MajalahInspiratif.com, Jakarta – Meninggalkan karier mapan sebagai karyawan swasta dan memilih jalan wirausaha tentu bukan keputusan mudah. Namun bagi Andi Bintang Oktavinda, S.H., pilihan itu justru menjadi pijakan awal menuju kesuksesan yang kini ia raih.
“Awalnya saya dan suami sama-sama bekerja sebagai marketing di perusahaan berbeda. Tapi lama-lama kami merasa tidak ingin terus bekerja ikut orang. Ada keinginan kuat untuk punya usaha sendiri,” kenang perempuan yang akrab disapa Bintang ini.
Akhir tahun 2016 menjadi titik awal ketika ia resmi resign dan mulai serius merintis bisnis. Kesempatan itu datang ketika ayah mertuanya yang merupakan direktur perseroan di bidang perkapalan memberi inspirasi untuk mendirikan badan usaha di awal tahun 2017. Dari situ, lahirlah perusahaan pertama yang menjadi cikal bakal bisnis keluarga mereka.

Lika-Liku. Namun perjalanan itu tak mulus. Sambil mengurus legalitas perusahaan dan mencari klien, suami Bintang, Ardy Rachmansyah, sempat menjadi driver online demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara Bintang sendiri, dengan semangat pantang menyerah, merintis usaha kuliner rumahan. Ia menjual Salad Buah yang dipasok ke sebuah swalayan milik pemerintah di Surabaya, Dimsum dan Siomay online, hingga berjualan bakso di sebuah area perkantoran.
“Saya memang tidak bisa diam. Jiwa saya memang entrepreneur. Meskipun keluarga saya saat itu tidak mendukung dan menganggap saya hanya membuang-buang waktu, saya tetap melangkah,” ujarnya.
Tekanan datang bukan hanya dari ekonomi, tetapi juga dari lingkungan sekitar. “Pernah ada yang bilang, ‘Kenapa nggak jadi karyawan saja? Kamu kan cantik, bisa dandan, kerja kantoran keren.’ Tapi saya tahu, saya ingin jalan sendiri,” tegasnya
Bintang bahkan sempat membuka toko baby shop di pasar, berjualan susu dan perlengkapan bayi. Juga menjual kerudung yang ia beli dari pasar Tanah Abang, Jakarta yang ia bawa sendiri ke Surabaya. “Saya pernah bawa kresek besar ke pos satpam buat ketemu pembeli. Saya nggak malu, selama itu halal. Saya cuma minta satu, Tuhan bukakan jalan,” katanya sambil tersenyum.
Dua tahun awal berdirinya perusahaan tidak menghasilkan proyek apa pun. Bahkan laporan pajak masih nihil. Baru pada tahun 2018, Bintang mendapatkan proyek pertama dengan status perorangan untuk mengerjakan Project Pipa Air SPAM Umbulan. Meski belum berpengalaman, proyek itu dijalani penuh tanggung jawab dan menjadi titik balik. Namun karena salah perhitungan, Bintang dan suami terpaksa ‘gigit jari’ karena hasilnya tidak memuaskan. “Lelah iya, tapi hasilnya tidak ada. Meski begitu kami tidak menyerah,” ujar Bintang.
Setelahnya, Sekitar tahun 2019 akhir Bintang dan suami mendapatkan proyek pertama dalam mengerjakan perbaikan Forklift milik Kementerian Perhubungan Laut Surabaya senilai Rp 15 Juta. Setelahnya mereka dipercaya menangani proyek-proyek kapal negara milik Kementerian Perhubungan Laut di berbagai daerah seperti Palembang, Makassar, hingga Ambon
Baru memulai usaha, pandemi covid-19 melanda Negeri di tahun 2020. Namun, ketika banyak usaha gulung tikar, bisnis mereka justru terus tumbuh. “Kami diminta menyuplai 400 paket kebersihan dan kesehatan setiap minggu. Itu menjadi momen penting dalam perkembangan bisnis kami,” kenang Bintang.
Kini, perusahaan yang dipimpin Bintang tersebut telah berkembang menjadi satu PT dan dua CV, yang bergerak di bidang kontraktor perkapalan, pengadaan barang untuk Kementerian Perhubungan Laut, hingga desain interior untuk rumah hunian, rumah dinas dan perkantoran. Mereka bahkan memiliki workshop sendiri untuk membuat ornamen interior dan kitchen set .
Bagi Bintang, kunci dari semua ini adalah komitmen menjaga kualitas dan pelayanan. “Harga bisa bersaing, tapi kualitas tidak bisa bohong. Dari situ, banyak klien datang karena promosi dari mulut ke mulut,” ujarnya.
Sebagai ibu rumah tangga sekaligus pengusaha, Bintang tak memungkiri tantangan yang ia hadapi. Namun keyakinannya pada Tuhan dan dukungan penuh dari suami menjadi kekuatan utama dalam setiap langkahnya. “Saya selalu percaya, kalau kita sungguh-sungguh, Tuhan pasti kasih jalan. Dari jualan salad, sekarang saya bisa pegang proyek kapal negara. Semua karena tekad, doa, dan kerja keras,” lugasnya.

Kompak Bersama Suami. Seiring waktu, kini Bintang telah memetik buah dari perjuangannya. Padahal, kala membangun bisnis semua hal terkait perusahaan harus ia tangani sendiri. Mulai dari urusan pajak, administrasi, hingga operasional. Kini, bersama sang suami, mereka menjalankan bisnis secara beriringan—saling melengkapi, saling mempercayai, dan tetap kompak meski masing-masing memegang peran berbeda.
“Awalnya memang saya pegang semua, karena suami di lapangan. Tapi seiring waktu, peran kami mulai terbagi dengan lebih baik,” ujar Bintang. Kini ia lebih fokus di sisi desain interior, menjadi ujung tombak ide-ide kreatif yang langsung bersentuhan dengan klien. Sedangkan sang suami bertugas melakukan follow-up pekerjaan dan mengurus hal-hal teknis seperti perintah kerja, tanda tangan, serta komunikasi ke Kementerian.
Kekompakan keduanya bukan datang tiba-tiba. Dibangun dari kepercayaan, komunikasi yang sehat dan saling mengakui peran masing-masing. “Yang penting saling support dan tahu kapan harus ambil peran. Kalau ada beda pendapat, dibicarakan pelan-pelan,” tambahnya.
Dengan adanya ART di rumah dan guru les yang datang langsung, Bintang memastikan bahwa waktu untuk anak-anak tetap terjaga. “Saya dan suami bergantian dampingi anak. Kalau satu les, yang lain main dulu dengan bapaknya. Itu semua saya syukuri, karena ini yang saya impikan, bisa dekat dengan anak-anak tanpa harus meninggalkan mimpi saya,” tutur wanita kelahiran Surabaya , 19 Oktober 1988 ini.
Kiat Sukses. Bagi Bintang, kesuksesan bukan tentang pencapaian yang serba muluk, melainkan soal konsistensi, keberanian memulai, dan kesadaran akan batas yang sehat. Ia menekankan bahwa kunci utamanya adalah jangan pernah menyerah, walau jalan terjal, tetaplah melangkah.
“Jangan malu, jangan gengsi. Jangan berkecil hati. Dicoba saja dulu. Itu prinsip saya,” ujarnya tegas.
Soal modal, Bintang juga punya pandangan realistis dan bijaksana. Ia memulai usahanya dengan modal seadanya, bahkan ia enggan mengakses pinjaman bank demi memperluas usaha. “Kalau bisa, saya keluar dari hal-hal yang mendekati riba. Saya pakai apa yang ada, saya putar modalnya, saya syukuri yang saya punya. Sebenarnya bisa saja lebih, tapi saya tidak mau terlalu muluk-muluk. Yang ini saja sudah lebih dari cukup,” katanya, merujuk pada kebersamaan dengan suami dan stabilnya perusahaan saat ini.
