MajalahInspiratif.com, Jakarta – Tidak semua pemimpin hadir dengan suara lantang. Ada yang memilih berjalan dalam senyap, memastikan sistem tetap bekerja, hak tetap terjaga dan kepercayaan publik tidak runtuh. Pada sosok Dr. Andi Tenri Sompa, S.IP., M.Si., kepemimpinan dimaknai sebagai kerja sunyi yang penuh tanggung jawab. Di tengah dinamika demokrasi yang kerap diuji oleh kepentingan dan tekanan, perempuan berdarah Bugis ini, berdiri pada satu pijakan yang sama, yakni menjaga nurani tetap adil dan berpihak pada kebenaran, meski tanpa tepuk tangan.
Dalam dunia yang kerap bising oleh kepentingan dan sorotan, Dr. Andi Tenri Sompa, S.IP., M.Si., memilih bekerja dalam senyap. Tidak mengejar panggung, tidak mengandalkan citra. Perannya dijalani dengan kesadaran penuh bahwa demokrasi bukan sekadar prosedur, melainkan amanah yang harus ditegakkan dengan nurani, integritas, dan keberanian untuk tetap lurus di tengah tekanan.

Ia tidak pernah merencanakan dirinya untuk menjadi figur yang disorot. Jalan hidup dan karier yang ditempuh justru mengalir melalui pilihan-pilihan sunyi, kerja panjang dan komitmen yang dijaga dalam diam. Dalam setiap peran yang dijalani, baik sebagai pendidik, akademisi, pengamat politik, hingga penyelenggara Pemilu, ia memposisikan diri bukan sebagai pusat perhatian, melainkan sebagai penggerak yang memastikan sistem berjalan adil, manusiawi, dan berintegritas.
Sejak kecil, ia dikenal sebagai pribadi yang mencintai matematika. Angka-angka baginya bukan sekadar hitungan, melainkan logika, ketertiban dan kejujuran. Kecintaan itu tumbuh menjadi kebiasaan menolong orang lain. Mengajarkan matematika kepada teman-temannya yang kesulitan, bukan dengan mengerjakan soal untuk mereka, tetapi dengan memastikan mereka memahami caranya. Prinsip sederhana itu kelak menjadi benang merah dalam seluruh perjalanan kepemimpinan sosok yang akrab disapa Tenri, dalam memberdayakan bukan menggantikan, membimbing bukan mendominasi.

Pendidikan dan Pengabdian. Perjalanan karier Tenri dimulai jauh sebelum ia memiliki jabatan formal. Bahkan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, ia sudah terbiasa mengajar. Tanpa bayaran, tanpa pamrih. Ia mengajarkan matematika dengan kesabaran, menguji kembali pemahaman muridnya dengan soal berbeda, hingga mereka benar-benar mengerti. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga masa kuliah. Mengajar privat menjadi bagian dari hidupnya, bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi sebagai ruang aktualisasi diri.
Saat akan menempuh pendidikan sarjana di Universitas Hasanuddin, Makassar, Tenri memilih Ilmu Politik. Sebuah pilihan yang lahir dari perenungan panjang, istikharah, dan kesadaran akan batas diri. ”Semula saya ingin masuk Fakultas Kedokteran, namun saat tes masuk universitas saya dinyatakan gagal karena tidak lolos tes buta warna. Suatu keanehan, karena setelahnya saya tidak ada masalah dengan tes-tes tersebut. Mungkin inilah jalan yang Allah SWT arahkan untuk kehidupan saya,” terangnya seraya berbaik sangka pada takdir Tuhan.
Pendidikan dilanjutkan ke jenjang Magister dengan konsentrasi Sosiologi Politik, lalu Doktoral di bidang Ilmu Politik. Meski latar akademiknya bukan matematika, kecintaan pada logika dan ketelitian justru memperkuat pendekatan berpikirnya dalam membaca fenomena sosial dan politik.
Kecintaan Tenri pada dunia mengajar, mendorongnya menjalani karier sebagai seorang Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin. Baginya, pekerjaan tersebut bukan sekadar profesi. Tenri memahami betul makna Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Pengabdian sering kali dimulai dari ruang paling sunyi, ketika seseorang memilih memberi, bahkan sebelum diminta,” tutur perempuan kelahiran Ujung Pandang, 21 Mei 1976 ini.
Selama menjalani tugas sebagai Dosen, Tenri sempat dipercaya menduduki jabatan strategis, di antaranya sebagai Sekretaris Program S3 Studi Pembangunan ULM 2021, Ketua Program Magister Administrasi Pembangunan ULM 2018-2021, Sekretaris Program S3 Ilmu Sosial Kerjasama ULMUNAIR dan Program Pendirian S3 Ilmu Sosial ULM 2017-2023. Sebuah prestasi besar dan membanggakan ketika juga dipercaya memimpin Center for Election and Political Party Universitas Lambung Mangkurat (CEPP UNLAM) sebagai Direktur pada 2012- 2020.
Selain mengajar, Tenri juga aktif meneliti, terlibat dalam berbagai tim seleksi, serta menjadi bagian dari forum-forum strategis yang membahas demokrasi dan kepemiluan. Lebih dari dua dekade, ia konsisten berada di ruang-ruang yang menuntut integritas dan keberanian bersikap. Jalan panjang yang saat ini mengantarnya meraih prestasi strategis dipercaya sebagai Ketua KPU Kalimantan Selatan periode 2023–2028, Mengawal Pemilu Nasional 2024, dan Memimpin penyelenggaraan demokrasi di Provinsi Kalimantan Selatan.

Perempuan di Ruang Maskulin. Keputusan Tenri terlibat lebih jauh dalam dunia kepemiluan bukanlah ambisi personal. Ia justru didorong oleh kebutuhan akan representasi dan kualitas. Di tengah minimnya keterlibatan perempuan, ia hadir sebagai salah satu pelopor di Kalimantan Selatan. Bukan untuk mengklaim, melainkan untuk membuka jalan agar regenerasi bisa terjadi.
Dunia kepemiluan adalah dunia yang keras, padat tekanan dan sering kali didominasi laki-laki. Tantangan terberat bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal persepsi. Perempuan kerap dianggap kurang kuat, kurang tegas atau tidak cukup tahan menghadapi ritme kerja ekstrem. Namun ia memilih tidak melawan dengan retorika. Ia menjawabnya dengan kerja nyata, ketelitian, kesiapan, dan konsistensi menjaga prosedur.
Baginya, prinsip adalah fondasi. Ia bekerja dengan kesadaran penuh bahwa setiap keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan, bukan hanya secara administratif, tetapi juga secara moral. Ia menjaga jarak dari potensi konflik kepentingan, menutup celah gratifikasi, bahkan memasang sistem pengawasan internal sebagai bentuk kehati-hatian. Semua dilakukan bukan karena kecurigaan berlebihan, melainkan karena penghormatan terhadap amanah.
Mengayomi dengan Teladan. Dalam kepemimpinnya, kata “melayani” tidak berhenti sebagai slogan. Tenri hadir, mendengar, dan menjelaskan, bahkan ketika harus berhadapan dengan kemarahan, tekanan, atau kritik keras. Ia percaya wibawa tidak lahir dari jarak, melainkan dari kesediaan untuk berdialog dan menjelaskan dengan jujur.
Sikap mengayomi tersebut telah ia terapkan sejak dulu, kala menjabat sebagai Dosen. Tenri tidak sekadar mengajar, tetapi juga mengamati. Melihat siapa yang memiliki potensi, siapa yang membutuhkan dukungan dan siapa yang hanya perlu diyakinkan bahwa mereka mampu. Bantuan yang diberikan tidak selalu berupa materi, tetapi juga akses, kepercayaan, dan dorongan agar mereka berani bermimpi lebih tinggi.
Ia memiliki kepedulian khusus pada mahasiswa berprestasi yang kurang mampu secara ekonomi. Dengan caranya sendiri, ia membantu membayarkan SPP, mencarikan pembimbing terbaik, atau sekadar memastikan mereka tidak kehilangan harapan. Ia ingin membuktikan bahwa prestasi tidak boleh kalah oleh keterbatasan materi. Bahwa kesempatan harus diberikan kepada mereka yang mau berusaha.
Baginya, pendidikan adalah jalan paling sunyi namun paling berdampak untuk menegakkan keadilan. Ketika satu anak muda diberi kesempatan, ia tidak hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga lingkar sosial di sekitarnya.
Ikhtiar Bersama. Sebagai Ketua KPU Kalimantan Selatan, apa yang ingin diwariskan Tenri bukanlah nama, melainkan sistem yang lebih adil. Ia berharap demokrasi tidak berhenti pada prosedur, tetapi benar-benar menyentuh substansinya: keadilan, kedamaian, dan kepercayaan publik. Ia sadar tidak semua bisa diubah, tetapi selalu ada ruang untuk memperkecil keburukan dan memperbesar kebaikan.
Ke depan, ia menyiapkan diri dengan kesadaran penuh mulai dari fisik, mental hingga intelektual. Setiap langkah dipertimbangkan, setiap keputusan diiringi doa. Jika kelak amanah yang lebih besar datang, ia memahami konsekuensinya, baik tekanan, fitnah maupun pengorbanan. Namun baginya, pengabdian memang tidak pernah menawarkan kenyamanan.
Ia memilih berjalan tanpa sorotan berlebihan. Bekerja tanpa banyak klaim. Mengayomi tanpa harus disebut. Karena bagi dirinya, kepemimpinan sejati bukan tentang seberapa sering nama diingat, melainkan seberapa lama dampak bisa dirasakan oleh orang banyak. ”Demokrasi adalah ikhtiar panjang yang menuntut kesetiaan pada nilai, bukan sekadar kepatuhan pada aturan,” imbuhnya.

Tegakkan Demokrasi sebagai Tanggung Jawab Moral
Bagi Tenri, demokrasi tidak pernah dipahami sebatas mekanisme lima tahunan atau serangkaian aturan administratif. Demokrasi adalah proses panjang yang menuntut kejujuran, keberanian, dan kesetiaan pada nilai. Karena itu, setiap tahapan Pemilu dipandang sebagai ruang pengabdian, bukan ruang kekuasaan.
Ia sadar, dalam sistem yang kompleks, penyelenggara sering kali berada di posisi rawan. Seperti ditarik oleh kepentingan, ditekan oleh ekspektasi, bahkan diuji oleh godaan. Namun justru di titik itulah nurani harus bekerja paling keras. Ia menempatkan prosedur sebagai pagar, substansi sebagai arah dan etika sebagai fondasi. Ketiganya tidak boleh dipisahkan.
Dalam praktiknya, Tenri memilih untuk hadir langsung ketika terjadi ketegangan. Dialog lebih dipilih daripada jarak. Penjelasan lebih diutamakan daripada penghindaran. Baginya, marahnya publik sering kali lahir dari ketidaktahuan dan tugas penyelenggara adalah memastikan masyarakat memahami, bukan merasa ditinggalkan.
Lebih dari dua dekade berada di ruang publik mengajarkan Tenri satu hal penting, bahwasanya konsistensi adalah ujian terberat. Tidak semua tekanan datang dalam bentuk ancaman. Sebagian hadir sebagai bujukan halus, kedekatan personal, atau rasa tidak enak hati.
Ia memilih bersikap tegas tanpa harus keras. Menolak tanpa merendahkan. Menjaga jarak tanpa memutus silaturahmi. Prinsip ini tidak selalu mudah dijalankan, tetapi justru di situlah integritas diuji.
Tenri memahami bahwa kepercayaan publik dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali. Dari keputusan yang konsisten, sikap yang terjaga dan keberanian untuk mengatakan tidak ketika itu diperlukan.
Sebagai Ketua KPU Kalimantan Selatan periode 2023–2028, Tenri memimpin penyelenggaraan Pemilu Serentak 2024 dengan komitmen pada transparansi, profesionalitas, dan integritas. Perannya menempatkan dirinya sebagai salah satu perempuan yang memegang posisi strategis dalam penyelenggaraan demokrasi di tingkat provinsi.
Ketelitian sebagai Bentuk Kepedulian
Latar belakang kecintaannya pada matematika sejak kecil membentuk cara berpikir Tenri hingga hari ini. Ia terbiasa bekerja dengan ketelitian, menguji ulang, dan memastikan setiap langkah dapat dipertanggungjawabkan. Dalam dunia kepemiluan, sikap ini menjadi kekuatan.
Ia tidak mudah mengambil keputusan tanpa membaca konteks secara utuh. Data diperiksa, regulasi dipahami, dan implikasi dipetakan. Bukan karena ragu, melainkan karena menghargai dampak dari setiap keputusan. Ia memahami bahwa satu kelalaian kecil bisa berakibat besar bagi kepercayaan publik.
Menjaga Keseimbangan dan Keutuhan
Di balik peran publik yang berat, Tenri tetap seorang istri dari Mohammad Dedy Muis Manomang, dan ibu dari Shafira, Alfarel, dan Alfaith. Saat ini, manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri baginya, terutama di masa-masa krusial tahapan Pemilu. Delegasi, kepercayaan dan komunikasi menjadi kunci. Ia memastikan kebutuhan keluarga tetap terjaga, sekaligus mengajarkan kemandirian kepada anak-anaknya.
Dukungan keluarga tidak selalu berjalan mulus. Ada fase kelelahan, kekhawatiran, bahkan perbedaan pandangan. Namun komitmen yang dibangun sejak awal menjadi pegangan. Baginya, keluarga adalah tempat pulang, sekaligus sumber kekuatan untuk tetap berdiri tegak di ruang publik.







