Crowdfunding Typography Banner
Owner Brand Fashion Bengkeng Indonesia, RM Pondok Cobek, dan Destie Rent & Tour

Destie Arisandy, S.E., M.M, Inovasi Bisnis Berbasis Kearifan Lokal

Bagikan:

4

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Bakat bisnis yang terasah sejak kecil, menjadikan Destie Arisandy begitu cakap dalam membaca peluang usaha. Kepiawaian tersebut membuatnya mampu menjalani beberapa lini bisnis mulai dari fashion, kuliner hingga travel. Berkat tangan dinginnya, ia bukan sekadar membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang, namun juga mengangkat khasanah kearifan lokal.

Lahir dari rahim seorang perempuan tangguh yang berprofesi sebagai pengusaha, Destie Arisandy tumbuh dengan semangat berdagang yang diwarisi dari Sang Ibu. Masa kecilnya tidak dihabiskan dengan bermain layaknya anak-anak kebanyakan, tapi justru menyertai ibunya berjualan baju sepulang sekolah. Dari sanalah benih kecintaan terhadap dunia usaha tumbuh subur dalam dirinya.

“Saya tumbuh bersama tumpukan kain dan suasana pasar. Karena dahulu ibu saya adalah pedagang baju. Dari sanalah bibit-bibit pengusaha kian tumbuh dalam diri. Mulai dari menjadi model untuk usaha saya sendiri hingga dipercaya menjadi Brand Ambassador merek fashion ternama di Indonesia,” kenang wanita cantik yang akrab disapa Destie ini.

Hidupkan Nilai-Nilai Lokal. Kecintaan Destie pada wastra nusantara membawanya membuka bisnis fashion yang mengangkat derajat kain-kain daerah. Ia tak ingin kain tradisional hanya dipandang kuno bahkan sebelah mata.

Dengan langkah pasti, ia pun mengibarkan bendera bisnis di bawah brand Bengkeng Indonesia, sebuah brand fashion yang mengusung filosofi modern namun tetap mencintai akar budaya. Desainnya unik, dengan sistem limited edition dan setiap desain hanya tersedia dalam dua varian warna. Konsep ini bukan hanya membuat setiap koleksi terasa eksklusif, tetapi juga mengubah cara orang memandang wastra Indonesia.

“Banyak yang mengira kain etnik itu terlalu jadul. Saya ingin merubah mindset itu. Baju etnik bisa tampil modern dan elegan. Tinggal bagaimana kita mengemasnya,” ujarnya.

Tak hanya dunia fashion, Destie juga menjajal dunia kuliner lewat Pondok Cobek, rumah makan yang menyajikan masakan khas Nusantara, khususnya olahan ikan sungai dan laut dengan sambal sebagai daya tarik utama.

Uniknya, Pondok Cobek hadir dalam dua konsep, yakni rumah makan berlatar sawah, dan rumah makan terapung di atas kapal sambil menyusuri sungai di Kota Buntok, Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Dengan menghadirkan pengalaman kuliner sekaligus wisata, kehadiran Pondok Cobek menjadi salah satu upaya nyata Destie dalam mendukung pariwisata lokal.

Kecermatan Destie dalam menangkap peluang bisnis baru, mendorongnya juga untuk berekspansi ke dunia tour and travel. Di balik kecintaannya terhadap budaya dan kuliner, Destie juga turut mempermudah mobilitas masyarakat lewat Destie Rent & Tour, penyedia jasa transportasi dan tour dalam maupun luar kota yang telah berdiri sejak tahun 2010.

Tiga bidang usaha yang dijalani Destie memang sangat berbeda, namun semuanya berakar pada satu hal, yakni passion dan komitmen untuk menghidupkan nilai-nilai lokal menjadi solusi modern yang berdaya saing.

Diferensiasi Bisnis. Bagi Destie, potensi pasar yang besar bukan satu-satunya alasan ia menekuni dunia usaha. Ada dorongan kuat untuk mengekspresikan kreativitas, terutama dalam mendesain, meski ia bukan lulusan fashion design secara formal.

