MajalahInspiratif.com, Jakarta – Di tengah arus modernisasi yang kerap menyeragamkan rasa dan budaya, Sukma Dewi memilih berdiri teguh pada akar tradisi. Bagi perempuan Aceh ini, dapur bukan sekadar ruang memasak, melainkan ruang kepemimpinan yang menyimpan identitas budaya sekaligus peluang pemberdayaan ekonomi. Melalui perjalanan panjang sebagai Chef, Konsultan Kuliner, sekaligus pelestari resep warisan, Sukma membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan dapat menghadirkan dampak nyata. Bukan hanya dalam industri kuliner, tetapi juga bagi masyarakat yang lebih luas.
Perjalanan Sukma Dewi di dunia kuliner tidak dimulai dari sekolah memasak modern atau dapur restoran profesional. Ia tumbuh dari dapur keluarga, ruang sederhana yang justru menjadi fondasi bagi seluruh perjalanan kariernya.

Sejak usia tujuh tahun, Sukma, begitu ia biasa disapa, telah terbiasa berada di dapur bersama ibu dan neneknya. Dua perempuan tersebut bukan hanya mengajarkan teknik memasak, tetapi juga filosofi yang lebih dalam tentang rasa, disiplin, dan penghormatan terhadap tradisi.
Dalam keluarga mereka, memasak bukan sekadar aktivitas sehari-hari. Ia adalah bagian dari identitas. Setiap bumbu memiliki takaran yang dijaga dengan cermat, setiap proses memiliki standar dan setiap hidangan harus menghadirkan rasa yang konsisten.
Salah satu metode belajar yang hingga kini tidak pernah ia lupakan adalah latihan mengenali rempah. Terkadang matanya diminta untuk ditutup, lalu di tangannya diletakkan sejumput rempah. Ia harus meraba teksturnya, mencium aromanya, lalu menebak bahan apa yang sedang ia pegang. Apakah ketumbar yang baru disangrai, jintan yang hangat aromanya atau lada dengan karakter tajam yang khas.
Dari latihan-latihan sederhana itulah ia memahami bahwa memasak bukan sekadar mengikuti takaran. Memasak adalah seni mengenali karakter bahan, memahami bagaimana setiap rempah “berbicara” melalui aroma dan rasa.
Didikan keras di dapur keluarga inilah yang kemudian membentuk fondasi kecintaan Sukma terhadap kuliner tradisional Aceh. Ia belajar dari ibu, nenek, serta para perempuan dalam keluarganya yang dikenal sebagai juru masak yang sangat terampil dalam mengolah hidangan tradisional.
Dari mereka ia mempelajari cara memilih bahan terbaik, meracik rempah dengan perasaan, serta memahami bahwa memasak bukan sekadar mengikuti resep, tetapi membaca rasa dan menjaga kehormatan makanan.

Masakan Aceh autentik. Perjalanan belajar itu tidak berhenti ketika ia beranjak dewasa. Setelah menikah pada tahun 2013, Sukma justru menemukan guru-guru baru dalam keluarga suaminya. Ibu mertua dan nenek dari pihak suami juga dikenal sebagai perempuan yang sangat ahli memasak masakan Aceh autentik.
Dari dapur keluarga suaminya, Sukma kembali mempelajari berbagai teknik memasak tradisional yang mulai jarang digunakan, sekaligus mengenal berbagai hidangan klasik Aceh yang semakin jarang dimasak oleh generasi masa kini. Pengalaman ini memperkaya pengetahuannya tentang luasnya tradisi dapur Aceh yang diwariskan secara turun-temurun.
Bagi Sukma, masakan Aceh bukan sekadar hidangan yang disajikan di meja makan. Di dalamnya tersimpan sejarah keluarga, budaya, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap hidangan memiliki cerita tentang bagaimana bahan-bahan dipilih dari alam sekitar, bagaimana teknik memasak berkembang dari pengalaman para perempuan di dapur rumah, hingga bagaimana makanan menjadi pengikat hubungan keluarga dan masyarakat.
Melalui perjalanan kuliner yang ia jalani selama lebih dari enam belas tahun, Sukma terus berusaha menjaga agar rasa-rasa tradisional itu tetap hidup dan tidak hilang ditelan zaman.
Seiring berjalannya waktu, kecintaannya terhadap dunia kuliner berkembang menjadi perjalanan profesional yang serius. Selama lebih dari enam belas tahun, ia menekuni bidang ini dengan dedikasi penuh hingga dikenal sebagai Chef & Culinary Consultant, Heritage Recipe Specialist, serta Cultural Storyteller yang berfokus pada pelestarian kuliner Aceh.
Berbagi Resep Via Medsos. Dalam banyak keluarga Aceh lama, resep adalah sesuatu yang dijaga sangat rapat. Ia bukan sekadar catatan memasak, melainkan bagian dari kehormatan keluarga. Sukma tumbuh dalam tradisi seperti itu. Pengetahuan tentang resep warisan biasanya disimpan hanya untuk keluarga.
Seiring waktu, ia menyadari sesuatu yang membuatnya gelisah, semakin banyak resep tradisional yang perlahan menghilang karena tidak lagi diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itulah Sukma memilih jalan yang berbeda. Ia justru membuka dapur warisan keluarganya kepada masyarakat luas.
Masifnya penggunaan media sosial atau medsos, menarik Sukma untuk ikut memanfaatkan dunia digital tersebut. Ia pun membagikan berbagai resep autentik yang ia pelajari dan kembangkan selama bertahun-tahun melalui dunia maya. Resep-resep yang dahulu hanya hidup di dapur keluarga kini ia bagikan kepada masyarakat luas. ”Jika resep hanya disimpan oleh segelintir orang, suatu hari ia bisa hilang begitu saja bersama waktu,” tegasnya.
Kini, komunitas digital yang ia bangun terus berkembang. secara organik, dengan ratusan ribu orang mengikuti konten-konten kuliner yang ia bagikan.
Kesempatan Profesional. Hari ini, resep-resep yang dibagikan Sukma, telah digunakan oleh ratusan ribu orang. Sebagian memasaknya di dapur rumah untuk keluarga, sementara sebagian lainnya menjadikannya dasar untuk membuka usaha kuliner. Tidak sedikit usaha catering rumahan, rumah makan Aceh, hingga warung kopi yang menggunakan resep-resep tersebut sebagai acuan dalam memasak.
Bagi Sukma, ini bukan sekadar angka popularitas. Ini adalah sebuah kepercayaan. Kepercayaan bahwa resep yang ia bagikan benar-benar dapat dipraktikkan, menghasilkan rasa yang autentik, dan mampu menghidupkan kembali karakter masakan Aceh yang mulai terlupakan.
Dengan lebih dari 250.000 follower organik aktif di media sosial, pengaruh Sukma di dunia digital kemudian membuka berbagai kesempatan profesional. Ia dipercaya menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan kuliner, juri kompetisi memasak tingkat daerah, hingga terlibat dalam program pengembangan kuliner tradisional.
Beberapa institusi nasional dan BUMN juga mempercayakan dirinya dalam program pelatihan kuliner serta pengembangan desa melalui program CSR, di antaranya PT Pupuk Iskandar Muda, Pema Global Energy, Pegadaian, Bank Indonesia, Bank Aceh, hingga PJB. Ia bahkan pernah meraih prestasi dalam kompetisi memasak kategori Chef Profesional yang diselenggarakan oleh institusi besar seperti Bank Indonesia dan Pertamina.
Salah satu momen penting dalam perjalanan profesionalnya terjadi saat event Aceh Street Food Festival 2025, sebuah perhelatan kuliner besar yang menjadi panggung penting bagi pelaku kuliner Aceh. Di festival tersebut, Sukma mendapat kehormatan sebagai Guest Star yang dipercaya melakukan demo masak sekaligus menyiapkan jamuan makan malam bagi tiga puluh tamu mancanegara dengan konsep fine dining masakan Aceh autentik.
Bagi Sukma, semua itu bukan sekadar pencapaian karier. Lebih dari itu, ia memandangnya sebagai bagian dari misi yang lebih besar, yakni melestarikan identitas rasa Aceh dengan standar profesional yang mampu diterima secara nasional maupun internasional.
Berpikir Global, Berakar Lokal. Di tengah perubahan global yang begitu cepat, Sukma memiliki prinsip yang ia pegang teguh, berpikir global tanpa kehilangan akar lokal. Ia aktif mempelajari perkembangan industri kuliner dunia. Mulai dari tren gastronomi, strategi branding, manajemen dapur, hingga digital positioning.
Menurutnya, memahami dinamika global adalah bagian penting untuk tetap relevan dalam ekosistem industri yang terus berubah. Namun di saat yang sama, ia tetap berdiri kokoh pada fondasi warisan budaya yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Latar belakang akademik Sukma sebagai Magister Akuntansi, turut membentuk cara pandang yang unik terhadap dunia kuliner. Ia melihat dapur bukan hanya sebagai ruang kreativitas, tetapi juga sebagai sistem manajemen yang membutuhkan efisiensi, perencanaan, dan keberlanjutan. “Rasa harus kuat, tetapi sistem juga harus kokoh,” ujarnya.
Dalam pandangannya, globalisasi bukan berarti mengubah cita rasa lokal agar menyerupai standar Barat. Justru sebaliknya, global mindset adalah kemampuan menghadirkan identitas lokal dengan presentasi profesional, manajemen yang rapi, serta standar kualitas yang dapat diterima dunia tanpa kehilangan jati diri.
Bangun Rasa Memiliki. Salah satu titik balik penting dalam perjalanan Sukma terjadi ketika ia mulai terlibat dalam program pelatihan desa binaan dan proyek kuliner berskala nasional. Di sanalah ia menyadari bahwa profesi Chef memiliki peran yang jauh lebih luas dari sekadar menciptakan hidangan lezat. “Chef bukan hanya tentang memasak, tapi juga pemimpin budaya,” katanya.
Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya tentang kepemimpinan. Ia tidak lagi melihat resep semata sebagai karya kreatif, tetapi sebagai aset intelektual yang harus terdokumentasi, distandarisasi dan diwariskan secara sistematis.
Sejak saat itu, Sukma membangun pendekatan kepemimpinan yang berlandaskan pada beberapa prinsip utama, yakni sistem kerja yang terstruktur, pembinaan karakter dan disiplin kualitas, standardisasi rasa berbasis tradisi, serta dokumentasi resep sebagai warisan budaya yang terarsip dengan baik.
Namun, Sukma menyadari bahwa memimpin tim yang berasal dari latar belakang beragam, mulai dari masyarakat desa binaan, profesional event, hingga relawan kemanusiaan, membutuhkan pendekatan yang tidak sederhana.
Untuk itu, ia menerapkan tiga pilar kepemimpinan utama berupa keteladanan profesional, standar kualitas tinggi, dan komunikasi yang jernih serta tegas. Ia percaya bahwa pemimpin tidak hanya memberi instruksi, tetapi harus menjadi contoh nyata dalam hal disiplin, konsistensi, dan integritas. Ketika pemimpin mampu menjaga stabilitas nilai dan arah, tim akan merasa aman untuk berkembang.
Lebih dari sekadar mengatur pekerjaan, Sukma berusaha membangun rasa memiliki di dalam timnya. Ia ingin setiap individu merasa bahwa kontribusi mereka adalah bagian penting dari visi yang lebih besar.
Wujudkan Visi. Visi besar Sukma adalah mengangkat kuliner tradisional Aceh sebagai identitas budaya yang memiliki posisi terhormat di tingkat nasional dan global. Namun baginya, visi tidak boleh berhenti sebagai narasi inspiratif semata. Ia harus diterjemahkan menjadi langkah nyata yang dapat dirasakan masyarakat.
Beberapa upaya konkret yang ia lakukan antara lain rekonstruksi dan dokumentasi resep klasik melalui riset sejarah dan uji rasa berlapis, pelatihan desa binaan agar memiliki signature menu yang memiliki nilai jual kuat, serta integrasi manajemen biaya dan efisiensi dapur dalam operasional kuliner.
Selain itu, Sukma juga membangun strategi branding berbasis storytelling heritage yang memperkuat nilai budaya dalam setiap karya yang ia hadirkan. Melalui media sosial, ia secara konsisten menghadirkan edukasi kuliner dengan positioning heritage premium yang tetap mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Tantangan Era Digital. Di era media sosial yang bergerak sangat cepat, tantangan kepemimpinan semakin kompleks. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, sementara opini publik sering terbentuk sebelum substansi benar-benar dipahami.
Menurut Sukma, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah distraksi digital dan budaya branding instan yang sering kali lebih mengutamakan sensasi daripada kualitas. Namun ia memilih untuk tidak terjebak dalam dinamika tersebut. Alih-alih mengejar viralitas, Sukma lebih fokus pada pembangunan sistem, pendalaman riset, serta penguatan kredibilitas profesional dalam jangka panjang. “Saya ingin meninggalkan sistem yang berkelanjutan, bukan sekadar konten sesaat,” ujarnya.
Integritas sebagai Warisan. Di tengah perjalanan panjangnya, Sukma memiliki satu nilai yang ingin ia wariskan kepada generasi berikutnya, yakni integritas dalam berkarya. Ia percaya bahwa kualitas tidak boleh dikompromikan demi popularitas atau kecepatan. Tradisi, menurutnya, harus dikelola dengan standar profesional yang tinggi agar tetap relevan di masa depan.
“Chef masa depan, tidak hanya harus mahir memasak. Mereka juga harus memahami sistem, pasar, dan arah industri. Lebih dari itu, mereka harus menjadi duta budaya yang mampu menjaga identitas sekaligus menghadirkan dampak sosial bagi masyarakat,” pungkasnya.
Kepemimpinan yang Berakar pada Kepedulian
Bagi Sukma, keberhasilan bisnis tidak pernah berdiri sendiri. Ia percaya bahwa setiap pencapaian harus membawa manfaat bagi masyarakat. Sejak tahun 2017, ia membangun komunitas sedekah bernama SEJAM (Sedekah Jamaah) sebagai wadah kolaborasi kebaikan. Melalui gerakan tersebut, belasan ribu anak yatim dan piatu telah menerima bantuan, termasuk dukungan bagi pesantren, pembangunan balai pengajian serta perbaikan masjid dan meunasah.
SEJAM juga aktif dalam program pembangunan rumah bagi keluarga dhuafa, pembangunan sumur bor wakaf, distribusi Al-Qur’an dan mukena, serta ribuan paket sembako bagi masyarakat yang membutuhkan.
Pada awal tahun 2026 lalu, saat musibah banjir bandang melanda, ia terlibat dalam misi kemanusiaan di Rumah Sakit Aceh Tamiang. Bersama para relawan, Sukma membantu membangun dapur lapangan dan memasak sekitar 1.500 hingga 2.000 porsi makanan setiap hari bagi pasien serta tenaga kesehatan.
Dalam situasi yang penuh keterbatasan itu, ia tetap berpegang pada satu prinsip sederhana bahwa makanan yang layak adalah bagian dari pemulihan martabat manusia. Bagi Sukma, memasak bukan hanya tentang menciptakan rasa yang lezat. Ia juga tentang kehidupan, tentang berbagi, dan tentang menjaga sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Buku Resep Warisan Keluarga
Di antara berbagai peralatan dapur yang dimiliki, ada satu benda yang memiliki makna sangat mendalam bagi Sukma, yakni sebuah buku resep tua warisan keluarga yang telah berusia lebih dari lima puluh tahun. Halaman-halamannya mulai menguning, sebagian tulisannya memudar oleh waktu. Namun nilai buku itu tidak terletak pada usia kertasnya, melainkan pada pengetahuan yang tersimpan di dalamnya, resep-resep yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Buat Sukma, buku tersebut merupakan jejak perjalanan sebuah keluarga sekaligus potongan kecil dari sejarah dapur Aceh. ”Selama dapur masih menyala, selama rempah masih ditumbuk, dan selama seseorang masih memasak resep-resep itu dengan penuh penghormatan, ingatan rasa itu tidak akan pernah benar-benar hilang,” tutupnya.







