Crowdfunding Typography Banner
COO PT Asuransi Untuk Semua (TAP Insure)

Hesti Handayani, Memimpin dengan Hati, Membangun dengan Integritas

Bagikan:

1

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Kesuksesan menurut Hesti Handayani adalah ketika ia mampu menjaga integritas dalam karier, membangun sistem yang kuat, menyiapkan regenerasi, sekaligus membesarkan anak-anaknya menjadi pribadi mandiri dan berpendidikan tinggi.Di kantor, ia memimpin proses dan manusia.Di rumah, ia membentuk karakter dan masa depan.Dan dari keduanya, ia membuktikan bahwasanya perempuan bisa berdiri di puncak profesionalisme tanpa kehilangan perannya sebagai ibu.

Bagi sebagian orang, jabatan Chief Operating Officer (COO) adalah simbol puncak karier. Posisi strategis, tanggung jawab besar, keputusan-keputusan krusial yang menentukan arah perusahaan. Namun bagi Hesti Handayani, jabatan bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah bagian dari perjalanan. Yang terpenting bukanlah seberapa tinggi posisi yang diraih, melainkan seberapa besar dampak yang ditinggalkan.

Lahir di Jakarta pada 16 Juni 1976, Hesti tumbuh dengan prinsip bahwa segala sesuatu harus dimulai dari proses. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada hasil instan. Nilai itulah yang membentuk cara pandangnya terhadap karier, keluarga, dan kepemimpinan.

Memulai Lebih Awal. Perjalanan profesional Hesti dimulai bahkan sebelum ia resmi diwisuda. Saat menunggu sidang skripsi S1 Ekonomi yang diselesaikannya dalam 3,5 tahun, ia memilih untuk tidak menunggu dalam diam. Ia bekerja. Pengalaman awal itu menjadi pijakan mental bahwa dunia kerja menuntut kedisiplinan dan keberanian.

Karier profesionalnya benar-benar dimulai sebagai fresh graduate di Citibank. Enam tahun di institusi perbankan internasional tersebut menjadi sekolah kehidupan yang sesungguhnya. Ia memulai dari posisi staf biasa, belajar sistem, ritme kerja korporasi hingga lajar standar global.“Semua dimulai dari nol.Saya tidak pernah langsung berada di posisi tinggi,” ungkapnya.

Dari Citibank, ia melanjutkan perjalanan ke Sampoerna. Di sana, ia menangani Sampoerna Foundation, bagian yang berfokus pada program beasiswa dan edukasi di seluruh Indonesia. Di titik inilah perspektifnya meluas. Dunia tidak hanya tentang angka dan profit, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial.

Setelah itu, ia kembali ke industri financial services, kali ini di sektor asuransi. AXA menjadi tempatnya belajar mengelola proyek-proyek besar. Kemudian Great Eastern Life mempercayainya di posisi Senior Vice President (SVP) Operation and Strategic Initiatives. Kini, ia menjabat sebagai Chief Operating Officer di PT AUS (TAP Insure), sebuah perusahaan asuransi yang terus berkembang.

TransformasiOperasional. Sebagai COO, Hesti menyebutbagianoperasionalsebagai “dapur” perusahaan. Di sanalah proses berjalan. Di sanalah kualitas layanan ditentukan. Tantangan terbesar yang ia hadapi saat ini adalah transformasi digital.“Kalau proses masih manual, risiko human error tinggi. SLA lama dan customer bisa komplain,” jelasnya.

Ia mendorong otomatisasi proses hingga sekitar 70%. Bukan untuk menggantikan manusia sepenuhnya, tetapi untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi. Sistem yang baik akan meminimalkan kesalahan di belakang layar.

Namun, Hesti menyadari bahwasanya teknologi bukan segalanya.“Human interface tetap penting untuk quality control, karena sistem juga bisa error,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, Hesti mengajarkan timnya untuk tidak hanya menjadi pelaksana administratif. Mereka juga harus berpikir. Jika ada proses yang lambat, mereka harus berani mengusulkan perbaikan. Agar setiap kendala bisa menjadi peluang inovasi.

“Dalam satu semester, ide-ide perbaikan bisa muncul puluhan kali. Diskusi terbuka menjadi budaya. Saya tidak ingin timsekadar mengikuti sistem, tetapi menjadikan mereka bagian dari pengembangan sistem itu sendiri,” tekannya.

Memimpin Generasi yang Berbeda. Di era Gen Z, Hesti menyadari bahwa pola kerja berubah drastis dibanding generasi sebelumnya. Untuk itu, ia memilih pendekatan berbasis hasil, bukan sekadar kehadiran fisik.“Mau kerja di ruangmeetingataucoffee shop, silakan. Yang penting hasilnya jelas,” tegas Hesti.

Ia pun menerapkan matriks pengukuran kinerja yang objektif. Target jelas, ukuran jelas. Tanpa indikator, penilaian menjadi subjektif.Namun dalam hal pembinaan, ia tetap humanis. Jika ada kesalahan, ia tidak memilih memarahi di depan umum. Karena baginya, kedekatan menciptakan kepercayaan. Dan kepercayaan mempercepat kerja tim. “Biasanya saya ajak ngobrol, bahkan ngopi bareng,” katanya.

Tanggung Jawab Moral. Meski bekerja di sebuah coorporate, Hesti sangat menekankan pentingnya regenerasi. Apalagi, ia menyadari bahwasanya posisinya hari ini bukanlah selamanya.“Kita ini siklus, akan ada waktunya pensiun. Ilmu tidak boleh berhenti di kita,” ujar Hesti.

Secara aktif ia mentransfer pengetahuan kepada timnya. Leadership, menurutnya bukan tentang menjadi yang paling pintar sendirian. Tetapi tentang memastikan tim mampu menggantikan posisi kita suatu hari nanti. Karena suatu perusahaan akan stagnan jika ilmu hanya tersimpan di satu kepala.

Dan di tiap jabatan yang diemban, Hesti juga berupaya memberikan dampak positif yang bisa ia tinggalkan untuk generasi selanjutnya. “Setidaknya saat saya meninggalkan satu perusahaan, ada sesuatu yang bisa dikenang sebagai kontribusi positif,” pungkasnya.

Menyeimbangkan Peran Adalah Tantangan Terberat

Ketika berbicara tentang tantangan terbesar dalam hidup, Hesti tidak menunjuk pada target bisnis, tekanan operasional atau transformasi digital, melainkan peran sebagai ibu bekerja.Ia bahkan sempat menjalani karier sambil menyelesaikan S2 dan membesarkan tiga anak perempuan, yakni Tasya, Nasya, dan Keza.

Challenge terbesar bukan di kantor. Tapi bagaimana menjaga profesionalisme di kantor dan tetap hadir untuk anak-anak. Sejak menikah dan dianugerahi buah hati, saya membiasakan akhir pekan sebagai waktu keluarga. Jika harus ujian atau tugas ke luar kota, anak-anak bahkan pernah saya ajak ke kampus,” terang pehobi olahraga lari ini.

Setiap malam, meski anak-anak sudah tidur, ia tetap masuk ke kamar mereka. Memastikan buku pelajaran esok hari lengkap dan anak-anak telah mengerjakan PR mereka. Hal-hal kecil itu menjadi bentuk kehadiran.

Dalam hal memilih sekolah, Hesti tidak memaksakan pilihan jurusan atau minat ketiga anaknya. Ia mengarahkan tanpa menekan, karena baginya pendidikan adalah fondasi utama yang ia pegang teguh, selain agama.

Hasilnya hari ini menjadi kebanggaan tersendiri. Putri sulungnya Tasya, telah menyelesaikan S2 Hukum di UI, sedangkan Nasya melanjutkan S2 di UGM. Keduanya yang merupakan putri kembar, bahkan kini telah menikah. Untuk si bungsu, Keza saat ini tengah menempuh pendidikan S2 di Inggris.

Achievement terbesar saya adalah bisa memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak,” tambahnya.

Kekuatan Perempuan dalam Kepemimpinan

Menurut Hesti, perempuan memiliki keunggulan alami, yakni empati, kepedulian, ketangguhan dan kemampuan multitasking.“Perempuan itu terbiasa mengasuh. Jadi saat memimpin tim, rasanya seperti membesarkan anak,” terangnya.

Mengarungi perannya sebagai pemimpin, Hesti menyadari bahwa kepemimpinan bukan tentang gelar atau ruang kerja, apalagi tentang fasilitas.Melainkan tentang kontribusi, membangun sistem yang lebih baik, mencetak generasi yang siap melanjutkan dan membesarkan anak-anak yang mandiri dan berintegritas.

Sepanjang karier yang dijalankan, Hesti membuktikan bahwa perempuan bisa memimpin dengan hati tanpa kehilangan ketegasan, membangun perusahaan tanpa melupakan keluarga, bahkan bisa kuat tanpa kehilangan empati.

Karena kepemimpinan sejati bukan hanya soal mencapai target hari ini. Tetapi tentang nilai yang terus hidup, bahkan ketika jabatan telah berganti.Dan di sanalah Hesti meninggalkan jejaknyadalam sistem yang ia tata, dalam tim yang ia bina dan dalam generasi yang ia besarkan dengan cinta dan integritas.

Bagikan:

Bagikan: