MajalahInspiratif.com, Jakarta – Jauh sebelum menapakkan kaki sebagai wanita karier, Erma Melina Sarahwati sempat mengantongi satu mimpi menjadi pengusaha. Ia bahkan melanjutkan S2 Jurusan Magister Management, demi mempertajam jiwa bisnis. Namun, kala terjun ke dunia gas dan minyak, ia seakan menemukan passion dan pemahaman hidup baru bahwasanya lewat peran yang diemban pun ia bisa menebar manfaat bagi banyak orang.
Perjalanan karier Erma Melina Sarahwati bukanlah jalan lurus yang mudah ditebak arahnya. Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini memulai langkah profesionalnya bukan di dunia migas, bidang yang sebenarnya menjadi impian akademisnya, melainkan di industri perbankan.

Setelah lulus, ia bergabung sebagai Management Trainee di Bank Niaga. Penempatan di dunia consumer banking membuka banyak pengalaman baru. Selama kurang lebih tiga tahun, wanita cantik yang akrab disapa Erma ini bahkan dipercaya menjadi Kepala Cabang di kawasan Kelapa Gading. Dunia perbankan memberinya fondasi kuat dalam corporate thinking, namun di sanalah pula ia menyadari bahwa panggilan hidupnya berada di tempat lain. “Sejak awal saya bercita-cita punya bisnis yang bisa memberi impact langsung bagi masyarakat,” kenangnya. Dengan mimpi itu, ia memilih mengundurkan diri dan melanjutkan studi S2 di Prasetiya Mulya, jurusan Bisnis.
Saat Mimpi Bertemu Kesempatan. Kehidupan terkadang memiliki skenario berbeda. Setelah menempuh pendidikan pascasarjana, Erma menerima tawaran dari Total E&P Indonesie. Posisi sebagai Gas Revenue Controller membuatnya kembali mempertimbangkan jalan karier yang sempat ia tinggalkan.
“Awalnya saya berencana untuk tidak terlalu lama berkarir di Total E&P untuk selanjutnya meneruskan mimpi mempunyai bisnis sendiri. Namun ternyata saya enjoy dengan pekerjaannya,” ujar Erma.
Di Total E&P, ia menemukan passion baru, bukan hanya pada pekerjaannya, tetapi juga pada dinamika tim dan lingkungan kerja yang membentuknya. Dua tahun kemudian, ia dipercaya pindah ke Export and Domestic Sales Department, menangani penjualan LNG dan gas industri. Setelah itu, ia beralih ke penjadwalan kargo LNG/LPG, memperkaya pemahaman teknisnya terhadap rantai pasok energi.
Memasuki 2017, ketika kontrak PSC Total E&P dengan pemerintah berakhir, seluruh karyawan beralih ke Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Perpindahan besar-besaran ini membuat Erma memasuki babak baru, beradaptasi dengan kultur BUMN setelah sekian lama bekerja di perusahaan migas internasional (IOC).

Di Pertamina, karier Erma terus meningkat. Ia dipercaya memegang sejumlah posisi strategis, antara lain Head of Strategic Business Analysis & Risk Department yang bertugas mengelola strategi komersialisasi dan mitigasi risiko sektor hulu migas, mengelola anak-anak perusahaan hulu Pertamina di Kalimantan, antara lain PHM (Pertamina Hulu Mahakam), PHKT (Pertamina Hulu Kalimantan Timur) dan PHSS (Pertamina Hulu Sanga Sanga). Penugasan yang semakin luas membuatnya banyak berinteraksi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk PLN sebagai salah satu pembeli gas utama.
Puncaknya, pada tahun 2022, Erma dipercaya menjadi Senior Manager Komersial di Pertamina Hulu Indonesia (PHI), jabatan tertinggi komersial yang direct report ke Direktur Utama. Ia memimpin seluruh proses komersialisasi gas dan minyak di wilayah Kalimantan, termasuk kontrak-kontrak gas yang digunakan PLN sebagai end user.
Dan awal tahun 2025 menjadi momentum besar bagi kariernya. Erma mendapat penugasan untuk bergabung sebagai Direktur Gas & Bahan Bakar Minyak (BBM) PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), yang merupakan subholding strategis PLN Group yang bertugas memastikan pasokan energi primer bagi pembangkit listrik nasional. Erma kini memegang kendali atas tata kelola gas dan BBM, dua komponen vital dalam ketahanan energi Indonesia.
“Kalau sebelumnya saya di sisi penjual, sekarang saya berada di sisi pembeli. Mindset-nya berubah total,” ujarnya sambil tersenyum.
Di posisinya sekarang, Erma memastikan bahwa suplai energi primer gas maupun BBM tersedia dengan aman, stabil, dan efisien untuk kebutuhan pembangkit listrik di seluruh Indonesia. Perannya menjadi jembatan antara sektor hulu dan kebutuhan nasional, mengawal keandalan sistem kelistrikan dari balik layar.
Tetap Memberi Manfaat. Meski pernah bercita-cita memiliki usaha sendiri agar bisa memberi manfaat bagi orang lain, perjalanan panjang karier justru membawanya pada pemahaman baru bahwasanya menjadi bermanfaat bisa melalui banyak cara.
“Dengan bekerja pun saya bisa memberi manfaat untuk tim, untuk perusahaan dan untuk keluarga,” ungkapnya.
Niat Baik, Usaha Terbaik, InsyaAllah Hasilnya Baik. Berkarya di industri migas dan energi sering disebut sebagai “dunia laki-laki”. Namun bagi Erma, batas itu sesungguhnya hanya ada di pikiran. Tantangan seperti traveling, pekerjaan teknis, hingga negosiasi dengan tim yang didominasi laki-laki, bukan lagi menjadi penghalang.
Ia pernah menghadapi pandangan klasik dimana perempuan dianggap tidak fleksibel, tidak bisa sering bepergian, atau memiliki keterbatasan biologis. Tetapi Erma membuktikan sebaliknya. Dengan manajemen waktu, prioritas yang jelas, serta dukungan keluarga, semua bisa dijalani tanpa mengurangi performa.
Meski pernah diremehkan oleh rekan ataupun kolega, namun Erma tak menjadikannya sebagai beban. Justru keraguan orang lain menjadi motivasi untuk menunjukkan kemampuan nyata. Baginya, laki-laki dan perempuan bukan untuk dibandingkan melainkan untuk saling melengkapi dalam mencapai tujuan bersama.
“Dalam menjalani setiap peran dengan prinsip bahwasanya niat baik dengan usaha terbaik, maka insyaAllah hasilnya Baik,” tegasnya.

Prestasi dan Pencapaian. Walau perjalanan kariernya cukup berliku, namun berbagai prestasi besar mengiringi langkahnya. Salah satu pencapaian paling membekas justru datang dari masa studinya di Prasetya Mulya. Awalnya, ia memilih kampus tersebut karena tugas akhirnya tidak berupa thesis, tetapi business plan yang bisa diimplementasikan. Dengan kenangan masa kecil tentang peternakan sapi milik orangtuanya, ia menciptakan business plan inovatif, yakni membuat batu bata berbahan dasar kotoran sapi, sebuah ide berorientasi sosial dan lingkungan.
Tak disangka, proposal itu lolos seleksi dan dikirim ke kompetisi business plan bergengsi dunia, Global Social Venture Competition (GSVC) 2009, yang diselenggarakan oleh UC Berkeley, California. Tim Erma mewakili Asia Selatan, bersaing dengan kampus-kampus ternama seperti Harvard dan universitas top lainnya dari berbagai negara.
Hasilnya di luar dugaan, tim Indonesia meraih Juara 1 dunia, untuk pertama kalinya dalam sejarah. Banyak pihak bahkan tertarik untuk berinvestasi dan membantu implementasi bisnis tersebut, meski akhirnya tidak dilanjutkan karena Erma menerima tawaran karier di industri migas.
Saat berkarya di Total E&P Indonesie, PHM, PHI, hingga Pertamina Hulu Energi, Erma kembali membuktikan kapasitas kepemimpinannya. Meskipun ia enggan menyebut prestasi sebagai “prestasi pribadi”, pencapaian-pencapaian besar sering lahir dari peranannya sebagai lead komersial, terutama dalam Mengoptimalkan revenue minyak dan gas, melalui analisis strategis harga, produksi, dan komersialisasi, Mengkomersialisasikan lapangan-lapangan migas lama yang selama bertahun-tahun tidak dapat dijual, dengan menciptakan solusi komersial baru bersama tim produksi dan proyek, Negosiasi LNG di masa pandemi, ketika banyak pembeli menurunkan pembelian, tetapi timnya justru mampu menambah penjualan LNG untuk periode mendatang.
Inovasi-inovasi komersial tersebut beberapa kali meraih penghargaan tingkat perusahaan, termasuk Platinum Award dan Golden Award pada ajang inovasi di Subholding Upstream Pertamina dan Pertamina Persero. Salah satu proyek inovasi yang menonjol adalah LPG Optimization Project, di mana produksi LPG dioptimalkan sehingga perusahaan dapat meningkatkan pendapatan secara signifikan. Proyek ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas fungsi, komersial, produksi, proyek, serta berbagai pemangku kepentingan dapat menghasilkan terobosan besar.
Dan ketika bergabung di PT PLN EPI pada pertengahan tahun 2025, Erma langsung terjun dalam proyek strategis, yakni konversi pembangkit BBM ke gas, sebuah program yang berdampak langsung pada efisiensi energi nasional. Hanya satu minggu setelah ia masuk, proyek di Nias langsung melakukan groundbreaking, dan kini sedang dikejar untuk commissioning di akhir tahun. Percepatan ini menjadi bukti bahwa ritme kerja cepat dan adaptasi tinggi telah melekat dalam dirinya sejak lama.
Manfaatkan Digitalisasi. Di era digitalisasi seperti saat ini, Erma merasakan dampak yang berbeda. Dan baginya, digital adalah pisau bermata dua yang memberi kemudahan luar biasa sekaligus menghadirkan tantangan baru. Dalam pekerjaan, digitalisasi membuat banyak proses menjadi lebih efisien. Monitoring pekerjaan menjadi jauh lebih mudah, bahkan untuk hal-hal teknis seperti memperkirakan waktu pengiriman dokumen atau barang. Komunikasi dengan tim pun bisa dilakukan kapan saja, meskipun ia sedang tidak berada di kantor. Akses data juga lebih cepat, lebih lengkap dan membantunya mengambil keputusan dengan lebih tepat.
Namun, kemudahan itu juga membawa ekspektasi baru. Setelah pandemi, batas waktu dan ruang seakan semakin tipis. Semua orang bisa terhubung kapan saja dan kadang muncul tekanan untuk selalu responsif. Inilah tantangan digitalisasi, bagaimana memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, tanpa membuat diri sendiri terus terhubung tanpa jeda.
“Hal yang sama saya rasakan dalam keluarga. Teknologi sangat membantu, terutama untuk memantau kegiatan anak-anak di sekolah atau berkomunikasi dengan guru. Semua terasa lebih mudah. Tetapi jika tidak dibatasi, koneksi tanpa henti ke urusan pekerjaan justru bisa mengganggu waktu bersama keluarga. Karena itu saya belajar menegaskan batas, saat bersama keluarga, saya berusaha hadir sepenuhnya. Bekerja dan menjadi ibu sama-sama penting, namun keduanya butuh ruang yang jelas,” terangnya, bijak.
Harapan dalam Karier. Sebagai Srikandi yang mengawal energi negeri, Erma memiliki harapan sederhana namun bermakna, ingin memberi manfaat. Minimal bagi orang-orang terdekat, dan jika memungkinkan, bagi masyarakat yang lebih luas.
“Dalam peran saya sebagai Direktur Gas dan BBM, saya berharap bisa menghadirkan dampak nyata bagi Indonesia, terutama melalui pengembangan infrastruktur gas. Jika transisi pembangkit dari BBM ke gas dapat terwujud, manfaatnya akan sangat besar. Energi lebih bersih, lebih murah, dan memaksimalkan potensi gas nasional yang selama ini banyak diekspor,” paparnya.
Bagi Erma, bekerja bukan sekadar mengejar jabatan atau materi. Yang paling penting adalah menemukan why, alasan mengapa ia berada di sini. “Saya tidak pernah bermimipi mendapatkan amanah jabatan seperti direktur, yang saya inginkan adalah menjadi manusia yang memberi nilai, membahagiakan orang tua, memberi contoh bagi anak-anak, dan membantu keluarga serta masyarakat sesuai kemampuan saya. Pada akhirnya, makna karier bagi saya adalah bekerja agar hidup kita bermanfaat bagi banyak orang,” tutupnya.
Menjaga Irama Peran dan Tanggung Jawab
Menjalani karier, keluarga dan kehidupan sosial sekaligus, bagi Erma adalah tentang menjaga iramanya agar tetap seimbang. Sebelum berangkat bekerja, ia memulai aktivitas paginya bersama anak-anak, menyempatkan waktu mengantar sekolah sambil mendengar cerita kecil sebelum hari benar-benar dimulai. “Setelah itu, saya fokus bekerja, meski sesekali tetap merespons telepon atau pesan dari keluarga,” imbuhnya.
Malam hari, Erma punya dinamika berbeda. Terkadang ia pulang ketika si bungsu sudah tertidur. Karena itu, akhir pekan menjadi ruang yang ia jaga sepenuhnya untuk keluarga. “Kami olahraga bersama, badminton, berenang atau sekadar berkegiatan ringan yang membuat kami dekat tanpa harus memaksakan apa pun. Kalau ada waktu bertemu teman, sering kali saya mengajak anak-anak agar mereka tetap merasa menjadi bagian dari hidup saya.
Demi menjaga ‘kewarasan’ Erma selalu menyisihkan waktu, meski tidak banyak. Kadang hanya dengan pergi ke salon saat anak-anak sedang sibuk atau touring bersama komunitas Vespa. Baginya, yang terpenting ada jeda untuk menyegarkan diri.
“Dalam mengasuh, saya memilih pendekatan diskusi. Saya ingin anak-anak mengerti alasannya, bukan sekadar mengikuti perintah. Saya beri mereka ruang mencoba banyak hal, mencari minat mereka sendiri, dan belajar memahami bahwa pendidikan adalah kebutuhan mereka, bukan tuntutan saya. Buat saya, seorang ibu yang bekerja bukan hanya mengejar karier, tetapi memberikan contoh tentang tanggung jawab, keseimbangan, dan keteguhan hati. Itulah nilai yang ingin saya wariskan pada anak-anak saya.
Hari Ibu dan Semangat Kemandirian
Bukan sekadar seremonial, bagi Erma Hari Ibu adalah pengingat betapa besar perjuangan seorang ibu, mulai dari kehamilan, melahirkan, hingga mendidik anak tanpa henti. “Ibu bagi saya merupakan sumber kekuatan utama untuk terus bertumbuh dan berkarya. Doa beliau yang menjadikan tahapan demi tahapan dalam kehidupan saya, mulai dari sekolah sampai saat ini, menjadi lebih mudah,” tutur Erma.
Ditambahkan Erma, keinginannya untuk merdeka secara finansial datang dari cita-cita untuk bermanfaat bagi orang sekitar. “Dari rejeki yg kita terima, sebagian merupakan rejeki orang lain yang Allah titipkan melalui kita. Utamanya membantu untuk pendidikan, karena itu adalah salah satu kunci untuk mengubah nasib seseorang,” ujarnya.
Suatu hari nanti, Erma ingin membangun bisnis yang tidak hanya menghasilkan profit, tetapi juga memberdayakan masyarakat. “Ketika saya pensiun dari korporasi, saya ingin mempunyai bisnis yang tidak hanya memberikan profit tinggi namun juga mempunyai Social Return on Investment (SROI) yang tinggi, yang mempunyai dampak sosial nyata seperti pengembangan keterampilan dan pendidikan. Pada akhirnya, makna karier bagi saya adalah bekerja agar hidup kita bermanfaat bagi banyak orang,” tutup Erma.







