MajalahInspiratif.com, Jakarta – Ketulusan Arina Siti Nurjanah yang ingin melunasi lilitan utang yang mendera orang tua, seakan menjadi pemulus langkahnya dalam menjalankan bisnis fashion muslim. Dengan uang hasil menggadai perhiasan pemberian sang suami sebagai modal, bisnis yang dimulai dari 1 orang penjahit tersebut kini mampu mempekerjakan kurang lebih 100 orang penjahit aktif dan admin penjualan online. Istimewanya, sebagian besar dari mereka merupakan tenaga kerja difabel dan ibu rumah tangga yang menjadi tulang punggung keluarga.
Setelah lulus kuliah pada tahun 2016, Arina menghadapi tantangan besar dalam hidup. Meski menyimpan keinginan besar untuk berkarier, ia mendapat batasan dari sang suami untuk tidak bekerja kantoran. Namun, semangatnya untuk tetap produktif tidak pernah padam.
“Waktu itu, kondisi orang tua saya sedang terlilit utang. Saya ingin sekali membantu mereka melunasinya,” kenang Arina.

Bermodal Perhiasan. Dorongan itulah yang kemudian menyalakan tekad Arina untuk merintis bisnis. Sebagai modal awal, ia rela menggadaikan perhiasan pemberian sang suami senilai Rp 5 juta, untuk membiayai ongkos produksi. Tanpa pengalaman bisnis yang mendalam, Arina memutuskan untuk memulai sesuatu yang sederhana, berjualan baju secara online dengan sistem pre-order. Produk pertamanya adalah sebuah gamis yang dibuat oleh tetangga rumahnya yang baru saja lulus dari kursus menjahit bantuan Pemerintah.
”Bisnis fashion dengan brand Joza Cloting ini saya jalani sambil mengurus anak-anak tanpa bantuan babysitter. Saya bahkan menjadi model untuk tiap produknya, saya juga yang memotret dan memasarkan melalui media sosial. Sebagai tanda jadi, produk kami jahit setelah customer memberikan uang muka,” papar perempuan kelahiran Banjarnegara, 15 Januari 1993 ini.
Dari 1 Jadi 100. Dengan strategi pre-order tersebut, Arina mampu menutup biaya operasional dari uang muka pelanggan, dan menikmati keuntungan dari pelunasan pembayaran. Ia juga tidak perlu menyiapkan stok dalam jumlah besar. “Saya posting satu desain, lalu buka PO. Dari situ mulai berkembang, Alhamdulillah,” ujarnya.
Tanpa terasa, dari hanya satu penjahit, kini usahanya sudah melibatkan kurang lebih 100 orang penjahit aktif dan admin penjualan online. Dan bisnis yang semula hanya memproduksi gamis, kini berkembang mengikuti trend pasar. Joza Clothing, juga menawarkan berbagai macam busana muslim, mulai dari pakaian umrah, busana sporty muslimah, celana, hingga setelan couple untuk keluarga.
“Target market kami menengah ke atas, jadi biasanya ibu-ibu pesan baju untuk bisa seragam dengan suami dan anak-anak mereka,” jelasnya.

Sesuai Perkembangan Trend. Salah satu kunci keberhasilan Arina adalah kepekaannya dalam membaca tren. Ia menyadari bahwa dunia fashion sangat dinamis. “Kalau tidak ikut trend, nanti terlihat jadul. Tahun 2016 trend-nya syar’i, sekarang sudah berbeda. Kita harus terus mengikuti perkembangan selera pasar,” katanya.
Demi memanjakan selera customer, dalam sebulan ia dan tim kini bisa tiga kali meluncurkan trend baru. “Dulu sebulan sekali, sekarang bisa tiga kali. Karena perputaran trend yang begitu cepat,” ujarnya.
Tapi dengan semangat konsisten dan tetap menjaga kepercayaan, ia tidak merasa kewalahan. “Alhamdulillah masih lancar. Yang penting kualitas tetap nomor satu,” imbuhnya.
Bagi Arina, konsistensi, adaptasi terhadap perubahan tren, dan pelayanan personal adalah kekuatan utama dalam membangun loyalitas pelanggan. Meskipun memulai dari keterbatasan, ia membuktikan bahwa niat yang kuat dan langkah kecil yang konsisten bisa membawa pada hasil besar.
Ia pun bersyukur Joza Clothing lahir di saat penggunaan media sosial seperti Instagram mulai berkembang pada tahun 2016. Di masa itu, Instagram lebih sering digunakan untuk sekadar berbagi gaya hidup, sementara Arina justru melihat peluang untuk membangun bisnis.
“Waktu itu belum banyak yang buka toko online. Jadi saat saya posting produk, responsnya cepat sekali. Saya bukan siapa-siapa, bukan dari latar belakang fashion, tapi karena banyak yang lihat dan suka, mereka langsung beli,” cerita Arina, yang menyebut dirinya bagian dari “generasi emas Instagram”, karena mampu memanfaatkan momentum awal media sosial sebagai sarana efektif untuk berjualan.
Dan meskipun bisnis fashion saat ini jauh lebih kompetitif, Arina merasa bersyukur karena Joza Clothing sudah memiliki nama yang kuat dan dikenal luas. “Alhamdulillah, sampai sekarang masih lancar, mungkin karena branding dari awal sudah terbentuk,” ujarnya mantap.
Exclusive dan Custom Size. Kesuksesan Arina menjalankan Joza Clothing juga terletak pada ciri khas produknya yang sangat memanjakan pelanggan. Salah satu keunggulan utamanya adalah layanan custom size. “Semua produk kami ukurannya bisa custom, jadi benar-benar dibuat sesuai ukuran tubuh customer. Mau badan besar ataupun kecil, tidak perlu repot memotong atau mengecilkan lagi,” jelas Arina.
Proses produksi pun dilakukan secara manual, tanpa menggunakan mesin potong massal. Hal ini memberikan hasil akhir yang lebih presisi dan nyaman saat dikenakan. Tak hanya itu, kain dasar yang digunakan merupakan bahan impor, namun diolah secara eksklusif oleh tim internal Joza Clothing. Mereka mencetak motif dan tekstilnya sendiri menggunakan mesin printing khusus yang dilengkapi watermark digital sebagai tanda keaslian. “Setiap bahan kami cetak sendiri dan selalu ada watermark-nya,” tambahnya.
Kunci Distribusi yang Cerdas. Setelah Joza Cloting mulai dikenal, Arina mulai membuka sistem reseller. “Saat ini kami telah memiliki sekitar 100 orang reseller, tersebar di seluruh kota besar di Indonesia, bahkan ada juga di luar negeri, meskipun masih orang Indonesia juga,” ujar Arina.
Namun, di tengah maraknya sistem reseller yang sering kali tak terkelola dengan baik, Arina justru mengambil pendekatan berbeda. Ia begitu selektif dan penuh perhitungan. Bagi Arina, memperbanyak reseller tanpa batas bukanlah solusi terbaik. Justru dengan membatasi jumlah reseller di setiap daerah, ia mampu menjaga eksklusivitas dan persaingan sehat antara mitra.

Misi Sosial yang Mengubah Hidup. Bagi Arina, kesuksesan Joza Clothing bukan hanya diukur dari omzet atau jumlah reseller. Ia lebih bangga karena brand yang dibangunnya dari kampung kecil di Banjarnegara ini telah menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang selama ini terpinggirkan dari dunia kerja.
“Saya banyak mempekerjakan ibu-ibu yang menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya sakit atau tidak bisa bekerja,” tutur Arina.
Selain itu, ia juga membuka kesempatan bagi teman-teman disabilitas, khususnya tuna rungu dan tuna wicara, untuk ikut berkarya. Bagi Arina, keterbatasan bukanlah halangan, justru sering kali menjadi kekuatan tersembunyi. “Teman-teman difable ini tingkat ketelitiannya luar biasa. Mereka rata-rata memang punya latar belakang dari Sekolah Luar Biasa (SLB), dan setelah lulus, kemampuan menjahit mereka cepat sekali berkembang. Hasil jahitan mereka rapi, presisi, dan tak kalah dengan pekerja profesional lainnya,” ujarnya bangga.
Tak hanya menciptakan lapangan kerja, Arina juga turut menginspirasi perubahan sosial di lingkungan sekitarnya. “Dulu di desa saya, anak-anak muda jarang sekali kuliah. Tapi sekarang, setelah orang tua mereka bisa bekerja di Joza Clothing, sudah banyak yang bisa menyekolahkan anaknya sampai ke Perguruan Tinggi,” kenangnya haru.
Dari sebuah rumah kecil di Banjarnegara, lahir sebuah gerakan ekonomi yang berdampak nyata. Arina membuktikan bahwa sebuah bisnis yang dijalankan dengan hati bisa menjadi berkah, bukan hanya bagi pemiliknya, tetapi juga bagi banyak keluarga yang menggantungkan harapan padanya.
Dengan pemilihan kain yang berkualitas, jahitan yang rapi, dan desain yang terus mengikuti tren, Joza Clothing berhasil menjangkau pasar tanpa harus membakar anggaran untuk promosi besar-besaran lewat endorse. Apalagi, Arina sangat memahami daya beli pasar di daerahnya. “Di tempat kami, UMR masih rendah. Jadi harga produk kami pun disesuaikan. Kalau brand lain jual Rp2 jutaan, kami masih bisa di harga Rp1 jutaan tapi dengan kualitas setara,” jelasnya.
Dukungan Keluarga dan Me-Time yang Bermakna
Kini, Arina telah mencecep manisnya perjuangan. Selain telah mampu melunasi utang-utang orang tua, saat ini Arina juga sudah memiliki tim yang mengelola operasional harian, sehingga ia bisa lebih fokus ke hal-hal strategis. Meski begitu, ia tetap terjun langsung untuk cross check kualitas dan memastikan semuanya berjalan sesuai standar.
“Kalau saya harus keluar kota, tim sudah bisa handle. Tapi saya tetap terlibat untuk cek kualitas,” ujarnya.
Perjalanan Arina tentu tak selalu mulus. Di awal-awal, sang suami sempat keberatan karena khawatir anak-anak menjadi kurang terurus. Namun setelah melihat perkembangan usaha yang semakin stabil dan sistem yang mulai terbentuk, dukungan dari keluarga pun mengalir sepenuhnya.
Kini, meski tetap sibuk dengan urusan bisnis, Arina tetap menyediakan waktu untuk keluarga dan dirinya sendiri. “Kalau weekend, saya usahakan untuk me-time sekaligus family time,” tuturnya. Me-time versi Arina tak harus mewah atau glamor. Ia tidak tertarik dengan liburan ke luar negeri. Baginya, me-time yang paling membahagiakan adalah beribadah atau mengunjungi Tanah Suci.
“Saat ada rezeki, saya lebih memilih untuk umroh atau haji. Itu juga jadi momen saya mempromosikan produk sendiri untuk perlengkapan umroh. Sekalian foto produk, sekalian ibadah,” jelas istri dari dr. Adie Bastian serta ibu dari Joza Arsyila dan Ibrahim Bastian ini.
Tak heran produk-produk Joza Clothing untuk kebutuhan umroh dan haji menjadi salah satu kategori unggulan yang paling dicari.
Tantangan dan Potensi Perempuan
Menurut Arina, tantangan terbesar perempuan dalam berbisnis bukan pada keadaan, tapi pada mental diri sendiri. “Kadang perempuan gampang down saat apa yang dijual belum laku. Padahal harusnya tetap semangat dan konsisten promosi. Dahulu saya juga sempat merasakan hal tersebut. Tapi karena bisnis online bisa dilakukan sambil pegang anak, akhirnya tetap jalan,” terangnya.
Era digital saat ini menurutnya adalah peluang besar, terutama bagi perempuan. “Harus rajin membuat konten menarik, kuatkan personal branding. Sekarang semua orang bisa mulai bisnis walaupun hanya dari Hp,” tekannya.
Arina juga melihat perempuan memiliki keunggulan dibanding laki-laki, terutama dalam hal ketelitian dan manajemen. “Perempuan lebih teliti, apalagi soal keuangan. Saya yang atur keuangan perusahaan supaya tetap stabil dan gaji karyawan tidak telat. Itu penting,” tegas Arina.
Info Lebih Lanjut:
Instagram: @Joza_Clothing_Official







