Crowdfunding Typography Banner
Komisaris PT Bumi Resources, Komisaris PT PLN Energi Primer Indonesia, Sekjen BPP HIPMI, Ketua Umum ASPEBINDO, Ketua Umum REPNAS

Dr. Anggawira, M.M., M.H, UMKM Mampu Jadi Tulang Punggung Ekonomi Bangsa

Bagikan:

1

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Di tengah gelombang ketidakpastian global dan tantangan ekonomi yang makin kompleks, satu hal yang tetap menjadi fondasi kokoh perekonomian Indonesia adalah UMKM. Bagi Dr. Anggawira, pengusaha sukses sekaligus Sekretaris Jenderal BPP HIPMI, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah bukan sekadar sektor yang perlu dibantu, tetapi subjek utama dalam gerak roda pembangunan ekonomi nasional.

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Dan peran strategis ini tidak akan cukup jika UMKM hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan. Mereka harus diberdayakan, diberi ruang untuk tumbuh, dan dilibatkan dalam sistem ekonomi yang lebih inklusif dan modern,” tegas sosok yang akrab disapa Anggawira ini.

Lebih lanjut dikatakan Anggawira, HIPMI memandang bonus demografi 2045 tidak akan bermakna apa-apa jika anak muda Indonesia, yang mayoritas akan masuk ke sektor informal dan UMKM, tidak diberikan akses yang memadai untuk naik kelas. “Kami ingin UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang masuk ke industri hilir dan menjadi bagian dari rantai pasok global,” jelasnya.

Untuk itu, HIPMI mendorong hadirnya sistem pembiayaan yang progresif dan visioner. Ia menyebut pentingnya membuka jalur pembiayaan menengah melalui skema Kredit Usaha Menengah (KUM), dengan plafon yang realistis antara Rp 5 hingga Rp100 miliar. “Terlalu banyak UMKM kita yang stuck di level mikro karena tidak ada jembatan pembiayaan untuk naik kelas,” tambahnya.

Selain itu, menurut Angga, UMKM Indonesia juga membutuhkan ekosistem. Artinya, keterhubungan dengan pasar, digitalisasi, pendampingan, kemudahan regulasi, hingga keberpihakan dalam pengadaan barang dan jasa Pemerintah. “Ekosistem yang utuh akan melahirkan UMKM yang tangguh dan berdaya saing,” ujarnya.

Sebagai organisasi pengusaha muda terbesar di Indonesia, HIPMI terus mengambil peran strategis untuk mendorong lahirnya wirausahawan baru yang tidak hanya survive, tetapi juga menciptakan dampak. Anggawira percaya, masa depan ekonomi Indonesia akan ditentukan oleh seberapa besar kita memberi ruang bagi UMKM untuk menjadi pemain utama.

 Strategi Bertahan dan Tumbuh. Pandemi COVID-19, konflik geopolitik, hingga gejolak harga komoditas global telah menekan berbagai sektor. Namun di balik badai itu, Anggawira menilai UMKM tetap berdiri sebagai lapisan terdepan, baik sebagai korban pertama maupun harapan terakhir.

“UMKM kita sedang dalam posisi rawan. Tapi mereka juga yang paling adaptif asal diberi ekosistem yang kondusif. Sektor kuliner, fashion dan kerajinan rakyat menjadi yang paling terpukul karena menurunnya daya beli. Sementara itu, manufaktur kecil menghadapi tantangan pasokan dan modal. Namun yang paling memprihatinkan adalah UMKM yang belum terkoneksi secara digital atau keuangan formal. Mereka nyaris tak punya instrumen bertahan,” ungkapnya

Sebagai Sekjen HIPMI, Anggawira tak tinggal diam. Ia mendorong dua langkah konkret. Mulai dari pemulihan jangka pendek lewat likuiditas murah dan restrukturisasi pinjaman, serta transformasi jangka panjang lewat digitalisasi, integrasi dengan rantai industri besar dan penguatan ekspor.

“Kita juga mendorong Pemerintah agar mempercepat realisasi belanja negara untuk produk UMKM. Jangan seremonial saja,” tegas sosok yang juga menjabat sebagai Tenaga Ahli Menteri ESDM dan Komisaris di berbagai BUMN dan perusahaan swasta ini.

Namun menurutnya, yang harus dibenahi pertama-tama adalah tata kelola. “Kebijakan kita masih terlalu birokratis dan minim data. Kita butuh dashboard UMKM berbasis real-time untuk intervensi yang presisi,” tambah Anggawira.

Digitalisasi adalah Jalur Hidup. Ditekankan Anggawira, di era serba digital seperti saat ini, mempelajari tentang seluk beluk dunia digital merupakan suatu keharusan. Terutama bagi UMKM. “Tanpa digital, UMKM akan punah di pasar modern,” ujarnya tanpa tedeng aling-aling.

HIPMI, di bawah koordinasi Anggawira, mendorong pelatihan digital berbasis komunitas, mempertemukan startup teknologi dengan UMKM tradisional, serta mendorong integrasi ke marketplace global. Mereka juga advokasi pentingnya credit scoring alternatif untuk UMKM yang belum bankable.

UMKM perempuan dan pelaku muda pun mendapat perhatian khusus. “Kami dorong affirmative policy seperti kuota pembiayaan khusus, perlindungan sektor informal, dan insentif branding,” jelasnya.

Menghubungkan yang Terpisah. Bagi Anggawira, komunitas seperti HIPMI memiliki peran strategis, yakni sebagai penghubung, fasilitator, dan katalisator. “Kami mempertemukan pelaku UMKM dengan mitra usaha, menjadi mitra kritis Pemerintah, dan suara kolektif para pengusaha muda,” ujarnya.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika menyaksikan UMKM yang nyaris gulung tikar pasca-pandemi, kemudian bangkit dan bisa menyekolahkan anak-anaknya kembali setelah pendampingan HIPMI.

“Itu lebih dari sekadar angka pertumbuhan. Itu wajah ekonomi kerakyatan yang hidup karena keberpihakan nyata,” ucap Anggawira haru.

Hilirisasi UMKM Pangan Kunci Masa Depan Desa

Sebagai putra daerah kelahiran Indramayu, 9 Januari 1982, Anggawira sangat concern dengan sektor pertanian dan pangan. Baginya, UMKM pertanian harus berhenti hanya sebagai pemasok bahan mentah.

“Jagung dari Indramayu bisa jadi sereal atau frozen food. Singkong dari Lampung bisa jadi tepung gluten-free. Pisang bisa diolah jadi camilan ekspor,” paparnya penuh semangat.

Untuk itu, ia mendorong sinergi antara petani muda, pelaku UMKM, dan startup agrifood untuk menciptakan ekosistem nilai tambah.

Generasi Muda Harus Cepat Beradaptasi

Anggawira menaruh harapan besar pada generasi muda, yang kelak menerima tongkat estafet keberlangsungan kehidupan bangsa. “Mereka punya teknologi, kecepatan, dan semangat. UMKM masa depan harus dikuasai anak muda, agar Indonesia Emas 2045 bisa jadi kenyataan,” imbuhnya

Ia pun membagikan pesan sederhana kepada generasi muda untuk terus belajar hal-hal baru dan mebiasakan diri untuk beradaptasi dengan perubahan dengan cepat. “Jangan malu belajar. Jangan berjalan sendiri. Di tengah krisis, yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling cepat beradaptasi,” nasehat pengusaha yang hobi sharing ilmu dan berolahraga ini.

Bagikan:

Bagikan: