MajalahInspiratif.com, Jakarta – Sebagai bangsa yang besar dan kaya akan warisan budaya, Indonesia membutuhkan sosok-sosok yang tak hanya peduli tetapi juga berani mengambil peran nyata dalam pelestarian budaya, penguatan SDM, dan kemajuan ekonomi kerakyatan. Dan Endang Tri K. Sukarso adalah satu dari sedikit sosok perempuan yang hadir dengan semangat kolaboratif melalui perannya yang berkarier di beberapa perusahaan multi nasional dan di sebuah yayasan bertajuk Pilar Budaya Indonesia (PBI).
Bagi sosok yang akrab disapa Endang ini, budaya bukan sekadar warisan, melainkan identitas dan kekuatan bangsa. Inilah filosofi yang melandasi lahirnya PBI, sebuah lembaga yang berdiri atas kepedulian dua perempuan hebat, yakni Endang Tri K. Sukarso dan R. Sriristanti. Keduanya tidak hanya bertindak sebagai pendiri, tetapi juga aktif memimpin organisasi ini demi mewujudkan visi besar, melestarikan kekayaan budaya Indonesia sebagai perekat persatuan bangsa.

Pemberdayaan UMKM. Lebih lanjut dijabarkan Endang, PBI lahir dari kesadaran akan pentingnya melindungi, menjaga, dan merawat budaya bangsa, mulai dari adat istiadat, seni tari, seni lukis, musik, fashion, kerajinan tangan (crafts), hingga kuliner tradisional. ”Budaya adalah wajah bangsa. Ketika kita menjaga budaya, kita sedang menjaga jati diri kita sendiri,” ujar Endang dengan semangat.
Tak hanya berfokus pada pelestarian, PBI juga berupaya menghidupkan industri budaya melalui pemberdayaan UMKM di berbagai bidang. Di bawah koordinasi rekannya, R. Sriristanti, yayasan ini aktif memfasilitasi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk-produk lokal ke tingkat nasional maupun internasional, termasuk batik, kriya, dan produk ekspor unggulan lainnya.
Dengan menggandeng para desainer lokal dan pengusaha kreatif, PBI menjadi jembatan antara warisan budaya dan pembangunan ekonomi kreatif.
Perjalanan PBI juga diperkuat oleh figur-figur inspiratif yang menjadi penggerak visi besar yayasan ini. Ada Dr. Dewi Motik Pramono, M.Si, yang menjabat sebagai Dewan Penasehat dan Astrid Widayani, SS, SE, MBA, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Wali Kota Solo, dipercaya sebagai Dewan Pembina. Keduanya telah menjadi inspirasi bagi masyarakat luas dalam mendukung perkembangan seni dan budaya, serta memajukan sektor UMKM di berbagai daerah. Keterlibatan tokoh-tokoh ini menjadikan PBI semakin solid dan berdaya dalam menebar semangat nasionalisme melalui jalur kebudayaan.
Gawang Keberagaman Budaya. Dituturkan Endang, PBI memposisikan diri sebagai “Gawang” (Gate Keeper) yang menjaga keragaman budaya Indonesia agar tetap utuh di tengah arus globalisasi. Yayasan ini bahkan memiliki visi sebagai benteng yang kokoh dalam upaya melestarikan, menjaga dan melindungi kekayaan budaya bangsa, baik di level nasional maupun internasional.
Sementara untuk Misi, PBI berupaya menjadi fondasi kokoh untuk membangun bangsa yang kuat dan bersatu melalui sinergi nasional-internasional, melestarikan budaya melalui festival budaya, pameran seni, serta pendidikan budaya yang kontekstual dan terus hidup, serta memastikan setiap budaya baik besar maupun kecil memiliki panggung yang setara di ranah nasional.

Jembatan Budaya dan Dunia Internasional. Ditambahkan perempuan kelahiran Solo-Jawa Tengah ini, PBI secara aktif menjadi katalisator dalam menyelenggarakan ajang budaya baik dalam negeri maupun luar negeri. Festival seni, pameran budaya, dan kolaborasi kreatif lintas negara menjadi jembatan diplomasi budaya yang menyatukan keberagaman nusantara dalam satu bingkai, yakni Indonesia yang berbudaya, maju, dan berdaulat.
Dan sebagai salah satu penggerak pelestarian budaya, Endang berharap pemerintah memberikan dukungan penuh untuk menjaga dan mengawal Warisan Budaya Indonesia. Menurutnya, warisan budaya bukan hanya identitas, tetapi juga aset tak ternilai yang tidak boleh berpindah tangan ke negara lain. Melalui Yayasan PBI, ia terus bersinergi dan berkolaborasi dengan program-program pemerintah untuk mendukung pelestarian budaya secara konkret.
”Sebagai bentuk komitmen terhadap masa depan generasi bangsa, PBI juga turut berkontribusi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi 3.500 penerima manfaat anak-anak sekolah di beberapa titik dapur. Hal ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo dalam membangun SDM Indonesia yang sehat dan kuat,” terang Endang.
Ia juga menyoroti pentingnya kemudahan perizinan ekspor bagi UMKM agar produk-produk lokal Indonesia bisa bersaing di kancah internasional. Endang yakin, dengan dukungan yang tepat, para pelaku UMKM akan mampu mempromosikan karya anak bangsa tanpa harus dibebani proses birokrasi yang panjang dan biaya yang besar.
Pendidikan Fondasi SDM Unggul. Ditekankan Endang, selain menyoroti soal budaya, PBI juga aktif memberikan edukasi kepada para profesional perbankan, ASN, BUMN, perusahaan swasta, hingga pelaku UMKM. Melalui program pendidikan kepemimpinan yang berorientasi pada pengembangan karakter dan kapabilitas, PBI berkomitmen mendukung visi pemerintah dalam menciptakan SDM Unggul.
Endang meyakini bahwa ilmu adalah fondasi utama agar seseorang mampu berpikir sistematis dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Namun lebih dari itu, ia menegaskan pentingnya pemberian kewenangan (authority) kepada individu yang memiliki pemikiran cemerlang agar mereka dapat mengeksekusi ide-idenya. Sebab, menurutnya, pemikiran hanya menyumbang 20%, sementara 80% adalah keberhasilan dalam pelaksanaan (execution).
Ia menjabarkan bahwasanya untuk menciptakan pemimpin masa depan (future leader), setidaknya ada empat kemampuan utama yang harus dimiliki. Mulai dari Market Ability atau kemampuan berkompetisi di pasar, Operational Ability yakni kemampuan mengembangkan produk secara efisien dan efektif, Financial Ability yang berarti kemampuan menciptakan modal yang produktif dan Personal Ability yakni kemampuan membangun karakter dan kepemimpinan.
Dalam persaingan global yang semakin ketat, Endang percaya bahwa perusahaan atau institusi yang mampu mengembangkan SDM secara utuh, baik secara intelektual maupun moral akan memiliki keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Terobosan utama yang ia usung adalah mencetak pemimpin yang mampu menjadi agen perubahan (agent of change) di berbagai lini organisasi.
Makna Sukses & Filosofi Hidup. Bagi Endang, sukses sejati adalah ketika seseorang mampu menebar kebaikan. Baginya, hidup adalah soal perbuatan, dan setiap perbuatan pasti akan menuai hasilnya. Karena itu, ia selalu berusaha menanamkan tindakan-tindakan baik dalam setiap aspek kehidupan. Ia percaya bahwa setiap orang punya mimpi dan potensi, namun semua itu tak akan berarti tanpa aksi. ”Mimpi tanpa eksekusi hanyalah ilusi,” ujarnya.
Sebagai praktisi dan trainer leadership, ia banyak mengajarkan gaya kepemimpinan dari sudut psikologis. Menurutnya, tantangan terbesar dalam memimpin adalah mengubah mindset seseorang, yang membutuhkan kesabaran, waktu, dan pendekatan khusus. Apalagi jika karakter yang sudah melekat harus dibentuk ulang untuk menghadapi tantangan baru.

Terobosan untuk Perusahaan. Penerima Anugerah Perempuan Indonesia ke-6 sebagai Profesional SDM (2018–2019), yang diserahkan langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan RI, Prof. Dra. Yohana Susana Yembise, MSc., PhD, ini membuktikan bahwa transformasi budaya dalam tubuh perusahaan adalah fondasi penting menuju kemajuan. Ketika dipercaya memimpin perubahan di PT Solo Murni, yang merupakan produsen buku tulis KIKY, serta Fajar Group, yakni perusahaan real estate terbesar di Solo Raya, beliau mengawali reformasi dengan menguatkan kualitas manusianya.
Baginya, SDM unggul dan tanggap zaman hanya dapat terwujud melalui peningkatan pengetahuan. Program pelatihan dan pendidikan berbasis unit kerja menjadi senjata utama dalam memperkuat kompetensi internal perusahaan. Ia meyakini bahwa kualitas SDM merupakan fondasi sukses perusahaan, dan bahwa pengetahuan saja tidak cukup tanpa implementasi yang nyata dalam pekerjaan sehari-hari.
Tidak heran, deretan penghargaan bergengsi berhasil diraihnya, termasuk Human Capital Award ke-V (2019) dan ke-VI (2020) dalam kategori The Best Human Capital Director in Empowerment Leader. Ia menegaskan, “Seorang pemimpin harus mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan nyata,” tegasnya.