Bintang percaya bahwa syukur adalah fondasi kesuksesan sejati. Tidak perlu terlihat hebat di luar jika di dalam hati selalu merasa kurang. Dengan keberanian, keikhlasan, dan syukur yang konsisten, jalan menuju sukses akan selalu terbuka.
Kepada para perempuan Indonesia yang saat ini sekadar menikmati gaji atau nafkah dari suami, Bintang menyarankan untuk berani keluar dari zona nyaman. “Kalau saya lihat, banyak perempuan yang sudah berada di zona nyaman sebagai karyawan, takut untuk melepas pekerjaannya dan mulai berwirausaha. Mereka khawatir tidak akan mendapatkan penghasilan yang sama. Tapi saya selalu bilang, kunci utamanya adalah mengandalkan Tuhan. Apapun yang kita lakukan dengan hati ikhlas dan mengandalkan Tuhan, pasti akan ada hasilnya. Bahkan jika kita mulai dari hasil kecil, misalnya jualan dapat 200 ribu per bulan, itu sudah harus disyukuri sebagai berkah. Kita harus belajar merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang ada, meskipun hasilnya belum besar,” tegasnya.
Bintang juga menilai banyak perempuan yang enggan memulai bisnis karena takut mengambil risiko sebab cicilan, kewajiban atau takut kehilangan penghasilan tetap. “Saya percaya, jika memang sudah tidak mampu, lebih baik kita relakan dulu, misalnya dengan menjual sesuatu atau melepaskan sesuatu. Nanti Tuhan pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Jadi, jangan takut untuk memulai. Mulailah dengan usaha kecil, tetap berdoa dan bekerja dengan ikhlas. Percayalah, setiap usaha akan membawa hasil, asal kita konsisten dan sabar,” pungkasnya.
Info Lebih Lanjut:
Instagram : @BintangOctavinda @sa.za_interior_design
Kesuksesan Tidak Menghentikan Langkah Belajar
Sudah memiliki tiga perusahaan yang berjalan dengan stabil, peran sebagai ibu yang penuh kasih, dan bisnis yang dikelola bersama suami dengan harmonis—namun Bintang tidak berhenti di situ. Ia justru memutuskan kembali ke bangku kuliah untuk melanjutkan studi S2 di bidang Kenotariatan. Bukan semata demi gelar, tapi karena visi jangka panjang dan kesadaran akan pentingnya perlindungan hukum dalam bisnis.
“Saya pikir, saya punya tiga perusahaan, harus ada yang membentengi secara hukum. Keluarga saya bukan aparat, bukan pengacara. Jadi saya sendiri harus punya pegangan,” ungkapnya mantap.
Langkah Bintang untuk mengambil studi Kenotariatan bukan hanya sebagai bentuk pengembangan diri, tapi juga sebagai strategi memperkuat fondasi bisnisnya. Ia sadar, banyak pengusaha yang terjebak masalah hukum karena kurang pemahaman atau tidak punya pendampingan hukum yang kuat. Dengan bekal ilmu dari S2, Bintang ingin menjadi pelindung bagi perusahaannya sendiri.
“Kalau nanti ada apa-apa, saya bisa handle sendiri. Saya rencana buka kantor notaris juga,” tambahnya penuh keyakinan.
Melawan Stigma. Keputusan untuk kembali sekolah tentu tak luput dari cibiran. Banyak yang mempertanyakan, untuk apa susah payah sekolah lagi ketika bisnis sudah mapan dan hidup sudah nyaman? Namun Bintang membuktikan bahwa rasa ingin tahu dan semangat belajar tidak boleh mati, apa pun pencapaiannya.
“Banyak yang bilang, udah enak ngapain capek-capek kuliah. Tapi saya tetap jalan. Dan ternyata S2 Notaris itu enggak gampang. Tugasnya banyak, tanggung jawab besar, dan benar-benar digembleng,” ceritanya.
Sebagai lulusan hukum tahun 2010, Bintang harus mengejar ketertinggalan. Dunia hukum sudah berkembang pesat, dan ia menyadari bahwa literasi hukum tidak bisa hanya mengandalkan ingatan masa kuliah dulu.
Dan bagi Bintang, pendidikan bukan hanya simbol, melainkan alat yang nyata. Ia tidak ingin gelarnya hanya menjadi hiasan tanpa makna. Yang ia kejar adalah kemampuan praktis, pemahaman hukum yang kuat, dan ketangguhan untuk berdiri sendiri dalam menghadapi dinamika bisnis maupun kehidupan.
“Menurut saya, pendidikan itu sangat penting. Dan seandainya saya tidak lanjut S2, mungkin S1 saya akan sia-sia. Sekarang saya tahu, ini semua bukan soal gelar, tapi soal kesiapan untuk menghadapi masa depan,” tegasnya.

Warisan Nilai dari Seorang Ibu, Pilar Tangguh Seorang Anak
Kemandirian bukan hanya soal kemampuan untuk berdiri sendiri, tapi juga tentang harga diri, ketegasan, dan kehormatan seorang perempuan dalam menjalani hidup. Nilai-nilai inilah yang tertanam kuat dalam diri Bintang sejak kecil. Berawal dari sosok sederhana yang menginspirasi, ibunya sendiri.
“Mama saya itu pedagang. Walau Papa mampu, Mama tetap jualan di depan sekolah, titipin Donat ke warung. Bahkan sekarang meski sudah terserang stroke, beliau masih titip jualan Donat karena sudah terbiasa. Itu yang saya contoh,” ujar Bintang dengan mata berbinar.
Sejak kecil, Bintang dan saudara-saudaranya tidak dimanjakan dengan fasilitas. Uang saku bahkan diberikan secukupnya dan tidak ada perlakuan istimewa. Semua dididik untuk berusaha sendiri. Dan justru dari keterbatasan itulah tumbuh karakter tangguh yang membentuk Bintang hari ini.
“Kami diajari untuk mandiri sejak kecil, tidak diberikan fasilitas berlebih. Namun itu memebuat kami bermental kuat,” kenangnya.
Memisahkan Keuangan: Kunci Profesionalisme dalam Rumah Tangga dan Bisnis
Meski kini telah menjalankan bisnis bersama suami, ibu dari Zahfran Dzar Al Ghifahri Rachmansyah dan Zhafira Khansa Sabiha Rachmansyah ini tetap menerapkan prinsip keuangan yang disiplin. Keuangan pribadi tidak dicampur dengan keuangan perusahaan. Ia percaya, keberhasilan dalam bisnis juga bergantung pada profesionalisme dalam mengelola keuangan.
“Uang pribadi tetap saya kelola sendiri, dan uang perusahaan tidak boleh diutak-atik. Saya tetap digaji oleh suami, dan tahu berapa porsi saya, berapa profit, sisanya harus diputarkan untuk modal,” jelasnya.
Dan bagi Bintang, penting bagi seorang perempuan untuk memiliki kemerdekaan finansial. Bukan untuk membuktikan siapa yang lebih hebat, tetapi agar bisa memiliki kendali atas pilihan-pilihannya sendiri. “Saya percaya perempuan harus punya penghasilan sendiri. Tapi bukan berarti harus menguasai. Alhamdulillah, suami saya percaya dan tidak terlalu mengatur. ATM rumah tangga saya yang pegang, karena saya tahu bagaimana mengatur agar semuanya cukup,” katanya.
Bintang mengingatkan, perjuangan membangun usaha memang berat, tetapi mempertahankannya jauh lebih sulit. Maka dari itu, ia menjaga komitmen, transparansi, dan kerja sama dengan suaminya dalam membangun bisnis dan rumah tangga secara seimbang.







