MajalahInspiratif.com, Jakarta – Selain berolahraga secara rutin, salah satu gaya hidup sehat yang senantiasa diterapkan Retno Wresti Dwiati adalah mengonsumsi beras organik atau beras sehat. Seakan ingin menularkan kebiasaan baik tersebut kepada banyak orang, perempuan berusia 64 tahun yang masih terlihat energik ini, terdorong untuk mendukung bisnis beras organik yang dijalankan anak-anaknya. Lewat pendampingan dan perhatian yang dilakukan, ia mampu mendorong para petani meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.
Di tengah peranannya sebagai ibu rumah tangga, Retno Wresti Dwiati atau akrab disapa Atik, membuktikan bahwa kontribusi perempuan tidak terbatas pada urusan domestik saja. Lahir di Klaten pada 6 Mei 1961, ia aktif sebagai Pemerhati dan Pendamping Pertanian Beras Organik Komsah, yakni beras sehat yang berasal dari tanaman padi dengan pengelolaan organik hasil kerja sama dengan para petani lokal.

Bersama anak-anak dan para pemuda desa, Atik bahkan turut mempromosikan produk beras sehat dari petani binaan tersebut. “Saya memang tidak turun langsung ke sawah, tapi saya selalu mendukung apa yang sedang dikembangkan anak-anak saya, terutama dalam mendorong penggunaan pupuk organik untuk pertanian,” ujarnya.
Pemberdayaan Petani. Kecintaan Atik terhadap produk lokal bukan sekadar wacana. Melalui Beras Super Komsah, ia secara langsung berperan dalam mendukung para pelaku UMKM, khususnya petani lokal.
“Kami membina para petani sejak awal, mulai dari masa tanam, pemupukan, hingga panen. Semuanya dilakukan melalui pengelolaan budidaya organik dengan menggunakan pupuk berimbang. Tujuannya bukan hanya menghasilkan beras sehat, tapi juga agar petani bisa lebih sejahtera. Dan sebagai warga asli Klaten, kami juga mendorong para petani Klaten untuk menanam dan menghidupkan kembali padi Rojolele yang merupakan varietas padi asli Klaten, yang lebih dikenal dengan beras Delanggu,” papar Atik.
Program pembinaan ini digerakkan bersama para pemuda desa yang menjadi penyuluh, menjangkau petani-petani di berbagai daerah. Hasilnya adalah beras dengan kualitas unggul yang tidak hanya baik bagi kesehatan, tapi juga memberdayakan masyarakat desa.
Bagi Atik, apa yang dilakukan adalah bentuk kepeduliannya pada kehidupan yang lebih sehat dan ekosistem pertanian yang berkelanjutan. “Kalau kita bisa konsumsi produk yang lebih sehat sambil menyejahterakan petani kita sendiri, kenapa tidak?” tekannya.
Berinovasi Lewat Kepedulian. Di usia yang tidak lagi muda, Atik justru menemukan warna baru dalam hidupnya. Ia aktif terlibat dalam kegiatan pertanian yang digagas anak-anaknya. Bagi sebagian orang, bertani mungkin hanya soal menanam dan memanen. Namun bagi Atik, ada semangat besar di baliknya, yakni semangat mengayomi petani desa agar lebih sejahtera dan dihargai.
“Kalau bukan kita yang mendukung mereka, siapa lagi?” ujar Atik, yang ikut mendampingi proses pertanian dari awal hingga panen raya, memastikan para petani binaan mendapatkan perhatian dan pembinaan yang layak. Keterlibatan ini bukan hanya menjadi bentuk inovasi sosial, tapi juga cara Atik menikmati hidup dengan lebih bermakna.
Penyesuaian Era Digital. Menginjak usia kepala enam, tantangan terbesar tentu datang dari cepatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi. Namun, Atik tidak menyerah. “Untuk kami yang saat ini telah berusia di atas kepala 6, memang tidak mudah mengikuti era masa kini. Tapi saya masih semangat, belajar dari anak-anak saya,” tuturnya.
Bagi Atik, kunci bertahan adalah mindset yang terbuka dan kemauan untuk terus belajar. Dalam bersosialisasi, ia tetap menjaga relasi dengan komunitas dan lingkungan. Dalam keluarga, ia mengisi peran sebagai ibu dan nenek dengan kasih sayang sekaligus semangat belajar yang tidak padam. Dan dalam bisnis, ia percaya bahwa kolaborasi lintas generasi adalah jalan terbaik untuk tumbuh bersama.

Tetap Menginspirasi sebagai Perempuan
Kini, Atik telah memasuki fase kehidupan yang disebutnya sebagai masa eyang. Ia menikmati peran barunya dengan penuh ketenangan. Membersamai anak-anak dan cucu, menyemai cinta di tengah keluarga, dan tetap aktif memberi dukungan dari belakang layar. “Kalau sekarang, saya hanya ingin menikmati hari-hari dengan damai dan sejahtera bersama anak-anak dan cucu,” ujarnya lembut.
Namun, meskipun telah memasuki usia senja, semangatnya untuk menginspirasi sesama perempuan tak pernah pudar. Karena baginya, seorang perempuan sepatutnya mandiri dan berani menerima tantangan. “Di zaman yang serba modern seperti sekarang, perempuan bukan hanya dituntut untuk mandiri, tapi juga percaya diri dan berani menghadapi tantangan hidup,” tekan Atik.
Ia percaya bahwa di balik kemajuan teknologi yang sangat pesat, peluang bagi perempuan terbuka sangat lebar. Kesempatan untuk belajar, berkarya, dan membangun usaha tidak lagi terbatas. “Tinggal bagaimana kita mau terus belajar dan menyikapi kemajuan ini dengan bijak,” tambahnya.
Atik juga menekankan bahwa perempuan punya keunggulan alami dibanding laki-laki. “Perempuan itu lebih tangguh, bisa menjalankan peran ganda, bahkan bisa berpikir lebih jauh dan penuh pertimbangan, terutama dalam hal-hal yang positif,” tuturnya bangga.

Cinta Kasih Ibu untuk Dunia yang Lebih Seimbang
Bagi Atik, kemandirian dan prestasi bukan hanya soal eksistensi perempuan, tapi juga tentang menjaga keseimbangan dunia. “Supaya dunia yang canggih ini tetap dipenuhi cinta kasih, maka perempuan harus terus berkarya. Di era teknologi ini, peran perempuan harus semakin dijunjung dalam segala bidang,” ungkapnya.
Meski kini lebih banyak mendampingi anak dan cucu, peran Atik sebagai istri tetap hadir dengan kekuatan yang tenang namun mendalam. Ia percaya bahwa dukungan kepada suami tidak harus selalu ditunjukkan dalam bentuk besar. Kadang cukup lewat rumah yang nyaman, anak-anak yang dibesarkan dengan nilai-nilai yang kuat, dan doa yang tidak pernah putus.
“Saya menanamkan kepada anak-anak untuk punya sopan santun, kerja cerdas, disiplin, dan bisa berbagi dalam segala hal. Semua itu bukan cuma bekal hidup, tapi juga cara saya mendukung karir dan nama baik keluarga,” ungkap istri dari Bambang Supriyambodo, Komisaris Independen PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) Palembang, serta ibunda dari Silvian Swastika Sidhi, Bima Tatas Mahisha dan Tristanian Berdieta ini.
Di lain sisi, Atik juga menyadari pentingnya mencintai diri sendiri. Baginya, waktu untuk me time bukan hal egois, tapi bentuk penghargaan diri agar tetap bisa sehat jiwa dan raga. “Saya olahraga, perawatan, liburan bersama anak dan cucu serta ikut kegiatan gereja. Itu semua membuat saya tetap bugar dan bahagia,” tuturnya dengan senyum ringan.
Atik meyakini bahwa keseimbangan hidup bisa dicapai ketika semua dijalani dengan tenang, syukur, dan penuh cinta. “Supaya dunia yang canggih ini tetap dipenuhi cinta kasih, maka perempuan harus terus berkarya,” imbuhnya.
Fleksibel dan Tetap Produktif
Dalam membagi waktu antara bisnis, keluarga, dan kegiatan sosial, Atik punya prinsip yang sederhana tapi efektif yakni fleksibel tapi bertanggung jawab. “Saya santai saja, waktu saya fleksibel. Tapi kalau sudah punya tanggung jawab, ya tetap harus dijalankan,” katanya.
Pendekatannya dalam menjalani kehidupan adalah perpaduan antara ketegasan nilai dan keluwesan sikap. Ia tidak memburu kesempurnaan, tapi selalu hadir sepenuh hati dalam setiap peran yang dijalani. Atik pun berupaya untuk selalu mensyukuri nikmat dan karunia yang Tuhan berikan dengan semangat menjalani hari-hari dengan hal-hal yang baik







