MajalahInspiratif.com, Jakarta – Keretakan kehidupan rumah tangga yang dialami tidak membuat kepribadian seorang perempuan cantik bernama Zuliyana yang akrab disapa Liyana atau Lia harus terjatuh dalam kesedihan yang terlalu lama. Sebagai seorang pengusaha ulet dan tangguh, Liyana berhasil membuktikan diri bahwa ia merupakan seorang perempuan dan ibu yang mampu berpijak di atas kaki sendiri dan meraih prestasi membanggakan. Menariknya, di tengah kesendiriannya, ia mampu bersaing dalam bidang pekerjaan yang didominasi kaum pria.

“Semua berawal dari keretakan kehidupan rumah tangga. Liyana harus memikul beban dan tanggung jawab untuk menafkahi keluarga, terutama ketiga anaknya yang masih kecil, dan memastikan masa depan mereka tidak dikorbankan. Memang dari awal pernikahan kehidupan rumah tangga kami kurang harmonis. Konflik demi konflik terus terjadi, sampai kemudian saya memilih untuk berpisah. Saat itu kami sudah mempunyai 3 orang anak yang masih kecil-kecil, yang pertama SMP, yang kedua SD, dan si bungsu masih belum sekolah. Padalah saat itu, bisnis yang kami rintis, yaitu trading batubara di Pulau Bangka sedang naik daun. Semua itu saya tinggalkan, saya keluar dari rumah benar-benar hanya dengan pakaian di badan, anak-anak pun tidak boleh saya bawa. Tapi berkat upaya orang tua, semua anak kemudian berhasil ikut saya, dan sejak saat itu anak-anak sama sekali tidak dinafkahi oleh ayahnya. Kondisi inilah yang memacu semangat saya untuk berbisnis apa saja, yang penting halal, agar anak-anak bisa hidup layak dan memperoleh harapan masa depan yang baik,” lirih Liyana haru.
Liyana sempat bekerja di sebuah bank swasta, namun rupanya mantan suami tidak berhenti dan terus merecoki perjalanan hidupnya. Mantan suami ingin berinvestasi di bank tersebut, sehingga dengan terpaksa Liyana memilih keluar dari pekerjaannya.

Setelah keluar dari bank, seorang teman mengajak Liyana bergabung dalam proyek pembangunan Masjid Raya terbesar di Palembang. Proyek itu sudah dimulai tapi kemudian terbengkalai karena persoalan manajemen yang kusut, ada korupsi di sana.
Melihat kepiawaian Liyana, begitu proyek pembangunan masjid selesai, temannya tidak ragu mengajak bergabung dalam proyek pembangunan jalan tol Indralaya Lampung. Inilah awal ia benar-benar terjun membangun karier dan merintis usaha dengan tekad dan komitmen yang sangat kuat. “Di sini saya mulai bisa mendapatkan penghasilan yang cukup lumayan untuk menghidupi anak-anak saya,” kenang Liyana.
Dari proyek jalan tol, Liyana terus mendapat kepercayaan, baik dari rekan kerja, teman, maupun investor. Ia pun menjalankan usaha pengadaan dan pengangkutan pasir. Liyana bersyukur bisa bertemu dengan banyak orang, dengan banyak karakter, dengan banyak pengalaman, sehingga wawasan dan pengetahuannya dalam bisnis yang digeluti semakin mumpuni. Jaringannya pun semakin luas.
Sampai pada suatu ketika, seorang etnis Chinese dari Medan datang hendak berinvestasi, karena melihat ada peluang bisnis yang sangat menjanjikan, yaitu proyek jalan tol dan batubara. “Saya merasa dia seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk mengubah hidup saya. Entah kenapa dia percaya sama saya dan teman saya. Dia mau berinvestasi mobil tronton. Awalnya satu unit dulu untuk uji coba. Ketika dilihat hasilnya bagus, dia bersama temannya, langsung membeli lagi 300 unit tronton,” ungkap wanita yang hobi jalan-jalan dan kerja ini.
Saat menjalankan usaha tronton untuk angkut batubara, material proyek seperti batu dan tanah, milik pengusaha Medan itulah, Liyana bertemu dan nikah lagi dengan suami baru yang juga bekerja di usaha tersebut. Namun, lagi-lagi Dewi Fortuna tidak berpihak padanya dalam kehidupan berumah tangga, karena satu dan lain hal, keduanya akhirnya berpisah. Padahal, keduanyan sama-sama merintis karier dan usaha mulai dari nol.

Menghayati Misteri Tuhan dengan Bersyukur dan Bersedekah
Setelah tidak lagi bekerja sama dengan investor dari Medan, Liyana kemudian memutuskan untuk merintis usaha sendiri di bidang yang sama. Dengan keyakinan dan keberanian, ia pun membeli satu unit tronton. Lalu ia juga mengajukan kredit ke bank untuk pengadaan tronton, dan mendapat 5 unit tronton. Dan kini, setelah selama dua tahun, Liyana sudah memiliki 24 unit tronton, dengan mempekerjakan sebanyak lebih kurang 70 SDM di perusahaannya.
Sebuah pencapaian yang luar biasa dan dirasakan Liyana seperti mimpi. Ia meraih kesuksesan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Usaha yang dijalankannya dengan penuh perjuangan dan totalitas diri dengan turun sendiri ke lapangan, kini membuahkan hasil yang membanggakan, kehidupan anak-anak sudah terjamin, bahkan ia sudah mengumrohkan kedua orang tuanya, dan bisa membuka lapangan kerja bagi banyak orang.
“Saya tidak menyangka, usaha dan perjuangan saya dari nol hingga bisa sampai di titik saat ini. Saya percaya Allah akan selalu kasih jalan. Saya sendiri pun tidak paham secara logika hidup saya berubah. Perjalanan hidup penuh misteri,” ucap ibunda dari Rizky Nur Najmi Adillah (kuliah S2), M. Fathir Ar Rahman (kuliah S1) dan Nur Rahma Triandi (SMP Kls 3) ini.
Menjawab dan menghayati misteri Tuhan, Liyana wujudkan dengan selalu bersyukur dan bersedekah. Ia pun berencana akan membuka panti asuhan dan pondok pesantren. Wanita cantik kelahiran Palembang, 29 februari ini, berharap dan berdoa semoga ke depan ia selalu diberikan jalan oleh Allah SWT agar keinginan dan niat itu bisa terwujud.
Tidak hanya rutin berbagi dan bersedekah, Liyana juga aktif tercatat sebagai Ketua Srikandi Pajero Indonesia One, yang mewakili member perempuan seluruh Indonesia. Ia telah menyumbangkan satu unit mobil ambulance di komunitas PI One untuk memberikan palayanan cepat bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan segera. Liyana meyakini bahwa komunitasnya menjadi pioneer untuk menyediakan ambulance bagi kepentingan masyarakat.







