Crowdfunding Typography Banner
Komisaris Tamara Group Holding, Head of Global Business Development Tamara Group, Co Founder of Indonesia Tourism Investors Club (ITIC) Partner Of The Government of Indonesia

Lady Olivia Putihrai, Merancang Masa Depan Indonesia dari Panggung Global

Bagikan:

3

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Di era kompetisi ekonomi global dan transformasi menuju Indonesia Emas 2045, dibutuhkan kepemimpinan yang mampu menjembatani visi nasional dengan jaringan internasional. Lady Olivia Putihrai menghadirkan keduanya. Ia mengintegrasikan diplomasi investasi, arsitektur berkelanjutan dan promosi budaya sebagai strategi membangun citra Indonesia di mata dunia.

Di balik langkahnya yang tenang dan tutur katanya yang terukur, Lady Olivia Putihrai membawa visi besar yakni membangun citra Indonesia di panggung dunia melalui arsitektur, investasi, dan diplomasi budaya. Bagi perempuan cantik yang akrab disapa Olivia ini, kepemimpinan bukan sekadar posisi, melainkan tanggung jawab moral untuk menciptakan dampak nyata.

Lahir di Singapura pada 24 Agustus, Olivia tumbuh dalam lingkungan yang membentuk karakter disiplin dan visi global sejak dini. Ia adalah putri dari Omar Putihrai (Alm), tokoh pengusaha nasional sekaligus Bendahara Catur Republik Indonesia dan pendiri Tamara Group. Namun alih-alih bernaung di balik nama besar keluarga, Olivia memilih menempuh jalannya sendiri, membuktikan kapasitas melalui pendidikan, kerja keras, dan integritas.

Ditempa Sejak Dini. Perjalanan kepemimpinan Olivia dimulai jauh sebelum ia menyadarinya. Sejak usia delapan tahun, setiap masa liburan dihabiskan bukan sekadar untuk berwisata, melainkan belajar. Ayahnya mengajaknya berkeliling dunia, mengamati keindahan tata kota, desain hotel, gedung pencakar langit, hingga proyek-proyek konstruksi yang sedang dikerjakan.

Ia menyaksikan langsung bagaimana negosiasi dilakukan, bagaimana tim dikelola, bagaimana visi diterjemahkan menjadi bangunan nyata. “Tanpa saya sadari, pengalaman itu membekas dalam jiwa dan raga saya,” tuturnya. Arsitektur bukan hanya tentang struktur fisik, tetapi tentang membangun peradaban.

Nilai kerja keras ditanamkan kuat oleh kedua orang tuanya. Bahkan di usia 16 tahun, Olivia memilih bekerja sebagai waitress di California Pizza Kitchen, Singapura. Pekerjaan musim panas itu menjadi sekolah kehidupan pertamanya. Dari sana ia belajar disiplin, pelayanan pelanggan, komunikasi, hingga mengelola komplain. Ia memahami arti menghargai uang hasil kerja sendiri dan pentingnya hidup tidak lebih besar pasak daripada tiang.

Kebiasaan menabung, mencatat rencana, dan berpikir jauh ke depan menjadi bagian dari karakternya hingga kini.

Jejak Akademik Gemilang. Olivia menempuh pendidikan di institusi kelas dunia. Ia meraih gelar Master Architecture Theory dari Harvard Graduate School of Design. Sebelumnya, ia lulus Magna Cum Laude dari Architectural Association (AA School of Architecture) London, yang tervalidasi oleh Royal Institute of British Architecture (RIBA) dan Architecture Registration Board (ARB). Ia mencatatkan prestasi luar biasa dengan high pass dalam Technical Study Unit Skyscraper di bawah bimbingan Prof. Mark Hemel dan Nate Kolbe, dengan dosen tamu seperti Zaha Hadid, Richard Rogers dan Rem Koolhaas.

Tak berhenti di sana, ia juga meraih Diploma in Art and Design dari Central Saint Martins College of Art and Design, University of the Arts London, serta Royal School of Music Certificate piano exam yang berada di bawah naungan Her Majesty Queen Mother, Queen Elizabeth II.

Prestasi yang paling membanggakan baginya adalah menjadi satu-satunya orang Indonesia yang lulus Magna Cum Laude dalam unit Skyscraper pada ujian tervalidasi RIBA, serta menjadi kurator termuda yang mewakili Indonesia membangun Paviliun Indonesia pertama di London Festival of Architecture, berkolaborasi dengan British Council dan Architecture Foundation. Paviliun tersebut masuk jajaran Top 6 dari 39 negara peserta.

Kepemimpinan Strategis. Kini, Olivia mengemban peran sebagai Komisaris Tamara Group Holding dan Head of Global Business Development Tamara Group. Namun kontribusinya melampaui dunia korporasi.

Sebagai Founder Indonesia Tourism Investors Club (ITIC), ia membangun platform kolaborasi antara investor domestik dan internasional untuk mendukung proyek-proyek strategis nasional. ITIC berfokus pada kurasi proyek berorientasi solusi, dengan ROI yang sehat serta dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Salah satu proyek yang tengah dikurasi adalah National Water Taxi, sebuah solusi transportasi dan pariwisata berbasis air yang diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi hingga 8%. Ia juga mendorong Net Zero Tourism Economy melalui penguatan Green Tourism dan Waste Management, selaras dengan misi UN SDGs.

“Indonesia 2045 membutuhkan citra baru yang modern, berkelanjutan dan kompetitif secara global,” tegasnya.

Melalui YAPPI Foundation (Yayasan Pemuda dan Perempuan Indonesia), Olivia juga membuka ruang bagi arsitek muda, khususnya perempuan, untuk terlibat dalam proyek-proyek nasional. Ia aktif mempromosikan budaya Indonesia di forum internasional, termasuk melalui London Festival of Architecture.

Di dunia fashion dan budaya, Olivia pernah berinteraksi langsung dengan Anna Wintour di New York dan mempromosikan karya desainer Indonesia seperti Ivan Gunawan, Didit Hediprasetyo, Toba Tenun, hingga Batik Garis Nusantara. Ia juga konsisten mengangkat konde sebagai simbol perempuan Indonesia modern, warisan budaya yang harus lestari di panggung global.

Dari Skala Nasional hingga UMKM

Dalam kepemimpinanya, Olivia tidak berhenti pada proyek berskala besar. Ia memahami bahwa fondasi ekonomi nasional juga bertumpu pada kekuatan UMKM. Tahun ini, ia turut mendorong promosi UMKM melalui Senyum Bazaar 2026 (@senyumbazaarindonesia) yang akan diselenggarakan di Kebayoran Icon Ballroom. Bazar ini bukan sekadar ruang transaksi, tetapi wadah kurasi dan penguatan brand bagi pelaku usaha lokal.

Senyum Bazaar menjadi simbol bahwa pertumbuhan ekonomi harus bergerak dua arah, yakni strategi makro melalui investasi nasional dan penguatan mikro melalui pemberdayaan UMKM. Baginya, ketika UMKM naik kelas, ekonomi nasional menjadi lebih kokoh.

“Ekosistem yang sehat dibangun dari kolaborasi. Dari investor global hingga pelaku usaha lokal, semua harus tumbuh bersama,” ujarnya.

 Tantangan Perempuan di Era Digital

Bagi Olivia, tantangan perempuan hari ini semakin kompleks. Ia menyoroti kesenjangan digital, bias gender di industri teknologi, hingga risiko keamanan siber yang lebih rentan dialami perempuan.

Di sisi keluarga, beban ganda masih menjadi realitas. Work-life balance semakin kabur di era kerja fleksibel dan digital. Perempuan dituntut menjadi ibu, istri, dan profesional dalam waktu bersamaan.

Namun ia percaya, perempuan Indonesia adalah Kartini modern. “Kita harus saling mendukung, bergotong royong, dan memastikan kesetaraan bukan hanya wacana, tetapi praktik nyata,” tekannya.

 Know Thyself sebagai Prinsip Hidup

Pegangan hidup Olivia sederhana namun mendalam, Know Thyself. Baginya, mengenal diri berarti memahami kekuatan, kelemahan, nilai, dan tujuan hidup. Ia pun menerapkan prinsip BMBS. Yakni Beautiful Mind, melatih pikiran dengan membaca dan berpikir positif, Body dengan menjaga kesehatan melalui weight lifting, tenis, yoga, nutrisi seimbang, dan Soul dengan  menjaga kedekatan spiritual dengan Tuhan.

Ia disiplin menjaga waktu tidur delapan jam sehari, memiliki notebook untuk merancang rencana 1, 5, hingga 20 tahun ke depan, serta melakukan introspeksi secara berkala. ”Kepemimpinan dimulai dari diri sendiri. Jika kita tidak mengenal diri, kita tidak bisa memimpin orang lain,” imbuhnya.

 Visi untuk Indonesia

Olivia berharap dapat berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan membangun citra Indonesia sebagai negara maju, berbudaya, dan berkelanjutan. Baginya, pembangunan bukan hanya soal angka, tetapi tentang identitas bangsa.

Ia terinspirasi oleh tokoh-tokoh perempuan dunia seperti Zaha Hadid, Anna Wintour, Coco Chanel, Victoria Beckham, dan Queen Elizabeth II. Perempuan-perempuan kuat yang visioner dan konsisten pada nilai.

Di akhir perbincangan, Olivia menyampaikan pesan sederhana namun kuat. Perempuan harus mencintai dirinya terlebih dahulu. Dari sanalah lahir keberanian, disiplin, dan daya juang. Karena ketika perempuan memimpin dengan visi dan nilai, dampaknya bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk generasi dan bangsa.

Bagikan:

Bagikan: