Crowdfunding Typography Banner
Owner Glowup Studio by Nancy, Investor HOM Aesthetic Skin and Slimming Clinic

Nancy Marissa Pasaribu, Dari Luka Menjadi Cahaya untuk Sesama

Bagikan:

1

MajalahInspiratif.com, Jakarta – “..Saya ingin buktikan bahwa semua perempuan itu cantik. Dan tak ada seorang pun yang berhak menghakimi siapa pantas dan siapa tidak..” Ketika sebagian orang memilih untuk tumbang karena luka, Nancy Marissa Pasaribu justru menjadikan luka sebagai pelita. Perempuan yang kini dikenal sebagai pemilik Glowup Studio by Nancy dan Investor HOM Aesthetic Skin and Slimming Clinic, tidak pernah menyangka jalan terjal yang ia lewati semasa belia justru menjadi fondasi terkuat dalam hidup dan bisnisnya hari ini. Selain membantu banyak perempuan tampil lebih cantik dan percaya diri, ia juga menyisihkan sebagian pendapatannya untuk menolong sesama hingga merenovasi sebuah rumah ibadah di pelosok Papua.

Lahir dan besar di sebuah desa bernama Kotabaru-Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mimpi Nancy Marissa Pasaribu untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, mendorongnya untuk hijrah ke kota. Namun, kepergiannya untuk melanjutkan kuliah tersebut membawanya menghadapi kenyataan pahit. Ia di-bully oleh teman sendiri. Bukan karena salah, bukan pula karena berbuat jahat. Justru, ia menjadi sasaran hanya karena latar belakang keluarga dan penampilannya yang berbeda.

“Mereka bilang saya jelek, anak kampung, miskin dan tidak pantas kuliah di kota,” kenang perempuan yang akrab disapa Eci ini.

Tak hanya verbal, serangan itu menyentuh hal paling pribadi bahkan hingga keluarganya. Meski berada di kota berbeda, namun fitnah dan teror tetap menghantui lewat pesan-pesan yang seolah dikirim “nyasar.”

Puncaknya, fitnah mengenai harga dirinya disebar ke keluarga kekasihnya saat itu, membuat hubungan yang sudah serius hancur seketika. “Saya diputuskan tanpa penjelasan. Ternyata karena orang tuanya percaya dengan fitnah yang mengatakan saya bukanlah wanita baik-baik. Itu benar-benar menghantam saya secara mental,” ujarnya.

Dari Trauma Menjadi Tekad. Pengalaman pahit tersebut sempat membuat Eci trauma pulang ke kampung halaman. Ia merasa setiap tatapan mata penuh penghakiman, setiap langkah seakan diiringi bisikan tak mengenakkan. Namun, dari luka itu pula tumbuh semangat untuk membuktikan diri.

Dengan uang kiriman orang tua sebesar Rp 400 ribu per bulan untuk biaya hidup dan kos, Eci bertahan dan membuktikan diri mampu. Ia menjaga integritas, menjauhi pergaulan negatif, dan fokus mengejar prestasi. “Saya buktikan IPK saya tertinggi. Saya tidak pernah menyentuh rokok, alkohol, apalagi pergaulan bebas. Saya jaga diri sampai akhirnya menikah,” katanya tegas.

Dari pengalaman pahit itulah Eci menemukan kekuatan. Ia membangun bisnis-bisnis di bidang kecantikan. Karena ia percaya, semua orang terutama kaum wanita berhak merasa cantik. “Saya tahu rasanya dinilai dari penampilan, diremehkan karena latar belakang. Makanya saya ingin semua perempuan tahu bahwa mereka berhak merasa cantik, diterima, dan dihargai. Karena sejatinya semua perempuan pada dasarnya itu cantik, hanya butuh disentuh dengan cara yang tepat,” tambahnya.

Kini, lewat bisnis salon dan klinik kecantikan yang ia rintis dari nol, Eci tidak hanya menawarkan layanan perawatan luar, tetapi juga memperkuat kepercayaan diri kliennya. “Kecantikan bukan soal standar orang lain. Itu tentang kita yang menerima dan mencintai diri sendiri,” imbuh perempuan berdarah Batak ini.

Sumber Kekuatan. Eci menyadari, jika masa lalunya diisi dengan pujian dan kenyamanan, mungkin ia takkan sekuat sekarang. “Justru karena dihina dan dijatuhkan, saya terdorong untuk bangkit. Saya tidak membalas dengan kebencian, tapi dengan keberhasilan,” tekannya.

Bagi Eci, cara terbaik untuk membungkam hinaan adalah dengan prestasi. Dan kini, ia tak hanya menjadi pengusaha sukses, tetapi juga simbol kekuatan bagi banyak perempuan yang pernah merasakan hal serupa.

Di balik semua pencapaian, ada satu hal yang menjadi bahan bakar utama Eci, yakni keinginan untuk mengangkat derajat orang tua. “Orang tua saya juga dulu dihina. Saya ingin buktikan, saya bisa membuat mereka bangga. Karena itu saya terus belajar dan terus bekerja,” tambahnya.

Kini, Eci tak hanya dikenal sebagai pengusaha sukses, tetapi juga sebagai sosok yang hangat, rendah hati, dan punya prinsip kuat. Ia membuktikan bahwa luka bukan akhir, tetapi awal dari perjalanan menuju versi terbaik diri kita.

Memaafkan Tanpa Melupakan. Meski masa mudanya diwarnai oleh bullying dan fitnah yang keji, Eci tidak tumbuh menjadi pribadi penuh dendam. Justru sebaliknya, perempuan kelahiran Kotabaru, 8 November ini, menjelma menjadi sosok yang matang secara emosional, bijak dalam bersikap, dan tidak mudah terhasut.

“Dari pengalaman itu saya belajar satu hal bahwasanya semua orang bisa saja berprasangka buruk, tapi bagaimana kita menanggapinya itu yang menentukan,” ujarnya mantap.

Eci juga memilih untuk tidak larut dalam kebencian. Ia belajar melihat orang dari dua sisi. “Orang yang katanya jahat pun pasti punya sisi baik, bahkan perampok sekali pun pasti sayang sama anak dan istrinya. Jadi saya tidak pernah mau cepat menghakimi,” imbuhnya.

Pilihan untuk melihat dunia dengan lebih luas itu bukan tanpa perjuangan. Eci melatih dirinya untuk bersikap adil, bahkan saat berada dalam lingkaran pertemanan yang suka bergosip. “Saya sadar, dalam pergaulan pasti ada saja yang menggunjing orang. Tapi saya pilih untuk tidak ikut-ikutan. Kalau ada yang tidak suka sama si A, ya sudah itu urusan mereka. Saya tetap bersikap baik,” ucapnya gamblang.

Eci juga menolak ikut-ikutan memusuhi seseorang hanya karena pengaruh dari orang lain. “Saya percaya, kalau kita tidak suka sama orang, belum tentu orang lain harus ikut-ikutan. Saya tetap bersikap baik, karena itu cerminan saya, bukan mereka.”

Nilai-nilai tersebut membuat Eci tetap teguh dalam prinsip, sekaligus menginspirasi banyak perempuan lain untuk tidak mudah terbawa arus lingkungan yang toksik. “Kita punya pilihan, mau jadi bagian dari kerusakan atau jadi bagian dari kebaikan. Saya pilih yang kedua,” ujarnya, bijak.

Tidak Ada Waktu untuk Julid. Kesibukan sebagai ibu, pebisnis dan pribadi yang senang mengembangkan diri membuat Eci tak punya ruang untuk hal-hal negatif. “Sejak pagi saya sudah sibuk mengurus anak dan suami, lanjut gym dan ikut beberapa kelas, lalu pulang ke rumah, urus bisnis salon juga. Jadi saya tidak punya waktu untuk julid dan memang tidak ada gunanya juga,” tegasnya.

Meski aktif di media sosial dan tahu betul betapa “ramainya” netizen dengan komentar pedas dalam menanggapi sebuah gosip, Eci memilih untuk menjaga jarak. “Cukup tahu saja. Saya tidak mau ikut nimbrung komentar, apalagi yang tidak ada faedahnya. Kalau ada yang menggunjing tentang saya pun, selama tidak mengganggu hidup saya, ya sudah,” terangnya.

Semua Berawal dari Rumah. Pengalaman bullying yang pernah dialami, menjadi pengalaman berharga bagi Eci. Ia pun mempelajari satu hal bahwasanya para pelaku bully umumnya pernah mengalami kegetiran hidup. Baik trauma ataupun kurangnya cinta kasih di rumah.

“Biasanya orang itu menyimpan rasa pahit di dalam dirinya sendiri. Entah karena kurang kasih sayang dari keluarga, atau pernah punya pengalaman traumatis yang tak pernah benar-benar selesai. Akhirnya, semua kepahitan itu dilampiaskan ke orang lain,” ungkap Eci.

Eci percaya bahwa seseorang yang tumbuh dalam lingkungan penuh cinta dan penerimaan cenderung menyebarkan hal yang sama ke lingkungannya. Namun, ketika seseorang tumbuh dengan hati yang kosong dan luka yang tidak pernah diobati, yang keluar adalah energi negatif, baik lewat kata-kata maupun sikap.

“Kalau dari rumah sudah dapat perhatian, pelukan, kasih, maka ia akan belajar menyayangi. Tapi kalau sejak awal tidak pernah tahu rasanya dicintai, bagaimana dia mau mencintai atau menghargai orang lain?,” lanjutnya.

Bagi Eci, kasih sayang adalah akar dari perilaku. Bila akarnya kuat dan sehat, maka yang tumbuh pun akan membawa manfaat. Tapi jika akarnya penuh kepahitan, maka buahnya bisa melukai.

Melalui pengalamannya, Eci mengajak kita untuk melihat lebih luas. Bahwa pelaku bullying seringkali adalah orang-orang yang juga sedang terluka. Dan meskipun itu tidak membenarkan tindakan mereka, setidaknya kita bisa merespon dengan bijak dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.

“Kalau memang itu tidak benar, ya sudah tidak perlu disimpan dalam hati. Karena yang rugi itu mereka. Kita cukup buktikan dengan pencapaian, bukan dengan balas dendam,” bijak Eci.

Cegah Anak Menjadi Korban atau Pelaku Bullying

Bagi Eci, pendidikan karakter anak dimulai dari rumah, bukan hanya lewat nasehat, tapi lewat contoh nyata. Ia sadar betul bahwa anak-anak belajar bukan hanya dari yang mereka dengar, tapi terutama dari apa yang mereka lihat.

“Saya sebisa mungkin tidak pernah bicara kasar di depan anak, bahkan ketika bercanda sekali pun,” tutur istri dari Aguswan Sihotang dan ibu dari Luis Marcello Sihotang serta Gwen Marcella Sihotang ini.

Tak hanya itu, ia juga sangat menjaga sikap saat berinteraksi dengan bawahan maupun dengan suami, agar anak-anaknya tidak menyerap pola komunikasi yang kasar atau merendahkan.

Setiap pagi sebelum anak-anak berangkat sekolah, Eci punya satu kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan, yakni menaruh tangan di kepala kedua buah hatinya dan mendoakan mereka. “Saya selalu doakan mereka jadi anak yang baik, dijauhkan dari kuasa pembulian, dijauhkan dari orang jahat. Itu jadi afirmasi juga buat mereka,” katanya.

Meskipun sibuk, bagi Eci, doa adalah senjata paling penting yang tak boleh ditinggalkan dalam membekali anak menghadapi dunia luar.

Untuk mencegah mereka menjadi pelaku bullying, Eci menerapkan kontrol yang ketat terhadap tontonan dan game yang dikonsumsi anak-anak. “Kalau ada kekerasan atau perilaku yang tidak baik, saya segera minta mereka untuk mengganti konten tersebut atau saya hapus. Saya jelaskan kenapa itu tidak bagus,” ujar Eci.

Ia juga aktif berdialog jika anak-anak mulai meniru sikap temannya yang negatif. “Saya bilang, kamu sudah tahu itu salah, ya jangan ditiru. Teman tetap teman, tapi kelakuan yang salah jangan diikuti,” tegasnya.

Soal pergaulan, Eci tidak membatasi secara ketat, tapi tetap awas. Ia memilih membekali anak-anak dengan pelatihan bela diri, bukan untuk membuat mereka agresif, tapi sebagai bentuk perlindungan diri. “Kita tidak bisa sepenuhnya hindari situasi itu, jadi saya ajarkan bela diri. Tapi dari awal sudah saya tanamkan, ini hanya untuk melindungi diri, bukan untuk menyakiti orang lain,” papar Eci.

Dengan pendekatan yang konsisten, penuh kasih sayang dan teladan nyata, Eci percaya bahwa orang tua bisa mencegah anaknya menjadi korban maupun pelaku bullying. Semua berawal dari rumah.

Menanam Berkat Lewat Bisnis

Menjalankan bisnis di bidang kecantikan, bagi Eci bukan semata-mata tentang mengejar angka keuntungan. Lebih dari itu, baginya bisnis adalah alat untuk membawa dampak baik secara personal, sosial, maupun spiritual. Maka tak heran setiap langkah bisnis yang ia ambil selalu disertai dengan semangat untuk memberi dan menjadi berkat bagi sesama.

Eci bukan hanya seorang ibu yang disiplin dan pengusaha salon yang andal. Ia juga seorang filantropis aktif yang menjadikan hasil usahanya sebagai saluran rezeki bagi banyak orang. Salah satu aksi nyata yang menunjukkan hal tersebut adalah proyek pembangunan gereja di pedalaman Papua.

“Saya lihat daerah itu masih sangat kurang diperhatikan. Rasanya hati saya tergerak untuk bantu. Saat ini, pembangunan gereja tersebut sudah 100% rampung dan siap digunakan para jemaat untuk beribadah,” ujar womanpreneur yang tengah bersiap membuka cabang Glowup Studio by Nancy ini.

Yang membuat proyek tersebut begitu menginspirasi adalah seluruh biayanya berasal dari kantong pribadi Eci, hasil dari kerja keras bisnis yang ia jalankan. Tanpa mengandalkan donasi publik, Eci membuktikan bahwa jika ada kemauan dan komitmen, bisnis bisa menjadi alat nyata untuk membawa perubahan sosial.

Berbagi Tanpa Pamrih. Kepedulian sosial Eci tak berhenti di Papua. Ia juga sering memborong dagangan para pedagang kecil dan membagikannya secara cuma-cuma kepada orang lain. Selain itu, ia juga rutin memberikan sembako kepada karyawan sebagai bentuk perhatian yang tulus.

“Saya berbagi bukan karena ingin dipuji. Buat saya, kalau kita sudah dikasih rezeki duluan, ya sudah sepantasnya berbagi. Itu bukan pilihan, tapi kewajiban sebagai manusia,” tuturnya dengan rendah hati.

Prinsip ini tertanam kuat dalam kehidupannya. Berbagi tidak perlu diumbar, tidak perlu menunggu banyak, dan tidak perlu berharap balasan. Eci percaya bahwa semua yang ia lakukan kembali kepada niat. Dan baginya, niat itu harus selalu bersih.

Sistem bisnis yang dibangun Eci pun tidak hanya berorientasi pada keuntungan. Ia memastikan bahwa karyawannya sejahtera, merasa dihargai, dan diperlakukan layaknya keluarga.

Dengan gaya kepemimpinan yang hangat dan penuh empati, Eci telah membentuk budaya kerja yang sehat dan inklusif. Sebuah cerminan dari nilai-nilai hidup yang ia anut, yakni rendah hati, penuh kasih, dan selalu ingin memberi.

Dari Hati, Untuk Negeri. Perjalanan Eci menunjukkan bahwa sukses bisa beriringan dengan kepedulian sosial. Dari salon kecantikan hingga membangun gereja di pedalaman, dari memborong dagangan hingga membagikan sembako, semua dilakukan Eci dari hati.

“Bisnis itu bukan cuma untuk kaya. Tapi untuk berkarya, dan berbagi. Kalau rezeki kita bisa bermanfaat buat orang lain, itu jauh lebih bernilai,” pungkasnya.

Eci bukan hanya sosok pengusaha yang tangguh, tetapi juga pribadi yang memahami esensi terdalam dari sebuah kesuksesan, menjadi cahaya bagi orang lain, sejauh dan sekecil apapun terang itu.

 Info Lebih Lanjut:

Glowup Studio By Nancy

Jl. Warung Sila, RT.2/RW.4,

Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan

Whatsapp       : 0821-1002-1218

Instagram         :  @ecipasaribu

Bagikan:

Bagikan: