Crowdfunding Typography Banner
CEO EM HEALTH MEDICAL CENTER, WOMEN HEALTH PREUNEUR, WRITER, Ocupational Health Consultant

Dr Hj Eka Puspita Notonogoro, Sked, BSC, MM, Siap Membawa EM Health Medical Center Menuju One-Stop Solution

Bagikan:

2

MajalahInspiratif.com, Jakarta – Dalam dunia kesehatan yang terus berkembang, inovasi dan layanan yang terintegrasi menjadi kunci utama dalam memberikan solusi terbaik bagi masyarakat. Salah satu sosok yang berhasil mewujudkan hal tersebut adalah dr. Eka Puspita Notonogoro, pendiri sekaligus CEO EM Health Medical Center. Dengan visi besar menjadi one-stop solution di bidang kesehatan pada 2025, ia telah membawa perusahaan ke tingkat yang lebih tinggi melalui pendekatan digital dan sistem layanan yang komprehensif.

Bagi dr. Eka Puspita Notonogoro, memilih bidang kesehatan bukan hanya karena latar belakang pendidikan sebagai dokter, tetapi juga karena kesadaran bahwa kesehatan adalah kebutuhan utama yang selalu dibutuhkan oleh masyarakat. Ia ingin menciptakan ekosistem layanan kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada pengobatan (kuratif), tetapi juga pencegahan (preventif), promosi kesehatan (promotif), dan pemulihan (rehabilitatif).

“Setiap orang berhak mendapatkan layanan kesehatan yang baik, dan saya ingin EM Health hadir sebagai solusi bagi mereka, baik individu maupun perusahaan,” ujar perempuan cantik yang akrab disapa dr. Echa ini.

Untuk itulah, di tahun 2019, dr. Echa mendirikan PT EM Klinik Indonesia, perusahaan yang fokus pada layanan jasa kesehatan dengan brand EM Health. Sejak awal, ia memiliki misi untuk tidak hanya memberikan layanan medis kepada individu, tetapi juga menyediakan solusi kesehatan bagi perusahaan dan institusi.

Visioner. Sejak awal membangun bisnis di bidang kesehatan, sosok cantik ini memiliki pemikiran visioner. Ia mengembangkan lima unit bisnis utama, yaitu EM Klinik, yang merupakan klinik utama dan pratama yang melayani pasien dengan layanan Poli Umum dan Okupasi, EM Laboratory: laboratorium kesehatan yang menawarkan berbagai jenis pemeriksaan medis, EM Optik: penyedia layanan optik untuk pemeriksaan mata dan pengadaan kacamata, EM Farmasi: apotek yang mendukung kebutuhan obat dan alat kesehatan bagi pasien, serta EM Learning Center: pusat pembelajaran yang memberikan edukasi dan pelatihan di bidang kesehatan.

Melalui integrasi digital, EM Health tidak hanya melayani walk-in clinic untuk masyarakat umum tetapi juga menawarkan layanan medical check-up onsite bagi perusahaan. Model bisnis ini sangat efektif, terbukti dengan keberhasilan EM Health menjalin kerja sama dengan lebih dari 300 perusahaan dari berbagai sektor, seperti manufaktur, otomotif, universitas, perhotelan, restoran, dan katering.

Berkat pengembangan yang dilakukan, dalam kurun waktu beberapa tahun, EM Health telah berkembang pesat dan berhasil melayani lebih dari 250.000 pasien. Hal ini menunjukkan bahwa sistem layanan yang diterapkan berhasil menjawab kebutuhan masyarakat.

Mengusung visi ‘Providing Medical Check-Up Services Anywhere and Anytime for Companies’, EM Health berkomitmen menghadirkan solusi kesehatan yang akurat, sederhana, mudah diakses, terjangkau, dan berkelanjutan. Salah satu terobosan utama yang dilakukan adalah transformasi digital dalam layanan Medical Check-Up (MCU).

 Keunggulan Inovasi Digital. Sebagai penyedia layanan kesehatan yang bekerja sama dengan lebih dari 300 perusahaan di berbagai sektor, EM Health memahami pentingnya sistem yang cepat, transparan, dan berbasis digital. Oleh karena itu, berbagai inovasi telah diterapkan dr. Echa. Mulai dari pendaftaran online dan barcode system, Medical Check-Up (MCU) berbasis Web-Based, Akses Khusus untuk Pemimpin Perusahaan, blast Hasil MCU melalui email sehingga mampu mengurangi penggunaan kertas, mempercepat proses komunikasi, serta mendukung program Go Green dalam industri kesehatan.

Dipaparkan dr. Echa, untuk layanan MCU di klinik, EM Health memberikan satu paket lengkap berupa MCU pribadi dan perusahaan, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rontgen, audiometric, spirometri, rekam EKG, treadmill exercise stress, USG Abdomein, papsmear, TCM, Tes Sifilis, Narkoba Tes 3 dan 6 Parameter dan pemeriksaan lainnya.

“Proses pelaksanaan MCU dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan perusahaan, baik dari klinik maupun lingkungan kantor. Klinik Utama EM Health juga siap melayani MCU mobile seluruh Indonesia lewat MCU on site. Team MCU juga tersendiri, ditangani oleh tenaga kesehatan yang terlatih, berpengalaman dan bersertifikat, dokter penanggung jawab yang memiliki sertifikat Hiperkes dan seluruh karyawan lulus pelatihan total service excellence. Selain itu kami juga didukung peralatan laboratorium yang canggih dengan sistem komputerisasi sehingga hasilnya diharapkan lebih akurat, Mesin X-Ray terbaru dengan kualitas film terbaik, serta hasil MCU hardcopy perorangan (dan softcopy rekam hasil MCU dapat diakses melalui web system),” terang dokter berdarah Sunda ini.

Ditambahkan dr. Echa, setelah menjalani MCU, pasien akan mendapatkan fasilitas berupa presentasi yang berisi tentang kelainan hasil MCU, pembahasan hasil MCU dengan kelainan yang berdampak risiko tinggi dan risiko penularan, pemberian rekomendasi atas hasil MCU melalui konsultasi dokter PJK3 secara pribadi berdasarkan hasil yang abnormal dan diberikan resep obat, medical resume dan konsultasi hasil.

“Hasil MCU bisa diakses via web based oleh HRGA atau pemimpin perusahaan dan kami juga share ke masing-masing pasien. Kami menyediakan fasilitasi 4 mobile rontgen outside dan 2 rontgen portable di klinik,” imbuhnya.

Melalui sistem yang terus dikembangkan, EM Health terus berkomitmen untuk mengembangkan ekosistem kesehatan berbasis digital agar semakin mudah diakses oleh masyarakat dan dunia industri. Ke depan, EM Health akan terus meningkatkan layanan berbasis teknologi, memperluas jangkauan bisnis, dan memperkenalkan berbagai solusi inovatif lainnya.

Dengan mengutamakan efisiensi, transparansi, dan keberlanjutan, EM Health telah membuktikan bahwa digitalisasi dalam layanan kesehatan dapat memberikan dampak positif yang besar bagi pasien, perusahaan, dan masyarakat secara luas.

 Tantangan Digitalisasi. Dr. Echa menyadari transformasi digital dalam layanan kesehatan tidak hanya bergantung pada sistem yang canggih, tetapi juga pada kemampuan SDM dalam mengoperasikannya. Karena tidak semua tenaga medis dan staf administrasi terbiasa dengan sistem berbasis digital, maka dr. Echa senantiasa memastikan karyawan EM Health mendapatkan pelatihan dan peningkatan kompetensi agar dapat bekerja dengan sistem yang baru.

Tantangan lain adalah menjaga keamanan dan kerahasiaan data pasien agar tidak disalahgunakan. Untuk itu, EM Health mengimplementasikan sistem keamanan yang ketat guna melindungi informasi pasien dari ancaman cyber.

Selain itu, karena tidak semua pasien atau perusahaan mitra langsung terbiasa dengan sistem digital yang diterapkan, oleh karena itu EM Health perlu memberikan edukasi dan sosialisasi mengenai penggunaan layanan berbasis digital, termasuk pendaftaran online, barcode system, serta akses hasil MCU melalui email dan web-based platform.

“Seiring berkembangnya teknologi, semakin banyak penyedia layanan kesehatan yang mulai menerapkan sistem digital. Persaingan menjadi lebih ketat, dan EM Health harus terus berinovasi agar tetap unggul. Dengan meningkatkan layanan berbasis teknologi dan memberikan nilai tambah yang unik, kami terus memperkuat posisi di industri,” tambah dr. Echa.

 Menuju One-Stop Solution. Dengan pencapaian yang sudah diraih, dr. Echa tidak berhenti berinovasi. Ia terus mengembangkan ekosistem layanan kesehatan berbasis digital agar lebih mudah diakses oleh masyarakat di berbagai wilayah. Dalam beberapa tahun ke depan, ia menargetkan EM Health dapat semakin berkembang dan dikenal sebagai pusat layanan kesehatan yang terintegrasi dengan standar global.

Perempuan kelahiran Karawang, 7 Juli ini, berkomitmen bahwa bisnis yang dibangun bukan sekadar meneguk keuntungan tetapi juga memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan industri. Melalui EM Health, ia membuktikan bahwa dengan visi yang kuat, inovasi, dan komitmen terhadap kualitas, sebuah bisnis di bidang kesehatan dapat berkembang pesat dan memberikan dampak positif yang luas.

Ke depan, dr. Echa bertekad untuk terus mengembangkan EM Health Medical Center agar dapat memberikan layanan kesehatan yang lebih luas dan berkualitas. Ia ingin menjadikan EM Health Medical Center sebagai salah satu jaringan klinik kesehatan terkemuka di Indonesia dengan mengutamakan pelayanan yang berbasis teknologi dan kepuasan pasien.

Dengan dedikasi dan visi yang kuat, dr. Echa adalah bukti nyata bahwa kepemimpinan yang baik dapat membawa perubahan besar di dunia kesehatan. Kesuksesannya tidak hanya memberikan manfaat bagi institusi yang dipimpin, tetapi juga bagi masyarakat luas yang membutuhkan layanan kesehatan berkualitas.

Prestasi dan Penghargaan Membanggakan

Di bawah kepemimpinan dr. Echa, EM Health Medical Center telah meraih berbagai penghargaan dan pencapaian luar biasa, di antaranya The Great Indonesian Best CEO 2023 dalam kategori Best Achievement Progress in Medical Health Support Through Main Clinics – sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada CEO dengan kontribusi luar biasa dalam pengembangan layanan kesehatan di Indonesia.

Pada masa pandemi Covid-19, dr. Echa juga mendapatkan apresiasi berupa Piagam Penghargaan Fasilitas Vaksin Covid-19 Terbanyak Peringkat 1, 2, dan 3 se-Jawa Barat Sebuah apresiasi atas keberhasilan EM Health Medical Center dalam mendukung program vaksinasi nasional dengan cakupan luas dan efisien.

Selain itu, dr. Echa juga dinobatkan sebagai Duta Kesehatan 2019, penghargaan yang mencerminkan peran aktifnya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan pencegahan penyakit.

Alhamdulillah, kami juga pernah memecahkan rekor MURI untuk kategori Team  Tensi Terbanyak Selama 1 Jam 2000 orang,” imbuh dokter yang juga berprofesi sebagai Doctor Healthpreuner, CEO dan Owner dari PT. SY, serta penulis 2 buku, salah satunya berjudul ”Aku Perempuan Tak Perlu Salah Jalan’.

Perempuan dan Tantangan dalam Mengembangkan Diri

Seiring perkembangan zaman, dr. Echa melihat perempuan kini tidak lagi menghadapi kendala signifikan dalam mengembangkan diri. Perbedaan akses terhadap pendidikan dan kesempatan kerja yang dulu menjadi tantangan besar, kini semakin berkurang berkat berbagai kebijakan dan program pemberdayaan.

Menurutnya, faktor utama yang dulu menghambat perempuan adalah diskriminasi gender dalam dunia pendidikan dan pekerjaan. Namun, saat ini, dengan semakin banyaknya perempuan yang mendapatkan akses pendidikan tinggi, perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk bersaing dalam dunia kerja.

Pemegang gelar Doktor dari Universitas Pandjajaran, Bandung ini juga menyoroti bagaimana kemajuan teknologi dan digitalisasi membuka peluang lebih besar bagi perempuan dalam dunia kerja. “Saat ini, era digitalisasi sangat memudahkan perempuan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Jika dulu perempuan sering mengalami kelelahan fisik dan emosional karena harus mengurus rumah tangga dan anak, kini teknologi telah membantu mengurangi beban tersebut,” jelasnya.

Dengan adanya teknologi, perempuan kini dapat bekerja secara lebih fleksibel, baik dari rumah maupun secara remote. Hal ini membuka kesempatan bagi perempuan untuk tetap produktif tanpa harus mengorbankan peran mereka dalam keluarga. Selain itu, teknologi juga memungkinkan perempuan untuk mengembangkan bisnis sendiri, memanfaatkan platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Dan sebagai seorang pemimpin yang peduli terhadap pengembangan SDM, dr. Echa terus mendorong kebijakan yang mendukung perempuan dalam dunia kerja. EM Health tidak hanya memberikan kesempatan yang setara, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung perempuan dalam mencapai potensi maksimal mereka.

Dengan visi yang kuat dan kepemimpinan yang progresif, dr. Echa membuktikan bahwa kesetaraan gender bukan sekadar wacana, tetapi sebuah realitas yang dapat diwujudkan melalui kebijakan yang tepat. Melalui EM Health Medical Center, ia memberikan contoh bagaimana dunia kerja bisa lebih inklusif, di mana perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi dalam masyarakat.

Sebagai seorang CEO, dr. Echa tidak hanya sibuk mengelola bisnis di bidang kesehatan, tetapi juga tetap menjalankan peran sebagai istri dari Abu Bakar Rikard Alkaff, serta ibunda dari Muhammad Alfath Notonogoro. Di tengah kesibukan tersebut, ia memantau aktivitas keluarga dan memastikan kehadirannya dalam momen-momen penting.

Meneladani Semangat RA Kartini

Sebagai seorang pemimpin di dunia medis, dr. Echa, memahami bahwa keberhasilan perempuan saat ini tidak terlepas dari perjuangan para tokoh hebat di masa lalu, salah satunya R.A. Kartini. Sosok Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia yang memperjuangkan kesetaraan dalam pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial.

Di era modern, kesetaraan gender semakin nyata, tetapi perempuan juga harus cerdas mengambil langkah dan memanfaatkan kesempatan, tanpa melupakan kodratnya sebagai perempuan. “Semangat Kartini masih sangat relevan saat ini. Perempuan bisa sukses di berbagai bidang, tanpa harus kehilangan identitasnya sebagai istri atau ibu,” ujarnya.

Ditambahkan dr. Echa, perjuangan Kartini telah membuahkan hasil nyata di era modern. Kesetaraan gender bukan lagi sekadar wacana, tetapi sudah terlihat dalam berbagai aspek kehidupan. Kini banyak perempuan yang menduduki posisi strategis sebagai CEO, Direktur, hingga Pemimpin perusahaan besar. Selain itu dunia kerja juga semakin inklusif, dengan banyak perusahaan yang memberikan posisi penting bagi perempuan dan tidak ada lagi batasan bagi perempuan untuk menempuh pendidikan tinggi dan mengembangkan diri di bidang akademik maupun profesional.

“Kartini telah membuka jalan bagi kita, sekarang saatnya kita melangkah lebih jauh dan membawa perubahan yang lebih besar,” tambahnya.

Namun, sebagai seorang muslimah selain meneladani RA Kartini, dr. Echa juga menjadikan para perempuan pilihan Allah SWT yang ada di dalam Alquran sebagai inspirasi.  “Sudah sepatutnya kaum muslimmah mengenal dan meneladani para wanita penghulu surge, ada Sayyidatina  Fatima Azzahra binti Rasulullah, Sayiddatina Khadijah, Mariyam binti Imran dan  Sayiddah Asiyah binti Muzahim. Sesuai dengan buku yang saya tulis, ‘Aku Perempuan Tak Perlu Salah Jalan dan Hidup Sesuai dengan Role Model yang Allah Pilih’,” pungkasnya.

Bagikan:

Bagikan: