Crowdfunding Typography Banner
Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik dan Dosen Anatomi, Owner PDL Workwear dan Wiszthelabel

Yuli Suciati, SpKFR, AIFO-K, Kembangkan Kolaborasi Analisis dan Kreativitas dalam Bidang Fashion dan Kesehatan

Bagikan:

2

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Mewujudkan pusat rehabilitasi berbasis komunitas yang replikatif, memperluas platform edukasi digital untuk orang tua dan membawa brand lokal ke pasar ASEAN merupakan impian yang sedang diperjuangkan dokter cantik, dr. Yuli Suciati, SpKFR, AIFO-K. Sebagai seorang Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik dan Dosen Anatomi, harapan dan cita-cita yang ingin diraih tentu sejalan dengan bidang yang digelutinya.

Dokter Uci memandang rehabilitasi sebagai proses bukan suatu tindakan yang mengaktifkan otak kiri yaitu logika, analisis dan disiplin latihan, sekaligus otak kanan di antaranya kreativitas, adaptasi dan motivasi. Di ruang klinik dan kelas, perspektif tersebut dibawa untuk menguatkan keluarga, pasien dan mahasiswa. Di ranah kreatif, ia menyalurkan passion desain lewat dua nama yaitu PDL Workwear dan Wiszthelabel. PDL Workwear adalah scrub kerja medis yang fleksibel, kuat dan fashionable. Sementara Wiszthelabel merupakan produk dress hijab elegan untuk pemakaian harian. Meskipun bisnis yang dibangunnya masih tergolong UMKM dan berangkat dari usaha rumahan yang akhirnya berhasil memperoleh pasar melalui media sosial dan promosi mulut ke mulut, dr. Uci menyimpan harapan agar suatu saat brand lokal ini dapat menembus pasar ASEAN dengan mengedepankan kualitas dan inovasi.

“Saya berkarier sebagai Dokter SpKFR dan Dosen Anatomi. Dari awal praktik, saya melihat keberhasilan rehabilitasi bertumpu pada proses yang melibatkan pasien secara aktif, menggabungkan disiplin latihan otak kiri dan kreativitas adaptasi otak kanan. Seiring berjalannya waktu, saya mendirikan PDL Workwear—scrub fungsional nan stylish untuk tenaga kesehatan serta Wiszthelabel, dress hijab elegan yang nyaman dipakai sehari-hari.”

Konsisten dan Empati. Selain aktif sebagai dokter dan dosen, dr. Uci, sapaan akrabnya juga rutin mengedukasi publik melalui media cetak dan elektronik terutama mengenai tren isu pendidikan inklusif bagi anak dengan disabilitas fisik maupun perilaku. Kegiatan ini menjadi keyakinan bahwa bela bangsa dapat dimulai dari karya yang konsisten, empatik dan berdaya guna.

“Konsistensi adalah proses untuk mendapatkan hasil. Empati diwujudkan dengan mendengarkan pasien, mahasiswa dan konsumen. Inovasi kecil berulang juga dilakukan untuk meningkatkan layanan dan produk serta aktivasi otak kiri dan kanan dalam belajar serta berkarya.”

Tidak hanya berupaya untuk konsisten, dr. Uci juga tidak pernah berhenti belajar untuk memaksimalkan dan mengekspresikan potensi diri. “Belajar berkelanjutan dengan kursus, riset, mentoring. Rutinitas rehabilitatif pribadi yaitu tidur, gerak, makan yang terukur, ekspresi kreatif dengan menghasilkan jurnal, seni dan desain untuk menyeimbangkan kerja otak kiri dan kanan, komunitas yang mendukung serta literasi digital untuk membangun portofolio dan daya saing.”

Rutin Berbagi Sebagai Kebutuhan Nyata. Berbagi menjadi rutinitas yang tidak dapat dipisahkan dalam perjalanan kehidupan dr. Uci. Kegiatan berbagi dilakukan dengan menyisihkan laba untuk program edukasi anak berkebutuhan khusus, pelatihan caregiver dan beasiswa kecil berbasis kebutuhan lokal.

“Dengan berbagi, saya merasakan dampak yang luar biasa. Menjaga sense of purpose, memperluas jejaring kolaborasi dan membangun reputasi berbasis kepercayaan yang pada akhirnya menguatkan karier dan bisnis.”

Optimis Menuju Indonesia Emas 2045. Dokter Uci merasa optimis untuk melaju dan menuju Indonesia Emas 2045, apalagi melihat penetrasi internet 2025 yang mencapai 80,66% (dari data APJII 2025) sehingga peluang upskilling dan kewirausahaan digital semakin terbuka. Namun ada pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan yaitu pemerataan kualitas pendidikan, kesehatan mental dan disiplin kerja.

“Persoalan utama masyarakat adalah kesehatan ibu dan anak, stunting nasional 2024 turun ke 19,8% (menurut data SSGI 2024 – Kemenkes/BKPK, rilis 2025), tetapi butuh konsistensi intervensi gizi & edukasi keluarga. Perlindungan kesehatan di mana JKN melaporkan 98,45% penduduk terdaftar per 31 Des 2024 (data BPJS Kesehatan – JKN, rilis 2025). Tantangan berikutnya adalah pemerataan mutu layanan dan kesinambungan rehabilitasi. Di bidang pendidikan, Angka Partisipasi Sekolah (APS) remaja 16–18 tahun masih turun dibanding jenjang sebelumnya dan menandai PR pada transisi ke SMA/SMK. Sementara UMKM menyumbang ±61% PDB dan menyerap ±97% tenaga kerja (dari data Kemenkeu/KADIN). Namun masih menghadapi kendala literasi digital & akses permodalan.”

Harapan dalam Karier dan Bisnis. Mewujudkan pusat rehabilitasi berbasis komunitas yang replikatif, memperluas platform edukasi digital untuk orang tua dan mahasiswa serta membawa brand lokal PDL Workwear dan Wiszthelabel ke pasar ASEAN menjadi prioritas yang diharapkan dapat memperoleh dukungan dari Pemerintah dan masyarakat.

“Saya berharap Pemerintah dapat memperkuat rujukan rehabilitasi berbasis komunitas, insentif pelatihan terapis dan ekosistem pembiayaan UMKM kreatif. Untuk masyarakat dapat menerima dan berpartisipasi dalam program inklusif anak disabilitas sedangkan untuk sesama pengusaha dapat co-manufacturing, co-branding dan shared logistics lintas sektor.”

Sebagai pebisnis, dr. Uci memahami bahwa persaingan akan selalu ada dan tidak dapat dihindari. Namun ia lebih fokus pada produknya sendiri yaitu dengan meningkatkan quality control, literasi cepat berbasis umpan balik serta kanal edukasi yang membangun kedekatan dan bukan hanya iklan. Ia juga menghadirkan produk yang memiliki nilai pembeda di antaranya desain yang berangkat dari kebutuhan fungsional dengan penyempurnaan estetika. Ia juga menerapkan strategi marketing era digital yaitu konten edukasi, storytelling, kisah pengguna, community event online, UGC dan CRM sederhana. Ia percaya bahwa momentum digital semakin kuat seiring perluasan akses internet nasional.

“Rencana ke depan, saya akan membuat skala produksi bertahap (made-to-stock) untuk SKU Best Seller), perluas kanal daring, kolaborasi kapsul dengan komunitas profesi dan uji ekspor mikro ke pasar ASEAN.”

Bagikan:

Bagikan: