MajalahInspiratif.com, Jakarta – Di tengah dinamika politik dan perkembangan dunia modern yang bergerak begitu cepat, sosok Apt. Destita Khairilisani, S.Farm., M.S.M. hadir sebagai figur perempuan Indonesia yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga menginspirasi banyak orang melalui kerja nyata, dedikasi, dan ketulusan dalam melayani masyarakat. Dikenal dengan panggilan Destita Senator Kerudung Putih, ia adalah anggota DPD RI/MPR RI dari Bengkulu yang membawa napas baru dalam kepemimpinan perempuan di tingkat nasional.
Kehidupan Awal, Pendididkan sampai Perjalanan Karir
Lahir di Semarang pada 9 Desember 1982, Destita tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menanamkan nilai kerja keras dan cita-cita besar. Tekadnya untuk berkiprah secara global mendorongnya menempuh pendidikan tinggi di salah satu universitas terbaik Indonesia, Universitas Indonesia, mulai dari Sarjana Farmasi (2005), Profesi Apoteker (2006), hingga meraih Magister Sains Manajemen (M.S.M.) pada tahun 2022.
Karier Destita dimulai pada tahun 2006, ketika ia bergabung dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk proyek di BPOM dan Kementerian Kesehatan sebagai Asisten sekaligus Sekretaris para ahli farmasi dari Jepang. Dua tahun kemudian, ia melanjutkan karier di industri farmasi multinasional, PT Mitsubishi Tanabe Pharma Indonesia (MTPI), perusahaan farmasi asal Osaka, Jepang.

Keahliannya dalam pengembangan bisnis membuatnya dipercaya memimpin operasional perusahaan di tujuh negara ASEAN, termasuk Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina, hingga Sri Lanka. Pengalaman internasional yang luas inilah yang kemudian menjadi pijakan kuat dalam perjalanan kariernya. Berbekal rekam jejak belasan tahun di industri farmasi Jepang, Destita kemudian bergabung dengan perusahaan farmasi Amerika Serikat, PT Abbott Indonesia, dan dipercaya mengelola berbagai divisi strategis seperti Regulatory Affairs, Quality Assurance, Medical, hingga Pharmacovigilance.
Titik balik datang menjelang Pemilu, ketika dorongan untuk berkontribusi dalam memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat di tanah kelahiran Ayahanda di Bengkulu semakin kuat. Meskipun menjadi pendatang baru di dunia politik dan turun di daerah yang relatif baru baginya, perjuangannya membuahkan hasil besar. Dengan 201.888 suara, Destita resmi menjadi Senator mewakili Provinsi Bengkulu di DPD RI Senayan.
Keseimbangan Antara Karier dan Keluarga
Bagi ibu dua anak ini, tantangan terbesar di era digital bukan hanya adaptasi teknologi, tetapi bagaimana menjaga batas antara tuntutan profesional dan kehidupan keluarga. Di tengah derasnya arus informasi, ia berpegang pada prinsip integritas dan akurasi dalam setiap komunikasi publik.
“Memasuki era digital yang serba cepat dan dinamis, tantangan terbesar yang saya rasakan terletak pada upaya menjaga keseimbangan antara tanggung jawab profesional dan kehidupan keluarga. Dalam konteks karier, tantangan terbesar adalah menjaga kredibilitas dan integritas di tengah derasnya arus informasi digital yang sering kali memiliki nilai informasi yang salah atau tidak valid. Media sosial, misalnya, menjadi ruang yang sangat terbuka namun juga rentan terhadap misinformasi dan opini yang bias.”
Sementara sebagai Anggota DPD, Destita dituntut untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran, objektivitas, dan etika publik dalam setiap langkah maupun pernyataan yang ia sampaikan di ruang digital.
Dari sisi keluarga, rintangan yang seringkali muncul adalah bagaimana memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak menggeser makna kebersamaan. Di tengah kesibukan dan keterhubungan digital yang nyaris tanpa batas, Destita belajar bahwa kualitas komunikasi dan kehadiran emosional jauh lebih penting daripada sekadar konektivitas daring.
“Saya selalu berupaya menciptakan ruang yang seimbang di mana tanggung jawab publik tetap berjalan, namun keharmonisan keluarga tidak terabaikan. Pada akhirnya, saya meyakini bahwa kunci menghadapi era digital bukan hanya soal kemampuan beradaptasi dengan teknologi, melainkan juga tentang mempertahankan nilai, integritas, serta kedekatan kemanusiaan di tengah kemajuan yang serba cepat ini.”
Destita selalu menempatkan integritas, komitmen, dan empati sebagai dasar kepemimpinan. Ia meyakini bahwa keputusan terbaik lahir dari hati yang jujur dan keberpihakan kepada rakyat. Gaya kepemimpinannya yang partisipatif membuatnya dekat dengan aspirasi masyarakat daerah.
“Bagi saya, kepemimpinan bukan sekadar posisi atau jabatan, melainkan amanah moral untuk melayani dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Nilai utama yang selalu saya pegang dalam menjalankan tugas adalah integritas, komitmen, dan empati. Integritas menjadi fondasi dalam setiap keputusan, sebab kepercayaan publik tidak dibangun dari kata-kata, melainkan dari konsistensi tindakan.”
Selain itu, istri dari Arief M Rakhman, S.Farm., ME. ini berpegang pada prinsip kepemimpinan partisipatif, di mana setiap kebijakan dan langkah harus berangkat dari suara rakyat, bukan semata-mata dari perspektif lembaga.
“Dalam menjalankan peran di DPD, saya berusaha mendengarkan, memahami, dan mengakomodasi berbagai aspirasi yang datang dari masyarakat daerah, agar setiap kebijakan memiliki keberpihakan yang nyata.”
Ia juga berkomitmen menghadirkan keteladanan di ruang publik, menjadi pemimpin yang tidak hanya memerintah, tetapi mendengarkan dan membangun semangat kolaboratif untuk kepentingan rakyat dan kemajuan bangsa.
“Bagi saya, menjadi pemimpin berarti mampu menyeimbangkan visi dan hati nurani, serta memastikan setiap langkah yang diambil selalu berpihak pada kepentingan rakyat dan kemajuan bangsa.”

Prestasi dan Penghargaan
Beberapa pencapaian dan penghargaan pun diraih oleh perempuan yang hobi membaca dan travelling ini, diantaranya terpilih sebagai Best Woman Leader dalam Asia Global Awards yang diselenggarakan di Bali 17 November 2025. Destita juga terpilih untuk mengikuti Congressional International Leadership Program yang diselenggarakan oleh US Congress di Washington DC dan Denver, Amerika Serikat. Disamping itu, Destita juga mendukung program pemberdayaan 1000 UMKM Bengkulu melalui LPW Melati dan turut serta secara aktif mengadvokasi pembentukan Dewan Kesenian Provinsi Bengkulu. Rangkaian prestasi ini menjadi bukti nyata kiprah Destita dalam pembangunan masyarakat dan pemberdayaan perempuan.
Me Time dan Cara Tetap Bugar
Kesibukan yang menyita banyak waktu di kursi Dewan sampai pekerjaannya sebagai pemilik salah satu perusahaan, Destita tetap memiliki me time. Baginya me time adalah kebutuhan, bukan kemewahan.
“Dengan berbagai tanggung jawab di karier maupun keluarga, saya menyadari pentingnya meluangkan waktu untuk diri sendiri, bukan untuk berjarak dari kesibukan, tetapi untuk memulihkan energi dan menjaga ketenangan batin.”
Destita juga memiliki cara agar tubuhnya tetap bugar. Olahraga ringan, stretching, dan berjalan pagi menjadi rutinitas penting untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Ia juga menerapkan pola makan sehat dan perawatan alami untuk menjaga kesehatan kulit dan energi tubuh.
“Saya berusaha menjaga rutinitas sederhana seperti berolahraga ringan, berjalan pagi, atau stretching agar tubuh tetap aktif. Kegiatan itu tidak hanya membuat saya lebih bugar, tapi juga membantu menjaga suasana hati tetap positif. Selain itu, saya juga memperhatikan pola makan, istirahat yang cukup, dan menjaga pikiran tetap tenang karena menurut saya, kecantikan sejati berasal dari tubuh yang sehat dan hati yang bahagia.”
Dalam hal perawatan diri, Destita memilih dengan cara alami dan tidak berlebihan. Caranya cukup menjaga kebersihan kulit, minum air putih yang cukup, serta merawat diri dengan disiplin.
“Saya percaya kecantikan tidak melulu soal riasan, tetapi bagaimana kita memancarkan ketulusan dan rasa percaya diri.”
Selain itu, menurut Destita, realaksasi juga sangat penting untuknya. Ia biasanya menyempatkan waktu refreshing bersama keluarga atau teman, entah sekadar menikmati kopi, membaca buku, atau berjalan di tempat yang tenang.
“Kegiatan sederhana seperti itu sering kali memberi saya energi baru dan membantu saya tetap fokus ketika kembali bekerja.”
Destita percaya bahwa perempuan akan selalu terlihat cantik dan awet muda ketika ia mampu mencintai dirinya sendiri, bersyukur, dan menjaga keseimbangan hidup. “Ketika hati tenang dan pikiran bahagia, semuanya akan terpancar dengan sendirinya.”

Manajemen Waktu: Karier, Keluarga, dan Sosial
Dengan jadwal yang padat, Destita mengandalkan disiplin dan perencanaan. Ketika bekerja, ia fokus penuh pada tugas. Namun saat bersama keluarga, ia benar-benar hadir tanpa gangguan pekerjaan. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi sosial karena meyakini bahwa hidup lebih bermakna ketika bisa memberi manfaat kepada orang lain.
“Membagi waktu antara karier, keluarga, dan dunia sosial adalah soal keseimbangan dan kesadaran akan prioritas. Saya selalu percaya bahwa setiap peran memiliki tanggung jawab dan waktunya masing-masing, sehingga kuncinya adalah bagaimana saya bisa hadir secara penuh di setiap situasi. Dalam menjalankan karier, saya berusaha disiplin dengan jadwal dan target.”
Keluarga bagi Destita adalah sumber kekuatan dan inspirasi. Karena itu, sesibuk apa pun, ia selalu menyempatkan waktu untuk makan bersama, berbagi cerita, atau sekadar bercengkerama. Momen kecil seperti itu sangat berarti karena dari situlah muncul ketenangan dan semangat baru untuk kembali beraktivitas.
Sementara untuk dunia sosial, Destita percaya pentingnya tetap berkontribusi dan berinteraksi dengan masyarakat. Ia selalu terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi perempuan. Menurutnya hidup akan lebih bermakna ketika kita bisa berbagi dan memberi manfaat bagi orang lain.
“Intinya, semua kembali pada manajemen waktu dan niat yang tulus. Saya percaya, ketika kita menjalani setiap peran dengan hati, semuanya bisa berjalan selaras, karier tetap maju, keluarga bahagia, dan kehidupan sosial tetap terjaga.”
Kiat Meraih Kesuksesan
Menurut Destita, kesuksesan bukan hanya pencapaian jabatan, tetapi kemampuan memberi manfaat. Ada beberapa prinsip yang dia pegang sebagai kiat suksesnya mulai dari keluarga, karier dan masyarakat.
Pertama, menurut Destita, adalah konsistensi dan integritas. Jadi apapun yang dia kerjakan maka akan selalu berusaha melakukan dengan sepenuh hati dan sesuai dengan nilai-nilai yang dipegang.
Kedua, disiplin dan manajemen waktu. Destita terbiasa menata hari dengan rencana yang jelas, kapan harus bekerja, kapan harus bersama keluarga, dan kapan harus beristirahat. Dengan begitu, semuanya bisa berjalan seimbang tanpa saling mengorbankan.
Ketiga, menambahkan rasa ingin belajar yang tidak pernah padam. Dunia terus berubah, apalagi di era digital seperti sekarang. Oleh karena itu, Destita berusaha terus memperbarui diri, terbuka pada ide-ide baru, dan mau belajar dari siapa pun, tanpa memandang usia atau latar belakang.
Keempat, membangun jaringan dan kolaborasi. Bagi Destita, tidak ada kesuksesan yang dicapai sendirian, itu artinya dengan bekerja sama dan saling menguatkan, hasilnya akan lebih besar dan berdampak lebih luas.
Kelima, menjaga keseimbangan karier, spiritualitas dan kebahagiaan pribadi. Destita mengaku selalu berusaha menjaga keseimbangan antara karier, spiritualitas, dan kebahagiaan pribadi.
“Karena bagi saya, kesuksesan sejati adalah ketika kita bisa bahagia menjalani hidup, memberi manfaat, dan tetap rendah hati dalam setiap langkah.”
Sang Ibunda Tercinta Menjadi Sosok Inspiratif
Sumber inspirasi terbesar Destita adalah Ibunda tercinta, figur perempuan kuat yang mengajarkan keteguhan, kesabaran, dan ketulusan. “Bagi saya, sosok yang paling menginspirasi adalah Ibu saya sendiri. Beliau adalah contoh nyata tentang kekuatan, ketulusan, dan keteguhan hati seorang perempuan. Dari beliau saya belajar arti kesabaran, kerja keras, dan bagaimana menjalani hidup dengan penuh rasa syukur.”
Menurutnya, Sang Bunda selalu menanamkan nilai bahwa apa pun yang kita lakukan harus dilandasi dengan niat baik dan kejujuran, karena itulah yang akan membawa kita pada keberkahan hidup.
Selain itu, Destita juga mengagumi tokoh-tokoh perempuan Indonesia seperti R.A. Kartini dan Sri Mulyani, serta orang-orang sederhana di sekitarnya yang tetap berbuat baik tanpa pamrih. “Saya juga banyak terinspirasi oleh tokoh-tokoh perempuan Indonesia yang mampu menyeimbangkan peran sebagai ibu, istri, sekaligus pemimpin. Sosok-sosok yang menjadi pengingat bahwa perempuan memiliki potensi luar biasa untuk berkontribusi di ruang publik tanpa kehilangan keanggunannya sebagai perempuan.”
Harapan Karier dan Rencana ke Depan
Destita berkomitmen memperkuat program pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan dan generasi muda, melalui bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kreatif. Ia ingin mengembangkan kolaborasi lintas sektor agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar membawa perubahan nyata.
“Harapan saya dari karier yang saya jalani adalah agar setiap langkah dan tanggung jawab yang saya emban dapat membawa manfaat bagi masyarakat luas. Saya ingin kehadiran saya, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari lembaga, dapat memberikan kontribusi nyata, bukan hanya dalam bentuk kebijakan, tetapi juga dalam semangat dan keteladanan.”
Selain itu, Destita juga percaya bahwa karier bukan sekadar perjalanan untuk mencapai posisi tertentu, melainkan proses untuk memberi makna dan dampak positif bagi orang lain. Karena itu, ia ingin terus mengembangkan diri, memperluas wawasan, dan membangun kolaborasi lintas bidang agar bisa lebih efektif dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat, khususnya perempuan dan generasi muda.
“Saya memiliki rencana untuk memperkuat program-program pemberdayaan masyarakat dan perempuan, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kreatif. Saya ingin membantu membuka lebih banyak ruang bagi perempuan untuk berkembang dan berdaya, sekaligus menumbuhkan semangat kepemimpinan yang beretika dan berintegritas.”
Meskipun perjalanan masih panjang tetapi Destita yakin selama niatnya tulus dan langkahnya konsisten dia percaya setiap upaya kecil akan membawa perubahan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa.
Makna Hari Ibu: Cinta Tanpa Syarat
Hari Ibu adalah momen refleksi untuk menghargai perjuangan seorang ibu yang penuh cinta dan pengorbanan. Bagi Destita, Hari Ibu adalah momen refleksi atas cinta tanpa syarat yang diberikan seorang ibu. Sosok ibu adalah sumber kekuatan, tempat belajar tentang kesabaran, dan teladan dalam ketulusan.
“Hari Ibu bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi momen refleksi untuk menghargai peran dan ketulusan seorang ibu dalam segala bentuknya. Seorang ibu bukan hanya sosok yang melahirkan dan membesarkan, tetapi juga sumber kekuatan, cinta tanpa syarat, dan inspirasi yang membentuk karakter setiap generasi.”
Hari Ibu mengingatkan Destita pada perjuangan dan pengorbanan yang sering kali dilakukan dalam diam. “Dari Ibu, saya belajar arti keteguhan, kesabaran, dan bagaimana mencintai tanpa pamrih. Nilai-nilai itu yang selalu saya bawa dalam setiap langkah baik dalam keluarga, karier, maupun pengabdian sosial.”
Sebagai ibu, ia merasa peran ini adalah anugerah terbesar dan sumber makna hidup yang sesungguhnya. Menjadi ibu juga memberinya makna hidup yang mendalam, bahwa keberhasilan sejati adalah ketika seseorang mampu menumbuhkan kebaikan di sekelilingnya.
“Hari Ibu adalah pengingat untuk selalu menghormati, merayakan, dan meneruskan semangat para ibu: kuat, lembut, dan penuh kasih. Karena di tangan merekalah, lahir generasi masa depan yang tangguh dan berakhlak.”
Harapan dan Pola Asuh: Mencetak Generasi Tangguh
Destita memiliki harapan untuk kedua anaknya, yakni Rama, yang saat ini duduk di bangku SMA dan Jasmine di bangku SMP. Ia ingin kedua anaknya tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama. Namun Destita tidak menuntut mereka untuk menjadi yang paling hebat atau paling sukses di mata dunia, tetapi ia ingin mereka menjadi manusia yang punya hati yang tahu bagaimana menghargai orang lain, menghormati perbedaan, dan selalu berbuat kebaikan di mana pun berada.
“Saya berharap mereka tumbuh dengan keberanian untuk bermimpi besar, namun tetap rendah hati dan bersyukur atas setiap proses. Dunia mungkin akan terus berubah, tapi nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, dan kasih sayang harus tetap menjadi pegangan hidup mereka.”
Destita juga berusaha untuk tidak hanya menjadi pengasuh, tapi juga sahabat dan panutan, tempat mereka bisa bercerita, bertanya, dan belajar. Ia ingin kedua anaknya tahu bahwa apa pun yang terjadi, mereka selalu punya rumah untuk kembali, tempat yang menerima dengan cinta dan doa yang tak pernah putus.
“Kebahagiaan terbesar seorang ibu bukan diukur dari seberapa tinggi pencapaian anak-anaknya, tetapi dari bagaimana mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik, bahagia, dan bisa membawa kebaikan bagi banyak orang.”
Destita menerapkan pola asuh yang seimbang antara kasih sayang dan kedisiplinan kepada kedua anaknya yang beranjak dewasa. Ia mengajak anak-anak untuk mandiri, belajar dari kesalahan, dan tidak takut menghadapi tantangan dan bertanggung jawab.
Destita percaya tugas orang tua masa kini bukan hanya membesarkan anak, tetapi juga membentuk karakter kuat dan tanggung jawab agar siap menghadapi dunia yang terus berubah. Ia tidak ingin anak-anaknya menjadi generasi yang mudah menyerah atau terlalu nyaman dengan kemudahan yang sering disebut ‘Generasi Strawberry’.
“Maka sejak dini, saya biasakan mereka untuk mandiri, berjuang, dan tidak takut gagal. Ketika mereka menghadapi kesulitan, saya tidak langsung memberi solusi, melainkan mengajak mereka mencari jalan keluar sendiri. Dengan begitu, mereka belajar berpikir kritis dan membangun mental tangguh. Juga menanamkan nilai spiritual, empati, dan tanggung jawab yang menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter mereka.”







