MajalahInspiratif.com, Jakarta – Di tengah derasnya arus industri kecantikan yang kerap dibayangi tren instan dan janji hasil cepat, hadir sosok perempuan yang memilih berjalan berbeda. Dialah dr. Dikes Melati, yang mengabdikan diri membangun bisnis-bisnis kecantikan yang amanah dalam menjaga kualitas ingredients yang digunakan. Lewat edukasi kesehatan yang digelar, ia kerap menyuarakan bahaya penggunaan skincare non-BPOM. Baginya, suara perempuan bukan sekadar ungkapan, melainkan kekuatan untuk menghadirkan perubahan, guna membantu banyak orang menemukan kembali rasa percaya diri melalui perawatan yang aman dan tepat.
Tidak semua perjalanan dimulai dari rencana besar. Bagi dr. Dikes Melati, langkahnya di dunia estetika justru berangkat dari pengalaman pribadi yang cukup menyedihkan. Sebuah titik balik yang kemudian membentuk arah hidupnya hari ini.

Lahir di Sungai Rumbai, 3 April 1987, dr. Dikes, begitu dokter cantik ini akrab disapa, memulai karier sebagai dokter umum. Namun, perjalanan hidup membawanya pada pengalaman yang mengubah segalanya. Kala itu, akibat penggunaan skincare yang mengandung bahan berbahaya wajah mulusnya mengalami breakout parah. Keadaan tersebut bahkan sempat membuatnya minder dan memilih mengurung diri di kamar hingga beberapa bulan.
Hal inilah yang kemudian menjadi pemantik semangatnya untuk mencari tahu lebih dalam. Apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasi jerawat-jerawat membandel tersebut. “Saya tidak ingin membantu orang lain sebelum saya sendiri benar-benar memahami bagaimana proses penyembuhan itu terjadi,” ungkap dr. Dikes.
Dalami Dunia Estetik. Berangkat dari prinsip tersebut, dr. Dikes mulai mendalami dunia estetika secara serius. Sejak 2017, ia menempuh pendidikan di beberapa daerah di Pulau Jawa baik tingkat Nasional maupun Internasional hingga mendapat Gelar Dipl.CIBTAC.
Dan di pada Maret 2018, bersama suaminya, Letkol Inf Dhavid Nur Hadiansyah, S.Sos. M.A.P, ia mendirikan klinik kecantikan berlabel DMD Beauty Clinic yang sempat berkembang pesat hingga enam cabang di beberapa daerah.
Langkah ini membuka babak baru yang menuntutnya memahami berbagai aspek di luar dunia medis, mulai dari proses produksi, regulasi, manajemen tim, hingga distribusi. Di sisi lain, ia juga harus tetap menjaga idealismenya dalam merancang formula yang tidak instan, melainkan melalui proses panjang berbasis riset dan evaluasi ilmiah.
Namun, dari sekian banyak tantangan, fase yang paling membekas terjadi saat pandemi Covid-19 melanda. Situasi yang berubah drastis memaksanya melakukan penyesuaian besar, hingga akhirnya saat ini hanya dua klinik DMD Beauty Clinic yang dapat bertahan, yakni klinik cabang Bandung-Jawa Barat dan Padang-Sumatera Barat. Sebuah kondisi yang tentu tidak mudah, baik secara emosional maupun bisnis.
Alih-alih berhenti, dr. Dikes memilih untuk melihat situasi tersebut dari sudut pandang yang berbeda. “Bagi saya, tantangan bukan berarti akhir, tetapi kesempatan untuk menemukan bentuk baru agar tetap bisa bertahan,” tuturnya.
Dari titik itulah, ia mulai mengalihkan fokus dan memperkuat lini produksi skincare. Ia memanfaatkan momentum untuk memperdalam formulasi produk, memperkuat kualitas, serta membuka peluang baru yang sebelumnya belum tergarap secara maksimal.
Proses tersebut tidak terjadi secara instan. Ia menjalaninya dengan terus belajar, melibatkan tim yang kompeten, serta aktif berdiskusi dengan para ahli untuk memastikan setiap langkah yang diambil tetap berada di jalur yang tepat.
Pengalamannya sebagai bagian dari Persatuan Istri Tentara (Persit), juga turut membentuk ketangguhannya dalam menghadapi perubahan. Ia terbiasa untuk tetap tenang, adaptif, dan tidak mudah menyerah dalam berbagai situasi yang dinamis.
Bagi dr. Dikes, setiap tantangan adalah bagian dari proses untuk membangun fondasi usaha yang lebih kuat dan berkelanjutan. Bukan sekadar bertahan, tetapi juga bertumbuh dengan arah yang lebih matang. Dan di sanalah, kekuatan itu kembali terlihat bahwa perempuan tidak hanya mampu menghadapi perubahan, tetapi juga menciptakan arah baru di tengah ketidakpastian
Menjaga Amanah. Kini, dr. Dikes mengembangkan layanan klinik sekaligus lini produk skincare berupa DKS Glow yang menawarkan ragam produk seperti Serum Vit. C, Sunscreen, dan Hydra Moist Cream, serta Tajibeauty yang menawarkan produk body care berbahan alami seperti body scrub dan deodorant spray, seluruhnya lahir dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan kulit masyarakat Indonesia.
Lebih dari sekadar produk kecantikan, setiap formulasi yang ia rancang merupakan hasil dari proses panjang berbasis riset ilmiah, pengalaman klinis dan empati terhadap pasien lalu dikembangkan menjadi produk yang relevan dengan kondisi kulit masyarakat Indonesia. Pendekatan ini menjadikan setiap produk tidak hanya bersifat umum, tetapi memiliki kedekatan dengan kebutuhan riil pengguna.
Selain itu, dr. Dikes juga menghadirkan konsep personalisasi dalam perawatan kulit. Melalui konsultasi yang mendalam, pasien dapat memperoleh rekomendasi produk yang disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing, sehingga perawatan tidak berhenti di klinik, tetapi berlanjut secara optimal di rumah.
Dari sinilah terlihat bahwa inovasi yang dihadirkan bukan sekadar pembeda, tetapi solusi yang dirancang dengan pendekatan ilmiah, empati, dan keberlanjutan. Misi yang ia bawa jauh melampaui aspek estetika. Karena baginya klinik dan produk skincare bukan hanya soal penampilan, tetapi bagaimana membantu seseorang mendapatkan kembali rasa percaya diri dan kualitas hidup mereka.
Seperti pengalamannya, dr. Dikes meyakini bahwa kondisi kulit sering kali berdampak pada aspek psikologis seseorang. Karena itu, melalui setiap layanan dan produk yang dihadirkan, ia ingin memastikan bahwa perawatan dilakukan secara aman, tepat, dan sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren.
Meski saat ini produk-produk yang ditawarkan diproduksi mitra bisnisnya, namun sejak awal dr. Dikes hanya memilih pabrik makloon berintegritas. Quality control bahkan dilakukan dr. Dikes secara ketat, hingga pengecekan berkala secara langsung untuk memastikan konsistensi formula, tekstur, hingga efektivitas produk. Baginya, skincare bukan sekadar komoditas, melainkan amanah. “Karena saya juga menggunakan produk tersebut, saya harus benar-benar yakin dengan kualitas dan keamanannya,” tegas dokter berdarah Minang ini.
Komitmen dr. Dikes terhadap kualitas juga tercermin dari langkah besar yang diambil, yakni membangun pabrik yang akan memproduksi produk kecantikan seperti parfume, sabun dan body lotion. Keputusan ini bukan semata untuk ekspansi bisnis, melainkan bentuk tanggung jawab untuk memastikan setiap produk berada dalam standar keamanan dan kualitas yang ia yakini.
Di sisi lain, pengembangan lini seperti DMD for Men menjadi bagian dari visinya untuk memperluas pemahaman bahwa perawatan diri bukanlah batasan gender, melainkan kebutuhan setiap individu untuk hidup sehat dan berkualitas.
Baik produk-produk DKS Glow, Tajibeauty maupun DMD for Men kini tersedia di market place. “Alhamdulillah, seiring waktu bisnis kami mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Jika awalnya dimulai dari CV DMD Jaya Mandiri pada tahun 2017, kini seluruh lini usaha kami telah terintegrasi dalam satu payung perusahaan, yakni PT Tajima Kreasi Jaya Abadi. Transformasi ini menjadi bagian dari langkah strategis untuk memperkuat struktur bisnis sekaligus memastikan setiap brand dapat berkembang lebih terarah dan berkelanjutan,” papar dr. Dikes
Ditambahkan perempuan berkulit putih ini, sejak awal dibangun setiap brand memang menyasar segment pasar berbeda. Karena ia berharap suatu saat brand-brand tersebut bisa menjadi pilihan utama di masing-masing segmentnya, tanpa harus saling bersaing, tetapi justru saling melengkapi. “Saya ingin setiap brand memiliki identitas yang kuat dan tumbuh dengan karakter masing-masing, serta mampu menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang,” ujarnya.

Menjaga Kepercayaan. Di balik seluruh pencapaian dan inovasi yang dibangun, dr. Dikes memegang teguh prinsip yang menjadi fondasi utama dalam setiap langkahnya, yakni kejujuran, konsistensi, kualitas dan tanggung jawab.
Baginya, kepercayaan tidak pernah hadir secara instan. Ia dibangun melalui proses panjang, melalui pelayanan yang transparan, kualitas yang terjaga, serta hasil nyata yang dapat dirasakan.
“Kepercayaan tidak bisa dibangun dalam satu malam. Semua harus melalui pengalaman yang konsisten dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Karena itu, setiap produk dan layanan yang dihadirkan harus memenuhi standar medis, aman digunakan, serta memberikan manfaat yang jelas. Ia juga selalu mengedepankan komunikasi yang terbuka dan edukatif, agar setiap pasien memahami apa yang mereka gunakan dan jalani.
Lebih dari sekadar hubungan antara penyedia layanan dan pelanggan, dr. Dikes melihat kepercayaan sebagai hubungan timbal balik. Ketika profesionalisme dan kepedulian diberikan dengan tulus, maka kepercayaan pun tumbuh dengan sendirinya.
Perjalanan yang ia lalui tentu tidak selalu mudah. Ada fase jatuh, ragu, dan penuh tantangan. Namun, dari setiap proses itulah ia belajar bahwa kegigihan dan kesabaran adalah kunci untuk terus melangkah.
“Jangan takut mencoba, jangan takut salah. Karena dari setiap proses itulah kita belajar untuk tumbuh dan menjadi lebih kuat,” tekannya.
Share Konten Edukatif. Tidak hanya fokus pada hasil, dr. Dikes juga menekankan pentingnya edukasi. Berbagai pendekatan dilakukan, mulai dari konsultasi langsung, workshop, hingga konten edukatif, agar masyarakat memahami cara merawat kulit dengan benar. Baginya, hasil yang baik harus berjalan seiring dengan pemahaman yang tepat.
Pemanfaatan teknologi juga menjadi bagian dari inovasi yang terus dikembangkan. Melalui sistem digital, pasien dapat melakukan konsultasi online, mendapatkan pengingat perawatan, hingga memantau perkembangan kondisi kulit mereka secara berkala. Pendekatan ini menciptakan pengalaman yang lebih personal, terarah dan berkelanjutan.
Perubahan Trend. Seiring waktu, dr. Dikes melihat perubahan signifikan dalam cara masyarakat, terutama perempuan dalam memandang perawatan kulit. Jika dahulu perawatan sering kali berorientasi pada hasil instan, kini pendekatan yang diambil menjadi jauh lebih cerdas dan terarah. Masyarakat semakin selektif dalam memilih produk, tidak hanya melihat hasil, tetapi juga memperhatikan kandungan bahan, keamanan, serta efek jangka panjang.
“Ada perubahan besar. Sekarang banyak yang lebih kritis dan memahami bahwa perawatan harus sesuai dengan kebutuhan kulit masing-masing orang,” ungkapnya.
Akses informasi yang semakin luas melalui media sosial, komunitas, hingga edukasi profesional turut mendorong peningkatan kesadaran ini. Perawatan kulit tidak lagi sekadar mengikuti tren, tetapi menjadi keputusan yang didasarkan pada pemahaman.
Salah satu tren yang semakin menonjol adalah personalisasi perawatan. Pendekatan ‘satu produk untuk semua’ mulai ditinggalkan, digantikan dengan solusi yang lebih spesifik dan disesuaikan dengan kondisi individu. Hal ini membuat hasil perawatan menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.
Di sisi lain, kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat juga semakin meningkat. Perawatan kulit kini juga diimbangi dengan pola makan sehat, olahraga dan pengelolaan stress. Sebuah pendekatan yang lebih holistik dan menyeluruh.
Bagi dr. Dikes, perubahan ini adalah sinyal positif bahwa masyarakat tidak hanya mengejar estetika, tetapi mulai memahami pentingnya kesehatan kulit dalam jangka panjang. Dan di tengah perubahan tersebut, peran perempuan kembali terlihat sebagai individu yang tidak hanya merawat diri, tetapi juga mendorong industri untuk menjadi lebih inovatif, transparan dan bertanggung jawab.
Rencana dan Harapan. Disadari dr. Dikes, perjalanan yang telah dibangun hingga hari ini bukanlah titik akhir, melainkan bagian dari proses panjang menuju dampak yang lebih luas. Ke depan, ia memiliki visi untuk terus mengembangkan lini produk yang tidak hanya menjawab kebutuhan perawatan kulit, tetapi juga mampu menjangkau lebih banyak orang dengan nilai yang lebih dalam, mendorong kepercayaan diri, kemandirian, serta keberanian perempuan dalam mengejar mimpi mereka.
Baginya, apa yang ia bangun tidak ingin berhenti sebagai sebuah bisnis semata. Lebih dari itu, ia ingin menghadirkan ruang inspirasi bahwa perempuan dapat menjalani berbagai peran sekaligus, sebagai profesional, pengusaha, pendidik, hingga bagian dari komunitas dan tetap mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya.
Langkah tersebut juga diwujudkan melalui penguatan kontribusi di bidang edukasi dan sosial. Melalui DMD Academy, dr. Dikes membuka ruang belajar bagi mereka yang ingin memahami dunia estetika, pengembangan produk, hingga potensi diri. Sebuah upaya untuk berbagi ilmu sekaligus membuka jalan bagi lebih banyak orang untuk bertumbuh.
Lebih jauh, harapan terbesarnya sederhana namun bermakna. Ia ingin menjadi bagian dari perjalanan perempuan lain dalam menemukan kekuatan mereka. “Saya ingin perempuan melihat bahwa dengan tekad, pengetahuan dan dukungan yang tepat, mereka bisa menciptakan perubahan nyata,” ungkapnya.
Ia ingin setiap langkah yang dijalani hari ini mampu meninggalkan jejak, sebuah legacy tentang kebaikan, ilmu, dan keberanian yang terus beresonansi, memberi manfaat, serta membuka jalan bagi generasi perempuan berikutnya. Karena pada akhirnya, perubahan yang paling berarti adalah yang tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi terus hidup dan menginspirasi di masa depan.

Menjaga Integritas di Tengah Pertumbuhan
Di tengah berkembangnya bisnis yang semakin kompleks, dr. Dikes menyadari bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal ekspansi, tetapi bagaimana menjaga keseimbangan antara idealisme medis dan dinamika industri yang terus bergerak cepat.
Baginya, satu prinsip tidak pernah berubah, yakni aspek medis harus selalu menjadi fondasi utama. “Karena latar belakang saya dokter, maka keamanan pasien dan kualitas produk harus selalu menjadi prioritas,” ujarnya.
Prinsip tersebut tercermin dalam setiap lini yang ia bangun. Dalam pelayanan klinik, setiap treatment dan rekomendasi produk tidak ditentukan oleh tren pasar semata, melainkan berdasarkan kondisi kulit dan kebutuhan masing-masing pasien. Pendekatan ini menjadi pembeda di tengah maraknya industri kecantikan yang kerap menawarkan solusi instan.
Dalam mengembangkan bisnis, dr. Dikes juga menunjukkan sikap adaptif terhadap perubahan pasar. Ia terbuka terhadap inovasi, namun tetap selektif agar setiap langkah yang diambil tidak mengorbankan kualitas dan nilai yang dipegang.
Untuk menjaga konsistensi kualitas, dr. Dikes membangun sistem kerja yang terstruktur dengan tim yang kompeten, mulai dari tenaga medis, staf klinik, hingga tim produksi di pabrik. Setiap elemen memiliki standar kerja yang jelas, sehingga kualitas layanan tetap terjaga di setiap titik.
Namun, baginya, kualitas tidak hanya berhenti pada sistem melainkan juga pada kapasitas diri. Hal itu pula yang membimbingnya melanjutkan pendidikan Magister Manajemen Rumah Sakit di Universitas Pasundan dan Magister Ilmu Biomedis dengan kekhususan Anti Aging di Universitas Udayana. Saat ini, dr. Dikes juga tengah menempuh program doktoral di bidang Stem Cell, program studi Healthy Aging & Cancer di Universitas Islam Sultan Agung.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Ia ingin memastikan bahwa setiap inovasi yang dihadirkan memiliki landasan ilmiah yang kuat dan mampu memberikan kontribusi lebih luas, khususnya dalam pengembangan terapi dan formulasi berbasis sains. “Saya percaya, seorang dokter tidak boleh berhenti belajar. Pendidikan adalah bentuk tanggung jawab terhadap profesi,” tuturnya.
Perempuan sebagai Penggerak Inovasi
Menurut dr. Dikes, perempuan tidak hanya menjadi bagian dari industri kecantikan, tetapi juga penggerak utama di balik arah dan inovasinya. Ia melihat bahwa kedekatan perempuan dengan pengalaman nyata sehari-hari menjadikan mereka lebih peka terhadap kebutuhan yang sesungguhnya. Dari sanalah, banyak inovasi lahir, bukan sekadar mengikuti tren, tetapi menjawab persoalan yang benar-benar dirasakan.
“Perempuan sering kali menjadi pihak yang paling memahami kebutuhan di bidang estetik ini, karena mereka mengalaminya secara langsung,” jelasnya.
Lebih dari itu, perempuan juga semakin mengambil peran strategis sebagai pemimpin, baik di dunia medis, bisnis, maupun organisasi. Dalam perjalanannya, dr. Dikes melihat bahwa perempuan memiliki kekuatan dalam menggabungkan ketelitian, empati dan konsistensi. Tiga hal yang menjadi fondasi penting dalam industri yang sangat bergantung pada kepercayaan. “Industri kecantikan bukan hanya soal produk, tetapi tentang bagaimana membangun hubungan, memahami kebutuhan dan menghadirkan solusi yang bertanggung jawab,” tekan dr. Dikes.
Pengalaman sebagai bagian dari Persit juga memperkuat pandangan bahwa perempuan memiliki peran besar dalam menciptakan dampak yang lebih luas. Tidak hanya berorientasi pada diri sendiri, tetapi juga pada lingkungan sekitar, bagaimana sesuatu yang dilakukan dapat memberi manfaat bagi orang lain.
Dukungan Keluarga Menjadi Kekuatan
Di balik perjalanan panjang yang ia lalui, dr. Dikes memaknai kemandirian dan keberanian perempuan sebagai landasan penting dalam membangun kehidupan dan karier. Baginya, kemandirian bukan sekadar tentang berdiri sendiri, tetapi tentang kemampuan mengambil keputusan dengan tepat, bertanggung jawab atas setiap pilihan, serta terus belajar untuk berkembang di setiap fase kehidupan.
Sementara keberanian adalah tentang melangkah meski dihadapkan pada ketidakpastian, berani mencoba hal baru, menghadapi tantangan dan mengambil risiko yang telah diperhitungkan demi kemajuan. “Perempuan harus berani melangkah, tetapi tetap dengan kesadaran dan tanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil,” ungkapnya.
Ia juga meyakini bahwa perempuan memiliki kekuatan unik yang menjadi keunggulan tersendiri. Yakni kemampuan untuk memadukan empati, ketelitian hingga kepekaan dalam membaca situasi. Kekuatan inilah yang menjadikan perempuan tidak hanya mampu membangun karier atau usaha yang sukses, tetapi juga menghadirkan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Namun, kemandirian dalam pandangannya bukan berarti berjalan sendiri. Ia menyadari bahwa tiap proses bertumbuh juga membutuhkan dukungan, kolaborasi dan hubungan yang saling menguatkan. Peran keluarga, terutama pasangan, menjadi salah satu pilar penting dalam perjalanan yang ia jalani.
“Saya bersyukur memiliki suami yang selalu mendukung setiap proses belajar dan langkah yang saya ambil,” tuturnya.
Lebih jauh, ada pesan yang ingin ia suarakan, sebuah refleksi yang lahir dari pengalaman pribadi sekaligus kepedulian terhadap perempuan lainnya. Bahwa perempuan perlu memiliki kemandirian, tidak hanya secara emosional, tetapi juga dalam kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Memiliki nilai diri, membuka peluang dan berani menemukan potensi terbaik yang dimiliki.
Menurutnya, perempuan tidak seharusnya hanya menunggu atau bergantung, tetapi juga mampu menghasilkan, berkarya dan menciptakan ruangnya sendiri. “Perempuan harus punya pegangan. Kita harus bisa berdiri di kaki sendiri dan menemukan potensi kita masing-masing,” tegasnya.
Ia juga melihat bahwa bekerja dan berkarya bukan hanya tentang pencapaian materi, tetapi bagian dari proses merawat diri, baik secara mental maupun intelektual. Dengan terus berpikir, belajar dan berkembang, perempuan sejatinya sedang membangun versi terbaik dari dirinya.
Jejak Perubahan Masa Kini
Setiap tahun, peringatan Hari Kartini menjadi momentum untuk kembali merefleksikan peran dan kontribusi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Lebih dari sekadar ceremony, semangat Kartini terus hidup dan berkembang mengikuti zaman. Bagi dr. Dikes, semangat Kartini di era modern tidak lagi sekadar dimaknai sebagai simbol emansipasi, tetapi sebagai gerakan nyata yang hidup dalam setiap langkah perempuan masa kini.
Ia percaya bahwa perempuan memiliki peran besar dalam menciptakan perubahan melalui pengetahuan, profesi dan usaha yang dijalani. Ketiganya menjadi alat untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya relevan, tetapi juga berdampak luas bagi masyarakat.
“Perempuan bisa berkontribusi melalui apa yang ia miliki, yakni ilmu, profesi, maupun usaha, guna memberikan manfaat yang nyata,” ujar dr. Dikes.
Dalam praktiknya, hal tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai cara, mulai dari memberikan layanan yang berkualitas, menghadirkan inovasi yang menjadi solusi, hingga membuka ruang edukasi yang memberdayakan. Lebih dari itu, perempuan juga memiliki peran penting sebagai penggerak yang menginspirasi, membimbing, membuka peluang dan membantu perempuan lain menemukan potensi terbaik dalam dirinya.
Dari Praktisi untuk Praktisi
Lebih dari sekadar mengembangkan klinik dan produk, dr. Dikes juga membangun sebuah ekosistem kolaborasi yang mempertemukan para praktisi di bidang estetika. Melalui perannya sebagai dokter formulasi dan formulator, ia tidak hanya menciptakan produk untuk kebutuhan pribadi maupun kliniknya, tetapi juga menjadi rujukan bagi banyak dokter lain yang ingin mengembangkan lini skincare mereka. Mulai dari serum, body lotion, hingga face mist. Setiap formulasi disusun berdasarkan kebutuhan spesifik, dengan pendekatan ilmiah dan pengalaman klinis yang matang.
Menariknya, ruang kolaborasi ini secara khusus diperuntukkan bagi kalangan dokter. Hal ini bertujuan untuk menjaga standar medis sekaligus memastikan bahwa setiap produk yang dikembangkan tetap berada dalam koridor yang aman dan bertanggung jawab.
Tidak hanya itu, dr. Dikes juga aktif menjadi tempat bertanya dan berdiskusi bagi para dokter yang masih baru dalam menangani pasien atau mengembangkan produk. Bersama tim dan jaringan profesional yang dimiliki, ia membantu memberikan arahan mulai dari pemilihan formulasi hingga rekomendasi penggunaan produk yang tepat.
Sejak 2019, tercatat ratusan dokter dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jakarta, Sulawesi, hingga Kalimantan telah terhubung dalam jejaring ini. Sebuah angka yang terus bertumbuh, sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam membangun industri yang sehat dan berkelanjutan.
Dalam prosesnya, para dokter juga diberikan kebebasan untuk mengembangkan brand mereka sendiri. Namun, dr. Dikes tetap memberikan panduan dan rekomendasi, termasuk dalam memilih mitra produksi (maklon) yang difokuskan untuk kalangan dokter, sehingga proses formulasi hingga produksi dapat berjalan lebih terkontrol. “Yang terpenting, mereka paham dan bisa membantu pasien dengan baik,” ujarnya.
Fokus pada Anti Aging Berbasis Sel
Sebagai dokter yang mendalami bidang anti aging, dr. Dikes memiliki pendekatan yang cukup spesifik dalam mengembangkan setiap formula yang ia ciptakan. Tidak hanya berfokus pada perawatan di permukaan kulit, ia justru menaruh perhatian lebih pada kesehatan di tingkat sel.
Baginya, perawatan kulit yang ideal bukan sekadar memperbaiki, tetapi juga mampu memperlambat proses penuaan sejak dini. Karena itu, setiap formula yang dikembangkan selalu melalui pertimbangan mendalam, tidak hanya dari sisi manfaat, tetapi juga dampak jangka panjang bagi kulit.
“Apapun yang kami formulasikan, selalu kami pikirkan baik buruknya untuk kulit. Karena tujuan kami bukan hanya hasil instan, tetapi bagaimana kulit bisa tetap sehat dalam jangka panjang,” jelasnya.
Pendekatan ini menjadi pembeda yang ingin ia bangun. Ia memposisikan dirinya tidak hanya sebagai praktisi estetika, tetapi juga sebagai dokter yang fokus pada pencegahan penuaan dini melalui pendekatan ilmiah.
Lebih jauh, dr. Dikes juga mengintegrasikan konsep personalisasi dalam perawatan, salah satunya melalui peta potensi berbasis STIFIn yang mendeteksi kecenderungan genetik melalui sidik jari. Pendekatan ini membantu memahami karakter dasar individu, termasuk dalam menentukan pola perawatan yang lebih tepat.
Tak hanya itu, ia juga mengembangkan pendekatan nutrigenomik, yaitu penyesuaian pola konsumsi makanan berdasarkan DNA masing-masing individu. Dengan memahami kebutuhan tubuh secara lebih spesifik, ia meyakini proses penuaan dapat diperlambat secara lebih optimal dari dalam.
Melalui pendekatan yang menyeluruh ini, dr. Dikes ingin menghadirkan konsep perawatan yang tidak hanya berfokus pada kecantikan luar, tetapi juga pada kesehatan sel sebagai fondasi utama
Memberi Arti dengan Berbagi
Di tengah kesibukan sebagai dokter, pengusaha dan Ibu Persit, dr. Dikes tetap menyisihkan ruang untuk berbagi dan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan sosial. mulai dari edukasi kesehatan kulit, program pemberdayaan perempuan, hingga kegiatan pengabdian di masyarakat terkait kesehatan dan kecantikan.
Salah satunya saat mendampingi sang suami bertugas sebagai Danyon, ia menginisiasi berdirinya Warung Mak Taji, sebuah ruang sederhana untuk mendukung UMKM dari kalangan Persit di lingkungan batalyon. “Di Warung Mak Taji ini, mereka bisa menjual hasil usaha rumahan mereka, sehingga punya ruang untuk berkembang dan merasa lebih percaya diri dengan karya yang dimiliki. Semasa tinggal di lingkungan ini pula banyak inspirasi bisnis yang saya cetuskan. Diantranya meluncurkan brand Tajibeauty,” tutur dr. Dikes.
Ditekan dr. Dikes, kegiatan-kegiatan sosial tersebut menjadi ladang untuk menebar manfaat kepada sesama. Karena menurut perempuan berzodiak Aries ini, keberhasilan tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang bisa dirasakan oleh orang lain di sekitarnya.
“Dampaknya terasa dua arah. Secara pribadi, kegiatan sosial membuat saya lebih empati, sabar dan memahami kebutuhan orang lain secara mendalam. Sementara dalam perjalanan usaha, hal tersebut justru menjadi pengingat bagi saya untuk terus menghadirkan produk dan layanan yang benar-benar relevan dan bermanfaat. Karena dari interaksi langsung dengan masyarakat, saya bisa melihat kebutuhan nyata yang mungkin tidak selalu terlihat dari sisi bisnis semata,” terang dr. Dikes.
Bagi perempuan ayu yang baru saja merayakan hari jadi ini, kegiatan sosial bukan hanya tentang memberi, tetapi juga proses belajar dan bertumbuh. Dari sana ia belajar bahwa setiap hal yang dilakukan dapat memberikan dampak berarti buat orang lain. “Dan ketika kita bisa tumbuh bersama, di situlah nilai sesungguhnya dari sebuah perjalanan dibangun,” tutupnya.
Info Lebih Lanjut:
Instagram : @dmdbeautyclinic @dksglow_official @tajibeauty_botanical_202







