MajalahInspiratif.com, Jakarta – Pandemi COVID-19, pernah membuat seluruh kamar hotelnya kosong. Tiga tahun sunyi itu menjadi ujian terberat dalam perjalanan bisnisnya. Namun dari titik nol itulah, Khoe Ribka justru menemukan esensi kepemimpinan yang sesungguhnya, yakni berjalan beriringan dengan iman, keteladanan, dan komitmen untuk memberi arti. Dari dunia hospitality hingga organisasi perempuan, ia membuktikan bahwa perempuan bukan hanya mampu memimpin, tetapi juga mampu menghidupkan nilai di setiap ruang yang ia kelola.
Di tengah dinamika industri perhotelan yang terus berubah, nama Khoe Ribka berdiri sebagai sosok pemimpin perempuan yang tidak hanya berbicara tentang profit dan okupansi, tetapi juga tentang nilai, integritas, dan dampak sosial. Sebagai CEO & President Director Amos Cozy Hotel, Ketua Umum DPC IWAPI Jakarta Selatan, sekaligus CEO Yayasan Pendidikan SoliDEO, ia memaknai kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan panggilan hidup.

Bagi perempuan bersahaja yang karib disapa Ribka ini, kepemimpinan adalah tentang menghadirkan makna di setiap ruang yang ia tempati, baik di dunia hospitality, organisasi perempuan, maupun pendidikan. Dan selama hampir 15 tahun perjalanan Amos Cozy Hotel, prinsip itu menjadi fondasi yang tak pernah berubah.
Konsistensi Nilai. Disampaikan Ribka, Amos Cozy Hotel telah berjalan hampir satu setengah dekade. Dalam operasional harian, manajemen sudah ditangani secara profesional oleh General Manager dan timnya. Namun sebagai pemilik dan pemimpin tertinggi, ia tetap memegang kendali pada arah besar dan kualitas nilai yang dihidupi seluruh tim. “Hotel itu bukan hanya bangunan. Hotel adalah kepercayaan,” ujarnya tegas.
Menurut Ribka, menjaga reputasi tidak cukup hanya dengan pelayanan prima, tetapi juga dengan membangun budaya kerja yang kuat. Nilai utama yang selalu ia tanamkan kepada seluruh karyawan adalah kejujuran dan disiplin. Dua hal ini menjadi fondasi dalam industri yang sangat mengandalkan trust.
Ia bersyukur karena nilai tersebut nyata teruji. Tidak jarang tamu yang kehilangan barang berharga seperti telepon genggam atau benda pribadi lainnya dapat menemukannya kembali melalui sistem lost and found yang berjalan jujur. Bagi Ribka, inilah cerminan bahwa budaya perusahaan bukan sekadar slogan, tetapi hidup dalam keseharian.

Kolaborasi Kepemimpinan. Sebagai Ketua Umum DPC IWAPI Jakarta Selatan di periode keduanya, Ribka memadukan kepemimpinannya di dunia bisnis dengan organisasi. Karena baginya, kolaborasi adalah kunci.
Banyak kegiatan sosial yang ia selaraskan antara hotel dan IWAPI. Sebut saja event donor darah, buka puasa bersama, kegiatan akhir tahun, hingga mengundang anak-anak panti asuhan untuk berbagi kasih. Dalam satu tahun, kegiatan sosial dilakukan setidaknya dua kali, baik dalam momentum Natal maupun Ramadan.
“Visi saya sederhana, tetapi mendalam: hidup saya harus berdampak bagi banyak orang,” katanya.
Baik di bidang hospitality, pendidikan, maupun organisasi, Ribka ingin keberadaannya meninggalkan jejak yang nyata, yakni jejak kepedulian, kebermanfaatan, dan keteladanan.
Pandemi: Titik Nol yang Membentuk Ketangguhan
Diceritakan Ribka, pandemi menjadi ujian terbesar dalam perjalanan kepemimpinannya. Tiga tahun masa sulit itu mengajarkan pelajaran yang tak tergantikan. Hotel yang biasanya penuh aktivitas mendadak kosong. Okupansi nol, sementara kewajiban tetap berjalan. “Kami benar-benar tiarap,” kenangnya.
Namun justru dari titik terendah itulah lahir pembaruan. Pasca pandemi, Amos Cozy Hotel melakukan renovasi besar, mulai dari pembaruan kamar, wajah bangunan, hingga lobi hotel. Desain yang sebelumnya klasik diperbarui menjadi lebih minimalis dan relevan dengan perkembangan zaman.
Segmentasi pasar pun menyesuaikan, meski tidak berubah signifikan. Bisnis MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) tetap menjadi tulang punggung, terutama untuk segmen pemerintahan dan korporasi.
Pandemi huga membentuk Ribka menjadi pemimpin yang semakin rendah hati. “Sehebat apa pun kita, tetap ada kuasa yang lebih besar. Saya belajar bahwa semua keputusan harus diserahkan dalam doa. Dan saya percaya bahwasanya keberlangsungan bisnis hingga hari ini bukan semata karena strategi, melainkan karena pertolongan Tuhan,” tuturnya.

Adaptif di Era Digital dan Generasi Z
Transformasi digital bukan pilihan, melainkan keharusan. Penjualan kamar kini sepenuhnya mengikuti pola digital, melalui website, e-commerce, dan platform online, menjadi jalur utama reservasi. “Kalau kita tidak relevan dengan zaman, kita akan terlindas zaman,” tegasnya.
Namun tantangan tak berhenti pada teknologi. Generasi Z yang kini mendominasi tenaga kerja memiliki karakter unik. Mereka cenderung menyukai fleksibilitas, tidak terlalu tertarik pada jabatan struktural dan lebih memilih kenyamanan dibanding posisi kepemimpinan formal.
Alih-alih memaksakan, Ribka memilih pendekatan adaptif. Karyawan Gen Z ditempatkan di posisi yang sesuai minat, seperti front office yang memungkinkan interaksi sosial tinggi. Baginya, kepemimpinan hari ini adalah tentang memahami karakter generasi, bukan menundukkannya.
Di sisi lain, ia juga menyadari dilema teknologi, salah satunya efisiensi sistem yang sering kali berarti pengurangan tenaga kerja. Self check-in, digital key, hingga otomatisasi layanan menjadi tren global. Di sinilah kebijaksanaan pemimpin diuji dalam menentukan keseimbangan antara efisiensi dan sentuhan manusia.
Kekuatan Kepemimpinan Perempuan
Sebagai pemimpin perempuan, Ribka meyakini bahwa wanita memiliki keunggulan alami dalam mengelola hospitality. Naluri, ketelitian, konsistensi, dan kecerdasan emosional adalah kekuatan yang melekat. “Perempuan memimpin bukan hanya dengan pikiran, tetapi dengan hati,” tekannya.
Ia percaya, seorang ibu sejatinya sudah menjadi pemimpin dalam keluarganya. Kemampuan membimbing, mendidik, dan mengarahkan anak adalah bentuk kepemimpinan paling mendasar. Ketika nilai itu dibawa ke ranah profesional, lahirlah kepemimpinan yang detail, ulet, dan penuh empati.
Menurutnya, pemimpin harus memiliki pengikut. Dan pengikut lahir dari keteladanan, bukan sekadar instruksi. Konsistensi dalam sikap dan nilai menjadi kunci agar tim percaya dan mau berjalan bersama.
Selain itu, seorang pemimpin juga sepatutnya memiliki empat point penting. Yakni Visi yang jelas, ketangguhan, keberanian dalam mengambil Keputusan dan yang terpenting, tetap mengandalkan Tuhan.
Menurut Ribkam, zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi satu hal yang tidak pernah berubah adalah perjuangan. Kepemimpinan bukan tentang kenyamanan, melainkan tentang keberanian melangkah di tengah ketidakpastian. “Hidup harus diperjuangkan, dan perjuangan itu harus berdampak,” tutupnya.







