuda di Desa Senggreng

Peraih Penghargaan Strong Commitment to Citizen Welfare Radar Malang Award 2024 dan Penghargaan Innovative Young Leader Award Radar Malang Award 2025 terpilih menjadi Kepala Desa dimulai tahun 2022. Saat itu, ia menjadi kepala Desa Pertama Perempuan di Desa Senggreng sekaligus menjadi Kepala Desa Perempuan termuda karena saat dilantik ia berusia 27 Tahun dan diketahui syarat menjadi kepala desa yaitu minimal usia 25 tahun.

“Dengan membawa visi misi saya untuk mengajak masyarakat turut serta membangun memajukan desa, saya dipercayai masyarakat dan diberi amanah untuk mewaqofkan waktu tenaga dan fikiran untuk mengabdi di desa saya ini dengan terpilih menjadi kepala desa senggreng. Sebagai perempuan muda memang harus lebih ektra dalam meyakinkan masyarakat atas kepemimpinan perempuan karena kepala desa biasanya diisi oleh peran laki-laki.”

Dyta memiliki tantangan untuk meyakinkan bahwa perempuan dapat memimpin. Buktinya melalui program yang akan dijalankan, masyarakat mempercayainya untuk menjadikan perubahan dan menjadikan desanya lebih maju.

Alhamdulillah 100 hari kerja, saya menunjukan beberapa program untuk saya realisasikan, dan pada ditahun 2022 itu juga bersamaan desa yang saya pimpin yaitu Desa Senggreng mendapat Penghargaan Predikat Desa Mandiri dari Bapak Menteri Desa dan Daerah Tertinggal Republik Indonesia.”

Bagikan:

Bagikan: