Crowdfunding Typography Banner
CEO PT Tuna Sejahtera Gemilang (Tungku Uti Nani) dan PT Nirwana Dunia Wisata

Nurul Iffa Rusyamsi,. SE, Bangkit untuk Bertumbuh, Tumbuh untuk Memberi Dampak

Bagikan:

Nurul Iffa Rusyamsi,. SE, Bangkit untuk Bertumbuh, Tumbuh untuk Memberi Dampak

Badai pandemi COVID-19 yang menerjang dunia dan perekonomian global beberapa tahun lalu, juga sempat meluluhlantahkan bisnis tour & travel yang dijalani Nurul Iffa Rusyamsi. Perempuan yang akrab disapa Lulu ini nyaris bangkrut. Hutang menumpuk, tagihan membengkak dan aset demi aset terpaksa dijual demi bertahan hidup. Namun bagi Lulu, keterpurukan bukanlah akhir. Justru dari titik paling gelap itulah ia menemukan jalan baru, sebuah jalan yang sama sekali tak pernah ia rencanakan sebelumnya yakni dunia kuliner.

Terkadang, permasalah hidup yang menimpa seseorang bukan hanya memantik api semangat untuk bangkit, tapi juga menyadarkannya akan kekeliruan yang terjadi. Sebelum pandemi, Lulu mengelola bisnis perjalanan wisata dengan ritme cepat dan jaringan luas. Ia lebih banyak membangun relasi dan memperluas pasar, sementara operasional harian dan keuangan perusahaan sepenuhnya dipercayakan kepada orang-orang kepercayaannya. Keputusan itu kelak menjadi pelajaran mahal.

“Waktu itu saya tidak terlalu aware. Ternyata ada pengkhianatan. Tiket terjual, tapi uang tidak masuk ke perusahaan. Bahkan pelanggan setia kami diambil alih,” kenangnya.

Kecurangan tersebut baru terungkap ketika bisnis mulai kolaps. Situasi kian memburuk saat pandemi datang dan menghantam sektor pariwisata tanpa ampun. Dalam waktu singkat, bisnis yang dibangun belasan tahun nyaris runtuh.

The Power of ‘Kepepet’. Di tengah kondisi terdesak, Lulu memilih untuk tidak menyerah. Ia mengamati satu hal sederhana, saat pandemi banyak bisnis tumbang, namun makanan tetap dicari orang. Dari situlah muncul keberanian untuk mencoba sesuatu yang sama sekali asing baginya yakni masuk ke dapur.

Nurul Iffa Rusyamsi,. SE, Bangkit untuk Bertumbuh, Tumbuh untuk Memberi Dampak

Tanpa latar belakang kuliner dan tanpa hobi memasak, Lulu nekat mencoba. Bermodal resep dari sang ibu dan dukungan teman-teman lama, ia mulai menjual bumbu pecel secara online. Tak disangka, respon pasar begitu positif. “Teman-teman banyak yang support, beli, lalu merekomendasikan ke orang lain. Dari situ berkembang dari mulut ke mulut,” ujarnya.

Perlahan, menu bertambah. Peyek menyusul, lalu Ayam Ingkung yang kelak menjadi signaturemenu. Semua itu berada di bawah bendera Tungku Uti Nani, sebuah usaha kuliner yang lahir dari keterpaksaan, namun tumbuh dengan ketekunan.

Reality Show Business. Cita rasa Ayam Ingkung ala Tungku Uti Nani yang khas mengantarkan Lulu mengikuti audisi sebuah reality show bisnis di stasiun televisi nasional. Kelezatan produk serta visi bisnis yang matang berhasil menarik minat para juri.

“Selain mendapat permodalan dari juri yang kami pilih, peserta yang lolos audisi juga berhak tampil di layar kaca. Ini sangat membantu proses branding,” imbuhnya.

Modal yang diperoleh dimanfaatkan Lulu dengan penuh perhitungan. Ia kembali menghubungi jaringan bisnis lamanya, menawarkan jasa catering ke perusahaan, instansi pemerintah, hingga perbankan BUMN. Kepercayaan demi kepercayaan pun datang.

Tungku Uti Nani berkembang menjadi penyedia catering untuk berbagai segmen seperti corporate, kementerian, pemerintah daerah, hingga partai politik. Bahkan, bisnisnya merambah ke Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kini, Tungku Uti Nani menawarkan beragam menu khas nusantara berupaNasi Kuning, Nasi Liwet, Ayam Ingkung, Ayam Woku, Gudeg Yogya, Bakso, Bubur Ayam, aneka kue tradisional, hingga dessert. Semua bisa dipesan dalam bentuk box, tumpeng, prasmanan, maupun satuan.

“Kami mengusung konsep one stop shopping. Apa pun yang dicari customer, bisa dipesan di sini,” ujar Lulu.

Nurul Iffa Rusyamsi,. SE, Bangkit untuk Bertumbuh, Tumbuh untuk Memberi Dampak

Learning by Doing. Kemauan keras Lulu untuk keluar dari kesulitan ekonomi yang menjerat, sanggup menjadi cambuk yang terus memecut semangatnya untuk mengasah kemampuan. Memegang prinsip ’bisa karena biasa, biasa karena dipaksa’, mendorong Lulu untuk terus belajar. Bagi Lulu, hal tersebut merupakan modal dasar untuk survive di tengah perubahan global yang saat ini begitu cepat.

“Di awal bisnis, saya menerapkan konsep learning by doing. Semua request dari customer tidak pernah saya tolak. Meskipun setelahnya saya harus mengulik resep maupun tutorial-nya dari internet. Saya juga berani mengambil resiko apa pun dan nekat mencoba hal baru dengan keyakinan saya bisa melakukannya dengan baik,” tekannya.

Hingga saat ini Lulu bahkan masih terus mengasah kemampuansoftskill ataupun hardskill-nya, dengan mengikuti kursus atau pelatihan agar tetap relevan. Ia juga terus membangun jaringan bisnis dan berkolaborasi dengan cara aktif berkegiatan di berbagai organisasi dan komunitas.

Kontrol Standardisasi Rasa. Berbeda dengan bisnis travel yang kini berjalan lebih sistematis, Lulu memilih tetap turun langsung di dapur produksi Tungku Uti Nani. Baginya, makanan adalah soal rasa, dan rasa sangat sensitif.“Rasa, tampilan, dan daya tahan makanan itu krusial. Jadi saya kontrol langsung gramasi bumbu, bahan dan timing penyajian,” jelasnya.

Pengalaman pernah melakukan kesalahan menu akibat miskomunikasi internal menjadi pelajaran penting. Sejak itu, Lulu lebih berhati-hati dan memastikan setiap detail berjalan sesuai standar.

Ia juga percaya bahwa kehadiran pemilik usaha di lapangan memberi dampak besar. “Kalau kita turun langsung, customer merasa lebih diperhatikan. Biasanya mereka balik lagi,” katanya.

Tumbuh Bersama Tim. Pengalaman pahit di masa lalu membentuk gaya kepemimpinan Lulu hari ini. Ia menyadari bahwa bisnis tidak akan bertahan lama tanpa komunikasi yang sehat dan kekompakan tim. Karena itu, ia selalu mengupayakan penyampaian visi secara terbuka kepada seluruh anggota tim, sekaligus membuka ruang dialog dua arah.

“Saya selalu minta tim saya berani bicara. Kritik, masukan, bahkan keluhan itu penting untuk kemajuan bisnis,” ujarnya.

Bagi Lulu, pemimpin bukanlah sosok yang selalu paling tahu, melainkan yang mau mendengar dan belajar. Sikap ini membuat Tungku Uti Nani terus bertumbuh secara dinamis, sekaligus adaptif terhadap perubahan kebutuhan pasar.

Lulu pun menyadari bahwasanya menjaga mutu rasa saja tidak cukup. Variasi menu, tampilan, kemasan, hingga cara penyajian harus selalu diperbarui agar tetap relevan. “Persaingan makanan itu keras. Jadi kuncinya inovasi, variasi, dan kepuasan pelanggan,” tegasnya.

Namun di balik keberanian itu, Lulu juga jujur mengakui tantangan terbesarnya, yakni mengatur kapasitas dan tim. Keinginannya untuk selalu menerima semua pesanan, terutama dari pelanggan lama dan relasi strategis, kerap membuatnya kewalahan.“Kadang saya tahu tim sudah penuh, tapi kalau pelanggan sudah berkata ‘please bu bikinin’, rasanya tidak tega menolak,” katanya sambil tertawa kecil.

Dari situ Lulu belajar bahwa pertumbuhan bisnis juga harus diiringi dengan sistem dan manajemen yang semakin matang, agar keberanian tidak berubah menjadi kelelahan yang berisiko.

Bertumbuh dan Berbagi. Ke depan, Lulu bertekad memperluas pasar Tungku Uti Nani, baik dari sisi variasi menu maupun segmen layanan, termasuk merambah catering pernikahan. Namun di atas semua itu, ia tetap ingin menjaga nilai berbagi.

Sebagian rezeki usahanya rutin ia salurkan kepada orang-orang terdekat dan pesantren, sebagai bentuk syukur atas perjalanan hidup yang telah ia lalui.

Bagi Lulu, bisnis bukan hanya tentang bertahan dan berkembang, tetapi juga tentang memberi arti. Dan dari dapur yang lahir karena keterpaksaan, ia membuktikan bahwa keberanian, kerja keras, selalu konsisten dan ketulusan mampu mengubah keterbatasan menjadi harapan. Laili

Nurul Iffa Rusyamsi,. SE, Bangkit untuk Bertumbuh, Tumbuh untuk Memberi Dampak
Personal Branding dan Jaringan sebagai Aset

Bagi Lulu, personal branding bukan sekadar pencitraan, melainkan alat untuk membangun kepercayaan. Melalui media sosial, promosi, tester, dan jejaring komunitas, brand Tungku Uti Nani tumbuh secara organik.

“Kalau branding kita kuat, orang akan lebih mudah percaya dan mengenal bisnis kita. Menurut saya, itu wajib untuk UMKM hari ini,” tegasnya.

Keaktifannya di berbagai organisasi, mulai dari KADIN, HIPPI, GAPENSI, hingga komunitas sosial dan perempuan, menjadi penguat jaringan yang turut menopang pertumbuhan bisnisnya.

Menjaga Nilai, Menumbuhkan Dampak

Di balik geliat bisnis yang kian berkembang, Lulu menyadari bahwa keberlanjutan usaha tidak hanya ditentukan oleh angka penjualan, tetapi juga oleh nilai dan dampak yang ditinggalkan. Baginya, bisnis bukan sekadar alat untuk bangkit dari keterpurukan, melainkan juga sarana untuk berbagi dan membuka peluang bagi orang lain.

Seiring meningkatnya kapasitas produksi Tungku Uti Nani, Lulu mulai merekrut tenaga kerja dari lingkungan sekitar. Ia memberi ruang belajar bagi mereka yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang kuliner, sebagaimana dirinya dulu memulai dari nol. “Saya pernah berada di titik paling bawah, jadi saya tahu rasanya butuh uluran tangan dan kesempatan. Selama ada kemauan, saya percaya semua bisa belajar,” ujarnya.

Prinsip ini pula yang ia terapkan dalam membangun tim. Disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab menjadi nilai utama yang selalu ditekankan. Pengalaman pahit di masa lalu membuat Lulu kini jauh lebih berhati-hati dan terlibat aktif dalam pengawasan, terutama pada aspek keuangan dan manajemen. Ia tak lagi menyerahkan sepenuhnya kendali bisnis pada orang lain tanpa sistem yang jelas.

Info Lebih Lanjut:
Instagram : @tungku_uti nani | @luluiffa2009

Bagikan:

Bagikan: