Crowdfunding Typography Banner
Pimpinan Proyek Symphonyland

Siti Fatimah, Terus Produktif dan Bermanfaat bagi Diri, Keluarga dan Lingkungan

Bagikan:

1

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Era digital memberikan banyak tantangan. Hal itu pun dirasakan Siti Fatimah yang berkarier  di bidang properti. Wanita kelahiran Pacitan, 10 Oktober ini, menilai ada beberapa tantangan yang dihadapi antara lain kesenjangan keterampilan digital, ancaman otomatisasi yang menggantikan pekerjaan manusia, tantangan keseimbangan kerja dengan kehidupan pribadi, serta risiko keamanan siber seperti peretasan dan kebocoran data.

“Di ranah kelurga tantangan yang timbul antara lain berkurangnya interaksi sosial/tatap muka dan potensi kecanduan digital yang dapat memicu masalah kesehatan mental bagi semua anggota keluarga,” papar wanita cantik yang akrab disapa Siti ini.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, Siti berusaha lebih mawas diri, meng- upgrade diri dengan meningkatkan keterampilan digital seperti online learning atau kursus digital. “Kita juga harus melakukan inovasi produk atau jasa, memiliki keterampilan sebagai content creator atau layanan desain grafis serta membangun kolaborasi dan jaringan yang kuat,” tegas Siti yang juga aktif sebagai  pengurus di beberapa organisasi seperti KONI Kepri dan Perbakin Kepri.

Di perjalanan kariernya, Siti bersyukur dapat mengatasi berbagai tantangan dan dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai Pimpinan Proyek Symphonyland. Lulusan SMA ini berusaha untuk terus mengembangkan kariernya di bidang properti yang memasarkan beberapa tipe rumah baik cluster deret maupun couple. “Beberapa tipe terdiri dari tipe 38, 45, 52 dan 60 ada yang progress di lapangan dan ada yang ready. Cara pembayarannya juga bisa dicicil bertahap dan dengan Kredit Pemilikan Rakyat (KPR),” jelasnya.

Prestasi terbesar Siti dalam karier adalah tercapainya target penjualan tahunan. Hal itu tak lepas dari kiat sukses yang ditanamkan yaitu disiplin, konsisten, kerja keras dan menetapkan tujuan yang jelas dan terukur. “Saya juga tidak malu untuk terus meng-upgrade diri dengan belajar dan mengasah keterampilan, membangun relasi yang luas serta memiliki pola pikir positif dan berani mengambil risiko, tampil percaya diri, elegan dan positive thinking,” paparnya ramah.

Cerdas Membagi Waktu

Di tengah kesibukan pekerjaan, Siti berusaha membagi waktu antara karier, keluarga dan dunia sosial. Ia selalu membuat schedule waktu untuk berkarirr, untuk keluarga dan untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti beberapa organisasi yang diikuti.

“Pastinya kita harus prioritaskan yang mendesak dengan cara membuat jadwal teratur, buat list setiap malam lalu selesaikan pekerjaan berdasarkan prioritas, serta bijak membagi waktu untuk me time bersama kelurga dan kerabat,” tambahnya.

Siti menekankan bahwa ia yang harus bisa mengatur waktu, bukan waktu yang mengatur dirinya. Kalau kita ikuti waktu selalu ada banyak alasan untuk bisa melewatkan beberapa jadwal dan program yang sudah kita susun. “Itulah kenapa saya selalu menyusun jadwal setiap hari dari saya bangun tidur sampai mau tidur dan berulang seterusnya. Waktu sebelum tidur saya sudah susun jadwal apa saja yang akan saya lakukan esok harinya dan Alhamdulillah sampai dengan hari ini saya bisa konsisten seperti melakukan olahraga rutin selama satu sampai dua jam di pagi hari sebelum memulai aktivitas kantor, jadwal untuk perawatan, pengajian dan juga me time bersama kelurga sudah tersusun rapi kapan waktunya,” jelas  wanita yang hobi olahraga kalistenik, menembak, tenis, dan lari ini.

Di tengah padatnya aktivitas, ada satu resep Siti untuk menjaga tetap awet muda, cantik dan bugar. Ia berusaha positive thinking, tersenyum dan selalu bersyukur. “Saya selalu ridho dan ikhlas apa pun yang kita hadapi, saya berusaha untuk tetap tenang dan tidak lupa selalu berdoa kepada Allah SWT agar selalu dimudahkan dalam segala urusan,” jelas wanita yang terinspirasi sosok Nabi Muhammad SAW dan Jusuf  Hamka ini.

Siti berharap dapat terus produktif dan bermanfaat untuk diri, kelurga dan orang-orang di sekelilingnya. Ia juga  berusaha terus meng-upgrade diri agar tidak ketinggalan dengan perkembangan teknologi ke depan.

Menghormati Seorang Ibu Setiap Saat dalam Hidup

Walaupun hanya lulusan SMA, Siti sukses dalam karier dan pendidikan anak-anaknya. Siti terharu dan bangga saat menghadiri wisuda anak pertamanya.”Saat itu anak saya mengatakan bahwa gelar sarjana yang ia raih buat Mama karena Mama cuma  lulusan SMA tapi Mama mampu mensarjanakan anaknya dengan jerih payah Mama sendiri,” kenang ibu dari Afifah Agustya Rizyany (S1 Pendidikan) dan Adyatma Rizkyawan (semester 7 Teknik Industri).

Sebagai single parent, Siti berharap kedua anaknya menjadi pribadi yang berakhlak dan  berbudi pekerti baik. “Percuma setinggi apapun gelar mereka atau jabatan mereka kelak, jika akhlaknya tidak baik maka tidak ada artinya semua yang mereka miliki. Saya juga berharap mereka menjadi anak-anak yang taat pada Allah SWT, rendah hati dan bermanfaat bagi sesama,” harapnya.

Siti  juga menekankan pada anak-anaknya untuk memberikan penghormatan dan bakti kepada Ibu setiap saat, bukan hanya pada hari tertentu saja. Bahkan tiap doa, tiap detik, tiap saat kita harus selalu memberikan yang terbaik, mendoakan, menghormati dan menyayangi Ibu kapanpun dan di manapun. “Jadi menurut saya tidak ada Hari Ibu, karena begitu besarnya jasa dan istimewanya seorang Ibu,” ujarnya.

Dalam pola asuh yang diterapkan kepada anak-anaknya agar kelak tidak menjadi generasi strawberry, Siti selalu menjaga komunikasi dengan baik, mengajak anak-anak selalu terbuka dalam segala hal dan menganggap dirinya seperti teman sehingga terjalin obrolan yang membuat anak-anak nyaman dan terbuka, namun tetap dalam koridor antara orang tua dan anak.

Menurut Siti jangan memaksakan kehendak kita sebagai orang tua yang wajib diikuti anak-anak, seperti memilih jurusan saat masuk ke jenjang universitas dan lainnya. Berikan anak-anak ruang untuk bebas menentukan pilihan dengan catatan mereka harus bertanggung jawab atas apa yang mereka pilih. Beri kesempatan untuk anak-anak menghadapi tantangan dan dukung mereka dalam mengambil risiko yang aman. Dengan demikian mereka belajar memahami dan menghadapi risiko secara bertanggung jawab.

Bagikan:

Bagikan: