MajalahInspiratif.com, Jakarta – Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental, peran seorang psikolog menjadi semakin krusial. Tidak hanya sebagai tempat berkonsultasi, tetapi juga sebagai figur yang mampu memberikan pemahaman, pendampingan, sekaligus harapan bagi mereka yang tengah menghadapi berbagai tantangan emosional. Dalam lanskap inilah nama Sani Budiantini Hermawan, S.Psi., Psikolog dikenal sebagai sosok perempuan yang mendedikasikan hidupnya untuk memperkuat kesehatan mental individu dan keluarga.
Sebagai Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, Ketua Yayasan Insani At Taqwa, serta Advisor layanan mental health Sadari Diri, Sani Budiantini Hermawan, memimpin dengan pendekatan yang tidak hanya profesional tetapi juga penuh empati. Baginya, kepemimpinan bukan sekadar posisi, melainkan tentang bagaimana memberikan dampak nyata bagi kehidupan orang lain.

Dedikasi tersebut tercermin dari komitmennya dalam menangani klien. Dalam praktiknya, sosok yang biasa dipanggil Sani ini, bahkan memilih untuk tetap terlibat langsung dalam setiap proses penanganan kasus. Karena menurutnya, penanganan klien tidak bisa sebentar dan butuh kesabaran. Fase awal dengan building trust atau bangun kepercayaan agar klien merasa nyaman dan aman, analisis masalah yang perlu kehati-hatian, setelah itu mencari jalan keluar dari masalah yang ada. ”Yang perlu dijaga adalah kode etik klien yaitu menjaga kerahasiaan,” imbuh Sani.
Pendekatan ini membuat banyak klien merasa lebih diperhatikan dan mendapatkan penanganan yang personal. Bahkan, tidak sedikit klien yang berasal dari luar negeri dan harus menyesuaikan waktu konsultasi dengan perbedaan zona waktu.Tak jarang Sani harus terbangun pada dini hari untuk melayani sesi konsultasi. Namun baginya, hal tersebut bukanlah beban, melainkan bagian dari komitmen profesinya.“Yang penting klien merasa didengar dan diperhatikan,” ujarnya.
Panggilan Hati. Ketertarikan Sani pada dunia psikologi telah muncul sejak usia muda. Ia tumbuh dalam keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai dokter. Kedua orang tuanya adalah dokter, begitu pula kakak kandungnya. Bahkan saudara kembarnya berkarier sebagai dokter anak di Amerika Serikat.
Namun Sani memiliki panggilan yang berbeda, ia memilih jalur psikologi karena tertarik pada proses memahami manusia secara lebih mendalam, mulai dari emosi, perilaku, hingga proses pembentukan karakter. Jejak Sani diikuti oleh adiknya yang kini berprofesi sebagai Psikolog Klinis
“Dokter dan psikolog sama-sama membantu orang. Bedanya dokter menggunakan medikasi, sedangkan psikolog menggunakan psikoterapi. Saya tertarik pada proses membangun karakter dan membantu seseorang memahami dirinya,” jelasnya.
Pilihan tersebut kemudian membawanya pada perjalanan panjang dalam dunia psikologi profesional. Melalui Lembaga Psikologi Daya Insani, Sani memberikan layanan konseling dan pendampingan bagi individu maupun keluarga yang membutuhkan dukungan psikologis.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia juga aktif menjadi narasumber di berbagai media televisi nasional seperti Metro TV, Kompas TV, TV One, iNews, hingga BTV. Dalam berbagai kesempatan tersebut, Sani kerap menyoroti meningkatnya masalah kesehatan mental pada anak dan remaja di Indonesia.
Menurutnya, saat ini Indonesia tengah menghadapi kondisi yang bisa disebut sebagai darurat kesehatan mental anak, dengan berbagai faktor risiko seperti bullying, kekerasan dalam rumah tangga, tekanan akademik, hingga kecanduan game dan media digital.
“Penanganan korban kekerasan perlu dilihat dari perspektif korban dan perlu pendampingan psikologis. Korban perlu proses untuk recovery mental dan setiap orang butuh waktu yang berbeda beda,” tegasnya.
Bagi Sani, kesadaran orang tua juga menjadi kunci penting dalam mencegah munculnya masalah mental pada anak.

Kolaborasi Keluarga. Perjalanan profesional Sani juga tidak terlepas dari dukungan keluarga. Ia menikah dengan Ir. Hermawan Sarwono, MM, yang menjabat sebagai Direktur PT Insani Daya Kreasi. Dukungan sang suami menjadi salah satu kekuatan yang membuatnya mampu menjalankan berbagai peran secara seimbang.
Putri pertama mereka, Hersa Aranti, M.Psi., Psikolog, kini menjadi CEO Sadari Diri, sebuah layanan kesehatan mental yang juga mendapat dukungan dan arahan dari Sani sebagai advisor. Dalam pengembangannya, Hersa juga didukung oleh sang suami, Bima Sastra Gordhi, lulusan S2 sebuah perguruan tinggi di Inggris, sehingga Sadari Diri terus berkembang sebagai ruang layanan kesehatan mental yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sadari Diri menghadirkan layanan konseling sekaligus terapi center di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, yang melayani berbagai kebutuhan terapi bagi anak dan keluarga. Beberapa terapi yang tersedia antara lain Sensory Integration, Speech Therapy, Hydro Therapy, Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Hypnotherapy untuk pengembangan diri, hingga Family Therapy.
Layanan ini membantu berbagai permasalahan perkembangan anak, seperti gangguan fokus, kesulitan belajar, keterlambatan bicara, keterlambatan perkembangan, hingga kecemasan dan kesulitan dalam interaksi sosial.
Dalam operasionalnya, Sadari Diri didukung oleh Psikolog Senior dan Psikolog Muda yang berpengalaman dengan fokus di klinis anak, klinis dewasa dan layanan assesment atau training di Perkantoran.
Sementara itu, putra keduanya Aryudha Hermawan Sarwono, SH berkiprah sebagai pemilik Social Media Agency, dan putra ketiganya Armadya Hermawan Sarwono, S.Kom berprofesi sebagai IT Consultant.
Bagi Sani, keluarga bukan hanya tempat pulang, tetapi juga sumber kekuatan yang membuatnya mampu menjalani berbagai tanggung jawab.
Edukasi Lewat Media Digital. Selain melalui praktik profesional, Sani juga aktif mengedukasi masyarakat melalui media digital. Bersama sang putri Hersa Aranti, ia menghadirkan Podcast “Duo Psikolog Ibu dan Anak”.
Podcast tersebut menjadi ruang diskusi yang membahas berbagai isu kesehatan mental secara ringan namun mendalam. Dengan menghadirkan berbagai publik figur sebagai bintang tamu, podcast tersebut berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mental sekaligus membangun hubungan keluarga yang sehat.Program ini dapat diakses melalui aplikasi TikTok dan YouTube, sehingga mampu menjangkau generasi muda secara lebih luas.
Kepedulian Sosial. Di luar aktivitas profesionalnya, Sani juga aktif dalam kegiatan sosial melalui perannya sebagai Ketua Yayasan Insani At Taqwa. Yayasan ini menjadi wadah bagi berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan yang bertujuan membantu masyarakat yang membutuhkan.
Semangat berbagi tersebut lahir dari inspirasinya terhadap sosok Bunda Teresa, yang dikenal karena dedikasinya dalam menolong sesama tanpa memandang latar belakang.“Bagi saya, membantu orang lain adalah panggilan hidup,” ungkapnya.
Nilai empati inilah yang kemudian menjadi fondasi kepemimpinan Sani, baik dalam dunia profesional maupun dalam aktivitas sosialnya.

Hadirkan Dampak Nyata. Perjalanan panjang Sani Budiantini Hermawan menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan dapat hadir melalui berbagai bentuk, mulai dari pelayanan profesional, edukasi publik, hingga kontribusi sosial bagi masyarakat.
Melalui dedikasinya sebagai psikolog, edukator, dan pemimpin lembaga, ia terus mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental. Dan di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, Sani percaya bahwa masa depan generasi bangsa sangat ditentukan oleh kemampuan kita memahami dan menjaga kesehatan mental sejak dini.
Karena pada akhirnya, kepemimpinan yang sejati bukan hanya tentang posisi yang dimiliki, tetapi tentang dampak nyata yang mampu diberikan bagi kehidupan orang lain.
Jaga Harmoni Keluarga
Meski memiliki jadwal yang padat, Sani tetap berusaha menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga. Salah satu cara yang ia lakukan adalah dengan meluangkan waktu untuk travelling dan menikmati kuliner bersama keluarga.Perjalanan ke luar negeri kerap mereka jadikan sebagai momen bonding yang mempererat hubungan emosional antar anggota keluarga.
Selain itu, Sani juga meyakini bahwa hubungan suami istri yang sehat adalah fondasi utama keluarga. Karena itu, ia dan sang suami juga kerap menyempatkan waktu untuk berlibur berdua sebagai bentuk healing dari kesibukan sehari-hari. Dan sebagai wujud rasa sayang, Sani bertekad membahagiakan sang ibu, dengan mengikutsertakan beliau di setiap traveling keluarga.







