Di balik isu kesehatan masyarakat yang kian kompleks, dari obesitas, diabetes, hingga stunting, peran gizi sering kali menjadi fondasi yang luput dari perhatian. Padahal, kualitas hidup manusia sejak belum dilahirkan hingga usia lanjut sangat ditentukan oleh bagaimana gizi dipahami dan dijalankan. Inilah ruang pengabdian yang dipilih dr. Annisa Fauziah, Sp.GK, AIFO-K, seorang Dokter Spesialis Gizi Klinis yang menempatkan ilmunya bukan sekadar sebagai profesi, melainkan sebagai jalan ibadah dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Jauh sebelum menapaki kariernya saat ini, dokter cantik yang karib disapa dr. Annisa ini telah melewati perjalanan panjang dan berliku. Berasal dari desa kecil di Tegal, ia tumbuh melalui dukungan guru, prestasi akademik dan keberanian merantau demi pendidikan yang lebih baik. Ketika impian menjadi dokter spesialis terbentur keterbatasan finansial, ia memilih jalan berjuang dengan bekerja, berwirausaha, dan membiayai pendidikannya sendiri hingga lulus dengan predikat cum laude.
Tertarik Gizi Klinis. Keinginan untuk memberi dampak yang luas kepada masyarakat, mendorong dr. Annisa Fauziah, melanjutkan studi spesialisnya di bidang gizi klinis. Ketertarikan tersebut tidak hadir secara instan. Berawal dari keinginan meningkatkan kompetensi, dr. Annisa mengikuti berbagai workshop dan forum ilmiah. Dari sanalah ia menyadari bahwa gizi klinis memiliki dampak yang sangat luas, menyentuh setiap fase kehidupan manusia. Mulai dari masa remaja calon ibu, kehamilan, menyusui, masa bayi dan balita, hingga dewasa dengan berbagai kondisi medis, bahkan fase pra dan pasca operasi.
“Peran gizi itu panjang dan berkesinambungan. Gizi menentukan kualitas hidup seseorang dalam jangka panjang,” ungkapnya.
Demi merealisasikan niat baik itu, usai menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro di tahun 2015. Wanita kelahiran Tegal, pada 21 Desember ini pun kembali ke almamater yang sama untuk menempuh pendidikan spesialis gizi klinis dan lulus pada tahun 2022.

Tantangan Layanan Gizi. Karier dr. Annisa dimulai di kota kelahirannya, Tegal. Namun sebagai bidang ilmu yang relatif baru, gizi klinis kala itu belum banyak dipahami, bahkan di kalangan tenaga kesehatan. Tantangan membangun layanan gizi klinis terasa tidak mudah. Kesadaran yang masih rendah membuat perkembangan layanan berjalan lambat.
Ketika kesempatan datang dari RSUD Welas Asih Provinsi Jawa Barat, dr. Annisa mengambil keputusan besarhijrah ke Bandung bersama keluarga kecilnya. Sejak April 2024, ia mengabdi di RSUD Welas Asih, disusul praktik di RS Advent Bandung. Keputusan ini bukan semata soal karier, melainkan keberanian untuk bertumbuh dan memberi dampak lebih luas di lingkungan yang lebih siap menerima peran gizi klinis.
Edukasi sebagai Jembatan Kesadaran. Di tengah derasnya arus informasi, dr.Annisa melihat tantangan lain, salah satunya maraknya edukasi gizi yang tidak berbasis ilmu. Konten-konten tanpa dasar ilmiah kerap dipercaya publik dan berujung pada pola makan yang keliru, bahkan membahayakan. Dari kegelisahan itulah ia mulai aktif sebagai edukator, baik melalui seminar, webinar, maupun media sosial.
Melalui akun Instagram dan TikTok, ia membagikan edukasi dengan bahasa sederhana, membumi dan mudah dipahami. Sumber kontennya pun lahir dari praktik sehari-hari, seperti pertanyaan pasien, kesalahpahaman yang sering ditemui, hingga kasus nyata yang membutuhkan pelurusan informasi. Respons masyarakat pun terasa nyata. Banyak yang mulai menyadari bahaya obesitas, perlemakan hati, hingga risiko penyakit kronis akibat pola hidup yang keliru.
Selain lewat media sosial, dr. Annisa juga kerap berbagi ilmu dan pengalamannya lewat seminar dan workshop offline maupun webinar. Diantaranya seminar Diet Sehat Lezat yang digelar di Polda Jabar- Bandung, Edukator Diabetes Club Workshop untuk edukator DM, Webinar Medis tentang Intermitten Fasting, Understanding the Health Benefit, Webinar Medis dengan tema Pencegahan dan Penanganan Malnutrisi pada Anak, Webinar Kesehatan terkait Optimalisasi Gizi & Olahraga di Bulan Ramadhan, Webinar Medis tentang Manajemen Obesitas pada Anak, Webinar Medis bertema Manajemen Gizi pada Pasien dengan Penyakit Kronis dan sebagainya.
Bahasa yang Menyentuh Kesadaran. Berhadapan dengan pasien dari beragam latar belakang, dr. Annisa meyakini bahwa komunikasi adalah kunci. Ia menyesuaikan pendekatan, memilih kata-kata yang paling mudah dipahami dan menjelaskan dengan kesabaran. Baginya, keberhasilan terapi gizi bukan hanya soal kepatuhan, tetapi tentang menyentuh kesadaran.
Perubahan gaya hidup memang tidak mudah. Penyangkalan kerap menjadi tembok pertama. Namun dengan pendekatan yang tulus dan konsisten, ia percaya tidak ada kebaikan yang sia-sia. “Tugas saya adalah menyampaikan dan mengingatkan sebaik mungkin. Soal berubah atau tidak, itu proses masing-masing,” tuturnya.

Ditambahkan dr. Annisa, saat ini Indonesia menghadapi paradoks gizi. Di satu sisi, angka obesitas dan penyakit degeneratif terus meningkat. Di sisi lain, masalah malnutrisi dan stunting pada anak masih menjadi pekerjaan besar. Kesalahan pola asuh, mitos pemberian makan, serta dominasi makanan ultra-proses menjadi tantangan serius. Anak-anak bahkan mulai mengalami penyakit yang dulu identik dengan usia dewasa.
Kondisi ini menegaskan bahwa edukasi gizi tidak bisa ditunda. Ia harus hadir sejak dini, berkelanjutan, dan berbasis ilmu yang benar.
Tren Global. Dalam lanskap global, isu obesitas dan anti-aging menjadi topik yang semakin relevan. Namun dr. Annisa mengingatkan, anti-aging bukan semata urusan estetika. Ia mencakup kesehatan sel, organ, hingga kualitas metabolisme. Gizi memegang peran besar melalui asupan protein, antioksidan alami, dan pola makan seimbang.
Ia juga menyoroti bahaya diet ekstrem yang marak dipromosikan. Diet bukan tentang menahan lapar, apalagi mengorbankan kesehatan. Diet yang benar justru membuat tubuh tercukupi, tidak stres dan berkelanjutan. “Setiap orang punya masalah yang berbeda. Pendekatannya harus individual,” tegasnya.
Kolaborasi dan Pembaruan Ilmu. Sebagai ilmu yang lintas disiplin, gizi klinis membuka ruang kolaborasi luas. dr. Annisa kerap bekerja sama dengan sejawat dari berbagai spesialisasi, seperti penyakit dalam, anak, obgyn, bedah, hingga kedokteran olahraga.
Baginya, komitmen menjadi dokter adalah komitmen belajar seumur hidup. Ia aktif mengikuti pelatihan dan workshop, termasuk hingga ke luar negeri, demi memastikan ilmunya selalu relevan dan mutakhir. Sebut saja International Congress on Obesity and Metabolic Syndrome di Seoul, Korea Selatan 2024, Keeping Up with Trends in Anti-Aging, Cancer Prevention Research, and Clinical Nutrition di Kuta-Bali, pada Oktober 2025, Local Food Sources and Knowledge in Daily Practice to Enhance Health and Longevity di Padang, November 2023 dan Collaboration in Navigating the Clinical Challenge in Nutritional Management and Wellness di Bandung.
Mengabdi dan Terus Berdampak. Ke depan, dr. Annisa ingin menjadikan profesi dokter sebagai ruang pengabdian murni. Ia bercita-cita membangun kemandirian finansial dengan cara berwirausaha, agar kelak dapat menjalani peran dokter dengan penuh kebebasan nurani. Apa pun bentuknya, satu hal yang pasti, dedikasinya pada gizi akan terus menjadi benang merah.
Melalui langkah-langkah senyap namun konsisten, dr. Annisa menunjukkan bahwa membangun generasi sehat tidak selalu dimulai dari hal besar. Ia bermula dari pemahaman gizi yang benar, komunikasi yang manusiawi, dan niat tulus untuk memberi manfaat hari ini dan untuk masa depan. Laili

Peran sebagai Ibu, Istri, dan Perempuan Berdaya
Di luar ruang praktik, dr. Annisa merupakan seorang istri sekaligus ibu. Ia menata keseimbangan hidup dengan disiplin sederhana. Mulai dari tidur teratur, membatasi gawai, olahraga, membaca buku dan menyediakan waktu berkualitas bersama keluarga. Dukungan suami menjadi fondasi penting dalam perjalanannya.
Baginya, perempuan perlu berdaya dengan niat yang lurus dan restu keluarga. Bekerja adalah ibadah, sekaligus bentuk kesiapan menghadapi masa depan. Ia juga konsisten menyisihkan penghasilan untuk berbagi, meyakini bahwa dalam setiap rezeki ada hak orang lain.







