MajalahInspiratif.com, Jakarta – Zabrina Wibowo adalah cerminan perempuan modern. Kuat namun lembut, aktif berkarya namun tetap hadir bagi keluarga, mandiri namun penuh empati. Melalui karya, pelayanan, dan kesehariannya, ia terus memberi makna baik dalam skala kecil maupun besar. Sosok cantik yang akrab disapa Brina ini adalah pengingat bahwa perubahan tidak selalu datang dari panggung besar. Ia bisa dimulai dari rumah, dari hati dan dari kepedulian yang tulus.
Di balik kelembutan dan keteduhannya, Brina menyimpan keteguhan hati dan jiwa sosial yang begitu besar. Perempuan kelahiran Semarang, 11 Mei 1988 ini menjalani hidup dalam harmoni antara keluarga, bisnis, dan pengabdian sosial.

Setelah menyelesaikan pendidikan S1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, ia kemudian melanjutkan studi S2 di bidang Psikologi Perkembangan Anak Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Ia dikenal sebagai seorang wiraswasta, relawan sosial aktif, sekaligus Ibu Bhayangkari.
Jiwa Sosial yang Tak Pernah Padam. Kecintaan Brina pada dunia sosial sudah tumbuh sejak kuliah. Pada tahun 2006, ia menjadi sukarelawan di Yayasan Sayap Ibu Yogyakarta. Kecintaannya pada anak-anak dan keluarga membuat ia terpanggil untuk hadir dalam kehidupan mereka yang terpinggirkan.
Pasca menikah dengan AKBP Sanny Handityo, S.H, S.IK, yang kini menjabat sebagai Kapolres Sintang – Polda Kalimantan Barat, Brina berpindah mengikuti penugasan sang suami. Namun semangat sosialnya tak surut. Di Pekanbaru, ia dan suami aktif mendampingi para pemulung. Keduanya bahkan senantiasa melibatkan anak-anak mereka, Manuel Obed Salovza dan Laticia Melody Salovza, untuk ikut berbagi sejak dini.
Pandemi COVID-19 menjadi momentum besar bagi Brina untuk kembali terjun lebih dalam ke dunia sosial. Saat aktivitas sekolah diliburkan dan usaha pun melambat, ia mengunjungi panti-panti asuhan di sekitar rumah dan menawarkan diri untuk mengajar anak-anak sebagai sukarelawan calistung (baca, tulis, dan hitung). Di waktu lain, ia juga hadir mendampingi narapidana perempuan di Lapas, memberikan pendampingan psikologis dan menjadi sahabat yang mendengarkan dengan hati.
Tak berhenti di situ, Brina juga turun ke jalan untuk menjumpai anak-anak jalanan, mengajak mereka berbincang, bercanda, dan berdoa bersama. “Meskipun hanya beberapa menit, bisa membuat mereka tersenyum lepas, itu rasanya luar biasa,” ujarnya.
Salah satu karya paling monumental yang berhasil diwujudkan Brina bersama sang suami adalah pembangunan Panti Asuhan Amuri di Jl. Matahari Palas, Pekanbaru, Riau. Bermula dari keinginan tulus membantu anak-anak kurang mampu, keluarga kecil ini menghibahkan sebidang tanah dan menggalang dana dari berbagai pihak hingga akhirnya panti tersebut diresmikan pada 28 Juni 2025 lalu.

Karya dan Pengabdian. Di tengah kesibukan sebagai Ketua Bhayangkari Cabang Sintang dan mantan Ketua Urusan UMKM Bhayangkari Pengurus Daerah Kalimantan Barat, Brina juga aktif menjadi narasumber parenting di sekolah dan gereja, berbagi pengalaman tentang pendidikan anak dan penguatan peran keluarga.
Salah satu pencapaian pribadi yang paling membanggakan baginya adalah ketika merawat suami selama dua tahun masa pemulihan pasca kecelakaan. Ia menjadi perawat, terapis, sekaligus penyemangat utama hingga sang suami bisa kembali pulih dan bertugas secara normal. Sebuah dedikasi yang menjadi bukti nyata cinta dan keteguhan seorang istri.
Brina adalah potret perempuan yang tidak hanya hadir dalam rumah tangga, tapi juga memberikan warna dalam masyarakat. Hatinya peka, langkahnya ringan, dan tangannya selalu siap menolong. Semangatnya untuk melayani tumbuh bukan karena kelebihan, tapi karena keyakinan bahwa setiap orang bisa berbagi dengan apa yang dimiliki.
Lewat setiap senyum anak panti, pelukan anak jalanan, dan kisah haru di balik tembok lapas, Zabrina Wibowo menunjukkan bahwa menjadi manusia berarti hadir dan menghidupi cinta kasih di mana pun, kapan pun dan untuk siapa pun.
