MajalahInspiratif.com, Jakarta – Segala sesuatu di luar diri kita dan orang lain, situasi, cuaca, kebijakan Pemerintah, komentar orang lain, bahkan masa lalu adalah hal-hal yang berada di luar kendali. Kita tidak dapat memaksa orang lain berpikir atau bertindak sesuai dengan keinginan. Namun, kita dapat mengatur diri sendiri tentang bagaimana merespons, bekerja, dan menjaga integritas.
Itulah prinsip kehidupan yang ditanamkan seorang dokter kelahiran Medan, 30 Oktober 1980, Dr. dr. Beni Satria, S.Ked., M.Kes., S.H., M.H. atau akrab disapa dr. Beni. Menurut Direktur Rumah Sakit Columbia Asia Medan ini, dalam dunia kesehatan maupun hukum, prinsip ini sangat relevan. Daripada menghabiskan tenaga untuk mengeluhkan hal yang di luar kuasa kita, mari fokuskan energi untuk memperbaiki pelayanan, menjaga etika, meningkatkan kompetensi, dan memperkuat solidaritas.

Dunia kesehatan dan hukum, ditegaskan dr. Beni bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup. Menjadi dokter sekaligus advokat, dosen, mediator, dan surveyor akreditasi membuat ia belajar bahwa pelayanan kesehatan yang bermutu hanya terwujud bila ada harmoni antara aspek medis, hukum, manajemen, dan etika.
“Saya juga percaya bahwa peran kita sebagai tenaga profesional tidak boleh berhenti pada ruang kerja. Kita harus hadir di tengah masyarakat sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus penggerak perubahan. Karena pada akhirnya, setiap ilmu dan jabatan hanyalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan bukan hanya kepada masyarakat, tetapi juga kepada Tuhan.”
Mengawali Karier dengan Perjuangan dan Kerja Keras
Dr. Beni berasal dari keluarga biasa yang dilahirkan dari rahim seorang ibu yang tidak tamat SD dan ayah yang hanya tamatan SMA. Ia memulai perjalanan karier sebagai Dokter Umum di IGD Rumah Sakit dan klinik-klinik. Karena ketiadaan biaya sembari menjaga di klinik dan IGD, dr. Beni melanjutkan Sekolah S2 Magister Administrasi Rumah Sakit. Setelah tamat, ia berkecimpung di dunia manajemen Rumah Sakit dan memimpin Rumah Sakit sebagai Direktur serta berorganisasi dalam menghadapi permasalahan hukum kesehatan. Ini menjadi awal ketertarikannya untuk mendalami hukum dengan melanjutkan studi jurusan Sarjana Hukum, Magister Hukum Kesehatan dan Doktor Hukum Kesehatan.
“Sejak awal, saya percaya bahwa kesehatan dan hukum adalah dua sektor yang saling menopang dalam mewujudkan sistem kesehatan nasional yang berkeadilan. Dari ruang praktik konsultasi kesehatan hingga ruang sidang pengadilan, dari ruang kelas kuliah hingga forum diskusi kebijakan, saya berupaya menghadirkan kontribusi nyata.”
Dalam perjalanannya, ada beberapa karya yang berhasil dicapai dr. Beni sekaligus dibanggakan. Pencapaiannya tidak hanya memberikan manfaat bagi dirinya, tetapi untuk sejawat dan masyarakat luas.
Ada empat hal yang merupakan prioritas di dalam kariernya yaitu menjadi Konsultan Hukum dan Manajemen Rumah Sakit di berbagai daerah, mengembangkan Center of Excellence layanan kesehatan di Rumah Sakit, aktif menulis, mengajar dan berbicara di forum nasional tentang hukum kesehatan dan mendampingi dokter, tenaga kesehatan, serta Rumah Sakit dalam kasus hukum maupun akreditasi. Dr. Beni merasa beruntung mendapatkan kesempatan untuk mendampingi banyak Rumah Sakit dan para tenaga medis dan membantu menyelesaikan masalah hukum kesehatan atau menata sistem manajemen klinik dan Rumah Sakit.
“Saya merasa sedang ikut menjaga denyut kehidupan masyarakat. Karena bagi saya, Rumah Sakit bukan sekadar gedung dan fasilitas, melainkan tempat di mana harapan dan doa banyak keluarga digantungkan.”
Salah satu kebahagiaan terbesar dr. Beni adalah ketika melihat pasien mendapatkan layanan yang lebih cepat, tepat, dan bermutu berkat adanya pusat layanan unggulan. Ia yakin, dengan konsep Center of Excellence bukan hanya simbol kemajuan teknologi, tetapi juga wujud keberpihakan kepada pasien agar mereka tidak perlu lagi jauh-jauh berobat ke luar negeri hanya untuk mencari harapan sembuh.
Di sisi lain, dr. Beni akan merasa bersalah dan ilmu menjadi tidak akan ada gunanya jika hanya disimpan untuk diri sendiri. Ini yang mendorongnya untuk terus menulis di jurnal, berbicara di seminar, mengajar dan membimbing para mahasiswa. Setiap rapat, diskusi, kelas, dan setiap forum selalu menjadi ruang belajar dua arah, tempat ia dapat berbagi pengalaman, tetapi juga selalu mendapatkan energi dan pemahaman baru dari audiens, kolega, sejawat maupun mahasiswa.
“Ketika seorang dokter, tenaga medis atau tenaga kesehatan menghadapi persoalan hukum atau manajemen tekanan dalam pemenuhan standar akreditasi, permasalahan dengan asuransi atau BPJS, saya hadir bukan hanya sebagai konsultan, tetapi juga sebagai sahabat seperjuangan. Saya tahu, di balik jas putih itu ada manusia biasa yang juga bisa merasa takut, cemas, stress, lelah, bahkan rapuh. Dengan mendampingi mereka, saya merasa sedang ikut melindungi martabat profesi dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan.”
Kesuksesan dalam Konsistensi Berkarya dan Memberi Manfaat
Kesuksesan bukan soal jabatan atau pencapaian materi, tetapi tentang konsistensi berkarya dan memberi manfaat bagi orang lain. Hal sederhana yang selalu diajarkan dan dipegang teguh dr. Beni dalam perjalanan hidup tentunya mengenai integritas dan kosistensi, kolaborasi dan jejaring serta belajar sepanjang hayat.
“Berkarier di dunia kesehatan dan hukum membuat saya belajar bahwa kepercayaan adalah segalanya. Tanpa integritas, semua pencapaian akan rapuh. Karena itu, saya selalu berusaha menjaga komitmen antara kata dan perbuatan. Konsistensi memang sering kali melelahkan, tetapi justru di situlah nilai sejati seorang profesional diuji.”
Tidak ada keberhasilan besar yang lahir dari kerja seorang diri. Dr. Beni merasakan betul, semakin luas jejaring lintas sektor yang dibangun antara tenaga kesehatan, regulator, akademisi, pengusaha, maupun masyarakat, semakin besar pula dampak yang bisa dihasilkan. Kolaborasi yang tulus membuat beban terasa lebih ringan dan hasilnya lebih berarti. Dunia kesehatan dan hukum adalah dunia yang sangat dinamis. Peraturan bisa berubah, teknologi berkembang pesat, dan tantangan baru selalu datang. Karena itu, dr. Beni meyakini pentingnya menjadi seorang lifelong learner. Belajar bukan hanya di ruang kuliah atau seminar, tetapi juga dari pasien, kolega, mahasiswa, bahkan dari pengalaman pahit.
Dr. Beni berusaha menumbuhkan sikap tidak pernah lelah dalam berbuat baik, sekecil apapun itu. Karena di balik setiap tindakan tulus, selalu ada energi positif yang kembali, baik dalam bentuk kepercayaan, persahabatan, maupun keberkahan hidup. Berasal dengan apa yang disampaikan Al-Qur’an, dalam Surat Ar-Rahman ayat 60 “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan”, yang berarti bahwa setiap perbuatan baik yang tulus akan dibalas dengan kebaikan pula, baik di dunia maupun di akhirat, dan tidak ada kebaikan yang sia-sia, meskipun balasan itu datang dari arah yang tidak terduga dan Allah SWT akan memberikan pahala terbaik bagi orang-orang yang berbuat baik.

Tingkatkan Potensi Diri Melalui Empat Faktor Utama
Penguatan regulasi yang berpihak pada pelayanan bermutu layanan, pendidikan dan literasi publik, kolaborasi multipihak, dan digitalisasi layanan kesehatan menjadi faktor penguat yang diyakini dr. Beni dalam meningkatkan potensi diri. Menurutnya, regulasi kesehatan bukan sekadar aturan di atas kertas, tapi harus hadir sebagai pelindung hak pasien sekaligus penuntun bagi manajemen, tenaga medis dan tenaga kesehatan. Undang-undang dan kebijakan saat ini perlu disusun dengan semangat keberpihakan pada pelayanan yang aman, adil, dan bermutu dengan melibatkan organisasi profesi dan masyarakat. Lebih dari itu, pelaksanaannya juga harus disertai pengawasan yang transparan dan adil, agar masyarakat percaya bahwa setiap orang mendapatkan perlakuan yang sama tanpa diskriminasi.
Masyarakat, tenaga medis dan tenaga kesehatan juga harus “melek” kesehatan dan hukum. Keduanya harus berjalan beriringan. Pasien yang paham haknya akan lebih berani bertanya, dan pasien yang sadar kewajibannya akan lebih siap bekerja sama dengan tenaga medis dan tenaga kesehatan. Sosialisasi kesehatan sebaiknya tidak hanya dalam bentuk seminar atau spanduk di Rumah Sakit, tetapi juga melalui pendekatan komunitas, seperti pengajian, sekolah, kampus, kelompok tani, masyarakat sampai media sosial. Dengan begitu, informasi dan transformasi kesehatan menjadi bagian dari budaya sehari-hari, bukan sekadar pengetahuan formal.
“Di era serba cepat ini, teknologi digital adalah pintu masuk untuk pemerataan layanan. Konsultasi telemedicine, rekam medis elektronik, hingga sistem antrean online adalah contoh nyata yang bisa memudahkan pasien. Tetapi, digitalisasi tidak boleh sekadar mengejar kecepatan dan efisiensi. Kita juga harus menjaga kerahasiaan data pasien dan memastikan etika kedokteran tetap menjadi landasan. Teknologi yang manusiawi adalah teknologi yang tetap menempatkan pasien sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar angka di layar monitor.”
Menuju Indonesia Emas 2045
Masyarakat Indonesia memiliki semangat besar dan optimisme tinggi, namun masih memerlukan penataan sistem yang berkesinambungan. Indonesia Emas hanya dapat tercapai bila sektor kesehatan, pendidikan, dan hukum berjalan sinergis karena bangsa yang sehat dan berpendidikan akan lebih produktif, melibatkan para akademisi dan organisasi profesi bukan “memanfaatkan” untuk kepentingan sekelompok orang.
Menuju layanan kesehatan yang paripurna, tidak ada satu pihak pun yang mampu menyelesaikan masalah kesehatan sendirian. Ditambahkan dr. Beni, Pemerintah mmemiliki peran penting, tetapi tanpa keterlibatan akademisi, organisasi profesi (IDI, PDGI, PPNI, IBI, IAI, IAKMI), Rumah Sakit, organisasi perumahsakitan (PERSI, ARSSI, ARSADA), bahkan masyarakat sipil, solusi hanya akan berhenti di atas meja rapat dan hanya di atas kertas.
Kolaborasi harus nyata, dimulai dari riset dari kampus untuk dipakai pada kebijakan, tenaga medis dan tenaga kesehatan memberikan pelayanan sesuai basis ilmiah (evidance base medicine), Rumah Sakit menyediakan pelayanan, pengusaha memberi dukungan teknologi sementara masyarakat ikut menjaga dan mengawasi. Kolaborasi yang tulus inilah yang bisa melahirkan perubahan besar untuk Indonesia Emas 2045.
Menurut dr. Beni, kondisi masyarakat masih dihadapkan pada sejumlah persoalan yang terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti akses kesehatan yang belum merata, masih banyak masyarakat yang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk bertemu dokter atau mendapatkan obat yang layak. Bahkan ada yang harus menyeberang sungai atau menunggu puskesmas keliling datang sebulan sekali, dengan keterbatasan obat-obatan dan alat kesehatan.
Ketimpangan ini yang membuat kualitas kesehatan belum seimbang antarwilayah. Masih rendahnya literasi hukum dan kesehatan, banyak masyarakat belum memahami hak-haknya sebagai pasien, terutama kewajibannya untuk ikut menjaga kesehatan, sehingga angka kesakitan semakin tinggi.
“Misalnya, kasus infeksi kembali muncul, di kalangan tenaga medis dan tenaga kesehatan kita juga masih temui, tenaga medis, tenaga kesehatan dan pasien atau keluarga yang belum memahami pentingnya rekam medis, persetujuan tindakan medis (informed consent), atau kewajiban mengikuti tata tertib Rumah Sakit. Akibatnya, muncul kesalahpahaman yang berujung konflik, padahal semua bisa dihindari dengan pemahaman yang lebih baik.”
Terakhir persoalan budaya hukum dan etika, dan keselamatan pasien yang belum sepenuhnya mengakar. Tidak dipungkiri bahwa masih banyak praktik yang mengabaikan etika, baik dari sisi masyarakat maupun tenaga kesehatan. Contohnya, ada pasien yang menuntut layanan instan tanpa memahami prosedur medis, atau ada tenaga kesehatan yang tergoda mengambil jalan pintas karena tekanan kerja. Padahal, hukum dan etika adalah pagar yang harus dijaga bersama, agar pelayanan kesehatan tetap bermartabat dan adil.
Dr. Beni berharap Pemerintah dapat lebih konsisten dalam membuat, menjalankan kebijakan dan melibatkan organisasi profesi dan masyarakat. Dukungan terbesar dari masyarakat dapat diwujudkan dalam sebuah ucapan terima kasih atau sikap sabar saat menunggu pelayanan sudah cukup membuat tenaga kesehatan merasa dihargai. Sedangkan dari pengusaha dan sesama profesional diharapkan dapat membangun kolaborasi daripada kompetisi destruktif.
“Dunia kesehatan seharusnya menjadi ruang untuk saling menguatkan, bukan menjatuhkan. Ketika ada kolaborasi yang tulus, maka akan lahir inovasi yang dapat memperluas akses pelayanan. Saya membayangkan ekosistem kesehatan di Indonesia yang solid, setiap pengusaha, akademisi dan tenaga medis bergerak bersama bukan sekedar demi keuntungan, tetapi keberlanjutan kesehatan bangsa.”

Berbagi untuk Kebutuhan Hati
Sebagian penghasilan dan waktu dr. Beni selalu disisihkan untuk pendidikan, kegiatan sosial, dan bantuan hukum pro bono, dan sedekah. Baginya, berbagi bukan sekadar kewajiban moral, tetapi kebutuhan hati.
“Ketika saya melihat anak-anak bisa melanjutkan sekolahnya, masyarakat kecil mendapat akses kesehatan, atau tenaga kesehatan terbantu menghadapi masalah hukum tanpa harus memikirkan biaya, saya merasa semua kerja keras saya menemukan maknanya.”
Efek dari berbagi merupakan situasi luar biasa. Dari sisi pribadi, ia merasakan ketenangan batin dan keberkahan hidup. Ada kebahagiaan tersendiri ketika menjadi bagian kecil dari solusi atas kesulitan orang lain. Dari sisi profesional, berbagi juga memperluas jaringan kepercayaan dan membuka pintu silaturahmi yang tulus, memperkuat reputasi, dan membangun citra bahwa profesi dokter maupun advokat sejatinya hadir untuk melayani, bukan sekadar bekerja.
“Saya percaya, rezeki tidak pernah berkurang karena berbagi. Justru sebaliknya, semakin banyak kita memberi, semakin luas pula lingkaran kebaikan yang tercipta. Dan pada akhirnya, itulah warisan yang ingin saya tinggalkan: bahwa sukses bukan hanya tentang apa yang kita capai, tetapi juga tentang seberapa banyak kita bisa berarti bagi orang lain.”
Hadapi Tantangan dengan Reputasi dan Kepercayaan
Tantangan terbesar yang dirasakan ketika munculnya disharmoni regulasi yang sering berubah-ubah. Regulasi yang tidak sinkron membuat tenaga medis dan tenaga kesehatan seringkali kebingungan. Selain itu, ada kesenjangan pemahaman antara tenaga medis dan kesehatan serta Pemerintah sebagai regulator.
“Banyak tenaga medis dan tenaga kesehatan yang merasa aturan dibuat jauh dari realitas lapangan, sementara regulator berharap semua bisa berjalan seragam sesuai naskah kebijakan. Kesenjangan inilah yang sering menimbulkan miskomunikasi, bahkan gesekan, padahal sebenarnya tujuan kita sama yaitu menghadirkan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat.”
Tantangan lainnya adalah persepsi publik terhadap dokter dan Rumah Sakit. Tidak jarang Rumah Sakit menjadi sorotan dalam isu-isu negatif, baik soal pelayanan, biaya, maupun kasus hukum, yang kemudian viral di media sosial. Satu pengalaman buruk sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan seribu kebaikan yang dilakukan setiap hari. Padahal di balik layar, ada begitu banyak tenaga kesehatan yang bekerja siang malam, mengorbankan waktu bersama keluarga, bahkan mempertaruhkan kesehatan dan keselamatannya demi merawat pasien.
“Karena itu, reputasi dan kepercayaan menjadi aset yang harus dijaga dengan kerja nyata. Rumah Sakit tidak cukup hanya berbicara tentang visi dan misi di papan dinding, kepercayaan hanya lahir ketika pasien benar-benar merasakan kepedulian, kejujuran, dan integritas dalam pelayanan. Dan di situlah saya melihat tugas besar kita bersama menjadikan Rumah Sakit bukan sekadar tempat berobat, tetapi rumah harapan bagi setiap keluarga.”
Menautkan Harapan yang Berorientasi Pada Keselamatan Pasien
Suami dari dr. Fitriana Nasution, S.Ked ini memiliki harapan sederhana, namun sangat mendasar dengan terciptanya ekosistem kesehatan yang adil, bermutu, berkeadilan hukum, dan selalu berorientasi pada keselamatan pasien. Dr. Beni ingin melihat Rumah Sakit di Indonesia benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri, menjadi tempat di mana setiap orang, tanpa memandang latar belakang sosial atau ekonomi, merasa aman dan percaya.
“Saya membayangkan suatu hari nanti, masyarakat kita tidak lagi merasa perlu berobat jauh ke luar negeri hanya untuk mencari harapan sembuh, karena pelayanan terbaik sudah tersedia di Tanah Air. Saya membayangkan tenaga kesehatan kita bekerja dengan penuh dedikasi, didukung regulasi yang berpihak dan dihargai masyarakat yang memahami perjuangannya.”
Selain itu, dr. Beni juga mengajak para generasi muda baik di bidang kesehatan, hukum maupun profesi yang lain untuk terus bermimpi, berusaha dan tidak pernah berhenti belajar.
“Dan untuk generasi muda, baik di bidang kesehatan, hukum, maupun profesi lainnya. Jangan pernah berhenti bermimpi dan belajar. Ingatlah bahwa kesuksesan sejati bukan hanya soal apa yang kita capai, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan bagi orang lain. Karena pada akhirnya, warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan bukanlah harta atau jabatan, melainkan jejak kebaikan yang menginspirasi.”