Perempuan Tangguh di Balik Fajar Group
Kepercayaan besar diberikan kepada Endang untuk memimpin Fajar Group, sebuah perusahaan pengembang properti terbesar di Solo Raya yang kini memiliki 13 lokasi perumahan klaster di Solo, Sragen, dan Delanggu. Amanah tersebut datang dari sang pemilik Michiko Soetantyo, generasi kedua dari pendiri Fajar Group, mendiang H. Achmad Soetantyo.
Sebagai perempuan yang memimpin ratusan sumber daya manusia sekaligus harus memikirkan strategi pemasaran dari produk perumahan terkecil hingga premium, Endang menyadari tanggung jawab yang besar itu harus dibayar dengan dedikasi penuh. Bersama tim solid yang terdiri dari A. Indaryanta BP sebagai kepala operasional, serta Irvan dan Retno sebagai team leader, ia terus melakukan terobosan demi mencapai target yang ditetapkan.
Fajar Group juga menjalin kolaborasi dengan mitra perbankan di Solo Raya untuk memberikan kemudahan pembelian rumah bagi karyawan perbankan. Dukungan dari unit kerja lainnya, terutama layanan pelanggan yang dikepalai oleh Ani Dyah H., menjadi bagian penting dari kesuksesan perusahaan ini.
Inovasi internal perusahaan menjadi salah satu perhatian Endang. Ia mencetuskan program PEKA (Peduli dan Berkarya). Sebuah gerakan untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan karya kreatif yang memberdayakan perempuan. Melalui PEKA, Fajar Group mendorong partisipasi aktif para karyawati dalam kegiatan seni busana, salah satunya lewat peringatan Hari Kebaya Nasional yang jatuh pada 24 Juli 2025 lalu.
Dalam acara tersebut, para perempuan Fajar Group menunjukkan bakat dan kebanggaan mereka mengenakan kebaya melalui ajang Pemilihan Putri Kebaya Nasional 2025 ala Fajar Group. Endang menegaskan bahwa kebaya bukan hanya pakaian, tetapi simbol keanggunan, kekuatan, dan identitas perempuan Indonesia. Melalui kegiatan ini, Fajar Group tak hanya ikut merayakan program pemerintah, tetapi juga berkontribusi dalam pelestarian budaya bangsa di tingkat nasional dan internasional.
Makna Perempuan
Bagi Endang, perempuan masa kini harus berperan aktif mencari peluang dan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berbagai bidang pembangunan. Meskipun setiap perempuan juga memiliki kelebihan masing-masing, tidak sama satu dengan lainnya, maka sangatlah penting menggali potensi yang ada didalam diri masing-masing. Perempuan sepatutnya bisa mengembangkan dan menunjukkan pada dunia, karena perempuan itu tak sekedar mengurus rumah tangga tetapi juga harus berbudaya dan kreatif. Perempuan itu harus bisa berkarya melalui bidangnya.
“Sebuah karya yang besar pasti dimulai dari sesuatu yang kecil, maka jangan merasa bosan untuk membuat karya sekecil apapun sesuai dengan kemampuan kita. Karya yang baik akan selalu memiliki ruang, meski tidak semua karya dapat diterima masyarakat luas. Baik karena tidak memahami makna karya tersebut atau berbeda selera. Namun jangan berputus asa, sebab di dalam sebuah karya pasti memiliki peminatnya sendiri. Hal inilah yang mendorong saya terus berkarya walau sudah berusia lanjut,” tuturnya.
Dan sebagai pencetak generasi muda berkualitas, penting memberikan kaum perempuan tempat sebagaimana mestinya. Karena perempuan adalah tiang negara, dengan demikian tidak ada alasan untuk mengesampingkan kaum Perempuan.
Endang pun menjadikan RA. Kartini sebagai salah satu idola. Karena selain tangguh, disiplin, tegar dan memiliki semangat tinggi dalam mengentaskan para perempuan yang tertinggal, RA. Kartini tetap memperlihatkan keanggunannya dan tidak menghilangkan budaya tanah kelahirannya.
”Beliau terus memperjuangkan nasib kaum perempuan agar maju dan setara dengan kaum laki-laki, tetapi tidak meninggalkan perannya sebagai istri dan ibu. Hal tersebut juga sebaiknya kita terapkan ketika sedang dirumah, begitu pun sebaliknya. Ketika kita berperan sebagai Carrier Woman, tentunya kita bisa menempatkan diri sebagai wanita karier yang berprestasi dan menginspirasi,” pungkasnya.