“Bisnis fashion itu fleksibel dan sangat menantang. Saya belajar banyak dari pengalaman. Kreativitas bisa diasah, asal punya tekad dan kemauan belajar,” katanya.

Sebagai bentuk diferensiasi, bisnis-bisnis yang dijalankan Destie menawarkan keunggulan yang begitu berkesan. Pada bisnis fashion, ia merancang One Set, yakni blazer etnik dengan kain asli dari berbagai daerah di Indonesia. Diproduksi dalam jumlah terbatas, dengan sistem pre-order. Menariknya, untuk pembelanjaan senilai Rp 10 juta ke atas atau ketika organisasi Bhayangkari merayakan hari jadi, Destie memberikan diskon dan potongan harga spesial.

”Target pasar kami adalah kalangan menengah ke atas, dengan jaminan bahan berkualitas tinggi langsung dari pengrajin. Ciri khas Bengkeng Indonesia adalah warna-warna tanah yang hangat, namun tetap terbuka untuk permintaan warna cerah sesuai kebutuhan pelanggan,” jelas Destie.

Sedangkan pada bisnis kuliner, selain manawarkan ambience berbeda, Pondok Cobek yang dibangun juga menerima pesanan catering untuk berbagai acara. Keunggulan tak hanya dari rasa, tapi juga suasana tempat makan yang mendukung kenyamanan.

Pada bisnis tour and travel, Destie juga memiliki keunggulan sebagai strategi marketing-nya. Untuk menjaga loyalitas pelanggan, ia memberikan fleksibilitas durasi sewa, serta diskon menarik saat ia maupun organisasi Bhayangkari berulang tahun.

Inovasi untuk Nusantara. Sebagai pribadi yang selalu haus akan pembaruan, Destie tak pernah berhenti berinovasi. Di bidang fashion, ia menghadirkan desain wastra Nusantara yang cocok dipakai dari generasi muda hingga dewasa. Desainnya tidak hanya indah, tapi juga fungsional, karena bisa dikenakan di berbagai acara, baik formal maupun kasual.

“Batik dan tenun itu bukan sekadar budaya, tapi juga gaya. Saya ingin anak muda bangga memakainya, tanpa merasa tua atau ketinggalan zaman,” jelasnya.

Di bidang kuliner, Destie menghadirkan Pondok Cobek dalam format yang belum pernah ada sebelumnya di Kalimantan Tengah. Rumah makan apung ini menyajikan suasana unik: makan sambil menikmati panorama sungai Malawen, lengkap dengan karaoke bersama keluarga atau teman, hingga paket romantic dinner saat matahari terbenam. “Kami ingin menghadirkan kenangan, bukan sekadar makanan,” katanya dengan senyum.

Tantangan Digital. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, Destie menghadapi berbagai tantangan yang tak bisa dianggap enteng. Salah satu yang paling berat adalah potensi penyalahgunaan karya desain oleh pihak tidak bertanggung jawab. “Desain yang sudah kita produksi bisa saja diklaim orang lain secara ilegal dan bahkan digunakan untuk penipuan,” jelasnya.

Pengalaman pahit tersebut menjadi pelajaran besar, hingga kini seluruh usahanya telah didaftarkan secara resmi demi perlindungan hukum.

Tak hanya di bisnis, dalam keluarga pun adaptasi digital membawa dinamika tersendiri. “Sebagai ibu dan pelaku bisnis, saya harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, termasuk bagaimana menyelaraskan nilai-nilai keluarga dengan pola komunikasi dan cara kerja yang serba cepat dan digital sekarang,” ujarnya.

Apresiasi Media. Usaha dan kerja keras Destie mulai berbuah manis. Di bidang kuliner, Destie pernah menerima penghargaan dari media nasional atas kontribusinya menghadirkan konsep rumah makan inovatif berbasis kearifan lokal. Tak hanya dilirik oleh pelanggan, tetapi juga diakui sebagai pelaku usaha yang mampu mengangkat nama daerah lewat kuliner.

Meski perjalanan masih panjang, Destie terus menanamkan nilai pada setiap langkah: bahwa bisnis bukan hanya soal untung, tetapi tentang bagaimana memberi nilai lebih pada orang lain, mencintai warisan budaya, dan menjunjung tinggi kualitas serta etika.

Kiat Sukses.Kesuksesan tidak datang begitu saja. Destie percaya bahwa selain kerja keras dan strategi, ada satu hal yang menjadi kunci utama dalam perjalanan bisnisnya, yakni koneksi spiritual dengan Sang Pencipta.“Buat saya, kunci sukses itu jujur dan istiqomah. Saya bangun sebelum subuh, dzikir pagi dan petang, shalat lima waktu tepat waktu, tidak pernah tinggalkan qabliyah dan ba’diyah, puasa sunnah, dan shalat malam,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga rutin bersedekah setiap hari semampunya, selalu belajar hal baru, terbuka terhadap kritik, introspeksi, dan tidak lupa bertawakal setelah berusaha sebaik mungkin.Semua itu bukan sekadar rutinitas bagi Destie, tapi bentuk komitmen yang mendatangkan ketenangan batin dan kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian.“Usaha lahir harus diimbangi usaha batin. Hasilnya? Luar biasa, tidak pernah mengecewakan,” imbuhnya.

Destie menyadari, dalam dunia bisnis tidak selalu mulus. Ada jatuh, ada bangkit. Namun yang terpenting adalah tidak berhenti. Kegigihan Destie, membuktikan bahwa perempuan muda juga bisa memegang kendali, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk kemajuan budaya dan ekonomi daerah.“Ada harga, ada kualitas. Tapi di atas semua itu, ada cinta dan kepercayaan yang harus kita bangun setiap hari,” tambah Destie.

Baginya, kesuksesan sejati adalah ketika ia bisa membawa manfaat bagi sekitarnya, menjadikan hidup orang lain lebih baik, dan menciptakan ruang untuk perempuan lain ikut tumbuh bersama.

“Saya bekerja keras bukan hanya untuk diri sendiri. Saya ingin jadi pribadi yang mandiri secara finansial agar bisa berbagi, membantu sesama, dan menjadikan apa yang saya hasilkan sebagai berkah untuk banyak orang. Kalau bisa membawa dampak positif, kenapa tidak?,” ujarnya.

Rencana ke Depan. Sebagai pelaku bisnis yang tak pernah berhenti bermimpi, Destie berharap usahanya turut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional. Ia juga ingin melihat perubahan perilaku konsumen yang semakin sadar mode, terutama terhadap produk-produk lokal berkualitas tinggi seperti wastra nusantara.

Ke depan, ia tengah merancang sebuah event khusus sebagai bagian dari pengenalan lebih luas terhadap brand Bengkeng Indonesia. Event ini ditujukan tidak hanya untuk memamerkan produk, tetapi juga untuk mengedukasi masyarakat tentang keindahan dan nilai filosofis di balik setiap kain etnik Indonesia.“Saya ingin Bengkeng Indonesia bukan hanya menjadi brand fashion, tapi juga gerakan cinta budaya. Semoga bisa terlaksana dalam waktu dekat,”pungkas perempuan berhijab ini.

Peran Perempuan di Era Modern

Dalam pandangan Destie, isu gender masih menjadi tantangan nyata bagi perempuan di Indonesia. Bukan hanya karena kurangnya perlindungan hukum yang benar-benar efektif, tetapi juga karena budaya dan adat istiadat yang masih menyimpan bias gender yang kuat. “Masih ada pandangan bahwa perempuan seharusnya hanya di rumah, padahal perempuan punya potensi luar biasa kalau diberi ruang yang setara,” ujarnya tegas.

Namun, tantangan dari luar bukan satu-satunya penghambat. Destie juga menggarisbawahi bahwa banyak perempuan yang justru membatasi dirinya sendiri. “Kadang kita terlalu takut mencoba, tidak berani keluar dari zona nyaman, anti kritik. Padahal hal tersebut  justru membuat potensi kita tidak berkembang,” tambahnya.

Di sisi lain, era digital telah membuka pintu peluang yang begitu luas bagi perempuan. Menurut Destie, teknologi kini memungkinkan perempuan untuk berkarir, berkarya, dan berkontribusi dari mana saja, dengan modal ide dan tekad yang kuat.

Destie pun menjadi bukti nyata. Lewat Bengkeng Indonesia, startup fashion yang mengangkat wastra Nusantara, ia berhasil menunjukkan bagaimana perempuan bisa menjadi penggerak ekonomi, pelestari budaya, sekaligus inovator di industri kreatif.

“Sekarang perempuan bisa bekerja dari rumah, bangun bisnis dari HP, bahkan menjangkau pasar global tanpa harus meninggalkan peran sebagai ibu atau istri. Teknologi membuka jalan, kita tinggal jalanin,” ujarnya penuh semangat.

Perempuan, menurut Destie, memiliki keunggulan tersendiri yang tak bisa digantikan. “Kami lebih peka terhadap emosi, baik yang kami rasakan sendiri maupun yang ditunjukkan oleh orang lain. Walaupun sering dianggap terlalu sensitif, justru itu yang membuat kami lebih tahan dalam menghadapi stres dan tekanan,” ungkapnya.

Ketahanan emosional ini pula yang sering membuat perempuan mampu bertahan dalam situasi sulit dan tetap tegar menjalani banyak peran sekaligus.

Investasi Diri Sejak Dini

 Bagi Destie, menjadi perempuan aktif dan produktif tak berarti melupakan diri sendiri. Ia percaya bahwa merawat tubuh, menjaga kebugaran, dan memiliki waktu untuk diri sendiri adalah bagian dari bentuk syukurdan investasi jangka panjang. Selain rutin berolahraga, ia juga selalu meluangkan waktu untuk menjalani perawatan tubuh dan wajah setiap dua minggu sekali.

Namun lebih dari itu, olahraga menjadi rutinitas harian yang dilakukan bukan hanya sendiri, tapi juga bersama anak-anak dan orang tua. Bagi Destie, mengenalkan dunia olahraga kepada anak sejak dini adalah “investasi emas” agar mereka tumbuh sehat secara fisik di tengah gempuran dunia digital.

“Saya tidak mau anak-anak saya tumbuh jadi generasi lembek karena terlalu lama di depan layar. Olahraga itu bukan cuma fisik, tapi juga karakter, disiplin, semangat, dan tangguh,” jelas istri dari AKBP Asdini Pratama Putra, S.I.K., M.M., M.Tr.Mil dan ibunda dari Asenath Uswatun Hasanah dan Ashura Ahlakul Karimah ini.

Agar bisnis-bisnis yang dijalankan tidak mengganggu aktivitasnya sebagai Anggota Bhayangkari sekaligus ibu rumah tangga, Destie menerapkan sistem auto pilot dan kepercayaan kepada para karyawannya. “Saya punya admin dan asisten pengawas di setiap bidang usaha. Mereka adalah orang-orang yang saya percaya dan sudah lama bersama saya,” katanya. Meskipun begitu, Destie tetap turun ke lapangan secara berkala untuk memastikan semua berjalan sesuai visi dan standar.

Dengan sistem tersebut, waktu untuk keluarga tidak terganggu. Ia selalu berusaha pulang bersama suami setelah kegiatan masing-masing. Jika ada agenda Bhayangkari atau kegiatan sosial lainnya, ia akan menyesuaikan agar tetap bisa hadir di rumah sebelum suami tiba di rumah. “Buat saya, keluarga tetap nomor satu. Usaha bisa sukses, tapi kalau rumah tangga goyah, buat apa?” tuturnya bijak.

Bagikan:

Bagikan: