Crowdfunding Typography Banner
Owner PT FEB Digital Agency, Owner PT Mandala Digital Indonesia, Co-Owner Arah Coffee (PT Arah Rasa Nusantara)

Galih Mandala Putra, S.Sn., M.Ds., CDM, Bangun Ekosistem Digital yang Memberdayakan UMKM Indonesia

Bagikan:

1

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Di balik kesuksesan FEB Digital Agency yang kini dikenal luas sebagai salah satu perusahaan digital marketing terdepan di Indonesia, ada sosok muda visioner bernama Galih Mandala Putra, S.Sn., M.Ds., CDM. Ia adalah owner sekaligus pemrakarsa PT FEB Digital Agency dan PT Mandala Digital Indonesia. Perjalanan bisnisnya penuh liku, jatuh bangun, hingga akhirnya menorehkan pencapaian yang membanggakan di tingkat nasional maupun internasional.

Minimnya pendapatan para UMKM di sekitar kampung halamannya, Cirebon, seakan mengusik nurani Galih Mandala Putra, S.Sn., M.Ds., CDM, untuk berbuat sesuatu yang mampu mendukung mereka meningkatkan kesejahteraan hidup. Lulusan S1 Seni Rupa dari Fakultas Industri Kreatif (FIK), Universitas Telkom ini pun berpikir tentang sebuah platform yang bisa menyatukan para pelaku usaha kecil agar bisa naik kelas lewat digital.

“Setelah menyelesaikan kuliah, saya putuskan untuk pulang kampung sejenak. Di sanalah saya melihat banyak tetangga yang memiliki usaha kecil, namun pendapatannya stagnan sejak belasan tahun lalu, padahal biaya hidup terus meningkat. Dari situlah lahir tekad besar untuk membantu usaha kecil agar bisa ‘go digital dan mendapatkan kesempatan berkembang lebih luas,” cerita sosok yang akrab disapa Galih ini.

Bukan Perjalanan Mudah. Dengan modal terbatas, Galih membeli domain dan hosting seharga Rp 90 ribu. Dari ratusan nama, akhirnya ia memilih FEB Influencer, yang kini dikenal sebagai FEB Digital Agency. Nama itu dipilih karena sesuai dengan misinya, yakni menginspirasi, menghubungkan dan mendorong banyak bisnis agar bisa saling menguntungkan.

Namun, Galih menyadari mimpi besar ini tidak bisa diwujudkan sendirian. Ia pun mencari partner dan akhirnya dipertemukan kembali dengan sahabat lamanya yang memiliki kecintaan pada teknologi. Dari kamar kos sederhana, mereka berdua menghabiskan waktu siang-malam membangun platform berbasis website. “Dulu pengunjung website kami hanya 1-2, itupun ternyata komputer kami sendiri,” ujarnya sambil tersenyum.

Tak hanya itu, Galih juga kesulitan mengajak UMKM bergabung dengan FEB Agency, karena tidak semua UMKM tertarik dengan layanan digital yang ditawarkan. Namun Galih terus mengetuk pintu demi pintu. Perlahan, dalam setahun, lebih dari 2.000 UMKM dan 10.000 pekerja kreatif bergabung dalam ekosistem FEB Digital Agency.

Akan tetapi tantangan belum berakhir. Tabungan pribadi terkuras, investor enggan melirik, bahkan orang tua mulai mempertanyakan masa depannya. “Pernah ada momen tim saya ingin menyerah. Tapi saya bilang, kalau kita berhenti, bagaimana dengan ribuan UMKM dan kreator yang bergantung pada platform ini?,” ucapnya tegas.

Ketekunan itu berbuah manis. Seiring berkembangnya tren digital, FEB Digital Agency akhirnya berhasil menggandeng mitra besar internasional, seperti KineMaster Corporation (Korea) dan ByteDance/TikTok (China). Dukungan itu menjadi dorongan besar bagi FEB untuk melompat lebih tinggi.

Top 5 MCN TikTok Partner di Indonesia. Kini, FEB Digital Agency berdiri tegak sebagai salah satu perusahaan Top 5 MCN (Multi Channel Network) TikTok Partner terbaik di Indonesia. Hingga 2025, mereka berhasil menaungi lebih dari 5.000 kreator tangguh, 50.000 brand dan UMKM, serta mencatatkan GMV (Gross Merchandise Value) lebih dari $12 juta.

Tak hanya itu, FEB juga ditunjuk sebagai mitra strategis oleh platform e-commerce raksasa seperti Shopee, TikTok, dan YouTube. Perusahaan ini terus tumbuh dengan pertumbuhan rata-rata 12% setiap bulan dan memperluas layanan di bidang digital advertising, influencer marketing, hingga edukasi bisnis digital.

Syarat dan Ketentuan.Menaungi lebih dari 5.000 content creator, bukanlah perkara mudah. Terutama saat terjadi ketegangan dengan pihak lain. Namun, Galih bersyukur perusahaan yang dipimpin senantiasa menjadi pilihan para client. Hal ini karena FEB Digital Agency menyediakan layanan one stop solution. Selain fokus pada influencer marketing, perusahaannya juga menyediakan layanan akademi pelatihan serta pengembangan kreator (NF Development).

Dan sebagai partner resmi dari investor besar seperti TikTok, Shopee, Google Indonesia dan YouTube, perusahaannya juga memiliki kredibilitas tinggi. “Kami sudah berpengalaman menangani lebih dari 100 ribu klien, dengan ribuan content creator profesional yang terikat kontrak. Itu menjadi daya tarik yang membuat klien mempercayai kami,” jelasnya.

Dari sisi strategi marketing, Galih menerapkan pendekatan client-centered. Ia selalu memulai dengan menanyakan kebutuhan klien, lalu menyesuaikan layanan agar tepat sasaran. “Kalau kita tidak tahu kebutuhan mereka, hasilnya tidak akan sesuai. Justru banyak klien datang sendiri karena kekuatan branding kami sudah dikenal oleh platform investor,” tambah lelaki kelahiran Cirebon, 10 September ini.

Terkait kreativitas konten, Galih memberikan kebebasan dengan tetap memegang aturan platform. Para kreator dilarang menyebut kompetitor secara negatif atau membuat konten yang melanggar etika. “Syarat utama kami adalah usia di atas 18 tahun dan perilaku baik. Kalau itu terpenuhi, mereka bebas berkreasi sesuai arahan brand,” tegasnya.

Baginya, bisnis ini bukan hanya soal angka dan kontrak, melainkan tentang membangun ekosistem sehat bagi kreator, klien, dan platform digital. Dengan sistem yang teratur, strategi yang jelas, dan keunggulan kompetitif, Galih optimistis perusahaannya akan terus tumbuh di tengah persaingan yang semakin ketat.

Membangun Ekosistem. Bagi Galih, bisnis bukan hanya soal keuntungan, melainkan juga dampak sosial. Melalui FEB Training & Academy, ia rutin mengadakan pelatihan untuk pelaku UMKM, kreator, hingga mahasiswa dari berbagai universitas ternama di Indonesia. Bahkan, FEB menjadi mitra resmi Pemerintah dalam program Kartu Prakerja.

Dalam tiga tahun terakhir, FEB Digital Agency telah menyelenggarakan lebih dari 3.000 pelatihan. Mereka juga aktif menggelar gathering dan networking bersama pemimpin industri, baik dari Shopee, TikTok, maupun YouTube, demi memperkuat ekosistem digital di Indonesia.

Bagi Galih, FEB Digital Agency bukan sekadar perusahaan, tetapi sebuah gerakan perubahan. Ia ingin memastikan lebih banyak UMKM dapat menjangkau pelanggan melalui digital, sekaligus membuka peluang pendapatan bagi para kreator.

“Tujuan akhir kami jelas, yakni membantu UMKM Indonesia naik kelas, memperluas jangkauan, dan membuka lapangan pekerjaan baru lewat dunia digital,” tekannya.

 Tantangan dan Hambatan. Sebagai perusahaan yang berlabel MCN resmi, FEB Digital Agency berada di lingkaran kompetisi ketat bersama lebih dari 40 perusahaan MCN lainnya di Indonesia. Persaingan dengan sesama pemain besar membuat Galih dan tim harus terus berinovasi.

“Kami harus bisa memberikan edukasi berkelanjutan kepada klien, bukan sekadar layanan. Tantangan terbesar sebenarnya ada pada SDM, bukan hanya kompetensi, tapi juga akhlak yang baik. Inilah yang membuat kami harus lebih sabar dalam membangun tim yang tangguh,” jelasnya.

Dari sisi finansial, tantangan lain datang dari sistem pembayaran klien yang seringkali lambat. FEB kerap harus menalangi pembayaran kepada kreator terlebih dahulu, yang jumlahnya bisa sangat besar. Namun, bagi Galih, hal ini bagian dari risiko yang harus dikelola dengan strategi keuangan yang matang.

Dari segi hambatan, Galih dihadapkan pada aspek-aspek fundamental yang masih belum merata di Indonesia. Salah satunya dari sisi pendidikan dimana kesenjangan kualitas antara perkotaan dan pedesaan masih terasa lebar, terutama terkait keterampilan digital.

“Banyak SDM yang belum siap menghadapi era industri kreatif dan digital. Padahal, inilah bekal utama untuk membangun bisnis berbasis teknologi,” jelas Galih.

Di bidang perekonomian, akses permodalan bagi pengusaha masih terbatas. Banyak usaha kecil yang potensinya besar namun terhambat karena kesulitan mendapatkan modal. Begitu pula dengan kesehatan dan gizi, di mana layanan yang belum merata membuat kesenjangan sosial semakin terasa.

Hambatan lainnya datang dari infrastruktur teknologi. Akses internet cepat dan stabil masih menjadi kebutuhan mendesak. “Di kantor, kami sampai menggunakan beberapa provider sekaligus karena sering terkendala jaringan. Sebenarnya ada solusi seperti Starlink, tapi biayanya sangat tinggi, sehingga belum semua pelaku usaha bisa menjangkaunya,” ungkapnya.

Tak kalah penting, Galih juga menyoroti regulasi dan birokrasi yang masih berbelit. Menurutnya, proses administrasi yang rumit justru membuka peluang pungli. “Saya sendiri pernah mengalaminya. Hal-hal seperti ini seharusnya dihapuskan, karena dapat menghambat pertumbuhan perusahaan digital yang sedang bertumbuh,” tegasnya.

Untuk itu, Galih berharap Pemerintah dapat hadir dengan regulasi yang lebih transparan, adil dan memudahkan. Ia menekankan pentingnya kebijakan yang benar-benar mendukung ekosistem digital agar pelaku usaha tidak terbebani birokrasi. Dan pada bidang pendidikan, ia menilai perlu adanya perhatian lebih terhadap kesejahteraan guru, karena mereka adalah ujung tombak dalam mencetak SDM berkualitas. Sementara di bidang infrastruktur, Pemerintah diharapkan bisa menghadirkan layanan internet yang cepat, stabil, dan terjangkau untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital.

Selain itu, ia juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan literasi digital. Menurutnya, kesadaran dalam menggunakan aplikasi secara bijak sangat penting, baik untuk mendukung penjualan klien maupun menjaga mental para konten kreator. “Kalau masyarakat tidak bijak, kreator bisa menjadi korban hujatan. Padahal, mereka bekerja keras menciptakan karya,” ujarnya.

Dari sisi pengusaha, Galih menekankan pentingnya evaluasi dan kolaborasi tanpa saling menjatuhkan. Ia sendiri aktif dalam komunitas Pemerintah dan berbagai forum bisnis untuk mendorong iklim usaha yang lebih sehat.

Temukan SDM Potensial. Bicara mengenai SDM, di perusahaan-perusahaan yang dipimpin, Galih banyak merekrut anak-anak muda. Namun, Galih tidak menutup mata bahwa generasi yang populer dengan sebutan Gen Z itu, kerap menjadi tantangan tersendiri di dunia kerja. Menurutnya, banyak pelaku usaha menghadapi persoalan serupa dimana anak muda dengan latar belakang pendidikan tinggi, tetapi kurang inisiatif, sulit diarahkan, bahkan terkadang masih terjebak dalam pola geng-gengan atau saling menyalahkan.

“Sering kali lulusan S1 atau D3 tidak menjamin kompetensi. Di industri teknologi, termasuk di perusahaan saya, pengalaman membuktikan bahwa ijazah bukan lagi patokan. Banyak yang saat bekerja ternyata tidak bisa apa-apa,” ungkapnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Galih menerapkan sistem training selama tiga bulan. Dari tahap itu, perusahaan bisa menyaring kandidat yang benar-benar mampu berkembang. Jika dalam periode tersebut tidak ada perubahan atau hasil kerja kurang baik, maka kontrak tidak diperpanjang. “Dengan cara ini, kami bisa mem-fillter orang-orang yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” jelasnya.

Ia pun bersyukur, sejak 2023 ditunjuk sebagai salah satu mentor di komunitas digital binaan Kominfo, di mana banyak pelaku usaha dan pemula belajar sekaligus berkesempatan mendapat pendanaan. Walau kini ia sudah pensiun dari posisi tersebut karena kesibukan sebagai praktisi di berbagai kampus, pengalamannya menjadi mentor tetap membekas.

Kini, Galih lebih banyak terjun langsung ke dunia pendidikan sebagai dosen praktisi di beberapa universitas, seperti Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas Telkom, TIC, hingga UIN Cirebon. Mayoritas ia lakukan secara online, meski sebelumnya sempat rutin mengajar offline sejak 2019.

“Selain berbagi ilmu, tujuan saya mengajar adalah menemukan SDM potensial. Banyak mahasiswa yang saya ajar akhirnya magang di perusahaan saya dan dari situlah saya bisa melihat langsung kualitas mereka,” tuturnya.

Optimalkan Potensi Diri. Bagi Galih, kunci utama dalam mengaktualisasi diri adalah mengenali passion. Menurutnya, setiap orang harus terlebih dahulu memahami apa yang benar-benar disukai dan dikuasai. Dari situlah, seseorang bisa menetapkan target hidup yang jelas.

Dalam praktiknya, Galih memegang prinsip lima kerja, yakni kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, kerja tuntas dan kerja beda. “Kalau hanya kerja keras saja, kita bisa kalah dengan orang lain yang lebih cerdas memanfaatkan teknologi,” jelasnya.

Karena itu, ia selalu menekankan pentingnya memadukan kerja keras dan kerja cerdas dalam setiap langkah. Galih juga percaya pada proses. Ia menolak jalan instan dan lebih memilih menikmati setiap tahapan. Ketika mengisi materi di berbagai kampus, ia sering berpesan bahwa masa depan memang tidak bisa ditebak, tetapi bisa diarahkan melalui rencana yang matang. “Hidup itu seperti air. Mengalir ke arah yang positif, sambil kita terus mencoba hal-hal baru yang juga positif,” ungkapnya.

Ditekankan Galih, kunci sukses lain adalah berani meninggalkan circle negatif yang hanya menghambat perkembangan diri. Dengan menjaga lingkungan yang positif, seseorang bisa lebih mudah menemukan kebahagiaan sejati. “Kalau kita tekuni passion kita dengan sungguh-sungguh, uang dan kebaikan akan datang dengan sendirinya,” pesannya.

Menyongsong Indonesia Emas 2045

 

Bicara soal visi besar Indonesia Emas 2045, Galih menegaskan bahwa target tersebut tidak boleh hanya menjadi slogan. Bagi dirinya, sebagai pelaku bisnis dengan dukungan investor internasional, target adalah sesuatu yang harus selalu dijaga. “Perusahaan tanpa target akan kehilangan arah. Jika penurunan terjadi drastis, efeknya bisa sangat buruk. Maka, 2045 bagi saya adalah momentum sekaligus proses agar bisa menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.

Menurut Galih, antusiasme nasional menuju Indonesia Emas sebenarnya sudah sangat tinggi, terutama dengan dukungan Pemerintah di berbagai sektor, termasuk teknologi. Ada tiga aspek yang ia soroti, yaitu internet, literasi digital, dan penguatan SDM.

Namun, di tengah optimisme itu, ia juga melihat tantangan besar. Bonus demografi yang seharusnya menjadi peluang justru belum sepenuhnya dimanfaatkan. “Generasi Z seharusnya lebih melek digital, tetapi kenyataannya banyak yang justru gaptek. Fresh graduate sering kali minim inisiatif, bahkan kalah dengan generasi sebelumnya yang lebih mandiri. Meski begitu, saya tidak menutup mata bahwa ada juga Gen Z yang luar biasa, loyal, dan kompeten,” katanya.

Galih menilai, kesenjangan pendidikan dan pola asuh yang terlalu memanjakan membuat sebagian generasi muda kehilangan kemandirian. Ia bahkan berpendapat bahwa Pemerintah perlu membuat program lebih disiplin untuk membentuk karakter generasi ini, agar mereka siap menghadapi persaingan global.

Selain itu, percepatan teknologi akibat pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu juga memberi dampak besar. Masyarakat semakin terbiasa dengan layanan digital, transaksi cashless, hingga e-commerce. Menurut Galih, tanpa pandemi, pertumbuhan perusahaan digital mungkin tidak akan secepat sekarang. “Ini sekaligus apresiasi bahwa masyarakat bisa beradaptasi lebih cepat,” tambahnya.

Namun, tantangan lain muncul dari sisi literasi digital. Maraknya pinjaman online ilegal, judi online hingga kasus penipuan berbasis digital menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum siap menggunakan teknologi secara sehat. Hal ini, kata Galih, bisa menghambat langkah menuju Indonesia Emas.

“Kesadaran regulasi, literasi masyarakat dan kualitas SDM harus benar-benar ditingkatkan. Kalau tidak, kita hanya akan terjebak dalam masalah sosial baru yang memperlambat kemajuan,” tegasnya.

Ekspansi Bisnis dan Partnership

 Tahun 2023 menjadi titik penting dalam perjalanan bisnis Galih. Bersama rekanan, ia mencoba peruntungan di industri Food & Beverage (FnB), dengan membangun Restoran Eatboss di Cirebon dan Bandung. Langkah ini cukup berani, karena Galih membiayai seluruhnya dengan modal pribadi tanpa melibatkan investor. Dalam waktu singkat, enam outlet berhasil berdiri di Bandung, Cirebon, hingga Balikpapan. Namun, biaya operasional yang besar dan ketiadaan mitra strategis membuat bisnis tersebut perlahan tergerus, hingga kini hanya tersisa satu outlet utama di Bandung.

Bagi sebagian orang, kegagalan itu mungkin menjadi alasan untuk berhenti. Namun, tidak bagi Galih. “Itu proses. Banyak pelajaran yang saya ambil,” ujarnya tenang.

Justru kegagalan di Eatboss menjadi batu loncatan. Pada 2024, Galih kembali masuk ke dunia FnB, kali ini dengan langkah yang lebih matang. Ia mengakuisisi PT ARAH Rasa Nusantara (Arah Coffee) dari Felix Fernando. Berbeda dengan sebelumnya, Galih kini fokus pada strategi ekspansi yang lebih berkelanjutan, mengajak investor serta mitra untuk membuka cabang-cabang baru.

Arah Coffee sendiri bukan merek baru. Sejak berdiri pada 2018 di sebuah kedai kecil di Jakarta Utara, Arah tumbuh dengan konsep menghadirkan pengalaman ngopi yang lebih dari sekadar secangkir kopi. Dengan komitmen pada kualitas rasa, pelayanan hangat, dan ruang nyaman, Arah kini telah berkembang dengan lebih dari 38 cabang yang tersebar di Jakarta, Bekasi, Malang, Sidoarjo, Bandung, Cireundeu, Cirebon hingga Solo.

Keputusan Galih melakukan ekspansi ke dunia FnB bukan tanpa alasan. Menurutnya, bisnis ibarat keran air. Jika hanya memiliki satu keran dan keran itu macet, maka aliran akan berhenti. Namun dengan banyak keran, arus akan tetap mengalir. “Saya ingin menciptakan banyak keran agar aliran keuangan lancar terus, bahkan bisa berlipat ganda. Itu literasi keuangan yang baik, bukan sekadar menyimpan uang yang diam saja,” jelasnya.

Selain alasan finansial, ada juga motivasi personal. Sejak kecil, Galih dididik orang tuanya untuk bekerja keras dan berani mencoba hal baru. Meski FnB bukan bidang yang ia kuasai, semangat eksplorasi membuatnya berani melangkah. “Awalnya saya hanya tanam saham, menjadi partner. Pernah gagal, iya. Tapi kegagalan itu justru menambah pengalaman. Sekarang dengan Arah Coffee, saya ingin membangun proses baru yang bukan hanya menguntungkan, tapi juga memberi manfaat bagi banyak orang,” ungkapnya optimis.

Berbagi, Bertumbuh, dan Belajar dari Perjalanan

Sebagai bentuk rasa syukur atas segala pencapaiannya sejauh ini, Galih senantiasa menyisihkan pendapatan pribadi maupun perusahaan untuk berbagi. Baginya, berbagi bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan nafas yang mengiringi setiap langkah bisnis dan kariernya. Sejak awal merintis usaha, ia bahkan sudah terbiasa membantu orang lain meskipun belum memiliki banyak hal. Prinsip itu terbawa hingga kini, ketika perusahaannya tumbuh besar dan bahkan menjadi mitra e-commerce raksasa.

Setiap tahun, para karyawan di perusahaannya mendapatkan berbagai bentuk apresiasi. Ada tunjangan tahunan, perjalanan ke luar maupun dalam negeri, bahkan kesempatan umrah bagi yang terpilih. Bagi karyawan yang masih lulusan SMA atau D3, perusahaan juga menyediakan tunjangan pendidikan agar mereka dapat melanjutkan jenjang akademik. Tidak berhenti di sana, setiap bulan ia mengadakan pelatihan gratis bagi UMKM dan para konten kreator yang ingin belajar tentang pemasaran digital. Padahal jika dijadikan layanan berbayar, program ini bisa menjadi sumber pendapatan baru. Namun, ia memilih untuk menggratiskan dengan satu alasan sederhana, ada kebahagiaan tersendiri saat ilmu yang dibagikan bisa bermanfaat.

“Bagi saya, ketika memberi ada rasa bahagia dan syukur. Dan CSR yang dijalankan perusahaan menjadi bentuk tanggung jawab moral sekaligus wujud rasa syukur atas pertumbuhan bisnis yang terus membaik,” tambahnya.

Namun, perjalanan ini juga penuh pelajaran. Ia mengakui pernah terlalu baik kepada karyawan, misalnya dengan memberikan liburan hingga dua atau tiga kali dalam setahun bagi seluruh tim tanpa terkecuali. Kebijakan ini sempat menuai kritik dari investor, karena tidak semua karyawan menunjukkan kinerja yang sepadan dengan penghargaan tersebut. Beberapa bahkan merasa terlalu diistimewakan dan menuntut kenaikan gaji meski performanya belum optimal.

“Dari situ saya belajar bahwa dalam memberi juga perlu ada batasan. Sekarang, liburan hanya setahun sekali dan pesertanya dipilih berdasarkan kinerja,” jelasnya.

Hal serupa juga berlaku untuk reward berupa emas yang ia bagikan. Jika dulu diberikan secara merata, kini penghargaan tersebut hanya diberikan kepada karyawan yang benar-benar berprestasi. Harapannya sederhana, agar sistem reward ini menjadi motivasi bagi seluruh tim untuk terus berkembang.

Disampaikan Galih, memberi bukan hanya berdampak pada orang lain, tetapi juga membawa berkah tersendiri bagi perjalanan bisnis. Ia percaya, berbagi mampu meningkatkan citra, menumbuhkan loyalitas tim, membuka peluang relasi baru, serta memperkuat fondasi perusahaan.

Sebagai penutup, ia membagikan filosofi sederhana yang selalu ia pegang: “Satu kali satu sama dengan satu, satu tambah satu sama dengan dua. Artinya, jika kita hanya berjalan dengan satu usaha, hasilnya hanya akan sama. Tetapi jika kita mau berusaha lebih, mengalikan langkah dan menambah kerja, maka hasil yang kita capai akan semakin besar,” pungkasnya. 

 Info Lebih Lanjut:

Instagram      : @arahcoffee.id @febinfluencer

Bagikan:

Bagikan: