MajalahInspiratif.com, Jakarta – Perempuan harus maju. Mengapa? Ada banyak alasan mengapa perempuan harus maju. Secara religius, kedudukan perempuan dan laki-laki di mata Tuhan Yang Maha Esa adalahsama. Perempuan dan laki-laki merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang sama harkat dan martabatnya, harus saling mengisi dalam kebaikan untuk mencapai kehidupan yang baik. Laki-laki dan perempuan berpotensi meraih prestasi.
Banyak analisis yang menyatakan bahwa untuk mencapai pembangunan yang maksimal, maka perempuan harus maju dan berperan secara setara dalam pembangunan. Karena itu, upaya memajukan perempuan melalui berbagai kebijakan dan program, terus dilakukan oleh Pemerintah.

Perempuan adalah separuh dari penduduk, yang kualitas hidup dan kemajuannya ikut menentukan kemajuan bangsa dan negara. Semakin banyak bukti bahwa perempuan dapat menyumbang dan telah berkontribusi besar dalam pembangunan. Pendidikan perempuan yang lebih baik, telah terbukti meningkatkan derajat kesehatannya, derajat kesehatan dan gizi anak/keluarga. Pendidikan perempuan yang baik dapat meningkatkan sumbangsih perempuan pada perekonomian. Perempuan yang berdaya secara ekonomi, cenderung mengalokasikan sebagian besar pendapatan mereka untuk kebutuhan dasar keluarga, seperti gizi, kesehatan, dan pendidikan anak-anak.
Dalam zaman yang penuh dengan kemajuan teknologi, maka kemampuan intelektual lebih mengemuka daripada kemampuan fisik. Banyak masalah dapat diselesaikan lebih baik jika perempuan berpartisipasi. Demokrasi dan kepemerintahan akan lebih efektif jika perempuan berpartisipasi di dalamnya. Penyelesaian konflik akan lebih berhasil manakala perempuan ikut di dalamnya. Perencanaan pembangunan menjadi lebih adil dan berorientasi pada kesejahteraan, manakala perempuan dapat berperan secara signifikan.
Bagaimana dengan anak? Anak yang akan menggantikan kita, yang akan melanjutkan perjuangan untuk kejayaan bangsa dan negara. Saat ini anak adalah sepertiga dari jumlah penduduk dan dalam waktu yang singkat, mereka yang kita harapkan dapat mewujudkan Indonesia Emas 2045. Karena itu, anak-anak harus mendapat perhatian sebesar cita-cita yang kita tanamkan pada mereka.
Kesejahteraan anak memang semakin baik, namun masih ada tantangan besar yang harus dihadapi oleh anak Indonesia, diantaranya adalah menjadi korban kekerasan, dan diperdagangkan. Bagaimanapun, anak-anak juga harus maju, kendala tumbuh kembang harus dikurangi bahkan dihilangkan agar mereka dapat mencapai kemampuan terbaik menjadi sumber daya pembangunan yang handal.
Partisipasi dan Kontribusi Perempuan Semakin Signifikan
Menurut Menteri Arifah partisipasi dan kontribusi perempuan dalam pembangunan semakin signifikan. Ditunjukkan dengan semakin kecilnya kesenjangan pembangunan perempuan dan laki-laki dari angka Indeks Pembangunan Gender (IPG). “IPG tahun 2024 menunjukkan angka 91,85 yang mengindikasikan kesenjangan pembangunan antara laki-laki dan perempuan relatif kecil atau semakin rendah.”
Kontribusi perempuan di bidang ekonomi juga menunjukkan cukup besar, antara lain, dilihat dari angka partisipasi perempuan dalam angkatan kerja, kepemilikan UMKM dan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Program Unggulan KemenPPPA
Dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo dan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo untuk mempercepat peningkatan kualitas di berbagai sektor, Kementerian PPPA memiliki tiga program unggulan.
Pertama adalah Ruang Bersama Indonesia (RBI), melanjutkan program Menteri PPPA sebelumnya, Bintang Puspayoga, yaitu program Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA).
Investasi besar untuk peningkatan kualitas hidup SDM, termasuk perempuan dan anak, termasuk melalui program-program prioritas Presiden Prabowo Subianto, seperti Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, Makan Bergizi Gratis, Cek Kesehatan Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, harus dikawal seluruh kementerian/lembaga, termasuk Kementerian PPPA, agar memberikan hasil yang maksimal.
Untuk melakukan hal itu, Menteri Arifah menginisiasi Ruang Bersama Indonesia (RBI). Lewat RBI Menteri Arifah ingin mewujudkan desa ideal, yang tidak ada stunting, tidak ada kekerasan terhadap perempuan dan anak, semua anak bersekolah dan perempuan berdaya. Ia menegaskan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut harus berkolaborasi dengan seluruh komponen dan bersinergi antar-kementerian/lembaga dan melibatkan masyarakat. Ada banyak kader/penggerak di tingkat desa seperti misalnya kader pembangunan manusia dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, pekerja sosial dan pendamping sosial dari Kementerian Sosial.
“Jadi semuanya ada, hanya saja selama ini mereka bekerja sendiri-sendiri. Nah di RBI ini ibaratnya kita mengikat lidi untuk bersama-sama berkolaborasi karena stunting bukan hanya masalah kesehatan semata tetapi bagaimana penguatan pangan keluarga, bagaimana pendidikan ibu tentang gizi. Ini harus menjadi satu kesatuan, tidak bisa sendiri. Persoalan anak tidak sekolah juga bukan hanya persoalan dunia pendidikan, tapi juga persoalan ekonomi keluarga, jadi harus bersama-sama menanganinya,” papar Menteri Arifah.
Program unggulan kedua Kementerian PPPA adalah penguatan layanan call center SAPA 129 untuk pengaduan kekerasan seksual. “Jadi ketika ada kasus yang mereka lihat bisa menelepon ke call center tersebut yang siap siaga 24 jam,” ujar Menteri Arifah.
Menteri Arifah berharap bisa dibangun solidaritas atau empati di tingkat desa. Apapun persoalan yang ada di desa bisa diselesaikan bersama-sama. “Jadi bagaimana kita bisa menguatkan anak-anak kita, menguatkan perempuan-perempuan kita. Ayo jaga anak-anak kita, jaga perempuan-perempuan kita, jaga keluarga kita agar mereka terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan,” ajaknya.
Berikutnya program unggulan ketiga dari Kementerian PPPA adalah Satu Data Perempuan dan Anak berbasis desa. “Kita akan tahu di satu desa jumlah anak dan perempuan berapa, usianya berapa, problemnya apa saja sehingga kita bisa eksekusi solusi yang tepat untuk dilakukan,” tambah Menteri Arifah.

Komitmen dan Dedikasi Seorang Pemimpin
Program unggulan Kementerian PPPA berkembang baik, salah satunya RBI yang saat ini ada di 6 desa percontohan. Menteri Arifah berharap kepemimpinan Kepala Desa di desa-desa ini bisa dijadikan contoh daerah lain. Ada satu kasus orang tua yang ingin menikahkan anaknya yang berusia 18 tahun 6 bulan di Kalimantan Selatan. Kepala Desa di daerah itu yang kebetulan perempuan tidak mengizinkan dan tetap mematuhi peraturan perundang-undangan bahwa usia minimal untuk menikah adalah 19 tahun.
“Kesimpulan saya ketika seorang pemimpin menjalankan sebuah amanah atau tugas yang ada di pundaknya sesuai dengan peraturan mungkin tidak akan banyak masalah. Lalu saya tanya Bu Kades daerah itu kenapa tidak diizinkan, padahal anak tersebut kurang 6 bulan lagi sudah berumur 19 tahun, ternyata jawabannya di luar dugaan. Beliau bilang, Bu Menteri saya tidak mau ada anak yang stunting dilahirkan di sini.”
Menteri Arifah semakin kagum, ternyata Kepala Desa itu pun membuat kebijakan yang luar biasa di desanya. Keluarga yang memiliki anak stunting diberikan 2 telor ayam matang. Kebijakan itu mampu menurunkan jumlah anak yang stunting. Ia juga membuat kebijakan bahwa desa menyiapkan makan siang gratis setiap hari bagi ibu hamil dan ibu menyusui.
“Ini luar biasa dan kita akan jadikan contoh dalam program RBI sehingga perempuan aman, anak nyaman, dan kondisi ekonomi meningkat dengan memberikan pelatihan keterampilan bagi para perempuan, seperti membuat jumputan. Kita tidak mau seperti pemadam kebakaran yang mengatasi saat sudah ada kasus. Tapi bagaimana kita menyelesaikan masalah dari tingkat keluarga karena sumber masalah ada di keluarga dan perempuan adalah manajer dalam keluarga,” tandas Menteri Arifah.
Sebagai orang nomor satu di Kementerian PPPA, Menteri Arifah ingin semua keluarga besar Kementerian PPPA bekerja dengan bahagia. “Itu kuncinya dan kita sedang membangkitkan kebahagiaan di antara kita karena saya yakin ketika kita bahagia akan bekerja dengan hati dan hasilnya tentu berbeda dibandingkan dengan sekadar bekerja hanya untuk menyelesaikan tugas,” ujarnya tersenyum.
Di momen Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember, bagi Menteri Arifah, bukan sekadar perayaan tanpa makna. Namun menjadi momentum gerakan perempuan Indonesia. “Perempuan Indonesia harus berpartisipasi dalam pembangunan dengan meningkatkan kualitas diri untuk menuju Indonesia Emas. Saya berharap perempuan Indonesia semakin berdaya dan terbebas dari segala bentuk kekerasan,” tandasnya ramah.
Terus Belajar dan Pantang Menyerah
Amanah sebagai Menteri PPPA menjadi prioritas pertama dalam karier Menteri Arifah Fauzi. Wanita kelahiran Madura, 28 Juli 1969 ini juga disibukkan dengan tugas yang diemban sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama periode 2025-2030. Istri dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Zastrow Al-Ngatawi ini, juga memiliki usaha event organizer konser musik religius Islami yang dikelola bersama sang suami. Saat mengadakan konser musik, biasanya dalam satu minggu bisa sampai 5 kota.
“Saat anak-anak dalam kandungan sampai anak-anak besar, kita sering bawa ke mana-mana. Anak-anak saya sudah biasa tidur di panggung. Selama ini suami saya tidak pernah melarang apapun yang saya lakukan. Suami saya tahu kalau saya tidak pernah macam-macam, jadi saling percaya antara suami dan istri,” terang wanita yang hobi traveling dan mendengarkan lagu-lagu lawas ini.
Kunci sukses Menteri Arifah adalah selalu memohon doa kepada Allah, mendoakan orang tua, ibu mertua, dan guru- guru yang berperan dalam pencapaiannya saat ini. Ia juga terus belajar dan pantang menyerah.
Menteri Arifah juga bersyukur suaminya sangat pengertian dan mendukung kariernya. Bahkan saat baru menikah, Sang Suami mendatangkan asisten rumah tangga untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. “Suami saya berfikir bahwa istri itu tugasnya bukan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Tapi menemani suami dan saya diberikan kebebasan untuk meningkatkan pengetahuan, pengalamaan dan sebagainya. Yang penting kita bisa mengatur waktu kapan suami kita membutuhkan,” ujarnya.
Aktivitas makan bersama terutama saat pagi hari dan nonton bersama keluarga merupakan aktivitas favorit Menteri Arifah. Ia berusaha menjadikan setiap aktivitas sebagai proses belajar, misalnya saat traveling melihat pemandangan indah, mengunjungi daerah dengan adat istiadat yang berbeda-beda, bertemu dengan banyak orang yang mempunyai karakteristik berbeda. “Saya menikmati dan bersyukur terhadap apapun yang kita terima dan pasti kita akan bahagia, jadi jangan banyak menuntut, tapi kerjakan apa yang bisa kita lakukan.”
Di Kementerian PPPA, Menteri Arifah juga mewajibkan karyawan untuk mengenakan pakaian tradisional atau wastra bangsa setiap hari Selasa. “Kebetulan suami saya yang lebih suka koleksi baju-baju etnik kemudian dimodifikasi,” ujarnya.
Di tengah aktivitas yang padat sebagai Menteri PPPA, Menteri Arifah meluangkan waktu untuk me time dengan massage. “Kalau saya merasa badan perlu istirahat obatnya tidur, tapi kalau dengan tidur belum sembuh baru saya pijat/massage. Kalau masih belum sembuh baru ke dokter karena saya takut suntik dan minum obat. Jadi obat saya itu saja dan itu paling berarti,” ungkapnya.