Merintis Bisnis dari Hati dan Kreativitas. Menjadi ibu, relawan sosial, sekaligus pebisnis adalah peran yang dijalani Brina sepenuh hati. Di tengah kesibukannya mengurus keluarga dan berbagai kegiatan sosial, ia juga sukses membangun sejumlah usaha yang kini ikut mewarnai dunia entrepreneur di beberapa kota besar.
Perjalanan bisnis Brina tidak dimulai dari modal besar, tetapi dari kepekaan melihat kebutuhan dan keberanian untuk mencoba. Salah satu momen paling menentukan terjadi pada tahun 2017, ketika sang suami masih dalam masa pemulihan pasca kecelakaan dan belum bisa kembali aktif bertugas sebagai anggota Polri. Saat itu, Brina tergerak untuk membantu kondisi finansial keluarga. Berbekal kemampuan dari kursus wrapping dan membuat seserahan yang pernah ia ikuti semasa kuliah, ia mulai merintis usaha Salovza Parcel di Pekanbaru.
“Awalnya saya tawarkan ke lingkungan kantor suami, kemudian menyebar dari mulut ke mulut dan mulai mendapat kepercayaan dari kantor pemerintah, bank, hingga perusahaan swasta,” kenang Brina.
Usaha hampers dan parcel ini tumbuh pesat, terutama saat momen Lebaran dan Natal, bahkan telah menjangkau seluruh area Pekanbaru dan sekitarnya. Tak hanya itu, Brina juga terlibat dalam dua bisnis lainnya yang berbasis kolaborasi bersama teman sekolah dan kolega. Yakni Klinik Plasthetic Semarang, sebuah klinik bedah plastik pertama di Semarang yang berlokasi di Jl. Papandayan No. 33C. Klinik ini terus berkembang dan dikenal luas berkat pendekatan profesional serta layanan estetika berkualitas.
Ada juga Laundrysemarang.com, cabang BSB City Semarang yang dikelola bersama partner bisnis lainnya, juga menjadi solusi kebutuhan laundry premium dan tepat waktu, beralamat di Ruko Beranda Bali A11, Semarang.
Baginya, kolaborasi adalah kunci untuk berkembang. “Saya percaya bahwa berbagi peran dan kepercayaan dengan orang yang tepat justru memperkuat pondasi bisnis,” ungkapnya.
Tantangan di Era Digital. Seperti banyak pelaku usaha lain, Brina juga menghadapi tantangan besar di era digital. Ia menyebutkan bahwa persaingan begitu ketat, karena kini masyarakat bisa dengan mudah membandingkan harga dan produk melalui banyak platform daring. “Promo gratis ongkir dan marketplace yang menjamur membuat tantangan makin nyata, kita harus benar-benar punya nilai lebih untuk bisa bertahan,” jelasnya.
Sementara dalam kehidupan keluarga, tantangan justru datang dari cepatnya perkembangan teknologi dan pengaruhnya terhadap anak-anak. Mengatur waktu penggunaan gadget, membatasi tontonan dan menjelaskan secara bijak kepada anak-anak seringkali menjadi perjuangan tersendiri, apalagi saat lingkungan sekitar belum tentu mendukung prinsip pengasuhan yang sama.
Terus Berinovasi dan Belajar. Meski tak mudah, Brina memilih untuk tetap berinovasi dan terus belajar. Ia aktif mengikuti perkembangan trend penjualan, terbuka terhadap ide-ide baru, serta rutin berdiskusi dengan orang-orang yang lebih berpengalaman.
“Saya tidak malu bertanya atau mencoba hal baru. Di dunia usaha, belajar adalah proses yang tidak pernah berhenti,” tuturnya penuh semangat.
Lebih dari itu, kesuksesan bagi Brina bukan hanya soal hasil, tetapi tentang menikmati setiap proses dengan konsisten dan sadar arah. Beberapa prinsip hidup yang selalu ia pegang antara lain menetapkan tujuan yang jelas, terus upgrade diri dan membangun keterampilan, disiplin waktu, berani mengambil risiko, membangun jaringan dan relasi, menikmati proses, dan tidak terburu-buru dengan hasil.
“Semua dijalani dengan sukacita dan rasa syukur. Kuncinya adalah niat yang benar dan kepercayaan bahwa setiap langkah pasti bermakna,” ungkapnya.

Me Time Tidak Harus Mewah
Brina memegang prinsip bahwa keluarga adalah yang utama. “Suami dan anak-anak adalah prioritas, apa pun perannya,” tegasnya. Di sisi lain, pelayanan sosial adalah jiwa, dan bisnis adalah bentuk pengembangan diri. Semua dijalani dengan hati yang tulus.
Untuk menjaga kesehatan, Brina terbiasa berolahraga secara rutin dengan menjalani treadmill setiap pagi selama 1 jam dan yoga dua kali seminggu. Sepanjang hari, perempuan berkulit putih juga hampir tidak pernah mengonsumsi minuman manis, dan hanya minum air putih minimal 8 gelas per hari.
Sedangkan untuk menjaga penampilan, ia melakukan treatment Facial rutin sebulan sekali. Ia percaya bahwa ‘me time’ bukan kemewahan, melainkan kebutuhan agar tetap kuat secara fisik dan mental dalam menjalani banyak peran.
Perempuan Berdaya, Masyarakat Berkembang
Selain dikenal sebagai aktivis sosial dan pengusaha perempuan, Brina juga dikenal sebagai sosok yang memiliki pandangan tajam mengenai posisi dan peran perempuan dalam masyarakat modern. Dalam pandangannya, isu gender bukan lagi menjadi persoalan utama di Indonesia saat ini.
“Saat ini, kita melihat semakin banyak perempuan yang tampil sebagai sosok inspiratif—bahkan banyak di antaranya menduduki posisi strategis seperti Presiden, Gubernur, Dokter, Dosen, dan lainnya. Mereka membuktikan bahwa secara kepemimpinan dan kecerdasan, perempuan tidak kalah dari laki-laki,” ungkapnya.
Namun, ia juga menyadari bahwa perjalanan menuju kesetaraan belum selesai. Masih banyak perempuan yang terhambat dalam mengembangkan diri karena tidak mendapatkan dukungan dari lingkungan terdekat, seperti suami atau keluarga. “Stigma bahwa perempuan hanya cocok mengurus rumah dan anak saja masih ada di sebagian masyarakat. Bahkan tak sedikit yang masih memandang bahwa tugas mencari nafkah adalah semata-mata tanggung jawab laki-laki.,” tambahnya.
Meski demikian, kemajuan teknologi justru menjadi titik terang bagi para perempuan Indonesia. “Perempuan kini memiliki peluang besar di bidang ekonomi, sosial, hingga politik. Teknologi informasi telah membuka banyak ruang baru untuk berkarya dari rumah, berbisnis online, belajar mandiri, bahkan menjadi pemimpin komunitas atau organisasi,” ujar Brina.
Dengan dukungan berbagai pihak dan peningkatan kesadaran kolektif tentang pentingnya pemberdayaan perempuan, jalan untuk berkontribusi semakin terbuka. Kini, siapa pun bisa belajar, membangun jejaring, dan mengembangkan diri tanpa batasan ruang dan waktu.
Kekuatan Unik Perempuan. Menurut Brina, perempuan memiliki sejumlah keunggulan yang sangat khas dan strategis untuk menghadapi tantangan zaman. Di antaranya adalah empati yang tinggi, ketahanan mental, kemampuan multitasking, kreativitas, intuisi yang tajam, serta kepekaan terhadap kebutuhan orang lain. Perempuan juga secara alami memainkan peran sebagai pendidik generasi, menjadikannya sebagai pondasi penting dalam membentuk masa depan bangsa.
Lebih jauh, Brina menekankan pentingnya perempuan untuk mandiri, berkarya, dan berprestasi di era sekarang. “Ketika perempuan berkarya, rasa percaya diri meningkat, ia merasa berguna, berharga, dan memiliki kebebasan finansial. Semua ini bukan hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat luas,” terangnya.
Dengan segala tantangan dan peluang yang ada, Brina percaya bahwa perempuan Indonesia mampu melampaui batas-batas tradisional dan terus menantang stereotip gender. “Berkarya adalah salah satu bentuk perlawanan paling elegan terhadap pembatasan. Saat perempuan berkarya, ia tidak hanya menegaskan keberadaannya, tetapi juga memberikan dampak positif yang nyata,” tegas Brian.
Untuk itu Brina mengajak setiap perempuan Indonesia untuk tidak ragu mengambil peran lebih besar. Menjadi istri dan ibu adalah kemuliaan, tapi tidak menutup ruang untuk turut serta membangun negeri lewat karya, gagasan, dan aksi nyata. Perempuan yang berdaya adalah aset bangsa, dan perempuan yang diberi ruang akan membawa perubahan besar bagi dunia.
Kemerdekaan Itu Bebas Menjadi Diri Sendiri
Bagi Brina, kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi bebas untuk berpikir, memilih, bertindak, dan mengejar mimpi tanpa tekanan. Namun, ia menyadari bahwa belum semua masyarakat Indonesia merasakan kemerdekaan secara menyeluruh.
“Kemerdekaan sejati adalah ketika setiap orang punya akses yang setara dalam pendidikan, pekerjaan, dan kesempatan hidup. Selama masih ada yang tertinggal, tugas kita belum selesai,” pungkasnya. Laili
Info Lebih Lanjut:
Instagram : @salovzaparcel @plasthetic.semarang)







