Intuisi yang peka serta empati tinggi membuat wanita multitalenta ini mampu mengelola beberapa bisnis dalam genggamannya. Mulai dari bisnis alat kesehatan berkualitas dengan harga terjangkau, bisnis ambulance, bisnis perjalanan Haji dan Umroh premium hingga Lembaga Bantuan Hukum sanggup ia jalankan bersamaan.
Perjalanan bisnis Prof. Dr. (HC) Esti Pramestiari dimulai pada saat ia melihat banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan. Ia merasa terpanggil untuk menolong serta membantu mereka sesuai dengan bidang dan keahlian yang dimilikinya.
Sebagai langkah awal, Esti mencoba keluar dari zona nyaman, meski pada saat itu karier nya sedang berada di puncak pada perusahaan BUMN. “Niat saya mendirikan perusahaan ini adalah agar bisnis saya dapat menjadi jalan kebaikan dan kemudahan bagi orang lain dan tentunya membantu orang lain yang membutuhkan,” ungkapnya.
Motivasi Esti yang utama adalah ingin membuka lapangan usaha bagi banyak orang. Kemudian lewat usaha ini ia ingin dapat membantu orang lain dengan harapan juga mampu menjadi berkah bagi orang banyak.
Esti Prametiari memiliki berbagai macam bidang bisnis, seperti distribusi alat-alat kesehatan di bawah bendera PT Berkah Medika Group. Hal yang menginspirasinya adalah keinginan untuk menolong sesama terutama pada Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan, untuk memperoleh alat-alat kesehatan yang canggih namun dengan harga yang kompetitif, sehingga fasilitas tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat luas dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.

Selain canggih, keunggulan yang ditawarkan Esti mencakup berbagai segmentasi mulai dari barang habis pakai seperti jarum suntik, jarum kasa, atau masker, hingga Ruang Operasi dan Ruang Hemodialisa. Esti memproduksi barang yang terbaik dengan harga yang kompetitif sehingga manfaat bisa dirasakan oleh Dinas Kesehatan serta Rumah Sakit Pemerintah maupun swasta.
Esti juga terinspirasi masih banyak desa tertinggal yang tidak memiliki sarana dan tranasportasi ambulance yang memadai untuk membawa pasien ke Rumah Sakit. Maka ia mendirikan PT Raja Ambulance Indonesia dengan harapan desa-desa terpencil mendapatkan layanan ambulance dengan fasilitas memadai, seperti alat MCU, alat Hemodialisa, alat Laboratorium, dan alat USG. Dengan demikian masyarakat tidak perlu keluar jauh dari desa untuk dapat merasakan fasilitas canggih tersebut karena mobil-mobil ambulance dapat mendatangi pelosok-pelosok desa.
Selanjutnya PT Cakrawala Islami Indonesia, Esti terinpirasi dari banyaknya jamaah Haji dan Umroh yang kurang mendapat fasilitas yang baik. Dari situ Esti mengusahakan agar orang-orang dapat melalukan Ibadah Umroh dan Haji dengan pelayaan dan fasilitas yang terbaik, sehingga mereka bisa melaksanakan Ibadah Umroh atau Haji dengan lebih nyaman dan khusyuk. Keunggulan yang ditawarkan Esti adalah menyediakan fasilitas bintang 5 VVIP maupun VIP dengan harga yang terjangkau dan hotel yang sangat dekat dengan Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi.
Sementara PT Intellectual Law Officer didirikan Esti untuk memfasilitasi orang-orang yang sedang berkaitan dengan hukum, atau memang orang yang ingin Esti berikan informasi dan pengetahuan ketika mereka sedang berkaitan dengan hukum. Juga untuk orang-orang yang sama sekali tidak mengerti hukum, Esti ingin sekali memberikan penyuluhan ke pelosok-pelosok desa, sehingga dapat membantu masyarakat di pedesaan atau buruh-buruh pabrik atau orang-orang pada umumnya untuk mendapatkan perlindungan atau kesetaraan di dalam hukum.
“Jadi tidak hanya melayani masyarakat kelas menengah ke atas namun juga bantuan hukum untuk masyarakat pedesaan, masyarakat terpencil, dan kurang mampu yang membutuhkan bantuan hukum. Kami ingin masyarakat bisa mendapatkan keseimbangan dan kesetaraan dalam hukum di wilayah Republik Indonesia.”
Intinya Esti ingin menolong masyarakat dan ingin bermanfaat untuk bangsa dan negara Indonesia. “Jadi saya mendirikan bisnis dengan berbagai macam jenis lini bisnis ini ya sesuai dengan kemampuan di bidang pendidikan yang saya miliki,” ungkapnya.
Di tengah perubahan global yang cepat, Esti mengakui bahwa menjaga cara berpikir tetap terbuka bukan tentang tahu segalanya, melainkan harus mau terus belajar. “Dunia berubah sangat cepat, saya menjaga kedekatan dengan realista seperti turun langsung ke lapangan, mendengar cerita orang-orang yang terdampak. Saya juga tak puas hanya membaca laporan, atau hanya sekedar duduk di ruangan setiap waktu, sehingga aktivitas turun ke lapangan membantu saya tetap membumi, peka, dan tidak terjebak pada cara berpikir lama di tengah perubahan global yang terus bergerak.”
Menurut Esti, keluar dari zona nyaman adalah keputusan yang paling mengubah cara pandangnya dalam memimpin dan menentukan arah bisnis yang sedang ia jalankan. Pada fase itu, Esti dipaksa meninggalkan hal-hal yang terasa aman dan familiar untuk berhadapan langsung dengan ketidakpastian, risiko, dan tanggung jawab yang sepenuhnya harus ia kelola dengan profesional.
”Saya belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang mempertahankan kenyamanan, melainkan tentang keberanian mengambil keputusan yang tidak selalu dapat diterima oleh banyak orang. Selain itu kepekaan saya terhadap manusia dan situasi ternyata menjadi lebih tajam ketika kita berani keluar dari zona nyaman, dan hal itu sangat bermanfaat untuk keberlangsungan usaha jangka panjang,” imbuhnya dengan mantap.

Strategi dan Gaya Kepemimpinan
Strategi bisnis yang diterapkan Esti, terutama dalam marketing, selalu memulai dengan memahami konteks dari apa yang klien butuhkan, apa yang sedang mereka hadapi, apa yang mereka inginkan, dan apa yang membuat mereka percaya. Dari situ, hasil dan kesan yang dibangun jadi terasa relevan dan jujur, bukan sekadar promosi. Esti menghindari komunikasi yang terlalu ‘berjualan’ karena di era sekarang orang sudah lebih peka terhadap niat di balik apa yang dijual.
“Perusahaan harus punya suara dan nilai yang jelas, supaya mudah dikenali dan dipercaya oleh banyak orang dan kedekatan jangka panjang seperti fokus membangun relasi dengan para klien, bukan hanya mengejar angka penjualan cepat.”
Agar visi misi perusahaan sejalan dan solid dengan tim yang dimiliki, Esti mengedukasi tim dalam bentuk cerita sederhana dan relevan. “Saya paparkan kepada tim kenapa visi ini penting, apa dampaknya buat bisnis, dan yang paling penting apa artinya bagi peran masing-masing orang. Kalau orang paham konteksnya mereka akan bekerja dengan arah dan tujuan, jadi bukan sekadar instruksi yang saya berikan namun saya juga harus konsisten memastikan semua itu lewat contoh yang konkrit.”
Cara Esti mengambil keputusan, memberi prioritas, dan menilai kinerja tentunya harus sejalan dengan visi misi perusahaan. Harapannya, ketika tim melihat visi itu tercermin dalam tindakan sehari-hari pemimpinnya, maka otomatis mereka paham tanpa perlu diyakinkan lagi.
Esti memiliki tim yang terdiri dari beragam latar belakang, gaya kerja, dan cara berpikir yang berbeda. Jadi hal pertama yang Ia jaga adalah membuat tim merasa aman untuk bicara, bertanya, dan bahkan berbeda pendapat tanpa takut dihakimi. Menurut Esti, saat orang merasa didengar dan dihargai, semangat kerja biasanya tumbuh dengan sendirinya.
Untuk kolaborasi, Esti selalu berusaha jelas soal tujuan dan peran, bukan untuk membatasi tapi supaya setiap orang tahu kontribusinya penting dan saling melengkapi. Soal kualitas kerja Esti cenderung untuk menjadi yang terbaik, tidak mudah putus asa, selalu optimis dan berusaha mengikuti perkembangan zaman untuk kepentingan bisnis. Ia tidak membatasi semua orang yang berkerja dengannya untuk memiliki gaya kerja yang sama, selama hasilnya sesuai dan prosesnya sehat. Feedback pun Esti jaga dan berikan dengan dua arah bukan hanya mengoreksi tapi juga membuka ruang diskusi bersama.

Tantangan di Era Digital
Menurut Esti, teknologi dan pola kerja itu dinamis dan tidak semua bisa diprediksi dengan akurat dan cepat. Jadi daripada sibuk mencoba menebak masa depan, Esti lebih fokus membangun budaya di mana perusahaan cepat belajar akan adanya perubahan teknologi yang cukup besar, cepat mencoba, dan cepat memperbaiki. “Salah sedikit itu wajar, asal kita cepat dalam menyadarinya.”
Setiap proses dalam pekerjaan apapun boleh dipertanyakan, setiap asumsi boleh diuji dan dibicarakan dengan terbukanya ruang diskusi bersama. Dari situ bisnis jadi lebih lentur tidak kaku saat perubahan datang. Bisnis yang adaptif bukan yang paling besar atau paling canggih teknologinya tapi juga karena orang-orang di dalamnya mau terus belajar dan berani berubah sebelum keadaan memaksa.
Tantangan kepemimpinan yang paling terasa saat ini bagi Esti adalah menjaga keseimbangan antara kecepatan dan kedalaman. Tuntutan saat ini untuk bergerak cepat sangat besar, pasar berubah, teknologi berkembang, ekspektasi semakin tinggi tapi kalau hanya mengejar cepat ke arah yang lebih besar mudah kabur. Esti belajar untuk tidak memikul semuanya sendiri di tengah kompleksitas ia melibatkan tim inti dalam pengambilan keputusan untuk membantu menjaga perspektif dan ketenangan. “Bagi saya, menjaga arah besar bukan soal keras kepala mempertahankan rencana awal tapi cukup fleksibel untuk menyesuaikan langkah tanpa mengorbankan prinsip perusahaan yang sudah dibangun sejak awal.”
Bagi Esti, impact itu bukan soal seberapa dikenal atau seberapa besar posisi yang pernah ia pegang. “Impact adalah ketika keberadaan kita benar-benar memberi arti bagi orang lain bahkan setelah kita tidak lagi berada di posisi tersebut. Dalam peran kepemimpinan dampak yang ingin saya tinggalkan sederhana tapi saya ingin orang-orang yang pernah bekerja bersama saya tumbuh menjadi versi dirinya yang lebih percaya diri, lebih berani mengambil keputusan, dan punya standar kerja yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi kalau suatu hari mereka memimpin timnya sendiri dan membawa nilai-nilai itu ke tempat lain bagi saya itu sudah menjadi impact yang nyata. Impact terbaik dari seorang pemimpin bagi saya adalah ketika hasilnya berkelanjutan dan pengaruhnya tetap hidup lewat orang-orang yang pernah ia percayai dan dukung.” tegas Esti.
Integritas, lanjut Esti, adalah kebiasaan yang harus dan penting untuk diwariskan kepada generasi pimpinan selanjutnya. Di dunia yang serba cepat dan penuh godaan jalan pintas, kemampuan untuk tetap jujur dan konsisten pada nilai akan jadi pembeda utama. Kepercayaan itu mahal dan sekali hilang sulit untuk kembali lagi.
Kemudian, kerendahan hati untuk terus belajar. Perubahan akan selalu datang lebih cepat dari pengalaman masa lalu, dan pemimpin yang bertahan bukan yang merasa paling tahu tapi yang mau mengakui keterbatasan dan terbuka pada ide baru meskipun dari orang yang lebih muda atau berbeda latar belakang. Dan terakhir adalah kepedulian pada manusia. Target, teknologi, dan strategi memang penting, namun orang-oranglah yang mampu menggerakkannya ke arah yang benar. Prinsip Esti, pemimpin perlu ingat bahwa empati bukan kelemahan justru sebuah kekuatan untuk membangun tim yang tahan banting dan berkelanjutan.
Tantangan yang tak kalah penting adalah persaingan. Dalam bisnis, menurut Esti, persaingan adalah hal yang sangat wajar, dinamis dan semakin ketat. Bukan hanya soal siapa yang paling murah atau paling cepat, tapi siapa yang paling relevan dan dipercaya oleh klien. Banyak orang yang mempunyai perusahaan bisa menawarkan produk atau layanan serupa, tapi tidak semuanya mampu membangun hubungan jangka panjang dengan klien. Esti tidak terlalu terpaku mengejar apa yang dilakukan kompetitor, tapi lebih pada memperkuat nilai unik yang benar-benar perusahaannya kuasai, baik dari kualitas, pengalaman pelanggan, maupun cara perusahan berkomunikasi.
“Ketika nilai itu konsisten dirasakan persaingan harga jadi bukan satu-satunya pertimbangan, buat saya memenangkan persaingan bukan soal mengalahkan kompetitor secara langsung tapi memastikan bisnis terus tumbuh karena kepercayaan pelanggan.”
Mengatasi berbagai kendala dan tantangan, Esti selalu berpedoman pada nilai-nilai kerja yang positif sebagai kiat suksesnya. Ia selalu menerapkan disiplin pada hal-hal dasar seperti jujur, amanah, menepati janji, menyelesaikan pekerjaan dengan rapi, dan tidak menunda keputusan penting dalam keadaan apapun. Kedengarannya sederhana, tapi justru ini yang paling membedakan dalam jangka panjang.
“Saya memilih untuk membangun relasi bukan sekadar jaringan, saya menjaga kepercayaan, bersikap konsisten, dan tidak hanya hadir saat butuh. Banyak peluang datang bukan karena saya paling pintar, tapi karena orang merasa aman bekerja sama dengan saya. Buat saya, sukses adalah saat kita bertumbuh, tetap relevan, dan bisa memberi dampak positif dan memberikan manfaat untuk orang lain,” bijaknya. AP







