MajalahInspiratif.com, Jakarta – Endang Suraningsih memiliki pengalaman panjang di beberapa perusahaan BUMN. Berbagai posisi strategis perusahaan pernah dijabat wanita cantik yang mengawali karier sebagai Kepala Assessment Centre LPP Yogyakarta pada 1997-2002. Sarjana Psikologi Universitas Gadjah Mada (1991) ini, meraih banyak pencapaian dalam kariernya. Kini Srikandi BUMN ini dipercaya sebagai Direktur SDM & Umum – PT Perkebunan Nusantara III (Persero) yang dijabat sejak 16 Juni 2025. Capaian yang diraihnya dalam waktu singkat (belum genap lima bulan menjabat) antara lain memberikan arahan untuk Roadmap Harmonisasi – Remunerasi Pasca Integrasi Organisasi PTPN Group, melakukan pengawalan Penyusunan PKB Induk 2026-2027, sehingga tercapai kesepakatan bersama antara Manajemen dan Federasi Serikat Perkebunan, dan karya lainnya. Sebelum menjabat sebagai Direktur SDM & Umum Holding BUMN Perke-bunan, lulusan Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Atma Jaya Yogyakarta (1995) ini, berki-prah sebagai Direktur Human Capital – PT Biofarma (Persero), yang merupakan Induk Holding BUMN Farmasi (22 Februari 2023 – 16 Juni 2025).

Di Bio Farma Group, Endang juga meraih banyak pencapaian antara lain dalam penyelarasan Human Capital Master Plan Bio Farma Group, menginisiasi dalam pengembangan sistem dan implementasi karir periset.
“Saya juga mengawal standardisasi dan implementasi Sistem Manajemen Kinerja Individu Bio Farma Group selaras dengan kinerja perusahaan, sehingga dalam dua tahun terjadi keselarasan antara Kinerja Individu, Kelompok dan Organisasi,” jelas wanita yang meraih gelar Doktor bidang Psikologi Industri Organisasi Universitas Gadjah Mada (2010).
Di Bio Farma Group, Endang mengawal dan memberikan arahan strategis terkait implementasi Budaya Perusahaan (AKHLAK) dalam upaya behaviour change dan business performance. Ia juga mengawal penyelarasan Indonesia Health Learning Institute (IHLI) dalam pelaksanaan pembelajaran dan pengembangan karyawan Bio Farma Group, dan dalam waktu dua tahunan berhasil mengembangkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Bio Farma menjadi LSP dengan skema uji kompetensi terbanyak di Indonesia.
Pengalamannya berkarier bukan hanya terbatas pada bidang SDM, tetapi juga mencakup pemasaran, keuangan hingga manajemen aset. Endang pernah menjabat sebagai Komisaris – PT PG Madubaru (Desember 2021 s.d. Maret 2023), Direktur Manajemen Aset & SDM – PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) (Juli 2021 s.d. 22 Februari 2023), Direktur Managemen Asset – PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) (Februari 2020 s.d. 22 Februari 2023), Direktur Keuangan & SDM – PT Bhanda Ghara Reksa (Persero) (April 2019 – 27 Februari 2020), Direktur SDM, Umum & IT – Perum Perhutani (Agustus 2017 s.d. Maret 2019), Direktur SDM & Umum – PT Perkebunan Nusantara IV (Juli 2016 – 25 Agustus 2017).
Hadapi Tantangan dengan Bijak dan Cerdas
Tantangan terbesar bagi Endang di era yang serba digital ini bukan hanya tentang cepatnya perubahan di dunia kerja, tapi juga menjaga keseimbangan antara karier dan kehidupan keluarga.
“Di era seperti sekarang, ritme kerja menuntut kita untuk bergerak lebih cepat, lebih adaptif, dan terus berinovasi agar tetap relevan. Tapi di sisi lain, kemajuan teknologi juga memberi banyak kemudahan. Dengan dukungan berbagai platform digital, kita tetap bisa terhubung dengan keluarga, menyapa, berbagi kabar, dan menjaga kedekatan meskipun tidak selalu bisa bertemu langsung… ini investasi hubungan yang harus selalu dirawat,” terang wanita yang meraih penghargaan Stella Workplace Recognition in Employee Commitment (2024).
Endang berusaha menyeimbangkan antara karier, keluarga dan aktivitas sosial.“Saya menyeimbangkan hidup dengan peta peran, saya bagi peran saya … untuk karier & pribadi, peran istri untuk suami dan ibu bagi anak-anak, kemudian peran anak dari orang tua maupun mertua, saudara bagi Kakak & Adik, peran sebagai sahabat, anggota masyarakat, komunitas profesional, hoby dan peran lainnya. Misalnya kalau ada sahabat yang sudah tiga bulan tidak saya kontak, maka saya akan kontak sahabat itu. Saya juga tetap meluangkan waktu untuk memasak makanan kesukaan bagi keluarga, di sela-sela waktu… sekaligus untuk refreshing,”jelasnya.
Bagi Endang, dalam membagi waktu antara karier, keluarga, dan dunia sosial membutuhkan keseimbangan prioritas. Kuncinya ada pada bagaimana kita memaksimalkan setiap momen yang sedang dijalani dan menikmatinya. Saat bekerja, fokus (beekrja sepenuh hati) dan berikan hasil terbaik. Saat bersama keluarga, lepaskan sejenak urusan pekerjaan dan hadir sepenuhnya untuk menciptakan quality time yang bermakna. Sementara kegiatan sosial juga penting sebagai bentuk kepedulian dan cara kita tetap terhubung dengan lingkungan.
“Semua itu bisa berjalan seimbang ketika dijalani dengan niat yang tulus, perencanaan yang baik, dan disiplin dalam mengatur waktu agar setiap peran bisa dijalankan dengan optimal,” jelas wanita yang menjabat sebagai Sekjend Transformasi Human Capital BUMN, Pengurus Forum Human Capital Indonesia (FHCI) BUMN.

Kunci Sukses
Menurut peraih The Greatest Champions of Human Capital Excellence in Digital Transformation (2023) ini, pencapaian suksesnya berawal dari memiliki tujuan yang jelas, komitmen yang kuat, dan semangat untuk terus berkembang di setiap proses. Setiap langkah perlu dijalani dengan konsistensi, integritas, dan kemauan untuk terus belajar.
“Saya percaya bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil, selama dijalani dengan kerja keras, disiplin, dan tanggung jawab.
Dalam perjalanan karier, penting bagi kita untuk memiliki pandangan yang strategis, mampu membaca perubahan, dan mengambil keputusan dengan bijak agar setiap langkah yang diambil benar-benar memberikan dampak nyata bagi organisasi,” papar Endang.
Selain itu, membangun hubungan yang baik dengan tim menjadi hal yang sangat penting. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi oleh sinergi dan semangat kebersamaan di dalam tim. Endang percaya pada prinsip kesetaraan, di mana setiap orang memiliki peran dan kontribusi yang sama berharganya. Dengan rasa saling menghargai dan kepercayaan yang kuat, lingkungan kerja akan menjadi tempat yang mendukung setiap individu untuk berkembang dan memberikan hasil terbaiknya. Salah satu tantangan karier di bidang SDM menurut Endang adalah memahami Gen Z yang cukup unik dibanding generasi sebelumnya.
“Kita harus memahami orang lain terlebihdahulu… sebelum minta dipahami …”. Jadi kita mendengarkan dulu apa pendapat mereka dan yang saya suka dari Gen Z ini adalah curiosity dan juga literasi digital yang baik, sehingga mau tidak mau saya harus belajar menyesuaikan, agar tetap nyambung atau terhubung.
Kekuatan Gen Z tersebut, perlu di selaraskan dengan lingkungannya, artinya kita fasilitasi agar memiliki engagement, makanya kita libatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan sosial yang bermakna, pasti mereka happy. Dalam berkomunikasi kita juga harus mengguna kan bahasa mereka. Misalnya mereka suka anime ya kita coba memahami anime dan apa saja yang sedang trend di kalangan Gen Z, itu entry point untuk bisa nyambung & mengobrol dengan mereka,”paparnya.
Dalam perjalanan kariernya, Endang banyak belajar dari para pemimpin yang menunjukkan integritas dan keteguhan, dari tim yang bekerja dengan dedikasi tinggi, serta dari keluarga yang selalu menjadi sumber semangat. Semua itu menjadi cermin dan pengingat bahwa setiap peran, sekecil apa pun, bisa memberi makna dan inspirasi untuk terus berbuat lebih baik.
Harapan terbesar Endang dalam menjalani karier dapat memberikan nilai dan manfaat yang lebih luas, tidak hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi masyarakat dan bangsa. Endang ingin berkontribusi pada pembangunan ekonomi melalui kinerja yang berkelanjutan, menciptakan dampak positif bagi lingkungan, dan menghadirkan perubahan yang bermakna melalui bidang yang didalami.
“Dalam setiap peran yang saya jalankan, saya berupaya untuk tidak hanya mencapai target, tetapi juga menumbuhkan budaya kerja yang kuat, kolaboratif, dan berorientasi pada pengembangan manusia,” tegasnya.
Ke depan, Endang ingin terus berperan dalam membangun ekosistem kerja yang melahirkan talenta- talenta unggul, yang tidak hanya kompeten tetapi juga berkarakter. Ia percaya bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi tentang bagaimana kita mampu menciptakan ruang bagi orang lain untuk tumbuh dan sukses bersama.
“Dengan berbagi pengetahuan, pengalaman, dan nilai- nilai kepemimpinan, saya berharap dapat melahirkan generasi penerus yang siap membawa organisasi, dan bangsa ini, menuju masa depan yang lebih maju dan berdaya saing secara berkelanjutan,” tandasnya ramah.

Banyak Belajar dari Sang Ibu
Hari Ibu bagi Endang adalah momen reflektif untuk menghargai sosok yang menjadi sumber kasih, kekuatan, dan inspirasi dalam kehidupan. Seorang ibu bukan hanya tentang peran biologis, tetapi juga tentang nilai-nilai ketulusan, pengorbanan, dan cinta tanpa syarat yang membentuk karakter kita sejak awal. Hari Ibu menjadi pengingat bahwa di balik setiap keberhasilan, selalu ada doa, dukungan, dan keteguhan hati seorang ibu. Hari
Ibu juga mengingatkan kita akan pentingnya menghargai peran perempuan dalam segala aspek kehidupan,
baik di keluarga maupun di dunia kerja. Perempuan memiliki peran besar dalam menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, membangun generasi, dan menjadi penggerak perubahan.
Ada banyak kenangan yang berkesan bersama keluarga, tetapi yang paling membekas menurut Endang adalah momen-momen sederhana yang penuh makna. “Bukan tentang perayaan besar, melainkan saat-saat kebersamaan yang hangat dan tulus. Misalnya ketika bisa meluangkan waktu di tengah kesibukan untuk sekadar bercengkerama,mendengarkan cerita, atau berbagi tawa bersama keluarga. Dari situ saya belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari hal besar, tetapi dari kehadiran dan perhatian yang tulus,”ungkapnya.
Sebagai seorang ibu, Endang memiliki harapan kepada buah hati agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat, berintegritas, dan memiliki hati yang tulus. Ia ingin buah hatinya menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati, kepekaan sosial, dan semangat untuk memberi manfaat bagi sekitarnya.
“Saya berharap mereka berani bermimpi besar, namun tetap rendah hati dalam setiap langkah. Dunia akan terus berubah, tetapi nilai-nilai kebaikan dan kejujuran harus selalu menjadi pegangan. Yang terpenting, saya ingin mereka bahagia menjalani hidupnya, mencintai apa yang mereka lakukan, dan tidak pernah berhenti belajar serta berbuat baik. Karena pada akhirnya, kebanggaan terbesar seorang ibu bukan hanya melihat anaknya berhasil, tetapi melihat mereka tumbuh menjadi manusia yang membawa kebaikan bagi banyak orang,” paparnya bijak
Pola asuh yang diterapkan Endang kepada buah hati agar kelak tidak menjadi generasi strawberry… berfokus pada pembentukan karakter, tanggung jawab, dan ketangguhan sejak dini. Endang berharap anak-anaknya tumbuh dengan pemahaman bahwa hidup tidak selalu mudah, tetapi setiap tantangan bisa dihadapi dengan usaha, disiplin, dan sikap pantang menyerah. Sejak kecil, mereka dibiasakan untuk mandiri, menghargai proses, serta belajar dari kesalahan tanpa takut gagal. Endang juga berusaha menanamkan nilai empati dan rasa hormat, agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat sekaligus humanis.
“Dunia sekarang menuntut kecepatan dan ketahanan mental, jadi penting bagi mereka untuk belajar mengelola emosi dan tetap berpegang pada nilai-nilai moral yang baik. Bagi saya, tugas orang tua bukan melindungi anak dari setiap kesulitan, tetapi membekali mereka dengan keteguhan hati agar mampu berdiri sendiri dan tetap berakar pada kebaikan, apapun situasinya,” tambah Endang yang dikaruniai dua orang anak.
Nilai-Nilai Kehidupan yang Diajarkan Orang Tua Terpatri Kuat hingga Kini
Sosok seorang ibu menjadi inspirasi, sebagai tempat belajar bagi anak-anaknya tentang banyak hal, terutama tentang kasih sayang, cinta seorang ibu yang merawat dan membesarkan anak-anaknya dari lahir sampai dewasa, dan ibu selalu berdoa yang terbaik untuk anak-anaknya. Momen kebersamaan bersama Sang Ibu selalu dikenang Endang, salah satunya Ibu yang seorang muslim selalu mengantarnya saat masih kecil untuk pergi Sekolah Minggu. “Itu momen yang luar biasa karena ibu saya mengantar saya sampai pintu gerbang gereja kemudian melanjutkan aktivitasnya. Setelah ibu selesai belanja, saya dijemput lagi. Bapak dan ibu saya berbeda keyakinan dan dari kecil, kami anak-anaknya dibebaskan untuk memilih agama yang kita anut. Nah waktu hari raya Lebaran maupun Natal, kita semua merayakan. Jadi dalam setahun saya mendapat dua buah baju baru dan ibu saya paling suka membuatkan seragam untuk anak-anaknya saat hari raya baik Lebaran atau Natal. Ibu saya juga selalu menjahit baju sendiri untuk anak-anaknya, itu paling berkesan ,” kenang Endang.
Selain nilai toleransi yang diajarkan Sang Ibu sejak kecil, Endang juga dibiasakan untuk bersyukur melalui berbagi. “Saya melihat dari kecil… kalau ibu itu suka sekali berbagi. Kalau ibu saya punya sesuatu, misalnya makanan, pasti dibagi ke tetangga ataupun saudara,” ujarnya.
Orang tua Endang juga mengajarkan pengelolaan keuangan yang baik. Orang tuanya selalu mengatakan, “Kalau kita bisa mengelola uang maka kita bisa mengelola kehidupan…”. Harta yang kita terima bukan semuanya milik kita, tapi harus disisihkan untuk berbagi kepada orang lain. Kemudian ada yang disisihkan untuk masa depan dan ada yang boleh dimanfaatkan untuk diri sendiri. “Itu diajarkan Ibu dan Bapak sejak saya kecil, kebetulan Bapak usaha bengkel dan Ibu juga usaha warung kelontong. Meskipun kedua orang tua kandung saya sudah berpulang, tapi kenangan bersama mereka selalu saya ingat dan ada rasa haru mengenang sosok kedua orang tua saya yang penuh kasih,” jelasnya.
Kini Endang juga mengajarkan pengelolaan keuangan tersebut kepada anak-anaknya, untuk menyisihkan uang yang menjadi kewajiban, baru 50% untuk kebutuhan mereka sendiri. “Jadi saya ajarkan kepada anak-anak saya bahwa 10% untuk pelayanan, 10% untuk sosial, 30% untuk ditabung dan 50% itu bebas mereka gunakan, itu cara yang diajarkan ibu saya dan sekarang saya ajarkan ke anak-anak. Saya mengajarkan bahwa seberapapun yang diterima, itu yang harus dikelola, jadi anak-anak tidak merasa terbebani untuk berbagi,” paparnya.
Tak hanya dalam mengelola keuangan, orang tua Endang juga memberikan tanggung jawab dalam pekerjaan rumah kepada anak-anaknya. “Jadi setiap anak diberi tanggung jawab masing-masing dan dibimbing misalnya cara menyapu yang benar, cara memasang sprei yang benar,” jelas anak ketiga dari 10 bersaudara ini.
Tumbuh dalam keluarga besar membuat Endang bersyukur karena saat adik-adiknya masih kecil, ia memilih belajar di pagi hari saat adik-adiknya sedang tidur, “Jadi saya tidur dulu, lalu bangun pagi saat adik-adik masih tidur supaya saat belajar tidak terganggu. Nah itu menjadi kebiasaan saya karena saya bisa lebih fokus belajar dalam kondisi tenang. Saya suka belajar juga bukan karena disuruh orang tua tapi orang tua yang memberikan contoh. Saya masih ingat Bapak selalu upgrade pengetahuan bengkel dan Ibu sering mengundang teman-temannya untuk belajar bersama, sehingga anak-anaknya juga suka membaca buku,” kenangnya.
Endang dan saudara-saudaranya juga diajarkan kedua orang tuanya untuk berfikir jangka panjang. Salah satunya tidak boleh meminta uang secara mendadak, kecuali untuk biaya sekolah dan kesehatan.
“Orang tua kami kan usaha, dan orang tua kami akan mengupayakan bagaimanapun caranya untuk biaya sekolah dan kesehatan, Di luar itu harus jauh-jauh hari, misalnya keinginan ganti tas & sepatu itu tidak boleh mendadak. Kecuali kalau misalnya sepatu itu digunakan untuk keperluan sekolah. Ibu saya juga menyampaikan karena adik-adik banyak, kami bertiga (saya dan 2 kakak) hanya akan dikuliahkan sampai S1. Tapi orang tua saya ingin kami sekolah semaksimal mungkin setelah lulus S1. Itu juga yang mendorong semangat saya untuk kuliah sampai S3 karena saya selalu ingat harapan orang tua kepada kami untuk setinggi mungkin sekolah,” jelas Endang.
Endang juga diajarkan jangan takut bermimpi. Ia ingat pernah diajarkan ibunya menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke. “Saya waktu itu tanya bisakah saya nanti melihat Sabang dan Merauke ?”. Ibu saya mengatakan Indonesia ini luas sekali, kamu pasti bisa. Dan itu terwujud, saya bisa ke Sabang, dan di tahun 2020 saya menutup perjalanan saya keliling semua provinsi di Indonesia dengan berkunjung ke Merauke. Saya bersyukur orang tua mengajarkan pola asuh demokratis dan saya bebas bertanya apapun kepada orang tua,” papar Endang.
Selain meniti karir, dalam bersyukur juga melakukan pelayanan, salah satunya menjadi orang tua asuh yang membantu pendidikan anak-anak muda yang tinggal di daerah 3 T (Tertinggal, Termiskin dan Terluar). “Mereka tidak perlu tahu kami, tapi yang terpenting kami tahu siapa saja yang kami bantu beasiswa untuk kuliah … Setelah lulus mereka akan kembali untuk mengabdi di daerahnya,” tambahnya.
“Saya banyak belajar dari orang tua saya yang memberikan kesempatan untuk anak-anak STM magang di bengkelnya. Jadi anak-anak yang tidak mampu bisa tinggal di bengkel milik orang tua saya kemudian diajarkan keterampilan bengkel. Setelah lulus mereka bisa kembali ke daerahnya dan buka bengkel sendiri,” tutur Endang bangga.
Naikkan Independen ke Level Interdependensi
Kemerdekaan finansial bagi kaum perempuan menurut Endang harus disertai dengan interdependensi. Meski kemandirian/independen itu esensial tapi kalau independen tanpa interdependensi pasti kita kehilangan makna. “Kita hidup itu tidak bisa sendiri, di manapun baik di keluarga, di dunia kerja, maka kita harus naikkan ke level interdependensi di mana kita saling ketergantungan dan keberlanjutan dalam hal apapun. Ini bisa diterapkan di dalam dunia kerja, persahabatan maupun keluarga. Kalau kita merasa sangat independen, cenderung tergoda menjadi egois dan tidak merasa butuh orang lain…, itu tidak akan langgeng.
Untuk sebuah keberlanjutan… level independensi itu … harus kita naikkan ke interdependensi. Kita tidak pernah bisa sendiri, bukan berarti kita tidak bisa sendiri tapi kita harus naikkan level… karena hidup itu sebuah ekosistem interdependensi atau saling ketergantungan. Jadi kita harus naikkan level independensi/mandiri ke level yang lebih tinggi ke interdepensi supaya bisa berkolaborasi dan menghasilkan lebih dalam banyak hal dan ini yang akan menjamin keberlanjutan dalam hal apapun. Ini filosofis ya…, kalau kita merasa sangat independen itu hanya jangka pendek saja, tapi kalau untuk jangka
panjang kita harus membangun saling ketergantungan/interdependensi,” papar Endang semangat.
Pesan Endang bagi kaum perempuan Indonesia adalah 3B yaitu selalu berpikir positif dalam menghadapi apapun, bertindak proaktif melalui kebebasan berkerasi dengan menggunakan kesadaran diri/nalar maupun kreativitas, selalu mendengarkan suara hati di semua hal dan menyeimbangkannya, sehingga berdampak efektif dalam keluarga dan masyarakat serta lingkungan.
Me Time Jaga Keseimbangan
Sebagai perempuan tentu kebutuhan me time sangat perlu. Agar bisa tetap tampil bugar, cantik dan awet muda, menurut Endang kuncinya ada pada kesehatan mental yang tetap terjaga, karena dari sanalah aura bahagia dan kecantikan yang sesungguhnya muncul. Saat hati gembira dan kita mencintai apa yang kita kerjakan, energi positif itu akan terpancar secara alami. Di sisi lain, kesehatan juga menjadi hal utama. “Di tengah kesibukan, kadang
memang ada hal yang harus dikorbankan, salah satunya waktu untuk berolahraga. Tapi di situlah pentingnya disiplin dan konsistensi, bagaimana kita menyempatkan diri untuk tetap berolahraga agar tubuh tetap bugar, pikiran segar, dan semangat untuk terus berkarya tetap menyala,” pungkasnya







