Crowdfunding Typography Banner

Pernikahan Rangga & Bening, Cinta Tidak Butuh Waktu Panjang untuk Menjadi Pasti

Bagikan:

1

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Penuh sakral, tepat tanggal 9 November 2025, disaksikan keluarga terdekat, Rangga Prasetya Aji Prabowo dan  Bening Riyan Wiesta, mengikat janji putih, menjadi sepasang suami istri. Dalam balutan busana adat Jawa Tengah, keduanya tampil memukau bagai Raja dan Ratu Jawa. Suasana haru menyelimuti hampir seluruh proses, mulai dari  akad nikah hingga resepsi.

Pertemuan yang Unik

Jodoh, takdir dan maut, memang menjadi rahasia Allah. Begitu juga dengan kisah percintaan Rangga dan Bening. Siapa sangka, Rangga yang telah lama mencari calon istri, bisa bertemu dengan Bening lewat aplikasi Tiktok.

“Kisah cinta saya dan Bening terbilang unik dan mungkin sampai sekarang masih tidak menyangka bisa sampai ke jenjang pernikahan. Saya dan Bening tidak sengaja kenal melalui media sosial Tiktok, bermula ketika Bening dulunya adalah seorang host di Tiktok dan saya masuk sebagai penonton. Awal interaksi mula kami  adalah saat saya pertama kali memberikan dia gift di Tiktok yang tidak seberapa, namun di situlah babak awal interaksi dengan Bening terjalin,” ujar Rangga membuka kisah awal pertemuannya.

Seiring waktu, Rangga dan Bening semakin intens melakukan komunikasi entah itu melalui direct message maupun pesan WA. Percakapan yang intens ini tak disangka menumbuhkan rasa kagum Rangga pada Bening yang dianggapnya sosok perempuan mandiri, kuat dan mempunyai pola pikiran yang berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah dikenalnya.

Intensif hanya saling sapa lewat WA, enam bulan kemudian, tepatnya tanggal 23 Juli 2025, pertemuan pertama pun terjadi. Dari pertemuan pertama ini sepertinya hati Rangga semakin terpikat dengan pesona Bening, gadis cantik asal Sragen, Jawa Tengah.

“Sebelum janjian bertemu dengan Bening, saya cerita ke Mama Gati kalau saya sedang dekat dengan seorang perempuan. Saya ceritakan bagaimana Bening. Saat itu Mama bilang ingin ketemu. Sebelum Mama ingin ketemu Bening inilah dari Yogya saya berangkat ke Sragen menemui Bening dan keluarganya. Dari situ lanjut pertemuan kedua di rumah saya di Yogya untuk bertemu Mama yang datang dari Jakarta. Higga akhirnya di pertemuan ke tiga di rumah Bening, pembicaraan yang mengarah ke jejang pernikahan sudah dibicarakan kedua orang tua kami,” tutur Rangga.

Menurut Rangga, Mama Gati melihat ada yang lain dari Bening seperti perhatian-perhatian kecil yang ditunjukkan Bening  membuat Mama Gati yang terkenal sangat protektif ke anak-anaknya seketika luluh dengan Bening. Dan di situ Mama Gati  menurut Rangga menyampaikan kalau Bening  bisa membuat dirinya tenang dalam menjalankan hidup, tidak bikin pusing, Mama setuju.

“Jadi fun fact-nya, kami berdua tidak pernah pacaran sama sekali dan bertemu hanya 3 kali saja. Karena terbilang singkat, banyak orang bertanya kenapa memutuskan untuk menikah? Ditanya seperti itu,  saya hanya menjawab simple, saya memutuskan menikah karena restu dari orang tua saya dan Bening. Tujuan saya menikah dengan Bening tidak lain dan tidak bukan adalah untuk membuat Mama saya bahagia, karena salah satu cara untuk melihat Mama bahagia adalah dengan menikah. Begitupun juga dengan Bening adalah untuk membuat ibunya bahagia,” ungkap Rangga.

Akad & Resepsi yang Sakral

Minggu pagi, 9 November 2025, keduanya resmi mengikat janji suci di kediaman keluarga Bening di Plumbon, Sambungmacan, Sragen. Joglo yang dibangun khusus oleh mendiang ayah Bening menjadi tempat sakral perjalanan hidup baru mereka.

Sejak siraman, tilik nitik, dudukan adat Sragen, hingga midodareni—semua dilaksanakan lengkap sesuai amanah dua almarhum ayah mereka. Setiap tahap membawa makna penyucian, harapan, dan restu.

Busana pernikahan mengusung tema Rama & Sinta, dominan bludru hijau dengan payet emas—simbol cinta abadi, kesetiaan, dan keanggunan Jawa. “Kami ingin adat Jawa tetap hidup. Ini amanah dari bapak kami berdua,” ujar Bening.

Resepsi pun sarat ritual: panggih, bobot timbang, kacar-kucur, dulangan, hingga sungkeman. Semua menghadirkan suasana sakral dan penuh keharuan.Souvenir sendok, garpu, dan sumpit dipilih dengan filosofi harmoni—kesabaran, ketegasan, kesatuan, dan keseimbangan hidup.

Menemukan Rumah dalam Diri Satu Sama Lain

Rangga merasa telah menemukan sosok yang selama ini ia cari, perempuan dengan sifat keibuan yang mengingatkannya pada Mama Gati. “Sifat Bening itu sama persis seperti Mama Gati. Dari situlah saya yakin memilih dia,” kata Rangga.

Sementara Bening melihat ketulusan Rangga bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk keluarga besarnya. “Mas Rangga itu bukan cuma sayang sama saya, tapi perhatian juga ke keluarga saya. Jarang ada laki-laki seperti itu,” puja Bening.

Dua hari usai melangsungkan pernikahan, keduanya kembali bekerja. Rangga kembali sibuk mengurusi bisnis propertinya, Bening dengan pekerjaanya sebagai Lawyer. Mempunyai basic sama-sama sebagai pengusaha, mimpi besar sudah dirangkai keduanya,  membangun bisnis jasa bersama, merencanakan dua anak di masa depan, dan menjalani hidup yang rukun dalam suka maupun duka. Di atas semua itu, mereka ingin membuat dua ibu mereka bahagia—melihat anak-anaknya mentas dan menjalani hidup baru penuh keberkahan.

Dari layar TikTok hingga pelaminan adat Jawa, perjalanan Rangga dan Bening membuktikan satu hal, cinta tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang untuk menjadi pasti. Yang dibutuhkan hanya hati yang tulus, keberanian mengambil langkah, dan restu yang merentangkan jalan.

Bagikan:

Bagikan: